Rahasia Nakal Nona Koas dan sang Konsulen

Rahasia Nakal Nona Koas dan sang Konsulen

last updateÚltima atualização : 2025-10-19
Por:  Aléruby Em andamento
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Classificações insuficientes
5Capítulos
13visualizações
Ler
Adicionar à biblioteca

Compartilhar:  

Denunciar
Visão geral
Catálogo
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP

Berawal ketika Valerie yang mabuk dan menuntut penjelasan dari tunangannya yang selingkuh. Alih-alih bertemu dengan sang mantan, dia malah bertemu dengan ayah laki-laki itu yang kemudian mengantarkan keduanya pada sentuhan tak terelakkan. Valerie merasa bersalah dan ingin melupakan kejadian malam itu, tapi tidak dengan Arthur. Dalam misi melupakan kejadian itu, semesta justru kembali mempertemukan mereka sebagai sosok konselor dan dokter muda yang tengah menjalani masa koas. Akankah Valerie dapat melawan godaan dari konselornya serta tawaran yang dapat mengubah hidupnya untuk selamanya?

Ver mais

Capítulo 1

1. Graduation Party Gifts

Selama dua tahun berpacaran dan satu tahun menyandang status bertunangan, Valerie tidak pernah sedikit pun menaruh curiga pada kesetiaan Arsen—tidak pernah setitik pun.

Namun, prasangkanya terbantahkan setelah menerima pesan dari nomor tidak dikenal.

Di tengah gemerlap pesta perayaan kelulusan mahasiswa kedokteran yang kini resmi menyandang gelar sarjana, Valerie justru terpaku menatap layar ponselnya, alih-alih menikmati kemeriahan bersama yang lain.

Perpaduan musik pop yang mengalun bersama dengan gelak tawa dari sekitar berputar di kepalanya seolah menertawakan situasi yang sedang dihadapi.

Ponsel di tangannya menampilkan dua insan berlawanan jenis tengah tidur saling memeluk dalam keadaan tanpa busana.

Penampakan figur familiar itu berhasil memacu darah ke area wajah Valerie dengan cepat, tetapi mengingat kecanggihan teknologi zaman sekarang membuatnya ragu akan keaslian gambar tersebut.

Setelah mengirimkan balasan, ia berniat mencari tempat duduk. Sepatu berhak tinggi yang dikenakan ternyata tidak senyaman penampilan luarnya.

Gadis itu berjalan ke arah sudut ruangan tapi langkahnya terhenti ketika ponsel di tangannya kembali bergetar. Sebuah file video masuk yang tercetak pada kolom notifikasi, sontak menghentikan pacu laju jantungnya.

Perasaan tidak enak mengudara seketika, otaknya memerintah untuk tidak memutar rekaman tersebut, tapi separuh dari dirinya penasaran setengah mati dengan isi yang ada.

Rasa dingin menjalar ke sepanjang tulang punggungnya sebelum menekan tombol 'play'. Beberapa detik pertama rekaman itu hanya menampilkan layar hitam tanpa pergerakan.

Kedua alis gadis itu bertautan, ia mencoba menempelkan ponselnya ke telinga berusaha mendengarkan suara yang ada, tapi gagal karena nada sumbang dari salah satu temannya yang mencoba unjuk gigi memenuhi ruangan.

Niatnya beralih, ia melangkah menuju kamar mandi, berharap ruangan kecil itu bisa sedikit meredam suara memekakkan telinga. Pintu ditutup, jemari Valerie segera menyentuh layar ponselnya untuk memutar ulang rekaman tersebut.

Suara gesekan antarkulit dan desahan erotis yang saling bersahutan menyambut indera pendengaran Valerie. Layar hitam di beberapa detik pertama berganti dengan pemandangan intim yang mengundang rasa mual.

Napas gadis itu tercekat di tenggorokan. Sosok Arsen tengah mengkungkung seorang gadis yang mengerling mengejek ke arah kamera. Bunyi menyatuan mereka terdengar jelas, Valerie membuka penutup kloset.

Berusaha memuntahkan isi perutnya, tapi hingga terbatuk pun tidak ada yang keluar dari mulutnya selain saliva. Penglihatan gadis itu mulai mengabur disusul oleh butiran-butiran air yang liar berjatuhan dari bola matanya. Isakan kecil turut lolos dari celah bibirnya yang bergetar.

Kepalanya tak berhenti memutar memori manis kebersamaannya dengan sang kekasih yang berpadu dengan sisipan rekaman menjijikkan tadi.

Alunan musik yang diputar tak lagi dapat dia dengar. Keramaian pesta dan orang-orang yang hadir juga hilang dalam benak Valerie. Pikirannya hanya terfokus pada rasa sakit yang mencokol di hati.

Tangisan gadis itu tak kunjung usai hingga suara ketukan pintu membuatnya berhenti.

"Valerie...?"

Si pemilik nama mendongak begitu mendengar suara laki-laki yang sangat dia hafal.

"Apa kau baik-baik saja?"

Nada kekhawatiran menyusup ke dalam bilik, tapi Valerie tidak—belum berniat membalas. Gadis itu terdiam dengan napas yang mulai teratur.

"Valerie..? Apa kau mendengarku?"

Matanya melirik ke arah gagang pintu yang diputar paksa bersama dengan gedoran tidak sabaran dari luar, akhirnya berhasil memicu jawaban darinya.

"Ya, aku baik-baik saja."

Valerie menghela napas panjang sebelum menghapus jejak air matanya.

"Kenapa suaramu seperti itu? Apa kau menangis? Valerie!"

Ketukan kembali terdengar memaksanya untuk segera bangkit dari posisi duduk dan beringsut membuka pintu.

Dapat Valerie lihat gurat kekhawatiran pada wajah tunangannya. Laki-laki itu mendekat, memegang wajahnya dengan kedua tangan lalu perlahan mengusap jejak air mata yang ada.

"Ada apa? Kenapa kau menangis?"

Gadis itu bungkam. Matanya asyik menelisik netra milik Arsen yang bergerak memindai tubuhnya. Jika dari yang dia lihat semua perlakuan tunangannya itu tulus tapi setelah melihat rekaman tadi, kepercayaannya runtuh seketika.

Valerie melangkah mundur dengan tatapan kosong yang sulit diartikan. Sesaat sebelum Arsen berhasil mengeluarkan suara, sebuah tamparan keras mendarat di pipi laki-laki itu.

"Val—"

Sekali lagi.

Dan lagi.

Jumlah totalnya ada tiga hingga Valerie menghentikan gerakannya. Gadis itu kemudian bergerak melepas cincin tunangannya, lalu melempar benda itu kepada si pemberi sebelum berlalu meninggalkan tempat itu.

Valerie melangkah keluar meninggalkan gedung seminar universitasnya menuju jalan besar untuk mencari taksi. Beberapa pasang mata menoleh ke arahnya, bibir mereka menggumamkan namanya tapi gadis itu sangat lelah hanya sekadar untuk merespon kekhawatiran rekan seperjuangannya.

Tangan Valerie mengelus lengannya yang di hantam angin malam. Terburu-buru membuatnya melupakan tas dan jaket yang masih di dalam.

Rencana itu tertunda ketika tangannya ditahan oleh orang yang saat ini atau selamanya tidak ingin dia lihat.

"Apa salahku, Val? Bicara, aku tidak mau kehilanganmu."

Arsen mengelus lengan telanjangnya, lalu menyampirkan jasnya di sana, "Kau kedinginan."

"Jangan menyentuhku."

Valerie menyentakkan tangan pemuda itu hingga jasnya terlepas. Gadis itu memberi jarak beberapa langkah.

Arsen mengusak rambutnya kasar.

"Val, jelaskan. Aku sama sekali tidak mengerti di mana letak kesalahanku. Jangan diam dan meninggalkanku seperti ini. Kumohon..." nada frustrasi terdengar jelas di suaranya.

Kata-kata itu entah kenapa membuat mata Valerie menanas. Gadis itu mengulum bibir singkat sebelum menggigitnya.

"Apa kau juga akan mengatakan yang sama pada gadis itu?"

Dahi pemuda itu mengerut menuntut penjelasan, "Gadis apa?"

Valerie menundukkan kepala, menyembunyikan cairan bening yang kembali menuruni pipinya.

"Berhenti bermain, Arsen. Aku sudah tahu kebenarannya."

"Kebenaran apa? Memangnya aku pernah menyembunyikan sesuatu padamu?"

Kepalanya mendongak menatap Arsen dengan tatapan nanar. "Kau masih bisa menyangkal ketika aku sudah mempunyai bukti yang jelas?"

Arsen maju selangkah hanya untuk mendapatkan isyarat berhenti darinya. Laki-laki itu menghela napas.

"Valerie ... sebenarnya apa maksudmu? Katakan dengan jelas agar aku mengerti."

"Kau..." suaranya tersendat oleh isakan, "k-kau mengkhianatiku, Arsen! Kau tidur dengan gadis yang entah siapa namanya!"

Arsen hampir melangkah mendekat, hendak memasukkan Valerie ke dalam pelukan hangatnya tapi dia mengurungkan niat itu.

"Aku tak pernah mengkhianatimu. Aku bersumpah."

Mata Valerie berkedip pelan seraya memproses ucapan sang mantan kekasih. Senyum simpul menghiasi wajahnya yang sebentar lagi menangis.

Jemari lentiknya dengan cepat menari di layar ponselnya. "Lihat pesanku."

Arsen mengikuti perintahnya tanpa bertanya. Mata pemuda itu membola seketika melihat kiriman yang dimaksud.

"Terima kasih atas hadiah kelulusannya. Aku bersumpah akan membalasnya." Valerie mengusap wajahnya pelan sambil memutar tungkainya.

Tangan gadis itu terangkat menghentikan taksi yang lewat, lalu masuk ke dalam kabin tanpa melihat reaksi dari Arsen. Dia tidak ingin menghancurkan perasaannya yang sudah lebur. Samar-samar dia masih bisa mendengar namanya diteriaki sebelum berangsur-angsur menghilang.

Expandir
Próximo capítulo
Baixar

Último capítulo

Mais capítulos

Para os leitores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sem comentários
5 Capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status