Share

Bab 17

Author: Leona Valeska
last update Huling Na-update: 2025-08-17 22:46:56

Dua hari kemudian, Violeta kembali datang ke rumah Jason.

Dia melangkah masuk dengan rambut yang disanggul rapi, mantel elegan menempel di tubuhnya. Di tangannya tergenggam sebuah kantong besar berisi mainan baru.

“Ethan, Sayang!” panggil Violeta dengan suara lembutnya.

Namun, matanya menoleh ke kanan dan kiri seolah mencari seseorang. Siapa lagi kalau bukan Ariana.

Dia berharap wanita itu sudah pergi dari rumah ini. Namun, ketika melihat ke arah tempat bermain Ethan, Ariana sedang merapikan mainan cucunya, membuat rahangnya mengeras.

Anak kecil itu menoleh dan matanya berbinar. “Grandma!” Ia berlari kecil dan memeluk kaki neneknya dengan riang.

Violeta tersenyum dan mengelus kepala cucunya, lalu mengeluarkan mainan baru. “Lihat, Grandma bawa hadiah untukmu.”

Ethan menerima boneka robot dengan sorak kegembiraan. “Terima kasih, Grandma! Ini sangat bagus!”

Hatinya polos, begitu mudah tersenyum.

Namun Violeta tidak hanya datang untuk memberikan hadiah. Ia kemudian duduk ke sofa dan menar
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pembantu Pemuas Nafsu Sang Majikan   Bab 310

    Beberapa jam telah berlalu sejak proses persalinan itu selesai. Suasana rumah sakit yang semula dipenuhi ketegangan kini berubah menjadi lebih tenang.Ariana telah dipindahkan ke ruang rawat inap bersama dua bayi mungilnya yang terlelap dalam balutan bedong hangat.Tubuh Ariana masih tampak lemah, wajahnya pucat, namun ketenangan dan kebahagiaan jelas terpancar dari sorot matanya.Nafasnya teratur, meskipun sesekali ia masih meringis pelan menahan rasa nyeri sisa operasi.Jason berjalan di samping ranjang dorong dengan langkah yang lebih ringan dibanding beberapa jam sebelumnya.Wajahnya yang sejak pagi tegang kini tampak lebih rileks, meskipun matanya masih berkaca-kaca setiap kali menatap dua bayi kecil yang kini resmi menjadi bagian dari hidupnya.Setibanya di ruang rawat, pintu kamar itu langsung terbuka, memperlihatkan keluarga besar yang telah menunggu dengan penuh harap.Melly berdiri paling depan. Begitu melihat Ariana, wanita paruh baya itu langsung menghampiri ranjang putrin

  • Pembantu Pemuas Nafsu Sang Majikan   Bab 309

    Hari yang telah lama dinantikan oleh Ariana dan Jason akhirnya tiba. Sejak dini hari, suasana di rumah mereka sudah dipenuhi oleh ketegangan yang bercampur dengan harapan.Ariana dibawa ke rumah sakit sesuai jadwal operasi yang telah disepakati bersama dokter kandungannya. Wajahnya tampak pucat, namun sorot matanya menyimpan keteguhan yang luar biasa.Di sisi lain, Jason justru terlihat jauh lebih gelisah. Langkahnya mondar-mandir, napasnya berat, dan kedua tangannya berkali-kali saling menggenggam seolah berusaha menenangkan dirinya sendiri.Kini, mereka berada di ruang operasi. Ariana telah berbaring di atas meja operasi, tubuh bagian bawahnya telah dibius sesuai prosedur.Jason duduk di sampingnya, mengenakan pakaian khusus ruang operasi, lengkap dengan penutup kepala dan masker yang menutupi sebagian wajahnya.Namun, kegelisahan itu tetap jelas terlihat dari sorot matanya yang tidak pernah lepas dari wajah Ariana.“Tenanglah,” ucap Ariana lirih, meskipun suaranya terdengar lemah a

  • Pembantu Pemuas Nafsu Sang Majikan   Bab 308

    Usia kandungan Ariana telah memasuki bulan kedelapan. Perutnya kini tampak semakin membesar, membuat setiap gerakannya menjadi lebih lambat dan berhati-hati.Di kamar bayi yang telah dipersiapkan sejak beberapa bulan lalu, Ariana tampak sibuk menata baju-baju mungil milik calon buah hatinya.Baju-baju itu tertata rapi di dalam lemari kecil berwarna putih, disusun berdasarkan ukuran dan jenis kelamin.Sesekali Ariana berhenti, mengusap perutnya yang mengeras, lalu menarik napas dalam sebelum kembali melanjutkan kegiatannya.Jason berdiri di ambang pintu kamar itu cukup lama. Ia menyandarkan tubuhnya pada kusen pintu, kedua tangannya terlipat di dada, matanya tak lepas dari sosok istrinya.Tatapan pria itu sarat oleh berbagai perasaan. Cinta, cemas, dan kekhawatiran yang sejak beberapa minggu terakhir semakin sering mengusik pikirannya.Dia lalu menghela napas panjang, suara napasnya terdengar cukup jelas hingga membuat Ariana menoleh.“Kenapa kau menghela napas seperti itu?” tanya Aria

  • Pembantu Pemuas Nafsu Sang Majikan   Bab 307

    Jonas mengerutkan keningnya ketika pandangannya menangkap sosok Maria yang tengah duduk diam di ruang keluarga.Wanita itu tampak melamun, menatap kosong ke arah Lucas yang sedang bermain balok warna-warni bersama kakaknya, Ethan.Kedua anak itu tampak riang, sesekali tertawa kecil ketika balok yang mereka susun runtuh dan kembali dibangun.Namun, perhatian Maria sama sekali tidak tertuju pada mereka. Tatapannya jauh, seolah pikirannya melayang ke tempat lain yang tidak bisa dijangkau oleh siapa pun di ruangan itu.Jonas melangkah mendekat dengan langkah tenang. Ia berdiri di samping Maria, lalu menepuk pundak wanita itu dengan lembut namun cukup untuk menyadarkannya dari lamunan.“Jangan melamun seperti itu,” tegurnya dengan nada datar namun mengandung kepedulian.Maria tersentak kecil. Ia menoleh dan mendapati Jonas berdiri di sisinya. Bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang tampak agak dipaksakan. “Sejak kapan kau di sini?” tanyanya pelan.“Beberapa menit yang lalu,” jawab J

  • Pembantu Pemuas Nafsu Sang Majikan   Bab 306

    Tengah malam telah lama berlalu ketika Jason perlahan membuka matanya.Cahaya lampu tidur yang redup masih menyala, memantulkan bayangan samar di dinding kamar.Dia menghela napas pelan, lalu secara refleks menoleh ke sisi kanan tempat Ariana biasanya terlelap. Namun, sisi ranjang itu kosong.Seprai tampak sedikit terlipat rapi, menandakan Ariana telah bangun cukup lama dan tidak sekadar beranjak sebentar.Dahi Jason mengernyit. Rasa kantuk yang tersisa seketika menguap, berganti dengan kegelisahan yang perlahan merayap.Dia lalu duduk dan menyandarkan punggung pada sandaran ranjang, lalu memanggil dengan suara yang masih berat karena baru terbangun.“Ariana?” panggilnya dengan pelan.Tidak ada jawaban.Jason mengulanginya, kali ini dengan nada sedikit lebih tinggi. “Ariana?”Kamar tetap sunyi. Hanya suara pendingin ruangan yang berdengung halus. Perasaan tidak nyaman mulai menyelimuti pikirannya.Tanpa menunggu lebih lama, Jason menyingkap selimut dan berdiri dari tempat tidur. Ia me

  • Pembantu Pemuas Nafsu Sang Majikan   Bab 305

    Jason kini duduk di sebuah bangku kayu panjang di teras belakang rumah, tepat di hadapan Ethan dan Lucas yang sedang menikmati es krim masing-masing.Sore itu terasa hangat dan tenang. Angin berembus pelan, membawa aroma rumput basah setelah hujan ringan yang turun tidak lama sebelumnya.Jonas, yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari mereka, tersenyum puas melihat kedua bocah itu begitu lahap menikmati es krim yang ia belikan.Ethan duduk dengan sikap yang sudah mulai menunjukkan kedewasaan seorang anak yang hampir menginjak usia tujuh tahun.Tangannya memegang cup es krim dengan hati-hati, meski sesekali dia masih tampak terlalu bersemangat. Di sampingnya, Lucas yang baru berusia hampir tiga tahun tampak jauh lebih berantakan.Es krim vanila di tangannya mulai meleleh, meninggalkan noda putih di sekitar bibir dan pipinya. Namun, raut wajahnya begitu bahagia, seolah dunia hanya berisi rasa manis yang sedang ia nikmati.Jason menatap kedua putranya dengan senyum lembut. Ada rasa hangat

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status