LOGINTerima Kasih Kak Daniel atas Dukungan Gem-nya \(^_^)/ akumulasi Gem: 02-10-2024: 2 Gem Yuk, kurang 3 Gem nih, yuk-yuk ditambah, hehehehe Ini bab reguler, dan Bab bonus akan othor UP nanti sore. Ditunggu(◠‿・)—☆
Ryan menarik tangan Serena dan menempelkannya langsung ke sisi tubuhnya, tepat di area tulang rusuk yang beberapa jam lalu menjadi sasaran cakar Chase Vale.Langsung, tanpa aba-aba.Jari-jari Serena menyentuh kulit yang terasa padat dan hangat di balik robekan jubahnya. Jantungnya berdegup satu kali di tempat yang salah. Pipinya memanas sebelum sempat ia cegah, sesuatu yang tidak biasa terjadi pada wanita seperti dirinya.Tapi yang jauh lebih mengejutkan adalah apa yang tidak dia temukan di bawah telapak tangannya.Tidak ada jaringan yang membengkak. Tidak ada titik yang menyentak ketika ditekan. Tidak ada jejak apa pun dari luka yang baru dicakar ulang dengan penuh tenaga beberapa jam lalu. Kulit di sana terasa mulus, seolah tidak pernah disentuh apa pun.Serena menarik tangannya perlahan.Tangannya berhenti sejenak di udara sebelum ia turunkan. Dia menatap Ryan beberapa detik, mata tidak bergerak, sebelum ekspresinya ia kendalikan kembali menjadi datar. "Kau benar-benar monster.
Ryan menatap kepalan tangannya yang berlumuran darah sebentar, lalu memandang ke dalam lubang tempat Hugh terjatuh.Ternyata tidak sesederhana yang dia kira. Kekuatan tinju itu seharusnya cukup untuk melemparkan Hugh jauh, seperti yang terjadi pada Theo dan Chase. Tapi tubuh Hugh Vale tidak merespons seperti itu. Dia jatuh ke bawah, bukan terpental jauh.Bukan soal kekuatan. Ketahanan tubuh Hugh jauh di atas saudaranya, dan itu membuat perbedaan yang cukup mencolok.Di hadapan Ryan, Celia Vale tidak bergerak.Pandangannya menelusuri Theo yang tergeletak dengan dada amblas, Chase yang berlutut dengan pandangan kosong meski sudah diberi pil pemulih, dan lubang di tanah tempat Hugh tidak sadarkan diri. Wajah Celia sepenuhnya kosong. Rahangnya tidak mengeras, matanya tidak sempit, tidak ada amarah yang terbaca. Seperti seseorang yang baru menyadari bahwa semuanya sudah terlambat, dan tidak ada gunanya marah kepada siapa pun lagi.Tidak ada yang tersisa untuk Ujian Darah Roh. Ketiganya
Dua kilatan itu bukan cahaya.Itu cakar.Chase Vale dan Hugh Vale muncul bersamaan dari dalam pusaran bayangan cakar, satu dari kiri dan satu dari kanan, menjepit Ryan di antara keduanya tanpa memberi ruang pelarian sedikit pun. Gerak mereka sinkron sempurna, dua orang yang sudah terlalu sering berburu bersama dan sudah hafal di mana titik lemah lawan berada.Ryan menyipitkan matanya.Tubuhnya berputar ke kanan. Cakar Hugh Vale menebas udara di sisi kirinya dengan tenaga yang membuat desiran anginnya memotong ujung jubah Ryan menjadi beberapa helai robek.Kuat. Lebih kuat dari Chase.Tapi kecepatannya tidak secepat yang Ryan duga.Chase Vale yang berdiri di sisi berlawanan menyaksikan ini semua. Sudut bibirnya melengkung. Tubuh Ryan kini menghadap ke arah Hugh, punggungnya terbuka lebar, dan luka sayatan dari golok Theo di tulang rusuk kanannya masih tampak merah segar.'Bocah itu t
Ryan sudah tidak ada di sana.Belum sempat Theo memproses apa yang terjadi, sesuatu meledak di sisi kanannya dari arah yang sama sekali tidak dia antisipasi."Minggir!"BOOOOMM!Kepalan yang diselimuti cahaya emas menghantam lambung Theo dari samping. Tidak ada peringatan, tidak ada ruang untuk menghindar. Theo Tanner hanya sempat mengaktifkan artefak pelindungnya secara refleks, dan perisai ungu tipis mengembang di sekeliling tubuhnya.Tidak cukup.Cahaya emas itu menghancurkan perisai seperti kertas basah dan meneruskan seluruh momentum langsung ke dalam tubuh Theo. Tulang-tulang di sisi kiri dadanya remuk dalam satu benturan, bunyinya seperti kayu kering yang dipatahkan empat sekaligus. Darah memuncrat membasahi jubahnya sebelum tubuh itu sempat terpelanting.BRAKK!Theo Tanner melesat ke belakang seperti batu yang ditembakkan dari ketapel, meninggalkan jejak udara terk
"Boleh." Tidak ada yang menduga Ryan akan menjawab semudah itu. Satu kata. Diucapkan dengan nada orang yang setuju untuk minum teh bersama, bukan menerima tantangan tiga genius sekaligus. Theo Tanner, Chase Vale, dan Hugh Vale membeku selama hampir dua detik penuh. Mereka sudah bersiap untuk segala kemungkinan. Kemarahan, penolakan, keangkuhan yang meledak, atau bahkan ketakutan yang disembunyikan di balik sikap dingin. Tapi bukan ini. Mereka tidak pernah mempersiapkan diri untuk ketenangan seperti ini. Keheranan di wajah mereka bertahan hanya sebentar. Lalu ekspresi ketiganya berubah, bola mata Hugh menyipit, sudut bibir Chase turun, dan bahu Theo sedikit naik saat tarikan napasnya melambat. 'Bocah bodoh ini benar-benar menerimanya.' Hugh Vale menyipitkan matanya yang kekuningan. 'Bahkan Serena Carr pun tidak bisa ikut campur sekarang. Sudah waktunya mengajarinya pelajaran yang tidak akan dia lupakan seumur hidup.' Theo Tanner melangkah setengah ke depan, hendak membuka
Nada pujiannya sempurna, kata-katanya terdengar kagum. Tapi tidak ada satu pun orang di sini yang tidak mendengar racun di balik setiap kalimatnya. "Kalau tidak demikian," Theo Tanner mengangkat bahunya santai, "masa Klan Harimau Darah yang sebesar itu tidak punya kandidat lain yang lebih layak?" "Masa ini satu-satunya yang bisa mereka kirimkan?" Chase Vale yang dari tadi berdiri diam di sisi kiri tidak bisa menahan diri lagi. Langkahnya maju setengah, matanya menusuk langsung ke arah Ryan. "Anak muda, kami sudah memujimu setinggi langit. Kenapa kau hanya berdiri diam dengan wajah beku seperti itu?" "Apa kata-kata kami benar-benar tidak ada artinya bagimu?" Hugh Vale menimpali dengan tawa yang setengah ditahan. "Mungkin sahabat kita memang lebih suka berbicara lewat tinju daripada lidah. Bagaimana kalau kita berlatih tanding sebentar sebelum ujian dimulai?" "Tapi aku khawatir, ini kan genius langka sepuluh ribu tahun sekali. Bisakah aku minta dia pakai satu tangan saja agar
Pada saat ini, Keluarga Draug tidak punya pilihan lain selain mengambil sikap yang sangat keras terhadap semua pertempuran. Jika tidak, situasi akan segera lepas kendali total! "Dimengerti dengan jelas!" "Aku akan segera mengeluarkan surat perintah penangkapan dan menyelidiki seluruh situasi den
Kotak itu bercahaya dengan intensitas yang mempesona. Terbuat dari kayu roh abadi kelas tinggi yang langka, permukaan kotak giok itu memancarkan aura misterius yang membuat udara di sekitarnya bergetar lembut. Sungguh luar biasa! Melihat pemandangan ini, ekspresi Rindy Snowfield dan Ann Xaver be
Lelang di Tingkat Surga tidak menggunakan batu Immortal biasa. Mata uang yang digunakan adalah artefak tingkat tinggi yang benar-benar berharga dan langka! "300 artefak tingkat God King!" suara pertama terdengar dengan lantang. "400 artefak tingkat God King!" Keluarga Beaster langsung menaikkan ta
Tetua Agung memandang para kultivator Ranah Dao Integration di belakangnya dengan ekspresi jahat yang mengerikan. Mata tuanya berkilat dengan niat membunuh yang pekat. Melihat tatapan mengerikan ini, para kultivator itu tiba-tiba merasa tidak enak—seolah ada bahaya mematikan yang mengancam nyawa







