INICIAR SESIÓNIni bab kedua siang ini. bisa dibayangkan betapa marahnya Ryan di bab ini ( ╹▽╹ ) bab berikutnya nanti malam. Selamat makan siang (◠‿・)—☆ Bab Bonus: 2/3 Bab Bab Reguler: 2/2 Bab (Komplit)
Boom!Wajah Ryan tetap tenang ketika pedang Malcolm Tidewell mendekat. Ia mengangkat pedang kayunya dan menyambut serangan itu secara langsung.Begitu kedua bilah beradu, dentuman mengerikan mengguncang arena. Lantai batu di bawah kaki mereka langsung ambles membentuk cekungan, sementara retakan menjalar ke segala arah seperti jaring laba-laba.Para murid yang menonton terpaku. Untungnya, dua belas kepala puncak sudah memasang tabir pelindung. Tanpa perlindungan itu, gelombang kejut dari benturan tadi saja cukup untuk mencelakai banyak orang."Domain Pembantaian!"Ryan tiba-tiba melepaskan domainnya. Aura pembantaian yang mengerikan seketika menyelimuti arena dan membuat wajah semua orang berubah drastis.Seorang Kultivator Ranah Creation ternyata mampu menguasai kekuatan domain. Bagi mereka, pencapaian seperti itu sama sekali tidak masuk akal."Sebenarnya siapa kau?" seru Malcolm tak percaya.Untuk pertama kalinya, wajah dingin Malcolm menunjukkan keterkejutan. Ryan hanya terseny
Pertarungan sengit di atas arena membuat semangat para penonton semakin membara. Ryan bukan hanya mampu bertahan menghadapi tiga murid inti teratas sekaligus, tetapi gerakannya masih terlihat cukup santai.Sorakan pun semakin keras. Melihat penampilan muridnya, Walton Crane akhirnya bisa tersenyum lega. Sekalipun Ryan kalah, hasil hari ini sudah cukup membanggakan.'Mulai sekarang, siapa lagi yang berani bilang aku tidak bisa mendidik murid?' pikir Walton puas.Ryan sendiri tidak membiarkan rasa bangga mengganggu konsentrasinya. Napasnya tetap teratur dan genggaman pada pedang kayu tidak mengendur sedikit pun, sebab ia tahu pertarungan sebenarnya baru dimulai.Ketiga lawannya belum memperlihatkan seluruh kekuatan mereka yang sesungguhnya.Lyonel Blau tiba-tiba bergerak. Dalam sekejap, ia sudah muncul di samping Ryan dan pedangnya memancarkan cahaya menyilaukan, diikuti semburan energi pedang yang tajam.Ryan m
Ryan berdiri di hadapan tiga murid inti terkuat Divine Sword Palace. Setelah mengamati mereka satu per satu, tatapannya berhenti pada Konrad Ashgrove. Ada sesuatu yang tidak beres dengan aura pemuda itu. 'Jadi, Konrad sudah mencapai Ranah Star Sealed. Dia sengaja menyembunyikan kultivasinya.' Dari luar, Konrad tampak tidak berbeda jauh dari dua rekannya yang masih berada di puncak Ranah Star Seed. Namun Ryan mampu menangkap perbedaan tersebut. Ini bukan lawan yang bisa dinilai hanya dari reputasinya. Konrad juga memancarkan hawa dingin yang berbahaya. Di mata Ryan, ketenangannya justru menyerupai ular yang sedang bersembunyi, menunggu kesempatan untuk menyerang. 'Di seluruh Benua Valorisia, tidak banyak murid inti yang mampu mencapai Ranah Star Sealed. Orang ini bahkan menolak undangan Akademi Divine Wind.' Ryan teringat pula pada Jarvis Halden yang tidak pernah menunjukkan kekuatan sesungguhnya. Semakin lama berada di Divine Sword Palace, semakin jelas bahwa sekte tersebu
Ryan belum tiba di arena ketika tiga orang naik ke panggung. Kemunculan mereka langsung memancing seruan kaget dari tribun yang sudah dipenuhi penonton. Para murid yang semula ramai membicarakan tantangan itu mendadak mengalihkan seluruh perhatian kepada ketiga pendatang. "Astaga, mereka bertiga?" "Tiga besar murid inti yang akan melawan Ryan? Apa Kepala Istana serius?" Ketiganya bukan murid inti biasa. Mereka menduduki tiga peringkat tertinggi di Divine Sword Palace, dengan kultivasi yang sama-sama mencapai puncak Ranah Star Seed. Tinggal satu langkah lagi mereka bisa menembus Ranah Star Sealed. Kekuatan mereka bahkan membuat dua belas kepala puncak harus berhati-hati. Jika ketiganya bertarung bersama, para kepala puncak pun belum tentu dapat menang tanpa mengalami luka. Bagi Divine Sword Palace, mereka merupakan calon penerus yang berpeluang menjadi kepala puncak, bahkan Kepala Istana. Tak mengherankan jika banyak orang langsung menganggap hasil pertandingan sudah ditent
Sementara itu, Ryan sudah mengikuti Walton Crane memasuki istana utama Divine Sword Palace. Di atas singgasana, Kepala Istana Jarvis Halden memperhatikannya dengan mata menyipit, seolah ingin membaca segala rahasia yang disembunyikan pemuda tersebut. Ryan membalas tatapan itu dengan wajah polos, seakan sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya sedang diperiksa. "Kepala Istana, seperti yang kau lihat, muridku sudah menjadi murid inti," ujar Walton. "Jadi, mengenai Tanah Terlarang Pedang..." Walton sengaja menggantung ucapannya. Ia tidak perlu mengulangi seluruh kesepakatan di hadapan Kepala Istana. Jarvis pasti mengerti bahwa janji kemarin sudah harus ditepati, terlebih Ryan sudah memenuhi satu-satunya syarat yang mereka tetapkan. "Paman Guru, bagaimana kalau kita membicarakannya lagi dengan para kepala puncak?" Jarvis tersenyum, mencoba mengulur waktu. "Kau sudah berjanji!" Walton menggebrak bangku. "Kalau sekarang kau melarang Ryan masuk, kau sendiri yang harus menanggung ak
Wajah Thane Zoller semakin masam. Sebagai salah satu murid inti terkuat Divine Sword Palace, ia justru dipaksa terus mundur oleh pendatang baru yang hanya menggunakan pedang kayu. Lebih buruk lagi, semua itu terjadi di hadapan ratusan penonton. Para penonton yang tadi yakin ia akan menang kini menyaksikannya terus terdesak. "Aaargh!" Thane meraung lalu melesat ke udara. Pedang beratnya terangkat tinggi sebelum ditebaskan ke arah Ryan dengan kekuatan penuh. Tekanan yang menyertainya begitu besar hingga ruang di sekitar lintasan pedang seolah membeku. Angin kencang menerpa arena, membuat pakaian Ryan berkibar. Thane mengerahkan tenaga yang selama ini membuatnya ditakuti bahkan oleh sesama murid inti. Namun Ryan tetap tenang. Ia mengakui tenaga Thane luar biasa meski tingkat kultivasinya tidak terlalu tinggi. Hanya saja, Ryan tidak berniat menggunakan teknik terkuatnya, apalagi mengerahkan seluruh kemampuan untuk mengakhiri pertarungan seketika. 'Kalau terlalu banyak menunju







