共有

Bab 55

作者: Liyusa_
last update 公開日: 2025-09-03 08:00:43
Revan menatapnya dengan senyum kecil. “Dua-duanya,” jawabnya rendah, nyaris seperti gumaman.

Alya menatap Revan dengan mata masih basah, nafasnya belum teratur.

“Kamu baru pulang, emang nggak capek?” suaranya pelan, seolah masih tak percaya Revan ada di hadapannya.

Revan menatapnya sebentar, lalu tanpa menjawab ia menunduk, mencium rahang Alya dengan lembut.

Ciuman itu turun perlahan ke lehernya, meninggalkan jejak hangat yang membuat Alya meringis kecil.

Suaranya rendah, serak karena
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Pemuas Nafsu Kakak Tiri   Bab 255

    Enam tahun berlalu begitu saja, seolah waktu berlari tanpa pernah menoleh ke belakang. Rumah yang dulu sering terasa terlalu besar dan sunyi kini nyaris tak pernah benar-benar diam. Tawa, tangis, dan suara langkah kaki kecil berkejaran memenuhi setiap sudutnya. Mainan berserakan di ruang keluarga, dinding kulkas penuh coretan krayon, dan jam tidur tak lagi teratur sejak dua anak kembar mereka hadir ke dunia. Alya sering berdiri di ambang pintu kamar, memandangi pemandangan itu dengan perasaan yang masih terasa asing, asing namun hangat. Dua anaknya tertidur saling berhadapan, napas mereka teratur, wajah polos mereka begitu mirip ayahnya. Di momen-momen seperti itulah dadanya kerap terasa sesak oleh rasa syukur yang terlalu besar untuk diucapkan. Tak pernah terlintas di benaknya, hidupnya akan berakhir atau justru bermula, seperti ini. Dulu, Alya hanyalah seorang perempuan yang kehadirannya nyaris tak diinginkan. Revan, pria yang kini menjadi suaminya, pernah memandangnya

  • Pemuas Nafsu Kakak Tiri   Bab 254

    Pesta resepsi akhirnya usai. Tamu terakhir telah pulang, menyisakan keheningan yang melegakan di lobi gedung yang mulai dibersihkan. ​Arman berdiri di dekat pintu mobilnya, wajahnya tampak lelah namun senyum bahagia tak lepas dari bibirnya. Revan dan Alya mengantarnya sampai ke parkiran. ​“Alya, Revan, Papa pulang dulu, ya,” pamit Arman sambil menepuk bahu menantunya. ​Alya menatap ayahnya cemas. “Papa nggak mau istirahat dulu di sini? Di kamar tamu ada kok, Pa. Udah malem banget ini.” ​Arman menggeleng pelan sambil terkekeh. “Nggak usah, Sayang. Papa istirahat di rumah aja. Takut ganggu pengantin baru. Nanti Papa malah jadi nyamuk.” ​Wajah Alya seketika merona merah mendengar godaan ayahnya. Ia menunduk malu, mencubit pelan lengan Revan. ​Namun Revan justru tertawa kecil, merangkul pinggang Alya. “Papa pengertian banget, sih. Tahu aja kalau kita butuh privasi.” ​Arman tertawa renyah. “Hahaha, Papa juga pernah muda, pernah nikah kali, Van. Tahu rasanya gimana malam pertam

  • Pemuas Nafsu Kakak Tiri   Bab 253

    Sosok itu semakin mendekat, menaiki undakan pelaminan dengan langkah pelan dan ragu. Cahaya lampu kristal kini menerangi wajahnya dengan jelas.​Itu Maya.​Namun, Maya yang kini berdiri di hadapan mereka sangat berbeda dengan Maya yang diusir Arman kemarin. Tak ada gaun mewah, tak ada riasan tebal, dan tak ada dagu yang terangkat angkuh.​Ia mengenakan terusan batik sederhana berwarna cokelat kusam. Wajahnya tampak lelah, matanya bengkak, dan rambutnya hanya digelung seadanya.​Revan yang menyadari siapa tamu tak diundang itu seketika menegang. Rahangnya mengeras, kilatan amarah kembali menyala di matanya.​Tangannya bergerak cepat, hendak memanggil petugas keamanan yang berjaga di sudut ruangan.​“Mau ngapain lagi dia ke sini?” desis Revan tajam. “Belum puas ngerusak semuanya?”​Namun sebelum Revan sempat mengangkat tangan memberi kode, Alya menahannya. Jemari Alya mencengkeram lengan jas suaminya dengan erat.​“Jangan, Van,” bisik Alya memohon. Matanya menatap Revan lekat. “Tolong,

  • Pemuas Nafsu Kakak Tiri   Bab 252

    Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Bahkan sebelum matahari benar-benar terbit, mobil yang membawa Alya dan Revan sudah memasuki pelataran gedung. Kabut pagi masih menggantung tipis, udara dingin merayap ke kulit, tapi semua itu tak berarti apa-apa dibandingkan debaran jantung Alya yang berlari tanpa kendali. Setiap tarikan napas terasa berat, seolah ia sedang berdiri di ambang kehidupan yang sama sekali baru. Di ruang rias, Alya duduk diam, nyaris tak bergerak. Jemari perias bekerja lincah di wajahnya, memoles, merapikan, menyempurnakan. Namun pikiran Alya melayang jauh. Di cermin, ia menatap pantulan dirinya sendiri, seorang perempuan dalam kebaya putih yang sederhana, pengganti gaun impian yang pernah ia bayangkan dengan penuh harap. Kebaya itu bukan yang ia rencanakan sejak awal. Ia hadir sebagai pengganti dari sesuatu yang direnggut paksa. Namun entah mengapa, justru kain putih itu kini terasa jauh lebih jujur. Lebih sakral. Seolah menandai bahwa hari ini bukan tent

  • Pemuas Nafsu Kakak Tiri   Bab 251

    Setelah urusan gaun selesai dan hati Alya sedikit lebih lega, mobil kembali melaju membelah jalanan sore. Sesuai rencana awal, mereka langsung menuju gedung pernikahan untuk pengecekan terakhir.Begitu sampai di sana, Alya terpaku di ambang pintu masuk.Gedung itu sudah disulap. Lampu-lampu kristal menggantung megah, memantulkan cahaya keemasan yang hangat. Ribuan bunga segar, kombinasi mawar putih, lili, dan anggrek telah tertata rapi memenuhi ruangan, menebarkan aroma harum yang menenangkan.Dekorasinya begitu elegan, mewah, namun tetap terasa sakral. Jauh melampaui bayangan Alya selama ini.Matanya kembali memanas. Jika tadi ia menangis karena sedih gaunnya rusak, kini air matanya jatuh karena rasa haru yang membuncah.Ia menutup mulutnya dengan tangan, tak menyangka hari bahagianya akan seindah ini, seolah semesta sedang membayarnya lunas atas semua kesedihan yang ia alami.Revan yang melihat Alya terpaku, melangkah mendekat dan berdiri di sampingnya. Ia tersenyum tipis melihat

  • Pemuas Nafsu Kakak Tiri   Bab 250

    Maya terisak keras, suaranya pecah dan berantakan.“Ng-nggak, Mas… aku nggak mau cerai,” katanya sambil menggeleng berulang kali, lututnya bergeser mendekat. “Tolong… kasih aku kesempatan satu kali lagi. Aku janji bakal perbaiki semuanya. Aku bisa berubah, Mas. Aku bisa jadi istri yang baik.”Arman menatapnya lama. Terlalu lama. Tatapan itu bukan lagi tatapan suami pada istri, melainkan tatapan seorang lelaki yang akhirnya sadar bahwa ia hidup dalam kebohongan bertahun-tahun.“Aku nggak mau berumah tangga sama orang yang hidupnya penuh kepalsuan, Maya,” ucap Arman datar namun menghujam. “Dan sekarang sudah cukup. Sudah terlalu lama aku hidup sama kamu.”Maya terdiam, napasnya tersendat.“Aku kira kamu benar-benar ibu yang baik buat Alya,” lanjut Arman, suaranya mengeras menahan amarah dan kecewa yang menumpuk. Arman mengangkat gaun robek itu sedikit, matanya basah.“Ternyata kamu cuma manfaatin dia. Kamu pura-pura sayang, pura-pura peduli, padahal di belakang kamu tanam racun ke an

  • Pemuas Nafsu Kakak Tiri   Bab 122

    Dua jam perjalanan akhirnya berlalu dalam diam yang panjang. Tak ada percakapan berarti, tak ada tawa, hanya udara tegang yang menggantung di antara mereka.Ketika mobil akhirnya berhenti di depan hotel, Revan turun lebih dulu. Ia mematikan mesin, lalu berjalan ke arah bagasi untuk mengambil koper.

    last update最終更新日 : 2026-03-25
  • Pemuas Nafsu Kakak Tiri   Bab 101

    Revan. Mobilnya sudah lebih dulu terparkir di halaman. Ia baru saja turun, tubuhnya masih basah kuyup, wajahnya tegang, dan matanya langsung mengarah ke mobil Rafi yang berhenti tepat di depan pagar. Revan melangkah cepat, nafasnya berat, rahangnya mengeras. Pandangannya tajam menusuk ke arah mo

    last update最終更新日 : 2026-03-24
  • Pemuas Nafsu Kakak Tiri   Bab 106

    Alya tertegun. Tatapannya membeku saat melihat sosok Revan berdiri di depannya. Mata pria itu gelap, rahangnya mengeras, nafasnya berat seperti menahan letupan emosi yang hampir pecah. Revan memundurkan langkah Alya perlahan, sampai punggung gadis itu menyentuh pintu kayu di belakangnya. “Jadi i

    last update最終更新日 : 2026-03-24
  • Pemuas Nafsu Kakak Tiri   Bab 110

    Suara ketukan itu terdengar keras, memecah ketegangan di kamar. Alya langsung berusaha duduk, tubuhnya masih lemah, napasnya tersengal. Revan menoleh cepat, rahangnya mengeras. Ia berjalan ke arah pintu dan membukanya dengan gerakan tegas.Di depan pintu berdiri Arman, wajahnya tegang, mata tajam

    last update最終更新日 : 2026-03-24
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status