Mag-log inIni bab kedua pagi ini. seperti biasa, bab berikutnya akan rilis siang dan othor setting terjadwal untuk siang dan sore, malam othor rilis manual. selamat berlibur (◠‿・)—☆ Bab Bonus: 0/5 Bab Reguler: 2/2 Bab (Komplit)
Kapal terbang mereka akhirnya mendaratkan diri di Kota Spirevale setelah perjalanan yang cukup panjang.Udara di kota perbatasan itu terasa lebih dingin dari Sekte Moon Flower, dengan aroma asap dan logam yang khas dari kota yang ramai oleh pendatang dari berbagai sekte.Kaki mereka baru menyentuh dermaga pendaratan ketika Mira Yin sudah bergerak lebih dulu. Gadis bertopeng hitam itu memutar posisinya dan berdiri tepat di hadapan Ryan, menghalangi jalan."Baiklah, kita sudah turun." Suaranya terdengar seperti seseorang yang baru saja menemukan alasan terakhir yang bisa dipakai. "Bisakah kita bertarung sekarang? Atau kamu memang pengecut yang takut menghadapi perempuan?"Ryan memandang ekspresi serius di balik topeng itu dan menghela napas kecil dalam hati.Selama perjalanan dari Sekte Moon Flower, gadis ini sudah mengganggunya minimal dua puluh kali untuk meminta duel. Setiap kali Ryan memberikan alasan, Mira Yin menemukan celah untuk membantahnya. Setiap kali ia mengalihkan topik
Beberapa saat kemudian, Eren Carster memimpin Ryan dan Mira Yin keluar dari aula utama.Sepanjang perjalanan menuju pintu keluar, Eren sesekali melirik Ryan dengan tatapan yang penuh pikiran. Sesuatu masih mengganjal di benaknya.Ia sudah cukup lama menjadi Ketua Sekte untuk tahu bahwa esensi darah Unicorn Naga yang diolah tidak akan menghasilkan suara raungan sekeras dan seancaman itu.Tapi Brentley Holt sudah berbicara. Dan Tetua Agung Brentley Holt bukan orang yang perkataannya bisa dipertanyakan begitu saja.Saat mereka melangkah keluar dari batas Sekte Moon Flower, satu firasat menggelitik Eren tanpa bisa diabaikan. Keikutsertaan Ryan di Kompetisi Rising Dragon kali ini mungkin akan menggemparkan seluruh Benua Valorisia.Dari Sekte Moon Flower, ketiganya menuju Kota Phoenix Api. Di dermaga udara kota itu, sebuah kapal terbang sudah menunggu, siap membawa mereka menuju sebuah kota kecil di perbatasan Benu
Ryan menatap sosok yang berdiri di sudut aula itu.Mira Yin juga hadir? Ia tidak menyangkanya. Yang lebih mengejutkan adalah aura Mira Yin yang terasa berbeda dari terakhir kali mereka bertemu.Lebih padat. Lebih tajam.Rupanya gadis itu sudah bertumbuh cukup signifikan dalam waktu yang tidak lama. Terakhir kali Ryan melihatnya, aura itu belum setajam ini. Ada yang berubah.'Berarti dia salah satu peserta kompetisi kali ini.'Eren Carster menyapu pandangannya ke seluruh ruangan. "Baiklah, semua sudah hadir. Kita bersiap untuk berangkat."Ryan sedikit mengerutkan dahi. "Bukankah ada tiga slot?"Jessica Neuro tersenyum tipis. "Xavier Dragvine tidak berhasil menjadi murid rahasia.""Tapi ia lulus Ujian Darah Roh, jadi Tetua Agung Yordan sudah membawanya ke klan asing dan meminta para kultivator di sana untuk merekomendasikannya ikut kompetisi melalui jalur itu."Ia melanjutkan sebelum R
Brentley Holt tidak langsung menjawab. Pandangannya lama menatap kamar itu dari luar, seolah membaca sesuatu yang tidak terlihat oleh yang lain.Kemudian ia melangkah masuk tanpa berkata sepatah kata pun kepada siapa pun.Di dalam, ia merasakan sisa-sisa kekacauan energi yang sudah mulai mereda. Alisnya yang putih terangkat sedikit. Formasi biasa tidak akan meninggalkan sisa energi seperti ini.Dia menelusuri dengan persepsinya jauh ke dalam, melewati lapisan demi lapisan kekacauan yang masih tersisa. Dalam satu momen, ia melihat sepasang mata.Mata binatang iblis kuno.Ia tidak asing dengan kekuatan semacam itu. Meski belum matang dan masih dalam kondisi lemah, binatang itu akan menyerang siapa pun yang mendekatinya tanpa memperhitungkan kondisinya sendiri, demi satu alasan sederhana, melindungi tuannya.Brentley Holt kembali ke luar.Murid yang ia pilih ternyata bukan orang biasa.Dia melambaikan tangannya kepada semua orang. "Pergi. Ryan baik-baik saja. Beri dia ruang."Ia mem
Demi bisa bertarung bersama Tuannya lagi. Itulah alasan Sphinx. Itulah segalanya.Mata Ryan memanas. Ia menancapkan Pedang Iblis Darah ke dalam es di depannya, kemudian mendorong tubuhnya maju selangkah. Darah terus mengalir dari kulitnya, meresap ke dalam jubahnya yang sudah basah sepenuhnya.Satu langkah."Sphinx, tunggu aku!"Sphinx sudah tidak sadarkan diri. Ryan tidak tahu apakah makhluk itu masih hidup atau sudah tidak ada.Lima meter jarak yang biasanya bisa ia tempuh dalam sekejap. Sekarang terasa seperti perjalanan melintasi dunia.Ia tidak berhenti.Satu langkah lagi. Darah mengalir. Satu langkah lagi.Kulitnya sudah tidak bisa membedakan antara dingin dan nyeri. Keduanya menjadi satu hal yang sama.Setelah waktu yang terasa sangat panjang, Ryan akhirnya tiba di sisi Sphinx. Seluruh jubahnya sudah tidak bisa dibedakan warnanya lagi.Tenaganya habis.Ia roboh.Tangannya mengulur dan memeluk Sphinx yang kaku terbalut es, mencoba memberikan sedikit kehangatan dari tubuhnya s
Sphinx mendengar langkahnya dan membuka matanya dengan susah payah. Sorotnya lemah tapi jelas."Jangan mendekat..." Suaranya nyaris tidak terdengar.Ia mengangkat kepalanya dengan susah payah, memastikan Ryan mendengar. "Jangan..."Sphinx tahu. Karena koneksi darahnya dengan tulang rusuk itu, separuh dari tekanan yang diterimanya sudah tereduksi secara otomatis melalui jalur yang hanya bisa diakses oleh pemilik garis darah yang sama.Tapi Ryan tidak punya koneksi seperti itu. Kalau Ryan mendekati sumber energi kuno ini tanpa perlindungan yang tepat, ia akan menanggung seratus persen bebannya langsung, tanpa pengurangan apa pun. Dalam kondisi tubuh Ryan yang sudah penuh luka, itu bukan pertaruhan yang masuk akal."Tuan... jangan mendekat." Sphinx memaksakan suaranya keluar sekali lagi, lebih keras dari sebelumnya. "Biarkan aku sendiri... aku bisa... ini benar-benar bisa kulakukan."Sphinx menggigit giginya dan bertahan. Rasa sakitnya seperti tubuh yang meledak dari dalam, berkali-ka
Pak Tua Feng melambaikan tangannya untuk menghentikan Pak Tua Yong bergerak. Kemudian, dia ragu-ragu selama beberapa detik dan berkata, "Adik Kecil, karena kamu tidak mengenal tempat ini, beri tahu kami siapa yang kamu cari. Jika kami tahu, kami pasti akan memberi tahu kamu." Ryan sangat gembira
Rick Campbell mengerang kesakitan, dan terus-menerus memuntahkan darah. Pupil matanya memerah saat dia mencengkeram dadanya erat-erat. Dia belum pernah berada dalam kondisi sesedih itu sebelumnya! Selama bertahun-tahun, statusnya sebagai putra satu-satunya Jonathan Campbell telah memberinya hak
Mata Ryan menyipit. Dengan lambaian tangannya, penghalang formasi dan petir ilahi menghilang! Orang tua itu tercengang. Ryan telah membunuh orang lain dengan kejam, jadi mengapa dia akan mengampuni siapa pun? Ini terlalu tidak logis. "Tuan, Anda… Apa yang Anda inginkan dari saya? Saya… Saya tidak
Mata Jamie Leon terbelalak saat mendengar keputusan ayahnya. Dia tidak pernah menyangka bahwa hal yang selama ini dia usahakan untuk diubah akan benar-benar berubah karena Tuan Ryan. Yang paling penting, Ryan bahkan tidak melakukan apa pun secara langsung! Walter Leon teringat sesuatu dan melanj







