LOGINAriana Juwita tak pernah menyangka bahwa pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga akan mengubah hidupnya. Cantik, muda, dan bertubuh menggoda, dia menjadi incaran majikannya sendiri—Jason Lubis, duda berusia 32 tahun yang haus akan sentuhan wanita. Setelah dikhianati oleh istrinya, dia bersumpah tak akan pernah menikah lagi. Tapi tubuhnya tetap membutuhkan pelampiasan dan Ariana adalah jawaban paling mudah atas nafsu yang terus membara dalam dirinya. Dia menjadi pelayan siang hari, dan menjadi pemuas nafsu di malam hari. Tapi apa jadinya saat gairah mulai berubah menjadi rasa?
View More“Buka pakaianmu!”
Perintah tegas dari seorang pria di hadapannya sontak membuat Ariana mengadahkan kepalanya.
“Ta-tapi, Tuan—”
“Jangan pura-pura lupa dengan apa yang sudah kuberikan padamu, Ariana.” Jason memotong ucapan gugup Ariana dan mengingatkan apa yang sudah dia berikan saat memohon agar membantunya membayar utang ke rentenir.
"Buka bajumu, semuanya. Tanpa ada yang tersisa satu pun!” perintahnya lagi dengan suara yang lebih tegas.
Dengan tangan gemetar, Ariana akhirnya melucuti pakaian pembantu yang dia kenakan, rok panjang hitam dan kaus sedikit longgar dengan hati-hati.
**
Pintu utama dibukakan oleh seorang pelayan senior, wanita paruh baya bernama Berta. “Ariana?”
Ariana menoleh dengan cepat ke arah wanita paruh baya yang memanggilnya.
"Masuklah. Tuan Jason ada di dalam. Kau akan memulai dengan membantu di ruang makan, lalu nanti aku jelaskan pekerjaanmu apa saja di sini," katanya dengan singkat.
Ariana mengangguk dengan patuh. Aroma kayu mengisi ruangan bercampur dengan wangi samar parfum maskulin yang seolah menandai setiap sudut rumah itu saat dia masuk ke dalam.
Belum sempat Ariana melangkah lebih jauh, suara pecahan kaca memecah keheningan.
Prangg!
Tubuh Ariana refleks menegang. Suara itu datang dari arah dapur. Dia melirik Berta yang langsung bergegas dan Ariana pun mengikutinya.
Sesampainya di dapur, pemandangan yang dia lihat membuatnya terpaku.
Seorang pelayan pria berusia sekitar empat puluh tahun berdiri dengan wajah pucat, tangannya gemetar memegang sisa piring yang tinggal setengah utuh.
Di hadapannya berdiri Jason, mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung sampai siku. Tatapannya menusuk, dingin seperti bilah pisau yang baru diasah.
“Aku sudah bilang padamu, hati-hati! Berapa kali aku harus mengulanginya?” suaranya rendah, tapi sarat amarah yang terkontrol.
"T-tuan, saya mohon maaf. Saya tidak sengaja. Tolong jangan pecat saya. Sa-saya … saya sebatang kara di kota ini. Tidak punya siapa-siapa. Pekerjaan ini satu-satunya yang saya punya," pelayan itu memohon dengan suara bergetar.
Ariana berdiri di ambang pintu menahan napasnya. Matanya berpindah dari wajah panik si pelayan ke tatapan dingin Jason yang tak sedikit pun menunjukkan belas kasihan.
“Kecelakaan bisa dimaklumi sekali. Dua kali masih bisa kutoleransi. Tapi tiga kali? Itu bukan kecelakaan. Itu kelalaian,” kata Jason dengan tegas bahkan matanya tidak berkedip sekali pun.
Pelayan itu menunduk menahan diri untuk tidak menangis di hadapan Jason. “Saya … saya akan ganti rugi, Tuan. Tolong maafkan saya.”
Jason menatapnya lama kemudian menghela napas. “Bersihkan ini. Kita akan bicarakan nanti di ruang kerja.”
Suaranya memang tidak tinggi, tapi cukup membuat bulu kuduk Ariana meremang. Ada kekuasaan yang begitu kental dalam nada itu, seperti tidak ada ruang untuk perlawanan.
Jason berbalik dan sejenak pandangannya bertemu mata Ariana. Tatapan itu singkat, tapi cukup untuk membuat tubuhnya kaku.
Wanita berusia 24 tahun itu hanya bisa menunduk dengan cepat, berharap tatapan itu tidak mengandung penilaian buruk terhadap dirinya.
**
Sisa pagi itu Ariana habiskan untuk membiasakan diri dengan ruang makan yang luas.
Di meja makan panjang yang mengilap, Ethan—anak Jason yang baru berusia tiga tahun—sudah duduk di kursi khususnya. Bocah itu berwajah manis dengan mata besar yang memandang penuh rasa ingin tahu.
Ariana tersenyum tipis dan duduk di kursi kecil di sampingnya. "Tuan Ethan, mau makan apa dulu?" tanyanya lembut.
“Sup,” jawab Ethan dengan suara pelan.
Ariana meraih sendok kecil dan mulai menyuapkan sup hangat itu ke mulut mungilnya. Ethan tampak lahap, meski sesekali menoleh ke arah mainan di ujung meja.
Sesekali Ariana mencuri pandang ke sekeliling. Tidak ada tanda-tanda Jason di ruangan itu, tapi bayangan tatapannya di dapur tadi terus menghantui pikirannya.
Begitu tegas, begitu dingin. Bagaimana bisa orang hidup di bawah tatapan seperti itu? batinnya.
Namun ia mencoba untuk tetap fokus. Tangannya terampil memotong roti menjadi potongan kecil, lalu menyuapkan ke Ethan.
Bocah itu mengunyah sambil tersenyum tipis, dan entah kenapa senyum itu sedikit menghangatkan hati Ariana di tengah ketegangan pagi ini.
**
Siang menjelang, dan Ariana mendapat giliran membantu menyiapkan makan siang di dapur. Ia membawa nampan berisi buah potong untuk dibawa ke ruang makan.
Namun saat melangkah keluar dari pintu dapur, tanpa sengaja dia menabrak sesuatu—atau seseorang.
“Aahh!”
Tubuhnya terhuyung ke depan dan sebelum sempat jatuh, sebuah tangan kuat menahan lengannya.
Ariana mendongak dan jantungnya serasa berhenti. Jason berdiri di hadapannya, tubuh tinggi tegapnya begitu dekat hingga Ariana bisa merasakan aroma parfumnya yang hangat namun tajam.
Tubuhnya masih setengah bersandar di dada Jason, merasakan detak jantung pria itu yang stabil, kontras dengan detaknya sendiri yang tak beraturan.
“Mau ke mana?” tanya Jason dengan nada rendahnya.
“S-saya … saya hendak membawakan buah potong, Tuan,” jawab Ariana terbata dan buru-buru dia menegakkan tubuh dan mundur selangkah menjauh dari sang tuan.
Jason menatapnya lama dengan tatapan datarnya dia berkata, “Berhati-hatilah saat berjalan. Di rumah ini, aku tidak suka orang ceroboh.”
Hari itu, kota padat itu seolah berhenti berdetak untuk menyaksikan “Pernikahan Abad Ini”.Gereja katedral dihias dengan ribuan bunga bakung putih impor yang aromanya memenuhi udara, menciptakan ilusi suci yang menipu.Cassandra berdiri di depan cermin besar ruang rias, menatap bayangannya sendiri.Dia mengenakan gaun pengantin lace karya desainer ternama Paris yang nilainya cukup untuk membeli sebuah kompleks perumahan.Jika ada yang melihatnya, Cassandra adalah definisi pengantin yang diimpikan setiap wanita.Namun, di balik kerudung transparan itu, matanya kosong. Ia merasa seperti domba kurban yang sedang didandani sebelum diserahkan kepada sang predator.Pesta pernikahan di hotel mewah berlangsung seperti mimpi yang menjadi kenyataan bagi orang awam.Ribuan tamu bersulang untuk kebahagiaan mereka. Ethan berdiri di sampingnya, tampak sangat tampan dan berwibawa dalam balutan tuksedo hitam yang dijahit sempurna.Sepanjang acara, Ethan bertindak layaknya suami yang paling penuh perh
Suasana meriah di aula utama masih terdengar lamat-lamat, namun di dalam ruang transit VIP yang kedap suara, ketegangan yang tercipta jauh lebih menyesakkan daripada ribuan kamera di luar sana.Cassandra berdiri dengan napas tersengal, jemarinya mencengkeram kain gaun emerald-nya hingga kusut.Di depannya, Ethan Lubis berdiri dengan santai, melepas kancing tuksedonya seolah baru saja menyelesaikan tugas ringan, bukan baru saja meledakkan bom informasi di depan publik.“Kau gila, Ethan,” desis Cassandra. Ini pertama kalinya dia memanggil pria itu tanpa sebutan formal.“Apa yang kau lakukan tadi? Kau menarikku ke atas panggung, mengumumkan hal yang mustahil. Kau melakukan itu hanya untuk membuat Tuan Jason berhenti menjodohkanmu, kan? Kau butuh tameng, dan kau memilihku karena aku ada di sana?”Ethan terdiam, namun matanya menatap Cassandra dengan intensitas yang membuat wanita itu ingin mundur.“Kita tidak akan benar-benar menikah, kan?” tanya Cassandra lagi, suaranya mulai bergetar. “
Malam puncak perayaan ulang tahun Lubis Corp ke-50 diubah menjadi sebuah simfoni kemewahan yang tak tertandingi. Grand Ballroom hotel bintang lima milik keluarga Lubis didekorasi dengan nuansa emas dan hitam, memancarkan aura kekuasaan yang absolut.Ratusan tamu dari kalangan elit, mulai dari pejabat tinggi, konglomerat lintas negara, hingga selebriti papan atas memenuhi ruangan, berbisik-bisik tentang masa depan imperium bisnis tersebut.Di atas panggung utama, Jason Lubis berdiri dengan gagah mengenakan tuksedo hitam klasik.Di sampingnya, Ariana Lubis tampak mempesona dalam gaun couture berwarna perak yang berkilauan di bawah lampu kristal.Mereka adalah definisi pasangan penguasa yang sempurna. Setelah menyampaikan pidato keberhasilan perusahaan yang menggetarkan, Jason mencondongkan tubuh ke mikrofon dengan senyum penuh teka-teki.“Malam ini, di tengah perayaan emas ini, saya juga ingin mengumumkan babak baru bagi keluarga kami,” ujar Jason dengan suara yang berat dan berwibawa
Keesokan siangnya, udara di lantai lima puluh terasa lebih berat daripada hari-hari sebelumnya.Bukan karena volume pekerjaan, melainkan karena kehadiran sosok legendaris yang jarang sekali menampakkan diri di kantor sejak pensiun total.Jason Lubis, sang “Iblis Senior”, melangkah masuk ke ruangan CEO dengan langkah mantap yang masih mengintimidasi, meski rambut di pelipisnya telah memutih.Cassandra, yang sedang meletakkan nampan berisi teh earl grey di meja kerja Ethan, seketika membeku.Dia merasakan tatapan sepasang mata elang yang sangat mirip dengan milik Ethan sedang membedahnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.“Sekretaris baru?” tanya Jason dengan suara berat yang berwibawa, memecah keheningan ruangan.Ethan, yang sedang meninjau laporan di tabletnya, tidak mendongak. “Ya, Dad. Namanya Cassandra.”Jason tidak segera duduk. Dia justru berjalan mendekat ke arah Cassandra, membuat wanita itu menunduk sopan sembari menahan napas.Jason menatap tanda pengenal di leher Cassandra






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore