로그인Ayumi harus menerima kenyataan pahit ketika kekasih yang telah dicintainya bertahun-tahun justru memilih adiknya sendiri. Di tengah kehancuran hidupnya, Adrian, atasannya sekaligus seorang CEO tampan dan dingin, menawarkan pernikahan kontrak. Adrian membutuhkan seorang istri untuk menghindari perjodohan keluarganya, sementara Ayumi membutuhkan uang untuk menyelamatkan ayahnya. Mereka pun menikah tanpa cinta dan hanya berjanji menjalankan peran masing-masing. Namun, tinggal serumah membuat hubungan mereka perlahan berubah. Perhatian kecil Adrian mulai membuat hati Ayumi goyah.
더 보기Plak!
Suara tamparan keras menggema di kamar hotel nomor 101. "Apa ini balasanmu, Bella?" Suara Ayumi bergetar hebat. "Aku membanting tulang membiayai kuliahmu, membayar pengobatan Ayah, tapi kamu malah tidur dengan pacarku?!" Bella memegangi pipinya yang memerah. Selimut ia tarik hingga menutupi dada, sementara wajahnya tertunduk tanpa berani menatap kakak tirinya. "Ayumi!" bentak pria di samping Bella. "Jangan bertindak keterlaluan!" Ayumi menoleh. Tatapannya beralih kepada pria yang telah menemaninya selama sepuluh tahun. Raka … pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. "Keterlaluan?" Ayumi tertawa lirih. Air mata mulai mengaburkan pandangannya. "Yang keterlaluan itu kalian. Dia adikku, Raka! Bagaimana kalian bisa melakukan ini di belakangku?!" Beberapa menit lalu, Arumi hanya berniat mengantarkan pesanan ke kamar 101, menggantikan rekan kerjanya di hotel. Tak pernah ia bayangkan, pintu kamar itu justru memperlihatkan pemandangan yang menghancurkan seluruh hidupnya. Pacarnya dan adik tirinya sendiri berada di atas ranjang yang sama. Raka menghembuskan napas kesal. “Ah sudahlah, mulai detik ini hubungan kita berakhir. Jujur saja, dengan status dan pekerjaanku sekarang, aku malu punya pacar yang pekerjaannya serabutan sepertimu, bahkan hanya lulusan SMA! Sementara Bella, dia kuliah, cantik, modis, jadi jelas dia lebih baik darimu!” Alih-alih meminta maaf, Raka justru melayangkan kalimat pahit itu. Tanpa banyak bicara lagi, pria itu justru menarik Ayumi keluar dari kamar itu dan mendorongnya hingga terpental ke luar pintu kamar. “Aduh! Raka, kamu benar-benar keterlaluan. Selama ini aku selalu berusaha menjadi pasangan yang baik buatmu, tapi kenapa balasanmu seperti ini?!” ujar Ayumi sambil menatap Raka nanar. Sejak dulu, Ayumi tak pernah menuntut banyak hal pada Raka. Bahkan, ia tak pernah meminta sepeser uang pun pada Raka ketika keluarganya sedang terpuruk. Ketika ulang tahun, Ayumi juga tak pernah meminta dibelikan kue, hadiah, atau apapun itu. Bagi Ayumi, kehadiran Raka di dekatnya saja sudah lebih dari cukup. Sikap Raka dulu juga tidak seperti ini. Pria itu selalu bertutur baik padanya, selalu memperlakukan Ayumi dengan baik. Namun, belakangan Ayumi sadar, Raka menjadi lebih dingin dan jauh. Ayumi pikir, semua itu hanya perasaannya dan karena kesibukan mereka. Apalagi, mereka juga telah merencanakan akan menikah. Jadi, sekali lagi Ayumi berpikir bahwa Raka sedang berusaha lebih giat mengumpulkan uang untuk biaya pernikahan mereka. Tak disangka, ternyata seperti ini jawabannya. Bersamaan dengan itu, Bella yang telah mengenakan pakaiannya kembali muncul di depan pintu. Ia menyeringai ke arah Arumi. Sementara itu, tatapan Raka justru jatuh pada seragam cleaning service yang dikenakan Ayumi. Lalu, satu alisnya terangkat. “Tunggu … bukannya kamu kerja di minimarket? Kenapa sekarang bisa ada di sini? Bahkan sampai dapat seragam hotel ini,” ujar Raka heran. Arumi justru mengerutkan dahinya. Dua minggu yang lalu, ia telah mengatakan pada Raka bahwa ia telah pindah bekerja di hotel ini karena gaji yang diterima lebih besar. Rupayanya, pria itu sama sekali tak memperhatikan ucapannya. Arumi baru ingin membuka mulut untuk menjawab, tapi Raka lebih dulu bersuara. "Oh … kamu sengaja mengikutiku, ya?" ujar Raka enteng, seolah sudah menemukan jawabannya sendiri. “Apa? Tida—” “Pak! Anda pasti majaner hotel ini, kan?” potong Raka begitu melihat seorang pria dengan jas rapi dan sebuah map berlogo sama dengan hotel ini di koridor kamar. Raka langsung berjalan cepat menghampiri pria itu. Pria berjas itu berhenti. Ia menatap ke arah Ayumi dan Raka bergantian, seolah sedang membaca situasi. “Pak, orang ini menerobos kamar saya, perilakunya sangat mengganggu privasi saya sebagai tamu. Apa memang seperti ini pelayanan hotel bintang lima?” Raka tersenyum kecut, seolah benar-benar kecewa dengan apa yang ia dapat. “Saya bisa memviralkan pelayanan hotel kalian yang buruk ini,” lanjut Raka sambil sesekali melirik ke arah Ayumi. “Benar, Pak! Karyawan kalian ini sangat tidak tahu sopan santun!” sahut Bella dengan raut kesal. Pria itu menaikkan satu alis ke arah Ayumi, lalu beralih pada Raka dan Bella. “Atas nama manajemen hotel, saya meminta maaf atas ketidaknyamanan yang Anda alami. Kami akan menindak pegawai yang lalai secara langsung sesuai prosedur kami. Mohon juga untuk tidak perlu mengunggah apapun di media sosial,” ujar Adrian, pria berjas itu dengan senyum profesional. “Kalau begitu, pecat dia!” tukas Raka dengan senyum remeh. Ayumi belum pernah bertemu dengan Adrian, ia juga tak tahu apa jabatan pria itu. Tapi, dari yang Ayumi lihat dari pakaian dan penampilan Adrian, Ayumi bisa pastikan mungkin jabatan pria itu memang manajer atau bahkan lebih tinggi. Kini, Ayumi hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia benar-benar pasrah dengan apapun yang akan terjadi nanti. Adrian menangguk samar, lalu kembali berkata, “Saya akan mengurusnya dengan bagian yang bersangkutan. Sekali lagi saya memohon maaf. Silakan melanjutkan istirahat Anda.” Bela tersenyum remeh ke arah Ayumi, seolah tak pernah peduli bahwa selama ini biaya hidupnya ditanggung oleh gaji yang Ayumi dapatkan. Adrian melirik Ayumi, memberi gestur yang membuat Ayumi langsung mendekat ke arahnya. *** “Saya dengar kamu baru bekerja dua minggu di sini,” ujar Adrian dengan nada dingin. Tatapannya tajam mengarah pada Ayumi yang kini duduk di sofa ruang kerja pria itu. Sejak pertama kali melangkah masuk, Ayumi sudah tahu siapa pria di hadapannya. Ruangan itu terlalu jelas menunjukkan identitas pemiliknya. Di balik meja kerja terpajang plakat bertuliskan CEO, sementara di dinding tergantung beberapa foto Adrian saat menerima penghargaan dan menghadiri peresmian cabang hotel bersama jajaran direksi. Kini Ayumi mengerti mengapa semua karyawan yang berpapasan tadi langsung menundukkan kepala dengan penuh hormat. Adrian Lukito bukan sekadar atasannya. Pria itu adalah CEO sekaligus pemilik jaringan hotel tempatnya bekerja. Kesadaran itu membuat jantung Ayumi semakin mencelos. Ia hanyalah karyawan outsourcing yang baru bekerja dua minggu. Jika Adrian memutuskan untuk memecatnya, tak seorang pun akan membelanya. Namun, sebelum itu benar-benar terjadi, Ayumi memutuskan untuk memperjuangkan pekerjaannya. "Benar, Pak. Tapi, tolong jangan pecat saya. Saya hanya mengantar minuman ke kamar itu. Saya tidak menerobos atau mengganggu mereka," ujar Ayumi, berharap masih ada sedikit belas kasihan. Adrian meletakkan tablet yang sedari tadi berada di tangannya ke atas meja, seolah baru saja selesai memastikan sesuatu. Pria itu kembali menatap Ayumi beberapa saat sebelum berkata, "Saya tidak akan memecatmu, asal kamu bersedia bekerja sama dengan saya." Ayumi mengernyit bingung. "Bekerja sama...?" Tanpa menjawab, Adrian mengambil kembali tabletnya di atas meja. Jemarinya mengetuk layar beberapa kali, lalu menyodorkannya ke hadapan Ayumi. Ayumi menatap layar itu. Awalnya ia mengira dokumen tersebut berkaitan dengan pekerjaannya. Namun, begitu melihat judul yang tertera di bagian atas, napasnya seketika tercekat. [PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK.] Mata Ayumi membelalak. "Pernikahan kontrak?" gumam gadis itu nyaris tak percaya. "Maksud Bapak...?" Adrian menatapnya lurus. "Menikah kontrak dengan saya."“Karena dulu, saat pertama kali kamu masuk ke keluarga ini, yang mengajarimu etiket keluarga Lukito adalah ibu mertuamu.”Bahar menatap Anita dengan tenang.“Sekarang, tugas itu menjadi tanggung jawabmu untuk mengajari Ayumi. Bukankah memang seharusnya begitu?”Anita mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan. Rahangnya mengeras, menahan geram hingga gigi-giginya bergemeletuk pelan.“Tapi, ayah...” Anita masih mencoba mencari alasan.“Tidak ada tapi-tapian,” potong Bahar tegas.Pria tua itu kemudian mengalihkan pandangan kepada Ayumi.“Ayumi, mulai sekarang, dengarkan semua arahan ibu mertuamu. Belajarlah dengan sungguh-sungguh darinya.”Ayumi langsung mengangguk penuh semangat. Ia merasa lega karena mendapat kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya dan membuktikan bahwa dirinya mampu menjadi bagian dari keluarga Lukito.Ayumi tersenyum lebar lalu mengangguk mantap. "Terima kasih banyak, Kakek!" ucapnya bersemangat.Ia lalu menggeser posisi duduknya agar menghadap Anita. Dengan sop
Ayumi berjalan pelan mengikuti langkah tegap Adrian menuju ruang kerja Kakek Bahar.Begitu langkah kaki mereka memasuki ruangan, suasana di dalam terasa sangat mencekam.Ayumi menarik napas dalam-dalam. Dadanya terasa sesak, seolah pasokan oksigen di dalam ruangan itu mendadak menipis. Ia berdiri kaku di samping Adrian dengan kepala yang sedikit menunduk, menyadari tatapan tajam dari semua orang tengah tertuju padanya.Melihat kedatangan Ayumi, emosi Lukman yang sudah membakar dada seketika meledak. Tanpa peringatan, ia menyambar cangkir porselen di hadapannya dan melemparnya kuat-kuat ke arah Ayumi!Cangkir porselen itu melayang cepat, nyaris mengenai dirinya jika saja Adrian tidak dengan cepat menarik pinggang Ayumi agar merapat ke dekapannya.Prang!Cangkir itu hancur berkeping-keping menghantam dinding tepat di belakang mereka."Pa! Apa yang Papa lakukan?!" tanya Adrian tajam, sorot matanya mendadak gelap dan memancarkan amarah."Dia!" bentak Lukman seraya menunjuk wajah Ayumi den
Ayumi makin menundukkan kepala, jemarinya yang lentik mencengkeram erat pinggiran selimut. "Saya tidak tahu... Saat itu saya tersedak, dan Nona Jessica menyodorkan minuman itu." "Lalu?" tanya Adrian. "Lalu... saya tidak ingat apa-apa lagi," jawab Ayumi jujur, menatap ragu ke arah suaminya. "Kamu benar-benar tidak ingat sama sekali?" Adrian mengerutkan keningnya, menatap penuh selidik. Ayumi mengangguk pelan. "Bahkan saat kamu menggunakan kemeja custom milikku sebagai tisu, kamu tetap tidak ingat?" tanya Adrian dengan nada datar tanpa ekspresi. Deg! Napas Ayumi seketika tercekat di tenggorokan. Ia membelalak, bersusah payah menggali kembali ingatan kelam semalam. 'Bodoh! Sebenarnya apa yang sudah aku lakukan?!' jerit Ayumi merutuki dirinya sendiri di dalam hati. "M-maksud Bapak apa, ya? Saya kurang paham..." tanya Ayumi tergagap. "Semalam, karena masalah percintaan, kamu menangis sejadi-jadinya dan menggunakan kemejaku untuk menyeka ingusmu," ujar Adrian. Suaranya
Brak!"Kurang ajar! Tidak tahu sopan santun!" hardik Lukman.Pria paruh baya itu menggebrak meja jati di hadapannya dengan kuat, membuat cangkir teh porselen di atasnya berdenging nyaring."Dia pikir dia siapa di rumah ini?! Cepat panggil mereka sekarang!" bentak Lukman dengan suara meninggi. "Jam segini belum bangun, dia pikir dia nyonya besar di sini?!"Pelayan paruh baya yang semula berniat melaporkan bahwa nyonya muda mereka belum juga terbangun seketika menciut ketakutan. Wajahnya pucat pasi, menundukkan kepala dalam-dalam saat berhadapan dengan amarah sang tuan besar."B-baik, Tuan," cicit pelayan itu panik. Tanpa berani menatap lawan bicaranya, ia buru-buru berbalik dan melangkah cepat meninggalkan ruangan.Pagi itu waktu menunjukkan pukul 09:30, atmosfer di dalam ruang kerja Kakek Bahar terasa begitu tegang dan mencekam. Seluruh anggota keluarga inti Lukito tengah berkumpul untuk membahas insiden kekacauan di pesta semalam.Lukman duduk berdampingan dengan istrinya, Anita. Waj












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.