author-banner
Leona Valeska
Leona Valeska
Author

Novels by Leona Valeska

Pembantu Pemuas Nafsu Sang Majikan

Pembantu Pemuas Nafsu Sang Majikan

Ariana Juwita tak pernah menyangka bahwa pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga akan mengubah hidupnya. Cantik, muda, dan bertubuh menggoda, dia menjadi incaran majikannya sendiri—Jason Lubis, duda berusia 32 tahun yang haus akan sentuhan wanita. Setelah dikhianati oleh istrinya, dia bersumpah tak akan pernah menikah lagi. Tapi tubuhnya tetap membutuhkan pelampiasan dan Ariana adalah jawaban paling mudah atas nafsu yang terus membara dalam dirinya. Dia menjadi pelayan siang hari, dan menjadi pemuas nafsu di malam hari. Tapi apa jadinya saat gairah mulai berubah menjadi rasa?
Read
Chapter: Bab 308
Usia kandungan Ariana telah memasuki bulan kedelapan. Perutnya kini tampak semakin membesar, membuat setiap gerakannya menjadi lebih lambat dan berhati-hati.Di kamar bayi yang telah dipersiapkan sejak beberapa bulan lalu, Ariana tampak sibuk menata baju-baju mungil milik calon buah hatinya.Baju-baju itu tertata rapi di dalam lemari kecil berwarna putih, disusun berdasarkan ukuran dan jenis kelamin.Sesekali Ariana berhenti, mengusap perutnya yang mengeras, lalu menarik napas dalam sebelum kembali melanjutkan kegiatannya.Jason berdiri di ambang pintu kamar itu cukup lama. Ia menyandarkan tubuhnya pada kusen pintu, kedua tangannya terlipat di dada, matanya tak lepas dari sosok istrinya.Tatapan pria itu sarat oleh berbagai perasaan. Cinta, cemas, dan kekhawatiran yang sejak beberapa minggu terakhir semakin sering mengusik pikirannya.Dia lalu menghela napas panjang, suara napasnya terdengar cukup jelas hingga membuat Ariana menoleh.“Kenapa kau menghela napas seperti itu?” tanya Aria
Last Updated: 2026-01-02
Chapter: Bab 307
Jonas mengerutkan keningnya ketika pandangannya menangkap sosok Maria yang tengah duduk diam di ruang keluarga.Wanita itu tampak melamun, menatap kosong ke arah Lucas yang sedang bermain balok warna-warni bersama kakaknya, Ethan.Kedua anak itu tampak riang, sesekali tertawa kecil ketika balok yang mereka susun runtuh dan kembali dibangun.Namun, perhatian Maria sama sekali tidak tertuju pada mereka. Tatapannya jauh, seolah pikirannya melayang ke tempat lain yang tidak bisa dijangkau oleh siapa pun di ruangan itu.Jonas melangkah mendekat dengan langkah tenang. Ia berdiri di samping Maria, lalu menepuk pundak wanita itu dengan lembut namun cukup untuk menyadarkannya dari lamunan.“Jangan melamun seperti itu,” tegurnya dengan nada datar namun mengandung kepedulian.Maria tersentak kecil. Ia menoleh dan mendapati Jonas berdiri di sisinya. Bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang tampak agak dipaksakan. “Sejak kapan kau di sini?” tanyanya pelan.“Beberapa menit yang lalu,” jawab J
Last Updated: 2026-01-02
Chapter: Bab 306
Tengah malam telah lama berlalu ketika Jason perlahan membuka matanya.Cahaya lampu tidur yang redup masih menyala, memantulkan bayangan samar di dinding kamar.Dia menghela napas pelan, lalu secara refleks menoleh ke sisi kanan tempat Ariana biasanya terlelap. Namun, sisi ranjang itu kosong.Seprai tampak sedikit terlipat rapi, menandakan Ariana telah bangun cukup lama dan tidak sekadar beranjak sebentar.Dahi Jason mengernyit. Rasa kantuk yang tersisa seketika menguap, berganti dengan kegelisahan yang perlahan merayap.Dia lalu duduk dan menyandarkan punggung pada sandaran ranjang, lalu memanggil dengan suara yang masih berat karena baru terbangun.“Ariana?” panggilnya dengan pelan.Tidak ada jawaban.Jason mengulanginya, kali ini dengan nada sedikit lebih tinggi. “Ariana?”Kamar tetap sunyi. Hanya suara pendingin ruangan yang berdengung halus. Perasaan tidak nyaman mulai menyelimuti pikirannya.Tanpa menunggu lebih lama, Jason menyingkap selimut dan berdiri dari tempat tidur. Ia me
Last Updated: 2026-01-02
Chapter: Bab 305
Jason kini duduk di sebuah bangku kayu panjang di teras belakang rumah, tepat di hadapan Ethan dan Lucas yang sedang menikmati es krim masing-masing.Sore itu terasa hangat dan tenang. Angin berembus pelan, membawa aroma rumput basah setelah hujan ringan yang turun tidak lama sebelumnya.Jonas, yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari mereka, tersenyum puas melihat kedua bocah itu begitu lahap menikmati es krim yang ia belikan.Ethan duduk dengan sikap yang sudah mulai menunjukkan kedewasaan seorang anak yang hampir menginjak usia tujuh tahun.Tangannya memegang cup es krim dengan hati-hati, meski sesekali dia masih tampak terlalu bersemangat. Di sampingnya, Lucas yang baru berusia hampir tiga tahun tampak jauh lebih berantakan.Es krim vanila di tangannya mulai meleleh, meninggalkan noda putih di sekitar bibir dan pipinya. Namun, raut wajahnya begitu bahagia, seolah dunia hanya berisi rasa manis yang sedang ia nikmati.Jason menatap kedua putranya dengan senyum lembut. Ada rasa hangat
Last Updated: 2025-12-31
Chapter: Bab 304
Usia kandungan Ariana telah memasuki bulan keempat. Perutnya mulai menunjukkan perubahan yang semakin jelas, meskipun tubuhnya tetap tampak anggun dan terawat.Pagi itu, Ariana dan Jason berada di sebuah rumah sakit swasta dengan suasana yang tenang dan tertata rapi. Jason tampak jauh lebih gelisah dibandingkan Ariana.Sejak berangkat dari rumah, pria itu nyaris tidak berhenti berbicara, seolah rasa penasarannya tentang jenis kelamin bayi kembar yang sedang dikandung Ariana telah mencapai puncaknya.Di ruang pemeriksaan, Ariana berbaring dengan nyaman di atas ranjang pasien. Dokter kandungan yang menangani kehamilannya berdiri di samping, menyiapkan alat ultrasonografi.Jason berdiri di sisi Ariana, tangannya menggenggam jemari sang istri dengan erat, matanya terpaku pada layar monitor yang menampilkan gambaran samar kehidupan kecil di dalam rahim Ariana.“Tenang saja,” ujar dokter itu sambil tersenyum profesional. “Kita akan melihatnya sebentar lagi.”Ariana menarik napas perlahan, m
Last Updated: 2025-12-30
Chapter: Bab 303
Sore itu, taman kota tampak lebih ramai dari biasanya. Pepohonan rindang berdiri berjajar rapi, daunnya bergoyang pelan tertiup angin, sementara cahaya matahari yang mulai condong ke barat menyinari area taman dengan semburat keemasan yang hangat.Beberapa keluarga terlihat menikmati waktu bersama, anak-anak berlarian di atas rumput hijau, dan suara tawa sesekali terdengar, berpadu dengan kicau burung yang kembali ke sarangnya.Di salah satu sudut taman, Ariana duduk di atas tikar yang telah digelar rapi. Wajahnya tampak tenang, dengan senyum lembut yang hampir tak pernah lepas sejak mereka tiba.Kehamilannya kini mulai terlihat jelas, meskipun dia tetap berusaha bergerak dengan hati-hati dan penuh perhitungan.Di dekatnya, Ethan dan Lucas bermain bersama, ditemani Maria yang setia mengawasi setiap gerak mereka.Maria kini resmi menjadi pengasuh kedua bocah itu. Meski demikian, Ariana tidak sepenuhnya menyerahkan urusan Lucas kepadanya.Anak bungsunya itu baru berusia dua tahun, dan A
Last Updated: 2025-12-30
Sentuh Aku, Pak Mentor

Sentuh Aku, Pak Mentor

(Mature content 21+) Sophia Russell, 27 tahun, punya segalanya—karier mapan, tunangan ideal, dan masa depan yang tampak sempurna. Tapi di balik semua itu, ada satu hal yang tak bisa dia kendalikan: tubuhnya. Sejak trauma masa lalu, Sophia tak bisa merasakan gairah, bahkan pada calon suaminya sendiri. Atas saran tunangannya, dia menemui Dr. John Maxwell—psikolog seksual muda yang terkenal sabar dan penuh empati yang tak lain adalah masa lalunya yang sudah dia lupakan. Namun, semakin lama terapi berlangsung, semakin kabur batas antara profesional dan pribadi. Ketika hati mulai bergetar untuk orang yang seharusnya tak boleh dia cintai, Sophia dihadapkan pada pilihan: menikah demi kewajiban atau mengikuti hasrat yang baru saja dia temukan.
Read
Chapter: Bab 111
Pagi itu cahaya matahari masuk perlahan melalui celah tirai jendela ruang rawat, menyinari bangsal dengan kehangatan yang lembut.Jam dinding di atas pintu menunjukkan pukul tujuh tepat.Suasana rumah sakit yang biasanya dipenuhi kesibukan kini terasa lebih tenang, seolah memberi ruang bagi pemulihan Sophia yang masih terbaring di atas ranjang dengan posisi setengah duduk.Di hadapannya, sebuah meja kecil telah disiapkan dengan sarapan sederhana namun bergizi.John duduk di sisi ranjang, mengenakan kemeja rapi dengan lengan yang digulung hingga siku.Di tangannya terdapat sendok kecil yang berisi bubur hangat. Dengan gerakan perlahan dan penuh kehati-hatian, ia menyuapi Sophia, memastikan wanita itu tidak tergesa saat menelan makanan.“Pelan-pelan,” ucap John dengan nada lembut. “Jangan dipaksakan. Tubuhmu masih membutuhkan banyak energi untuk pulih.”Sophia menurut. Ia membuka mulutnya dan menerima suapan itu, lalu mengunyah dengan tenang.Tatapannya sesekali tertuju pada John yang s
Last Updated: 2026-01-02
Chapter: Bab 110
Beberapa jam setelah menjalani penanganan intensif, suasana di ruang rawat Sophia mulai terasa lebih tenang.Lampu-lampu redup memantulkan cahaya lembut ke dinding putih bangsal, sementara bunyi alat monitor terdengar stabil dan teratur.John berdiri di dekat jendela, memandangi langit malam yang perlahan mulai berubah warna.Wajahnya tampak letih, tetapi matanya masih menyimpan kecemasan yang belum sepenuhnya reda.Tanpa disadari John, jari-jari Sophia bergerak perlahan. Kelopak matanya bergetar, lalu terbuka dengan hati-hati.Pandangannya sempat buram beberapa detik sebelum akhirnya fokus. Ia mengedarkan tatapannya ke sekeliling ruangan, mencoba memahami di mana dirinya berada.Saat matanya menangkap sosok John yang berdiri membelakanginya di dekat jendela, bibirnya bergerak pelan.“John …?” panggil Sophia dengan suara lirih, hampir tak terdengar.Namun, suara itu cukup untuk membuat John tersentak. Ia spontan menoleh dan matanya membelalak sebelum langkah kakinya segera menghampiri
Last Updated: 2026-01-02
Chapter: Bab 109
Ambulans berhenti tepat di depan pintu Instalasi Gawat Darurat rumah sakit. Pintu belakang terbuka dengan cepat, dan Sophia segera dipindahkan ke atas brankar oleh tim medis yang telah bersiap.Tubuhnya terbaring lemah, wajahnya pucat, sementara noda darah masih terlihat jelas meski telah diberi penanganan awal.John berjalan di samping brankar itu dengan langkah tergesa, matanya tak lepas dari wajah Sophia yang tak sadarkan diri.Setibanya di dalam ruang IGD, Sophia langsung dibawa masuk ke ruang penanganan intensif.Tirai ditutup, pintu didorong hingga menutup rapat, meninggalkan John sendirian di lorong rumah sakit yang dingin dan terang. Ia berhenti melangkah, kemudian bersandar pada dinding. Perlahan, John memejamkan matanya.Bayangan darah yang mengalir di paha Sophia kembali terlintas jelas di benaknya. Dadanya terasa sesak, napasnya berat.Sebagai seorang dokter, pikirannya segera dipenuhi kemungkinan-kemungkinan medis yang paling ia takuti.“Apakah Sophia sedang hamil?” gumam
Last Updated: 2025-12-31
Chapter: Bab 108
Sophia menoleh ke arah ponselnya yang bergetar di atas meja kerja. Layar menyala menampilkan nama John.Senyum tipis segera terukir di wajahnya, senyum yang lahir dari rasa hangat dan rindu yang tak perlu ia sembunyikan. Ia meraih ponsel itu tanpa ragu dan segera menerima panggilan tersebut.“Halo,” ucap Sophia lembut. “Kau sangat merindukanku, hm? Baru juga aku hendak menutup butik, kau sudah menghubungiku.”Di seberang sana, John terkekeh pelan. Nada suaranya terdengar ringan, berbeda dari ketegangan yang akhir-akhir ini sering mewarnai hari-hari mereka.“Apa aku tidak boleh merindukanmu?” balasnya. “Aku sedang di jalan. Aku akan menjemputmu.”Sophia melirik jam dinding di ruang kerjanya. “Baiklah,” katanya. “Aku akan bersiap-siap. Tidak lama lagi aku selesai.”Setelah mengakhiri panggilan, Sophia menarik napas lega. Ia berdiri, lalu menutup beberapa tirai yang menghadap ke etalase butik.Cahaya lampu luar perlahan terhalang, meninggalkan suasana yang lebih redup dan tenang. Ia mera
Last Updated: 2025-12-31
Chapter: Bab 107
Raka berdiri di ambang pintu apartemen John dengan raut wajah yang sulit ditebak.Begitu pintu terbuka dan John mempersilakannya masuk, Raka melangkah ke dalam dengan langkah mantap, meski sorot matanya tampak gelisah. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah sedang mencari keberadaan seseorang yang tidak tampak di ruangan itu.John menangkap gestur tersebut. Ia menutup pintu apartemennya, lalu berkata dengan nada tenang, “Sophia sedang berada di butik. Banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini.”Raka tidak menanggapi penjelasan itu. Ia hanya berjalan menuju sofa dan duduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Sikapnya tetap kaku dan kedua tangannya bertumpu di atas lutut, sementara pandangannya lurus ke depan. Keheningan pun tercipta, cukup lama hingga terasa berat.John menghela napas pelan, lalu duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Papanya.Ia menatap Raka dengan sorot mata serius. “Ada apa sebenarnya Papa datang ke sini?” tanyanya akhirnya. “Tidak biasanya Papa da
Last Updated: 2025-12-30
Chapter: Bab 106
Betapa terkejutnya Sophia ketika mendengar kabar yang disampaikan John kepadanya. Wajahnya seketika memucat, sementara sorot matanya membeku, seolah sulit mempercayai setiap kata yang baru saja terucap.Mereka duduk berhadapan di ruang keluarga apartemen Sophia, suasana malam itu terasa sunyi dan berat, seakan ikut menanggung beban kebenaran yang perlahan terungkap.Sophia menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya yang mulai gemetar. Dadanya terasa sesak, namun ia memaksakan diri untuk tetap tegar. “Lanjutkan,” ucapnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar. “Aku ingin mendengar semuanya.”John menatap Sophia dengan ekspresi serius. Ia tahu, apa yang akan disampaikannya berikutnya tidak mudah diterima. Namun, ia juga percaya bahwa Sophia berhak mengetahui kebenaran sepenuhnya, tanpa ada satu pun yang ditutupi.“Sebelum bertemu denganmu,” ujar John perlahan, “Mike sebenarnya sudah berada di ambang kebangkrutan.”Sophia mengangkat wajahnya, matanya membelalak. “Kebangkrutan?” ul
Last Updated: 2025-12-30
Terjebak Gairah Panas Mantan Suami

Terjebak Gairah Panas Mantan Suami

Hidup Aruna berubah sejak perceraian itu. Ia membesarkan putri kecilnya seorang diri, menyembunyikan kenyataan pahit bahwa sang anak menderita sakit jantung bawaan. Saat biaya pengobatan tak lagi mampu ia tanggung, Aruna terpaksa mengetuk pintu masa lalunya—mantan suaminya, Raka. Namun Raka kini bukan lagi miliknya. Pria itu sudah bertunangan dan bersiap menikah. Pertemuan mereka seharusnya hanya sebatas bantuan untuk sang anak, tapi api yang pernah padam kembali menyala. Raka mengajukan syarat yang membuat Aruna terjebak dalam dilema: menyerahkan diri pada hasrat lamanya, atau melihat putrinya kehilangan kesempatan untuk hidup. Mampukah Aruna bertahan menghadapi badai cinta, gairah, dan rahasia yang selama ini ia sembunyikan?
Read
Chapter: Bab 80
Usia kandungan Aruna sudah memasuki sembilan dan kini wanita itu sedang berbaring di tempat tidur, tangannya menggenggam selimut, dan wajahnya meringis menahan nyeri yang datang bergelombang.“Raka,” bisiknya pelan, dan napasnya tersengal. “Sepertinya … waktunya sudah dekat.”Raka yang semula sedang menyiapkan susu hangat di meja, langsung berbalik dengan mata membesar.“Sekarang?” suaranya meninggi, tapi cepat-cepat ia menenangkan diri. “Oke, oke … tenang, aku di sini.”Ia berlari ke lemari, menarik koper yang sejak dua minggu lalu sudah disiapkan berisi perlengkapan rumah sakit, pakaian bayi, dan dokumen penting.Tangannya sedikit gemetar saat memeriksa ulang semuanya. “Handuk kecil? Ada. Selimut bayi? Ada. Oh Tuhan, aku lupa pampers ukuran newborn.”“Raka.” Suara Aruna memanggil lembut, di sela kontraksi. “Aku baik-baik saja. Jangan panik, ya?”Lelaki itu berhenti sejenak, menatap wajah istrinya yang kini tampak pucat tapi tetap berusaha tersenyum.Ia menarik napas panjang, menundu
Last Updated: 2025-11-05
Chapter: Bab 79
Dua bulan kemudian.Pagi itu, matahari baru saja menembus celah tirai kamar mereka. Aruna duduk di tepi tempat tidur, memegangi perutnya sambil menarik napas panjang.Sudah tiga hari terakhir tubuhnya terasa aneh — mual setiap kali mencium aroma kopi Raka, pusing ringan, dan cepat lelah meski tidak banyak beraktivitas.Ia mencoba tersenyum menenangkan diri, tapi saat bangkit hendak berjalan ke kamar mandi, kepalanya berputar.“Aruna?” Suara Raka terdengar dari arah pintu.Lelaki itu baru saja selesai jogging dan terkejut melihat istrinya memegangi meja rias sambil menunduk. “Kau baik-baik saja?” tanyanya cepat, menghampiri dengan wajah cemas.Aruna menggeleng pelan. “Entahlah … mungkin karena perut kosong,” gumamnya, mencoba terdengar ringan. Tapi ekspresi pucat di wajahnya membuat Raka semakin khawatir.“Tidak, ini bukan sekadar lapar,” ujarnya tegas. “Aku akan panggil dokter.”“Tidak perlu panik begitu, Raka.” Aruna mencoba menenangkan, tapi suaminya sudah mengambil kunci mobil.“Ki
Last Updated: 2025-11-04
Chapter: Bab 78
Pagi itu udara terasa lebih segar dari biasanya. Sinar matahari menerobos lembut melalui tirai tipis kamar mereka, menyingkap pemandangan halaman rumah yang basah oleh embun.Dari dapur terdengar suara gemericik air, dentingan sendok, dan aroma roti panggang yang baru keluar dari toaster.Aruna berdiri di depan meja dapur dengan celemek bermotif bunga kecil yang dulu dibelikan Raka.Rambutnya diikat asal dengan jepit besar, beberapa helaian terlepas menutupi wajahnya yang belum sepenuhnya berias. Tapi justru di situlah pesonanya—alami, lembut, dan begitu rumah.Di meja, ada sepiring telur orak-arik, potongan buah segar, dan dua cangkir kopi panas. Aruna menata semuanya dengan rapi sambil bersenandung pelan.“Wangi apa ini?” suara berat Raka terdengar dari arah ruang tengah.Aruna menoleh. Raka baru turun dari lantai atas, mengenakan kaus putih polos dan celana kain hitam, rambutnya sedikit berantakan, namun tetap tampan seperti biasa. Ia berjalan santai sambil mengucek mata, lalu berh
Last Updated: 2025-11-04
Chapter: Bab 77
Sudah dua minggu berlalu dan kini mereka sudah kembali ke rumah.Mobil hitam itu berhenti di depan rumah yang sudah hampir dua minggu mereka tinggalkan. Langit sore itu berwarna lembut, cahaya matahari menembus pepohonan yang rindang di halaman depan.Dari balik kaca mobil, Aruna menatap rumah mereka—tempat segala hal dimulai, dan kini, tempat segalanya kembali utuh.Raka turun lebih dulu, lalu bergegas membuka pintu untuk Aruna. Ia menatap istrinya yang masih memeluk tas kecil di pangkuannya. “Sudah siap, Bu Mama?” godanya sambil tersenyum.Aruna terkekeh kecil. “Aku bahkan tidak sabar.”Belum sempat mereka melangkah ke teras, suara kecil yang familiar terdengar dari balik pintu. “Papaaa! Mamaaa!”Pintu terbuka lebar, dan sosok mungil berambut kuncir dua langsung berlari dengan kecepatan penuh ke arah mereka. Nayla.Aruna berjongkok, dan gadis kecil itu langsung menubruk pelukannya. “Mamaaa! Aku kangeeen!” serunya dengan suara bergetar. Aruna memeluk Nayla erat-erat, mencium rambut d
Last Updated: 2025-11-04
Chapter: Bab 76
Sore itu, sinar matahari menembus jendela besar vila dan menciptakan warna keemasan di seluruh ruangan.Raka sedang duduk di balkon, membaca buku tipis sambil menikmati suara deburan ombak yang menenangkan.Sementara itu, Aruna sibuk menata rambutnya di depan cermin, mengenakan gaun santai berwarna putih.Hari mereka berjalan begitu damai. Tidak ada rapat, tidak ada telepon kantor, hanya mereka berdua dan ketenangan yang sudah lama mereka rindukan.Namun di balik keheningan itu, ada sesuatu yang terasa kurang — suara tawa Nayla yang biasanya memenuhi rumah.Aruna menatap layar ponselnya yang tergeletak di meja, menimbang-nimbang apakah ia harus menelepon.Tapi sebelum sempat menekan tombol panggil, layar itu tiba-tiba bergetar. Nama yang muncul di sana membuatnya tersenyum lebar.“Nayla. Video Call”Aruna segera menjawab panggilan itu. “Sayang!” serunya riang.Wajah kecil Nayla muncul di layar, pipinya chubby, rambutnya diikat dua seperti biasa.Ia tampak sedang duduk di ruang tengah
Last Updated: 2025-11-04
Chapter: Bab 75
Pagi itu, vila yang mereka tinggali terasa begitu tenang. Hanya suara ombak lembut yang datang dari kejauhan, sesekali disertai desir angin yang menerpa tirai putih di balkon kamar mereka.Aruna masih meringkuk di tempat tidur, rambutnya berantakan dan wajahnya tampak begitu damai.Raka berdiri di dekat pintu, menatap pemandangan itu dengan senyum kecil. Ada rasa yang sulit dijelaskan setiap kali melihat Aruna dalam keadaan seperti itu—tenang, lembut, tanpa beban. Ia ingin pagi ini menjadi sesuatu yang istimewa.Tanpa membangunkannya, Raka berjalan pelan keluar kamar, menutup pintu rapat-rapat. Ia melangkah menuju dapur vila yang luas dengan aroma roti panggang yang samar. Di sana, seorang koki paruh baya sedang merapikan meja.“Selamat pagi, Tuan Raka,” sapa sang koki ramah. “Mau saya siapkan sarapan seperti biasa?”Raka mengangkat tangan cepat-cepat. “Tidak, tidak perlu. Kali ini saya ingin mencobanya sendiri.”Koki itu menaikkan alis. “Maksudnya, Anda mau memasak sendiri?”Raka men
Last Updated: 2025-11-03
You may also like
Menjadi Istri Kesayangan Presdir Tampan
Menjadi Istri Kesayangan Presdir Tampan
Romansa · Aililea (din din)
49.7K views
THE BRIDAL SHOWER
THE BRIDAL SHOWER
Romansa · Herofah
49.4K views
The Ugly Duckling
The Ugly Duckling
Romansa · Suzy Wiryanty
49.4K views
Jacob the Liar
Jacob the Liar
Romansa · Pinnacullata
49.4K views
Aku Mengalah
Aku Mengalah
Romansa · Maey Angel
49.4K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status