تسجيل الدخولSepuluh tahun lalu, keluarga Davien dibantai habis, membuat pemuda 15 tahun itu nyaris mati. Namun, sekarang ia justru kembali dengan kekuatan yang luar biasa. Niatnya hanya satu, yaitu membalas dendam atas pembantaian keluarganya! Namun, tak ada yang menyangka jika ia malah terjebak dalam lingkaran harem bersama wanita-wanita luar biasa!
عرض المزيدCRASH!!
BOOM!! “Ayah!” teriak Davien ketika melihat ayahnya, David Adiputra, terpental jauh hingga menabrak dinding halaman rumah hingga jatuh berlumuran darah. Sementara itu, Karina, ibu Davien yang sama sekali tak memiliki kekuatan, telah mati setelah dihempaskan hingga menabrak deretan meja pesta. Malam ini, seharusnya menjadi malam perayaan ulang tahun Davien Adiputra yang ke 15 yang indah. Namun, semua itu hanya berlangsung beberapa menit di awal acara. Ketika Hendra Adiputra, paman Davien, tiba-tiba datang dengan banyak pengawal dan satu bom dari bawah tanah, semua berubah menjadi suram. Langit cerah di atas Istana Adiputra yang ada di puncak bukit tertinggi Metropolis G cerah mendadak tertutup awan hitam pekat yang memancarkan aura kematian. Di depan gerbang utama, puluhan pengawal keluarga telah tewas bersimbah darah. Sementara itu, Hendra berdiri dengan tenang di tengah mayat-mayat itu. Kulitnya kini dipenuhi urat-urat hitam yang menonjol, dan matanya memancarkan cahaya merah haus darah. “Hendra … kau … uhuk!” rintih David sambil memegang dadanya yang terasa panas, tatapannya tertuju ke arah adiknya yang berdiri tak jauh darinya dengan tatapan penuh kemenangan. Sebenarnya, David adalah seorang kultivator Alam Langit Tahap Puncak. Sementara Hendra, selama 10 tahun ini ia terjebak di Alam Langit Tahap Awal. Namun, kekuatan yang Hendra pancarkan saat ini benar-benar jauh dari Tahap Awal, bahkan setara dengan Alam Surgawi Tahap Menengah. Jelas itu membuat David tak bisa menghadang seranganya. “Kakak, ini balasan untukmu karena sudah menyimpan Kitab Inti Penguasa hanya untuk dirimu sendiri, hahaha!” ujar Hendra dengan arogan, tekanan energi yang keluar dari tubuhnya membuat seluruh istana bergetar. Ketika Hendra berjalan mendekati David dengan penuh tekanan, Davien yang sejak tadi ditahan oleh satu sosok berjubah hitam kembali memberontak. “Paman! Jangan sakiti ayahku!” teriak Davien sambil terus meronta meskipun terasa sia-sia karena tekanan energi gelap dari sosok berjubah hitam itu tak bisa ia lawan. “Diam kau bocah!” gertak Hendra sembari menoleh ke arah Davien, matanya memancarkan api kemarahan. “Selama ini kau hanya diam saja saat ayahmu melakukan kecurangan di keluarga ini. Dasar anak tidak berguna!” SWISH! Hendra mengulurkan tangan kirinya ke arah Davien, membuat bocah 15 tahun itu seketika melayang. “Arghh!” teriak Davien dari atas langit sambil terus meronta. “He–Hendra! Lepaskan anakku!” pekik David yang berusaha berdiri. Namun, satu tangan Hendra mengarah pada David. Dengan satu gerakan ringan, Hendra mengibaskan tangannya, membuat David kembali terpental ke dalam tanah, membuat sebuah lubang besar yang penuh asap di tengah halaman istana. “Tidak! Ayah!” Davien kembali mengerang. Ini benar-benar ulang tahun paling buruk sepanjang hidupnya karena ia harus menyaksikan kedua orang tuanya tewas mengenaskan. Davien hanya bisa bergidik ngeri melihat semua ini. Ia masih belum begitu paham dengan urusan keluarga, tapi jelas ia tak terima melihat orang tuanya tewas. Hanya saja, ia tak bisa melakukan apapun. Di usia yang semua ini, Davien masih dalam tahap pembelajaran untuk membentuk energi. Jadi, perlawanan apapun yang ia lakukan, jelas akan terasa sia-sia. “Mulai malam ini, akulah kepala keluarga Adiputra, pemegang Kitab Inti Penguasa sekaligus penguasa Metropolis G!” Hendra berteriak penuh dominasi, suaranya menggelegar hingga ujung langit. Setelah itu, Hendra menarik tangan kirinya mendekat, membuat Davien seperti tersedot. “Bocah, kalau kau tidak ingin mati, kau harus—” “Bunuh bocah itu, hancurkan Inti Jiwanya!” suara gelap dan dalam tiba-tiba memotong ucapan Hendra, membuat Hendra tak terdiam. Sementara itu, Davien yang kebingungan semakin merasa cemas. Namun, tanpa menunggu lebih lama, setelah Hendra mengangguk entah pada siapa, ia langsung menyedot sesuatu dari tubuh Davien. “ARGH!!!” erang Davien penuh kesakitan. Sebuah cahaya putih terpancar keluar dari tubuh Davien, tapi tak bertahan lama. Setelah Davien kehilangan tenaga dan di ambang kematian, Hendra langsung melempar tubuh keponakannya itu ke sisi jurang yang ada belakang halaman Istana Adipura. BOOM! **** Sepuluh tahun berlalu. KRAK! Sebuah pohon tua di balik bukit terbelah oleh satu tebasan. Satu dorongan energi membuat batangnya menghantam bukit. BOOM! Debu dan angin berputar. Dari kepulan itu muncul seorang pemuda berwajah tegas, pakaiannya tetap bersih, aura kuat menyelimuti sekeliling. “Kerja bagus, muridku!” seru seorang pria tua berambut putih dari atas batu. Pemuda itu menunduk hormat. “Semua berkat latihan Eyang Guru.” Pria tua itu tersenyum. “Tubuhmu memang luar biasa. Tanpa Struktur Nadi Surgawi, kau sudah mati sepuluh tahun lalu, Davien.” Benar. Sepuluh tahun lalu Davien memang belum sepenuhnya tewas, tubuhnya tersangkut di dahan dengan Inti Jiwa hancur. Beruntung, saat itu Eyang Guru yang sedang berlatih tak jauh dari sana menyadarinya dan langsung menyelamatkannya. Tiga tahun pertama dihabiskan dalam siksaan. Tubuh Davien direndam di kolam racun seribu serangga. Racun menggerogoti dagingnya setiap detik, sementara energi di dalam tubuhnya memperbaiki dan memperkuat jalur nadinya. Tahun keempat hingga ketujuh, Davien dipindahkan ke bawah air terjun energi murni. Tekanannya cukup kuat untuk menghancurkan batu besar. Di sana ia dipaksa bermeditasi tanpa henti, hingga basis kultivasinya menembus Alam Bumi dan melampaui Alam Langit dalam waktu yang mustahil bagi orang biasa. Tiga tahun terakhir menjadi tahap paling brutal. Eyang Guru memaksanya bertarung hidup mati melawan monster penjaga lembah, sampai akhirnya Davien berhasil menelan Inti Kristal Naga Bumi yang legendaris. “Tapi, kalau saat itu tidak ada Eyang Guru, mungkin aku sudah mati. Sekali lagi, terima kasih, Eyang Guru,” ujar Davien penuh penghormatan. Eyang Guru tersenyum bangga. Semua didikannya benar-benar diserap dengan baik oleh Davien. “Kau sudah menginjak Alam Langit. Sekarang, apa yang akan melakukannya?” Namun, Davien tidak langsung menjawab. Sorot matanya berubah menjadi lebih dingin. Bayangan kematian orang tuanya 10 tahun lalu kembali muncul di kepalanya. Pamannya, harus menerima balasan darinya! Akhirnya, Davien mengangguk. Ia menatap gurunya dengan penuh harapan. “Dia harus menerima harga atas perbuatannya, Guru.” “Pergilah.” Eyang Guru menepuk pundaknya. “Kendalikan emosimu di depan para iblis itu. Jika butuh sesuatu, datanglah padaku.” Davien memberi salam lalu langsung menuju kota. Dengan kekuatannya, ia terbang ratusan mil ke Kota Metropolis G. Kota itu sudah banyak berubah. Hanya satu dua gedung yang masih ia kenali. Sekitar satu jam kemudian ia tiba di pinggiran kota. Hujan turun deras, tapi ia tetap berjalan ke pusat kota melalui emperan pertokoan sambil merapikan pakaiannya. Pakaiannya yang kumal menarik tatapan aneh orang-orang, namun Davien tak peduli. Tujuannya hanya satu, yaitu menemukan pamannya. Sampai akhirnya tiba-tiba— BRAK! Sebuah Maybach yang melaju tak terkendali menabrak tiang listrik dengan keras. Percikan api memercik, asap putih mengepul, klakson tertekan terus-menerus seperti jeritan minta tolong yang tak berujung. Davien segera menoleh ke tempat kejadian. Pintu mobil terbuka dengan susah payah. Seorang wanita muda keluar sambil terhuyung, mantel mahalnya basah oleh hujan. Wajahnya cantik, tegas, namun kini pucat oleh kepanikan. Rambutnya yang rapi berantakan, napasnya tersengal. "Kakek! Bangun!" teriaknya sambil mencoba menarik seorang pria tua dari dalam mobil yang berasap.Tiga hari telah berlalu sejak penempaan tulang yang menyiksa namun membuahkan hasil luar biasa itu. Selama tiga hari itu pula, denyut nadi ekonomi di Metropolis G seolah berpusat pada satu titik: Surgawi Medika.Saat itu, Davien sedang duduk di ruang pribadinya ketika mendapat kabar dari Tuan Besar Pratama melalui sambungan telepon yang penuh dengan nada kegembiraan. "Davien, kau pasti tidak akan percaya ini!" suara Tuan Besar Pratama menggelegar dari seberang telepon, terdengar jauh lebih bugar dan bersemangat daripada minggu-minggu sebelumnya. "Laporan baru saja masuk, dan produksi perusahaan kita benar-benar laku keras di pasaran! Pil-pil yang kau buat seolah menjadi komoditas emas yang diburu semua kalangan, mulai dari apotek besar hingga klinik spesialis!"Dia tertawa pendek, sebuah tawa lega yang sudah lama tidak terdengar. "Bahkan, dua hari belakangan ini sudah ada beberapa investor kelas kakap yang mulai mencium aroma keuntungan besar dan mendesak ingin menanamkan modal di
Rasa sakit yang teramat sangat mulai menggerogoti Davien dari segala lini. Di tengah dimensi Cincin Ruang yang kini dipenuhi cahaya perak kebiruan dari Batu Inti Meteorit Langit, tubuh Davien seolah menjadi pusat dari badai energi yang murni sekaligus liar. Setiap inci kulitnya terasa seperti disayat oleh ribuan sembilu panas, namun itu hanyalah permulaan. Rasa sakit yang sesungguhnya mulai merasuk lebih dalam, menembus lapisan otot, saraf, hingga mencapai sumsum tulang.Dia menggertakkan giginya kuat-kuat hingga rahangnya bergetar, berusaha sekuat tenaga untuk tetap sadar dan bertahan di tengah siksaan yang tak terperikan. Keringat dingin terus mengucur membasahi seluruh tubuhnya, namun sesaat setelah butiran keringat itu keluar, panas energi dari dalam tubuhnya langsung menguapkannya hingga menciptakan kepulan uap tipis yang menyelimuti sosoknya."Jangan menyerah, Davien! Biarkan energi itu menghancurkan bagian yang lemah dan membentuk kembali fondasi jiwamu!" suara Kaisar Dewa Su
Bawahan itu tampak ketakutan mendengar ucapan Hendra. Tubuhnya gemetar hebat, dan butiran keringat dingin mulai membasahi dahi serta punggungnya. Dia tahu betul, selama bertahun-tahun mengabdi di bawah bayang-bayang keluarga Adiputra, siapa pun yang berani mengusik kepentingan tuannya pasti akan berakhir menyedihkan—entah itu lenyap tanpa jejak atau ditemukan sebagai jasad yang tak lagi dikenali. Lebih dari itu, setiap kata yang diucapkan oleh Hendra bukan sekadar gertakan kosong, itu adalah dekrit kematian yang memiliki kepastian. Hendra memiliki sumber daya dan kekejaman yang cukup untuk mewujudkan setiap ancamannya.Lalu bawahan itu bertanya dengan suara yang nyaris berbisik,"Apa rencana Tuan selanjutnya, dan apa yang harus aku lakukan?" Hendra tidak langsung menjawab. Ia berbalik dan menatap cakrawala kota yang mulai temaram dari balik kaca antipeluru yang tebal."Kau tidak perlu melakukan apa-apa lagi," jawab Hendra dengan nada misterius, suaranya terdengar seperti desis ular
Di ruang rapat Perusahaan Surgawi Medika, suasana terasa sangat kontras dengan kemewahan interiornya yang bergaya modern minimalis. Aroma kopi yang mulai mendingin dan jejak asap rokok yang tertinggal di udara menjadi saksi bisu atas kegelisahan yang menyelimuti ruangan tersebut. Tuan Besar Pratama, Maya, dan Bara Mahesa sedang menunggu kedatangan Davien dengan perasaan yang campur aduk.Sejak Davien pergi pagi tadi menuju kediaman militer, mereka terus menunggu dengan khawatir, sesekali melirik ke arah pintu besar yang masih tertutup rapat. Tuan Besar Pratama berkali-kali merapikan kerah bajunya. Maya duduk di sampingnya, jemarinya bertautan erat, sementara matanya tak lepas menatap layar ponsel yang masih belum memberikan kabar.Alasannya jelas dan sangat logis, jika Davien berhasil menyembuhkan Jenderal Haryo, maka itu adalah berkah yang diberikan oleh langit kepada mereka semua. Jenderal Haryo bukan orang yang tidak mengenal balas budi, jika kembali pulih, sudah tentu dia akan
Aris memegang pipinya yang mulai membiru, menatap ke depan dengan ekspresi kosong yang perlahan berubah menjadi kemarahan yang meluap-luap.Davien berdiri di sana, tangannya masih terangkat sedikit di udara. Wajahnya tetap tenang, sedingin es, seolah-olah ia baru saja melakukan tindakan yang paling
Maya berbalik, keningnya berkerut. "Dia bersamaku. Dia memiliki izin khusus dari Keluarga Pratama untuk menjagaku di manapun.""Mohon maaf, Nona Pratama. Ini adalah kediaman Keluarga Barata, bukan Keluarga Pratama. Standar keamanan kami berbeda. Tanpa undangan, pria ini tidak bisa lewat," penjaga l
"Inspektur!" Refleks Davien yang luar biasa membuatnya segera menangkap bahu dan pinggang Reina, membiarkan kepala gadis itu bersandar sejenak di dadanya yang bidang.Hening tercipta selama beberapa detik. Reina bisa merasakan detak jantung Davien yang stabil dan kuat, sementara Davien bisa menciu
Gema langkah kaki sepatu bot yang tegas memecah keheningan pasca-ketegangan di aula hotel. Belum sempat debu dari keruntuhan harga diri keluarga Dirgantara mengendap, pintu besar kembali terbuka. Sederet personel kepolisian masuk dengan formasi taktis, namun sosok di garda terdepanlah yang membuat












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.