تسجيل الدخول"Rama, kakak kemasukan mentimun, bantu keluarkan!" "Rama, aku digigit ular, bantu hisap keluar bisa-nya!" Setelah mendapati dirinya bertransmigrasi ke zaman kuno, Rama menemukan para wanita di sekitarnya tengah bergelut dengan masalah tak lazim. Konyolnya lagi, Rama yang niatnya tulus ingin membantu, malah dimintai pertanggung-jawaban karena dianggap sudah melihat bagian yang tak seharusnya dilihat, dan menyentuh bagian yang tak seharusnya disentuh. Hal ini membuat Rama sangat frustasi. "Jadi aku harus bagaimana? Apa aku harus menikahi kalian semua?"
عرض المزيد"Penguasa Langit sialan! Kau masih belum puas mempermainkan aku, ya?"
"Membuatku bertransmigrasi ke tubuh pemuda tidak berguna ini saja sudah konyol! Sekarang kau malah menghadapkan aku pada kakak ipar yang sedang berselingkuh!" Rama Adipramana mendongak ke atas dengan wajah mengeras, tubuhnya bergetar dan tangannya mengepal karena marah. Dia mengutuk Dewa atau siapa pun yang berkuasa atas takdir, karena telah menuliskan skenario perjalanan hidup yang tragis sekaligus absurd untuk dirinya. Beberapa saat sebelumnya, Rama sempat bingung ketika mendapati dirinya terbangun di tengah hutan dalam kondisi tubuh babak-belur. Setelah merenung sejenak, Rama menyadari bahwa jiwanya telah berpindah realitas, merasuk ke tubuh pemuda berandalan di zaman kuno, yang baru saja meninggal dunia akibat dipukuli karena membuat onar. Pemilik tubuh sebelumnya juga bernama: Rama Adipramana! Meski kesal setengah mati pada Sang Pencipta yang telah membuatnya bereinkarnasi menjadi seorang pemuda tidak berguna, Rama sadar tidak punya pilihan selain menerima takdir barunya dan melanjutkan hidup. Sambil terus memaki, Rama beranjak meninggalkan hutan, pulang ke desa berbekal ingatan yang tertinggal dalam memori pemilik tubuh sebelumnya. Sialnya lagi, setibanya di rumah Rama langsung disambut suara-suara aneh yang bersumber dari kamar Sarah, kakak iparnya yang janda. Jelas sekali, itu adalah desahan seorang wanita yang tengah tenggelam oleh gelombang kenikmatan duniawi. "Wanita ini benar-benar lancang! Bahkan berani membawa pria selingkuhan ke rumah ini untuk berbuat mesum!" Rama ingat, pemilik tubuh sebelumnya selalu membenci kakak ipar ini. Karena menurut persepsinya, Sarah adalah wanita licik, manipulatif, sekaligus murahan. Sekarang, keyakinan itu terbukti benar! "Jangan khawatir, aku pasti akan membersihkan parasit ini dari rumah keluargamu!" Rama tidak suka pada pemilik tubuh sebelumnya, karena sepanjang hidup telah melakukan banyak hal bodoh dan merugikan diri sendiri. Namun, karena sudah terlanjur mengambil alih tubuhnya, Rama berniat memberi keadilan sebagai penghormatan terakhir, agar jiwanya tenang, entah di mana pun ia berada. Terlebih, Rama memang benci orang-orang berkarakter licik dan manipulatif, seperti kakak ipar ini. Braaak! Rama membuat pintu kamar wanita itu terbuka dengan satu tendangan keras, lalu menyerbu masuk dengan penuh kemarahan. Sebenarnya kakak kandung pemilik tubuh sebelumnya sudah lama tiada. Namun, karena selama ini Sarah sangat mahir menutupi kebusukannya dengan berpura-pura baik, dia terpaksa membiarkan kakak ipar ini tetap tinggal di rumah mereka. Sekarang wajah asli wanita itu sudah ketahuan, jadi Rama bisa langsung mengusirnya tanpa perlu repot mencari-cari alasan. Namun, Rama langsung kehilangan kata-kata begitu melihat adegan yang tengah berlangsung di sana. "I-ini?" Dia menatap ke arah tempat tidur dengan mata membelalak dan tubuh mematung. Ternyata apa yang ia bayangkan saat di luar tadi tidak sepenuhnya tepat. Kakak iparnya itu memang tengah berbaring di tempat tidur, tubuh bagian bawahnya polos tanpa tertutup kain, bahkan pahanya pun terbuka lebar. Namun, Sarah hanya sendirian, tidak ada pria asing, adanya hanya sebatang mentimun kecil yang terselip di celah pribadinya. Gluuk! Rama menelan ludah, matanya tidak berkedip dan masih terpaku pada bagian terlarang kakak iparnya. Maklumi saja, karena pasti sulit bagi pria normal mana pun untuk berpaling dari pemandangan ajaib seperti itu! Terlebih, dari posisi berdirinya saat ini, Rama dapat melihat setiap detailnya meski pencahayaan yang ada cukup redup. Jelas, sangat jelas, bahkan teramat jelas! Indah, berwarna agak kemerahan, dan sangat bersih! "Ra-rama, kapan kamu pulang? Mau apa kamu menerobos kamar kakak?" Sarah gelagapan, malu hingga ingin rasanya menenggelamkan diri ke dasar danau, karena perbuatan konyolnya tertangkap basah oleh Rama. Dia buru-buru mencabut mentimun dari area pribadinya dengan gerakan panik, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang setengah telanjang, sekaligus untuk menyembunyikan wajahnya sudah semerah udang rebus. Karena situasinya tidak seperti yang ia bayangkan, Rama terpaksa menggaruk kepala yang tidak gatal. "Ka... Kak Sarah, maaf, aku kira kau sedang- ...." Rama sengaja tidak meneruskan perkataan. Selain kurang pantas, dia yakin Sarah pasti tahu apa maksudnya. Dia lantas mengibaskan tangan sambil berpura-pura bodoh. "Ya sudah, Kak Sarah ... silakan kalau mau dilanjut lagi!" Setelah itu, Rama berbalik keluar. Dia tidak ingin berdiri di sana lebih lama lagi, karena saat ini tarikan napasnya sudah berat, dan tubuhnya mulai panas dingin. Ini bukan lagi disebabkan oleh amarah, melainkan oleh pikiran liar yang muncul tanpa bisa dikendalikan karena menyaksikan kemolekan tubuh Sarah. Jadi, sebelum dirinya kehilangan akal sehat, lebih baik ia bergegas pergi. "Dilanjut katanya, sudah seperti ini, apa yang masih bisa dilanjutkan?" Sarah menyingkap selimut, lalu menatap punggung Rama yang berjalan keluar dengan ekspresi melongo. Rama tiba di kamar sendiri. Dia berbaring di tempat tidur, dan mulai meragukan persepsi buruk pemilik tubuh sebelumnya terhadap Sarah. Rama ingat, di desa mereka, bahkan hingga ke desa-desa tetangga, ada banyak pria yang tergila-gila pada kecantikan Sarah. Jika ia memang wanita licik dan murahan, ia seharusnya mencari salah satu pria itu, tidak perlu bersolo karir untuk memuaskan diri. Tok, tok, tok! Belum ada 10 menit rebahan, pintu kamar Rama sudah diketuk dari luar. Lalu suara Sarah menyusul, "Rama, tadi kakak lihat kamu terluka, jadi datang untuk mengolesi salep!" Kemudian pintu dibuka, Sarah melangkah masuk sambil membawa wadah kecil berisi obat. Rama menoleh ke arahnya dengan dahi berkerut. Wanita pada umumnya akan menghindar setelah terlibat situasi memalukan dengan seorang pria. Namun, Sarah kelihatannya tidak peduli sama sekali. Pada saat yang sama, ingatan mengenai karakter pemilik tubuh sebelumnya yang rusak parah muncul di benak Rama. Di luar ia dikenal sebagai pemuda payah dan pengecut. Namun, merasa paling hebat dan berkuasa saat di rumah sendiri. Tingkahnya seperti raja, yang semua kebutuhannya harus dilayani. Dia juga gampang mengamuk bila merasa tidak dipedulikan, dan Sarah sudah terlalu sering menjadi korban dari sifatnya yang kasar dan semena-mena. Dengan kepribadian seperti itu, masuk akal melihat Sarah begitu takut, dan terpaksa bersikap seolah tidak pernah terjadi situasi canggung di antara keduanya. Sarah meletakkan wadah obat di meja begitu ia sampai ke sisi Rama. "Rama, kakak mau ngolesin salep, pakaianmu harus dibuka!" Sarah berkata seraya mengulur tangan, dan mulai melucuti pakaian Rama tanpa ragu. Sarah memang sudah terbiasa merawat pemilik tubuh sebelumnya dalam berbagai kondisi. Seperti saat sedang sakit, atau sehabis dipukuli orang seperti saat ini. "Kakak Ipar, rasanya ini nggak benar!" Rama buru-buru menghentikan Sarah. Rama tahu tindakan Sarah hanya berdasarkan rasa peduli bercampur rasa takut, tanpa ada niat lain. Namun, Rama bukan pemilik tubuh sebelumnya yang brengsek sekaligus buta. Suka menggoda sembarang wanita, mulai dari gadis, janda, hingga istri orang, tapi tidak pernah sadar di rumah sendiri ada wanita cantik dan perhatian. "Ke-kenapa?" Sarah ketakutan setengah mati, hingga tubuhnya gemetaran. Ini adalah kali pertama Rama menolak dilayani olehnya, jadi ia berpikir telah melakukan sesuatu yang membuat Rama kesal. Sekarang ia refleks memejamkan mata, menyiapkan diri untuk menerima pukulan dari adik ipar yang ringan tangan itu seperti sebelum-sebelumnya. Namun, pukulan Rama tidak kunjung datang. Sebagai gantinya, ia mendengar Rama berkata dengan santun, "Kakak Ipar, terima kasih. Tapi biar aku sendiri yang mengolesi salep obat ini, sebaiknya kamu keluar aja!" Rama belum bisa melupakan apa yang dilihatnya ketika memergoki Sarah bermain solo beberapa saat yang lalu, bahkan sampai saat ini masih menyisakan imajinasi liar di kepalanya. Sekarang, Sarah malah ingin menjamah tubuhnya. Jika dibiarkan, dia bisa hilang kendali. Rama bukan sedang berlagak seperti kucing yang sok-sok'an menolak ikan, tapi dia tidak seperti pemilik tubuh sebelumnya yang suka makan sembarangan. Terlebih, Rama selalu memegang teguh prinsip: Tidak Boleh Membalas Kebaikan Dengan Keburukan. Saat ini, Sarah berniat membantunya dengan tulus, dia adalah bajingan sejati jika berbalik memanfaatkan kesempatan untuk mengambil keuntungan dari Sarah. "Baiklah, kalau begitu kamu obati sendiri." Meski heran melihat perubahan sikap Rama, ditambah sekarang ini adalah kali pertama dia mendengar Rama menuturkan kata terima kasih, Sarah langsung berbalik keluar sesuai perintah Rama. Dia tidak bertanya bukan karena tidak penasaran, tapi karena dia tidak berani. Keesokan paginya, Rama keluar kamar setelah dipanggil Sarah untuk sarapan. Di meja makan, hanya tersaji bubur nasi yang kebanyakan air, ini sudah cukup untuk menggambarkan situasi sulit keluarga mereka. Namun, bukan makanan itu yang menjadi fokus Rama, melain gerak-gerik Sarah yang berdiri di hadapannya. Rama melihat wanita itu terus bergerak gelisah, wajahnya juga agak pucat, dan kantung matanya bengkak. "Kak Sarah, apa kamu sedang nggak enak badan? Apa semalam tidurmu nggak pulas?" tanya Rama. Sarah menjawab dengan suara pelan, "Iya, sebenarnya ada yang sakit!" Rama mengangguk sedikit dan lanjut bertanya, "Apa kita sudah nggak punya uang sama sekali untuk kamu pergi berobat?" Rama ingat, pemilik tubuh sebelumnya tidak pernah bekerja, dan hanya tahu menghabiskan apa yang sudah ada. Bahkan, mas kawin yang diberikan kakaknya pada Sarah saat menikah dulu, sudah habis diminta secara paksa olehnya. Melihat Sarah tidak menjawab, Rama tahu bahwa mereka memang sudah tidak memiliki uang sama sekali. Jadi Rama langsung berdiri seraya berkata, "Kak Sarah, kamu sedang sakit, jadi istirahat aja. Aku mau pergi cari uang. Tunggu di rumah, aku akan membawamu ke tabib setelah pulang nanti." "Percuma aja, aku nggak mau pergi ke tabib." Sarah buru-buru menahan Rama agar tidak pergi. "Kenapa?" Rama bertanya sambil menatap Sarah dengan dahi berkerut, "Apa Kakak nggak percaya aku? Jangan khawatir, aku pasti bisa membawamu berobat." Mengingat pemilik tubuh sebelumnya masih berusia 18 tahun, belum pernah tahu cara menghasilkan uang, Rama tidak heran melihat Sarah tidak memercayai perkataannya. Jadi Rama bertekad memberikan bukti saat pulang nanti. Namun, Sarah tetap menggelengkan kepala. "Bukannya aku nggak mau percaya, tapi penyakitku ini sangat memalukan, nggak boleh diketahui orang lain, termasuk tabib." Perkataan Sarah membuat Rama mengangkat sebelah alis matanya. "Kakak ipar, kalau nggak mau pergi ke tabib, gimana kamu bisa sembuh?" "Kamu nggak ngerti, Rama. Sebenarnya ...." Sarah kembali tertunduk malu dan tidak sanggup meneruskan perkataan. Rama menghela napas sambil menatap Sarah dengan serius. "Kak Sarah, sebenarnya apa? Kalau kamu tutup-tutupi begini, gimana aku bisa ngerti?" Sarah meremas ujung baju. Di satu sisi, dia malu menjelaskan kondisinya, tapi di sisi lain sudah tidak tahan dan merasa sangat tersiksa. Pada akhirnya, Sarah memaksakan diri untuk memberitahu Rama, meski dengan kalimat terbata-bata. "Se-sebenarnya ... saat kamu tiba-tiba masuk ke kamarku tadi malam, aku sangat terkejut. Akibatnya aku tanpa sengaja membuat mentimunnya patah, dan sekarang patahan mentimun itu tertinggal di dalam milikku."Di zaman ini, praktik perbudakan dan perdagangan manusia masih sangat umum, dan hukum selalu berpihak pada mereka yang punya uang. Bermodal surat jual beli yang sudah terdapat cap sidik jari Rama, ditambah memberi sedikit uang suap pada orang pengadilan, Barata memang bisa memenangkan perkara dengan mudah.Jadi ketika mendengar ancaman Barata, para penduduk desa langsung ketakutan.Mereka tidak tega membiarkan Sarah dibawa oleh Barata, tapi juga tidak berani berurusan dengan pejabat.Bagi rakyat biasa yang hidup di pedesaan seperti mereka, berurusan dengan pejabat sangat rumit, dan ujung-ujungnya mereka juga yang menderita.Melihat penduduk desa tidak bersuara, Barata semakin berani menekan.Dia berteriak, "Rama, sekarang nggak ada yang bisa membela kamu! Jadi cepat serahkan kakak iparmu, dengan begitu aku bisa mempertimbangkan untuk tidak mempermasalahkan penganiayaan hari ini!"Rama menarik sudut bibir sembari berjalan ke depan."Mau membawa kakak iparku, ya? Mimpi saja sana!"Samb
"Dasar! Sejak kapan kamu jadi pandai menggoda orang?"Sarah mendesis, lalu memberikan cubitan kecil di perut Rama.Namun, ia tetap bertindak sesuai permintaan, dan kini telah berjongkok tepat di hadapan Rama.Tangannya langsung bergerak cekatan membuka apa yang harus dibuka, sementara matanya tidak berkedip, seolah tidak sabar untuk melihat wujud sesungguhnya dari belalai yang tersembunyi di balik celana Rama.Dor, dor, dor!Pintu depan digedor dengan keras.Lalu disusul teriakan cempreng seorang pria. "Sarah sayang, cepat keluar, sambut suami barumu ini!"Hal ini seketika membuyarkan suasana intim yang tengah berlangsung di dalam rumah.Padahal, kain pengikat pinggang Rama telah terbuka, dan celananya sudah melorot. Hanya tinggal menyisakan dalaman saja untuk membuat Rama junior terbebas sepenuhnya."Kak Sarah, siapa yang datang?"Rama jelas merasa frustasi, mengapa gangguan harus datang di waktu yang paling kritis?Bahkan jika itu adalah cara semesta untuk mencegah dirinya dan Sarah
"Iya, aku akan berusaha!" Sarah berjanji.Selanjutnya, untuk kali kedua Sarah merasakan hangatnya jemari Rama menyusup ke dalam celah pribadinya.Dua jari Rama yang bergerak di dalam memang untuk mencapit patahan mentimun. Namun, yang dirasakan Sarah adalah sentuhan pemberi kenikmatan.Lalu tak berapa lama kemudian, tubuh Sarah mulai meliuk-liuk tanpa bisa dikendalikan, karena merasakan gelombang kenikmatan yang sama seperti sebelumnya kembali mendekat."Ada apa?"Sarah tersentak ketika jemari Rama di dalam miliknya tiba-tiba berhenti bergerak.Jelas, penghentian tanpa aba-aba itu sangat merusak kebahagiaannya, dan membuat raut wajahnya terlihat tidak terima.Rama menggeleng karena frustasi melihat kakak ipar ini langsung lupa pada janjinya barusan."Kak, sekarang kamu sangat licin, kalau terlalu banyak bergerak, aku nggak bisa mencapitnya!" Rama mengingatkan sambil menatap kakak iparnya itu dengan tegas."Baiklah, kali ini akan aku tahan!"Sarah menurut, tapi wajahnya cemberut, dan s
Setelah mendapat persetujuan Sarah, Rama pun memberanikan diri untuk menyentuh area terlarang kakak iparnya itu."Aaahh ...."Saat jari-jari Rama yang besar dan hangat mendarat di bagian pribadinya, Sarah langsung mengeluarkan desahan dan tubuhnya ikut menggeliat seperti cacing kepanasan.Reaksinya terlihat sangat erotis, membuat Rama harus menghela napas dalam-dalam agar pikirannya tetap waras.Sebenarnya mengeluarkan patahan mentimun itu bukan perkara sulit. Rama hanya perlu memasukkan dua jarinya ke dalam, lalu menarik keluar setelah menemukan keberadaannya.Namun, karena kondisi Sarah yang masih kering, ditambah celahnya sangat kecil, Rama jadi kesulitan melakukan hal tersebut.Rama ingat, dulu, tepat di hari pernikahan, kakaknya terpaksa pergi menjadi tentara karena panggilan pemerintah.Tak lama setelahnya, kabar buruk pun datang, kakaknya itu gugur di medan perang.'Punya Kak Sarah sesempit ini, ternyata selama ini dia benar-benar menjaga kesuciannya!'Rama memuji keteguhan hat






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.