LOGINSatria membutuhkan uang untuk pengobatan ibunya dan pendidikan tiga adiknya. Ketika Rain Cassandra, istri seorang konglomerat yang sedang menghadapi masalah rumah tangga, menawarkan kesepakatan dengan imbalan besar, Satria berada dalam dilema berat. Ini memang di luar etika, tapi ia terpaksa melakukannya, demi pengobatan ibu dan pendidikan ketiga adiknya.
View MoreRumah Sakit Ibu dan Anak pusat kota, di sanalah kini Rain berada. Di atas ranjang pasien, Rain terbaring lemas. Di sampingnya, seorang bayi mungil yang baru saja dilahirkannya dua jam yang lalu sedang tertidur pulas. Sedangkan di kursi samping ranjang pasien, Satria duduk menemani. Sejak tadi, pemuda yang kini berstatus sebagai papa muda itu tak ingin jauh-jauh dari istri dan putranya meskipun hanya sebentar saja. "Sayang, boleh gak baby-nya dibangunin? Aku mau denger suaranya nangis!" Rain yang terbaring itu pun menggeleng pelan. Tak mengizinkan sang suami mengganggu bayinya yang sedang terlelap. Namun, Satria yang semula minta izin dan tidak diperbolehkan oleh istrinya itu justru mencolek-colek pipi merah putranya dengan gemas. Alhasil, bayi mungil itu menangis dengan keras. "Oek, oek...." "Astaga, Satria Narendra!" kata Rain dengan suara tertahan. "Haha... akhirnya bangun juga!" Bukannya takut dimarahi, papa muda itu tertawa dengan keras. Ia sangat senang mendengar tangisa
Setelah semua kebenaran terungkap dan Tuan Seno serta antek-anteknya diamankan, kini keadaan keluarga Mandala semakin membaik.Nyonya Laras yang sebenarnya sudah sembuh sejak dibawa pulang ke kediaman Mandala beberapa bulan lalu, kini dapat beraktivitas layaknya kehidupan orang-orang normal.Wanita paruh baya itu kini tak perlu lagi menyembunyikan diri dan berpura-pura sakit jiwa seperti kemarin-kemarin.Ia bisa tertawa, bercanda, bahkan kembali menjalani kehidupan rumah tangganya bersama Tuan Arya tanpa harus memikirkan berbagai ancaman yang dulu selalu membayangi.Di dalam kamarnya, Tuan Arya yang keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan tubuh telanjang dibalut handuk singkat, menghampiri sang istri yang duduk di depan meja rias."Sayang...." panggil Tuan Arya sembari memeluk dan mencium lembut tengkuk istrinya yang terekspos.Nyonya Laras yang tengah bercermin pun langsung menghela napas panjang. Ia sudah bisa menebak ke mana arah tingkah suaminya kali ini."Jangan lagi, Mas
Di balik jeruji besi, di sanalah kini Tuan Seno berada. Pria paruh baya itu mengamuk minta dibebaskan, bahkan mengancam para polisi yang bertugas."Lepaskan saya, keluarkan saya dari sini!"Mendengar suara keras Tuan Seno, para tahanan lain menutup telinga mereka. Jelas, para tahanan itu terganggu dengan keributan yang diciptakan pria paruh baya itu."Hei, kalian semua tuli, ya? Cepat bebaskan saya, kalau enggak, besok saya akan menghancurkan tempat ini!" seru Tuan Seno sambil memukul-mukul jeruji besi tersebut dengan keras.Pria paruh baya itu mengamuk seperti orang yang tidak waras. Wajah dan matanya memerah, bahkan tak henti-hentinya berteriak."Goblok kalian semua! Cepat keluarkan saya!"Di saat Tuan Seno sedang mengamuk, derap langkah kaki terdengar mengetuk-ngetuk lantai. Dan tak lama kemudian, datanglah Tuan Arya, Ares, dan Satria.Ketiganya menghampiri Tuan Seno yang mengamuk.Mendengar derap langkah kaki mendekat, Tuan Seno menoleh ke arah sumber suara. Saat melihat Tuan Arya
"Ssttt... Om, perutku sakit banget."Nabila yang didorong hingga jatuh terhempas, dengan punggung membentur kaki ranjang, itu pun langsung merintih kesakitan. Wajah gadis binal itu seketika meringis. Kedua tangannya memegangi bagian bawah perutnya yang terasa sakit luar biasa.Deru napas Nabila memburu. Tubuhnya bahkan terlihat gemetar menahan rasa sakit yang semakin menjadi-jadi di bagian bawah perutnya tersebut.Darah segar mengalir dari paha bagian dalam gadis binal itu hingga membuat Tuan Seno yang menoleh seketika melotot lebar."Astaga..."Pria paruh baya itu semakin panik. Wajahnya berubah pucat melihat darah yang mengalir. Namun, saat melihat tatapan tajam istrinya, nyali Tuan Seno seketika menciut.Ia tak berani melakukan apa pun, bahkan untuk sekadar mendekati Nabila yang sedang kesakitan sekalipun."Om, sa-sakit...."Gluk!Tuan Seno meneguk sisa ludah di tenggorokannya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa tercekat. Ia melirik Nabila yang masih meringis kesakitan, lalu
"Lakukan apa saja yang kamu inginkan, Satria. Buat saya senang malam ini dan juga hamil secepatnya!" Gluk! Satria meneguk ludah. Permintaan Rain membuatnya semakin gugup. Batinnya, apa yang sebenarnya diinginkan oleh wanita itu? Kenapa minta dihamili oleh pria bayaran sepertinya? Kenapa tidak
"Apa yang kamu lihat sampe segitunya? Dada saya?" tegur Rain. Matanya memicing, menatap Satria yang memperhatikan tubuhnya tanpa berkedip. Selanjutnya, Rain melangkah menuju ranjang dan mendaratkan bagian belakangnya di sana, dengan gerakan perlahan. "Percuma kalau cuman dilihat tapi gak kamu
"Astaga, kamu...." "Saya di sini, Nyonya!" Suara sahutan Satria yang berasal dari arah samping, membuat Rain melangkah mundur dari posisinya. Ia kaget melihat pria yang ia kira adalah Satria, gigi ompong dan juga tahi lalat besar di pipi pria itu benar-benar membuatnya terkejut. "Maaf, s
"Oke... jangan lupa besok malam temui saya di hotel permata kamar nomor 7!" Melotot lebar mata Satria, seperti mau melompat dari tempatnya berada. Kaget mendengar nama hotel yang disebutkan oleh Rain. "Ho-ho-hotel permata?" tanya Satria dengan suaranya yang tergagap. Rain mengangguk, sedan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore