FAZER LOGINBerawal ketika Valerie yang mabuk dan menuntut penjelasan dari tunangannya yang selingkuh. Alih-alih bertemu dengan sang mantan, dia malah bertemu dengan ayah laki-laki itu yang kemudian mengantarkan keduanya pada sentuhan tak terelakkan. Valerie merasa bersalah dan ingin melupakan kejadian malam itu, tapi tidak dengan Arthur. Dalam misi melupakan kejadian itu, semesta justru kembali mempertemukan mereka sebagai sosok konselor dan dokter muda yang tengah menjalani masa koas. Akankah Valerie dapat melawan godaan dari konselornya serta tawaran yang dapat mengubah hidupnya untuk selamanya?
Ver maisSelama dua tahun berpacaran dan satu tahun menyandang status bertunangan, Valerie tidak pernah sedikit pun menaruh curiga pada kesetiaan Arsen—tidak pernah setitik pun.
Namun, prasangkanya terbantahkan setelah menerima pesan dari nomor tidak dikenal. Di tengah gemerlap pesta perayaan kelulusan mahasiswa kedokteran yang kini resmi menyandang gelar sarjana, Valerie justru terpaku menatap layar ponselnya, alih-alih menikmati kemeriahan bersama yang lain. Perpaduan musik pop yang mengalun bersama dengan gelak tawa dari sekitar berputar di kepalanya seolah menertawakan situasi yang sedang dihadapi. Ponsel di tangannya menampilkan dua insan berlawanan jenis tengah tidur saling memeluk dalam keadaan tanpa busana. Penampakan figur familiar itu berhasil memacu darah ke area wajah Valerie dengan cepat, tetapi mengingat kecanggihan teknologi zaman sekarang membuatnya ragu akan keaslian gambar tersebut. Setelah mengirimkan balasan, ia berniat mencari tempat duduk. Sepatu berhak tinggi yang dikenakan ternyata tidak senyaman penampilan luarnya. Gadis itu berjalan ke arah sudut ruangan tapi langkahnya terhenti ketika ponsel di tangannya kembali bergetar. Sebuah file video masuk yang tercetak pada kolom notifikasi, sontak menghentikan pacu laju jantungnya. Perasaan tidak enak mengudara seketika, otaknya memerintah untuk tidak memutar rekaman tersebut, tapi separuh dari dirinya penasaran setengah mati dengan isi yang ada. Rasa dingin menjalar ke sepanjang tulang punggungnya sebelum menekan tombol 'play'. Beberapa detik pertama rekaman itu hanya menampilkan layar hitam tanpa pergerakan. Kedua alis gadis itu bertautan, ia mencoba menempelkan ponselnya ke telinga berusaha mendengarkan suara yang ada, tapi gagal karena nada sumbang dari salah satu temannya yang mencoba unjuk gigi memenuhi ruangan. Niatnya beralih, ia melangkah menuju kamar mandi, berharap ruangan kecil itu bisa sedikit meredam suara memekakkan telinga. Pintu ditutup, jemari Valerie segera menyentuh layar ponselnya untuk memutar ulang rekaman tersebut. Suara gesekan antarkulit dan desahan erotis yang saling bersahutan menyambut indera pendengaran Valerie. Layar hitam di beberapa detik pertama berganti dengan pemandangan intim yang mengundang rasa mual. Napas gadis itu tercekat di tenggorokan. Sosok Arsen tengah mengkungkung seorang gadis yang mengerling mengejek ke arah kamera. Bunyi menyatuan mereka terdengar jelas, Valerie membuka penutup kloset. Berusaha memuntahkan isi perutnya, tapi hingga terbatuk pun tidak ada yang keluar dari mulutnya selain saliva. Penglihatan gadis itu mulai mengabur disusul oleh butiran-butiran air yang liar berjatuhan dari bola matanya. Isakan kecil turut lolos dari celah bibirnya yang bergetar. Kepalanya tak berhenti memutar memori manis kebersamaannya dengan sang kekasih yang berpadu dengan sisipan rekaman menjijikkan tadi. Alunan musik yang diputar tak lagi dapat dia dengar. Keramaian pesta dan orang-orang yang hadir juga hilang dalam benak Valerie. Pikirannya hanya terfokus pada rasa sakit yang mencokol di hati. Tangisan gadis itu tak kunjung usai hingga suara ketukan pintu membuatnya berhenti. "Valerie...?" Si pemilik nama mendongak begitu mendengar suara laki-laki yang sangat dia hafal. "Apa kau baik-baik saja?" Nada kekhawatiran menyusup ke dalam bilik, tapi Valerie tidak—belum berniat membalas. Gadis itu terdiam dengan napas yang mulai teratur. "Valerie..? Apa kau mendengarku?" Matanya melirik ke arah gagang pintu yang diputar paksa bersama dengan gedoran tidak sabaran dari luar, akhirnya berhasil memicu jawaban darinya. "Ya, aku baik-baik saja." Valerie menghela napas panjang sebelum menghapus jejak air matanya. "Kenapa suaramu seperti itu? Apa kau menangis? Valerie!" Ketukan kembali terdengar memaksanya untuk segera bangkit dari posisi duduk dan beringsut membuka pintu. Dapat Valerie lihat gurat kekhawatiran pada wajah tunangannya. Laki-laki itu mendekat, memegang wajahnya dengan kedua tangan lalu perlahan mengusap jejak air mata yang ada. "Ada apa? Kenapa kau menangis?" Gadis itu bungkam. Matanya asyik menelisik netra milik Arsen yang bergerak memindai tubuhnya. Jika dari yang dia lihat semua perlakuan tunangannya itu tulus tapi setelah melihat rekaman tadi, kepercayaannya runtuh seketika. Valerie melangkah mundur dengan tatapan kosong yang sulit diartikan. Sesaat sebelum Arsen berhasil mengeluarkan suara, sebuah tamparan keras mendarat di pipi laki-laki itu. "Val—" Sekali lagi. Dan lagi. Jumlah totalnya ada tiga hingga Valerie menghentikan gerakannya. Gadis itu kemudian bergerak melepas cincin tunangannya, lalu melempar benda itu kepada si pemberi sebelum berlalu meninggalkan tempat itu. Valerie melangkah keluar meninggalkan gedung seminar universitasnya menuju jalan besar untuk mencari taksi. Beberapa pasang mata menoleh ke arahnya, bibir mereka menggumamkan namanya tapi gadis itu sangat lelah hanya sekadar untuk merespon kekhawatiran rekan seperjuangannya. Tangan Valerie mengelus lengannya yang di hantam angin malam. Terburu-buru membuatnya melupakan tas dan jaket yang masih di dalam. Rencana itu tertunda ketika tangannya ditahan oleh orang yang saat ini atau selamanya tidak ingin dia lihat. "Apa salahku, Val? Bicara, aku tidak mau kehilanganmu." Arsen mengelus lengan telanjangnya, lalu menyampirkan jasnya di sana, "Kau kedinginan." "Jangan menyentuhku." Valerie menyentakkan tangan pemuda itu hingga jasnya terlepas. Gadis itu memberi jarak beberapa langkah. Arsen mengusak rambutnya kasar. "Val, jelaskan. Aku sama sekali tidak mengerti di mana letak kesalahanku. Jangan diam dan meninggalkanku seperti ini. Kumohon..." nada frustrasi terdengar jelas di suaranya. Kata-kata itu entah kenapa membuat mata Valerie menanas. Gadis itu mengulum bibir singkat sebelum menggigitnya. "Apa kau juga akan mengatakan yang sama pada gadis itu?" Dahi pemuda itu mengerut menuntut penjelasan, "Gadis apa?" Valerie menundukkan kepala, menyembunyikan cairan bening yang kembali menuruni pipinya. "Berhenti bermain, Arsen. Aku sudah tahu kebenarannya." "Kebenaran apa? Memangnya aku pernah menyembunyikan sesuatu padamu?" Kepalanya mendongak menatap Arsen dengan tatapan nanar. "Kau masih bisa menyangkal ketika aku sudah mempunyai bukti yang jelas?" Arsen maju selangkah hanya untuk mendapatkan isyarat berhenti darinya. Laki-laki itu menghela napas. "Valerie ... sebenarnya apa maksudmu? Katakan dengan jelas agar aku mengerti." "Kau..." suaranya tersendat oleh isakan, "k-kau mengkhianatiku, Arsen! Kau tidur dengan gadis yang entah siapa namanya!" Arsen hampir melangkah mendekat, hendak memasukkan Valerie ke dalam pelukan hangatnya tapi dia mengurungkan niat itu. "Aku tak pernah mengkhianatimu. Aku bersumpah." Mata Valerie berkedip pelan seraya memproses ucapan sang mantan kekasih. Senyum simpul menghiasi wajahnya yang sebentar lagi menangis. Jemari lentiknya dengan cepat menari di layar ponselnya. "Lihat pesanku." Arsen mengikuti perintahnya tanpa bertanya. Mata pemuda itu membola seketika melihat kiriman yang dimaksud. "Terima kasih atas hadiah kelulusannya. Aku bersumpah akan membalasnya." Valerie mengusap wajahnya pelan sambil memutar tungkainya. Tangan gadis itu terangkat menghentikan taksi yang lewat, lalu masuk ke dalam kabin tanpa melihat reaksi dari Arsen. Dia tidak ingin menghancurkan perasaannya yang sudah lebur. Samar-samar dia masih bisa mendengar namanya diteriaki sebelum berangsur-angsur menghilang.Sepulang dari pertemuan terakhirnya dengan Reyla. Gadis itu lebih banyak tenggelam ke dalam pikirannya.Bagaimana mungkin kebetulan yang tidak mengenakan ini terus saja menimpa hidupnya. Hanya membayangkan dirinya yang bekerja dalam satu instansi yang sama dengan Arthur saja berhasil membuatnya hampir gila, apalagi saat menjalaninya. Dua hari, Valerie menghabiskan waktunya memikirkan cara untuk bertahan di tempat itu. Ia tidak lagi ketakutan akan cerita dunia perkoasan yang akan mungurangi jadwal tidurnya, perbedaan kasta dari latar belakanh keluarga atau sesederhana terkunci di ruang penyimpanan mayat. Itu semua terasa ringan begitu mengetahui dirinya akan sekantor dengan Arthur. Laki-laki yang berhasil mengobrak-abrik isi kepalanya selama 4 hari belakangan. Belum lagi, anak dari pria itu masih terus heboh menghubunginya. Sahabat satu-satunya juga pinda negara. Hampir seminggu ini, kepala Valerie dibuat penuh dengan berbagai macam unsur masalah. Gadis itu memejamkan matanya, lalu
"Tidak." Balas Valerie tanpa panjang lebar membuat ekspresi wajah dari laki-laki di depannya berubah dari penuh harapan dengan mata berkaca-kaca menjadi membelalak lebar. "Aku mohon—" "Tidak sekarang." Potongnya cepat. Arsen memiringkan kepalanya, seolah bertanya: kenapa tidak sekarang? "Dosenku sudah sampai." Tangannya menunjuk ke arah orang yang dimaksud. Tanpa menunggu jawaban, Valerie kembali ke tempat duduknya. Tak lama, dosen masuk ke dalam, menata barang-barang bawaan dan mulai membagikan selembar kertas satu per satu. Setelahnya, pria paruh baya dengan kacamata tebal itu memberikan instruksi singkat mengenai koas. Begitu sang dosen meninggalkan kelas, Valerie segera keluar mengingat Arsen yang menunggu di luar, tapi ia sama sekali tidak menemukan batang hidung laki-laki itu. Kepalanya bergerak kesana-kemari sambil berjinjit, menelisik lebih teliti tapi hasilnya tetap sama. Decakan kecil keluar dari sudut bibirnya. Valerie memilih untuk pulang. Dia sudah lelah d
"Kau mau muntah atau apa? Jangan menatapku seolah aku yang bersalah di sini." Valerie mengelus wajahnya kasar. Memang benar sejak tadi gadis itu tak melepaskan lirikannya dari setiap pergerakan yang Arthur lakukan, ia pikir pria itu tidak menyadarinya. "Aku hanya—tidak percaya?" Tangannya menutupi mata. Dia juga tak percaya, ketika otaknya berbisik laki-laki itu tampak menawan dengan apron dan juga otot tangannya yang menegang saat mengocok telur. Arthur mengerutkan dahi seraya melumuri roti dengan butter. "Ini sudah hampir satu jam sejak kau bangun dan kau masih tidak percaya?" "Ayolah—" Valerie berdecak. "Kau ayah tunanganku..." Arthur menggeleng tidak setuju, "Mantan." koreksinya. Aroma roti panggang dan lelehan butter yang diletakkan Arthur entah mengapa malah membuat perutnya bergejolak. "Kau tahu? Arsen yang bilang?" Perlahan mendorong piring itu menjauh darinya. Laki-laki itu menyuap makanannya sebelum menjawab, "Tidak—Ah, panas! K-kau yang mengatakannya?" Gadis itu me
"Terima kasih atas hadiah kelulusannya. Aku bersumpah akan membalasnya." Barisan kata itu terus berputar tanpa henti di kepala Valerie. Tapi siapa yang dia bohongi sekarang? Alkohol dan patah hati adalah kombinasi yang pas karena berhasil membuang otak cerdasnya ke dasar jurang. Di tengah hujan deras dan kesunyian malam, gadis itu bersikeras meminta sopir menurunkannya. Dia sama sekali enggan menanggapi ucapan si pengemudi yang menawarinya payung sebelum keluar dari kabin. Langkahnya berhenti di depan pagar besi yang menjulang tinggi sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam. Kakinya menjejak di atas paving bata tanpa keseimbangan utuh, layaknya zombie. Dua hari pascamalam kelulusannya, Valerie tak dapat memungkiri perasaan gamang akan penjelasan Arsen. Malam ini akal sehatnya tenggelam dalam lautan vodka dan berhasil mendorongnya untuk menggubris tuntutan kejelasan yang mengganggunya, walaupun bukti mutlak sudah berada di tangannya. Valerie masih tidak terima pasaln


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.