Mag-log inTerima Kasih Kak Jaz dan Kak Ian atas dukungan Gem-nya. Dengan ini, total Gem mencapai 6 Gem, ran ini adalah bab bonus itu. sesuai janji, ketika mencapai 5 Gem, othor langsung rilis malam ini juga bab bonusnya(✯ᴗ✯) akumulasi Gem: 28-09-2024 (malam) : 1 Gem (reset) kurang 4 gem lagi nih untuk bab bonus, hehehe ... oke, selamat membaca(◠‿・)—☆
Ryan menunduk menatap luka di tangannya yang belum sepenuhnya menutup.Darah masih tersisa di sela buku jarinya, sementara daging yang terkoyak perlahan menyatu kembali. Alasan ia memakai tinju, bukan pedang, sangat sederhana. Ia tidak ingin mewarnai Akademi Heavenly Flame dengan darah.Selain itu, pukulan tadi juga menjadi caranya menumpahkan amarah yang sejak tadi ia tahan.Semula Ryan mengira hidupnya akan menjadi sedikit lebih tenang setelah masuk ke Akademi Heavenly Flame. Setidaknya, di tempat sebesar ini, para murid seharusnya lebih tahu diri dan lebih memahami batas.Ternyata tetap saja ada orang yang sengaja datang memancing masalah.Dan itu benar-benar menjengkelkan.‘Apa aku memang harus memandikan akademi ini dengan darah dan menghancurkan sendiri kehidupan tenang yang kuharapkan, hanya untuk mengusir serangga-serangga seperti ini?’ pikirnya.Ryan menggeleng pelan.Ia berhenti memikirkan hal itu. Menghabiskan tenaga untuk pertanyaan semacam itu sekarang tidak ada gunanya
Sebanyak apa pun darah yang mereka keluarkan, seberat apa pun luka yang mereka terima, tubuh mereka selalu pulih dalam waktu singkat.Konon, genius dengan tubuh sekuat itu sanggup menghajar keberadaan yang kultivasinya jauh lebih tinggi sampai tersungkur ke tanah hanya dengan kekuatan fisik.Namun legenda tetaplah legenda.Kultivator memang memiliki berbagai kesaktian, tetapi semuanya tetap punya batas. Di mata para murid Akademi Heavenly Flame, cerita seperti itu hanya pantas hidup di dalam legenda, dibicarakan saat minum arak, lalu dilupakan begitu matahari terbit.Sekarang, tepat di depan mata mereka, legenda itu berdiri dan bernapas.Bahkan lebih sulit dipercaya daripada kisah yang pernah mereka dengar.Inilah Ryan Pendragon.Keberadaan yang sudah melampaui batas bayangan mereka.**Instruktur penjaga pintu Sumber Urat Spiritual pun terpaku sepenuhnya.Perlahan, senyum masam muncul di wajahnya.Ia sama sekali tidak menyadari kekuatan Ryan. Lebih memalukan lagi, ia bahkan sempat m
Lalu bagaimana dengan Ryan?Ia sama sekali tidak menghindar.Ia juga tidak memasang pertahanan khusus.Di bawah tatapan semua orang, pemuda itu justru mendorong tinjunya maju, seolah benar-benar hendak menyambut kapak Dunn secara langsung.Ia ingin menahan Artefak Lesser God dengan tangan kosong.Semua murid di sana terperangah. Bahkan instruktur Ranah Star Sealed yang menjaga pintu masuk Sumber Urat Spiritual ikut membeku sesaat.Ada orang yang senekat itu?Mengadu tinju kosong dengan Artefak Lesser God?Ryan memang kuat. Namun di mata kebanyakan orang, pengalaman bertarungnya tampak masih terlalu dangkal. Artefak Lesser God bukan senjata biasa. Bahkan Kultivator Ranah Star Seed pun akan memilih menghindar atau menangkis dengan artefak lain, bukan menyambut mata bilahnya memakai daging dan tulang sendiri.Sebaliknya, Dunn justru kegirangan.Ryan gila.Pemuda itu benar-benar sudah gila.Ia berani mengadu tinju dengan kapaknya yang mengerikan? Kalau begitu, sekuat apa pun pukulan Ry
Di luar dugaan semua orang, Ryan Pendragon yang seharusnya mulai panik justru tersenyum.Senyum itu bukan senyum kaku untuk menutupi rasa takut.Ia benar-benar tampak senang.Dunn tertegun.Apa yang terjadi dengan bocah Ranah Creation ini? Ia sudah ditekan sampai ke sudut, bahkan alasan terakhirnya sebentar lagi akan dicabut. Namun bukannya gentar, pemuda itu malah masih bisa tertawa?“Kau tertawa apa?” Dunn mendengus. “Sampai detik ini pun kau masih ingin berlagak.” “Aku mulai kagum padamu. Kenapa kau tidak jadi pemain sandiwara saja? Siapa tahu kau bisa mendapat penghargaan.”Mendengar ejekan itu, tawa kembali pecah di pelataran.Bagi mereka, sikap Ryan terlalu sulit dimengerti. Kalau ia tidak sedang berpura-pura kuat, berarti kepalanya memang bermasalah.“Tidak ada apa-apa,” ujar Ryan dengan senyum tipis. “Aku cuma berharap kau menandatanganinya lebih cepat.”Begitu kalimat itu keluar, seluruh tawa di pelataran berhenti seketika.Wajah puas Dunn pun ikut kaku.Bocah ini benar-be
Kadang-kadang, seseorang melanggar aturan bukan karena sejak awal ingin melanggar, atau merasa dirinya berdiri di atas aturan.Terkadang, mereka melanggarnya karena hanya merekalah yang masih berusaha mematuhi aturan itu.Jika sudah begitu, apakah aturan semacam itu masih pantas disebut aturan?Aturan yang tidak dihormati semua pihak hanya berubah menjadi alat di tangan yang kuat, dan rantai di kaki yang lemah.Terlebih lagi, meski Dunn bukan berasal dari faksi kelas puncak, latar belakangnya tetap tidak sederhana. Di antara faksi kelas satu, keluarganya berdiri di jajaran atas. Latar belakang, bakat, dan hubungannya memberinya hak istimewa untuk mengabaikan aturan dalam batas tertentu.Ia memang tetap akan dihukum kalau tertangkap oleh Nolan Chester yang terkenal keras. Namun sekadar memberi pelajaran kepada murid tahun pertama Ranah Creation, memangnya sebesar apa masalahnya?Dunn sama sekali tidak
“Aku tidak bisa memukulmu.”Akhirnya Ryan Pendragon membuka mulut. Ia menatap lurus ke mata Dunn, suaranya tenang tanpa getaran sedikit pun.Bukan karena ia tidak berani. Melainkan karena ia memang tidak bisa.Alasannya sederhana. Dunn berhasil membuatnya marah.Jika Ryan benar-benar menggerakkan tangan sekarang, ia tidak yakin bisa menahan kekuatannya. Dengan tubuh yang sudah ditempa berulang kali, ditambah peningkatan dari Api Mistik dan Teknik Membakar Darah, satu pukulan yang lepas kendali bisa saja membuat Dunn tewas di tempat.Melukai sesama murid Akademi Heavenly Flame adalah satu perkara.Membunuh sesama murid adalah perkara yang sama sekali berbeda.Kalau sampai itu terjadi, bahkan Nolan Chester maupun Kepala Akademi Quinton Greaves belum tentu bisa melindunginya sepenuhnya. Dan Ryan belum boleh meninggalkan akademi ini. Tablet Flame masih tersembunyi di suatu sudut, sementara keber







