LOGINRevan, 25 tahun, masih terpukul dengan kematian ibunya yang baru beberapa bulan lalu. Ketika luka itu belum sembuh Arman, sang Ayah justru memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang perempuan, yang ku tau itu adalah sahabat Mama. Tanpa meminta persetujuan Revan, sang ayah membawa istri barunya, beserta putri angkatnya yang berusia 22 tahun bernama Alya, untuk tinggal di rumah keluarga mereka. Sejak awal, Revan menolak keberadaan wanita itu dan anaknya. Ia menganggap kehadiran mereka adalah bentuk penghinaan terhadap kenangan ibunya. Alya yang sebenarnya tidak bersalah, justru menjadi sasaran kemarahan dan kebencian Revan. Namun, benci yang tumbuh setiap hari perlahan berubah arah, saat tubuh dan tatapan Alya mulai memancing perasaan terlarang yang tidak bisa Revan kendalikan.
View MoreEnam tahun berlalu begitu saja, seolah waktu berlari tanpa pernah menoleh ke belakang. Rumah yang dulu sering terasa terlalu besar dan sunyi kini nyaris tak pernah benar-benar diam. Tawa, tangis, dan suara langkah kaki kecil berkejaran memenuhi setiap sudutnya. Mainan berserakan di ruang keluarga, dinding kulkas penuh coretan krayon, dan jam tidur tak lagi teratur sejak dua anak kembar mereka hadir ke dunia. Alya sering berdiri di ambang pintu kamar, memandangi pemandangan itu dengan perasaan yang masih terasa asing, asing namun hangat. Dua anaknya tertidur saling berhadapan, napas mereka teratur, wajah polos mereka begitu mirip ayahnya. Di momen-momen seperti itulah dadanya kerap terasa sesak oleh rasa syukur yang terlalu besar untuk diucapkan. Tak pernah terlintas di benaknya, hidupnya akan berakhir atau justru bermula, seperti ini. Dulu, Alya hanyalah seorang perempuan yang kehadirannya nyaris tak diinginkan. Revan, pria yang kini menjadi suaminya, pernah memandangnya
Pesta resepsi akhirnya usai. Tamu terakhir telah pulang, menyisakan keheningan yang melegakan di lobi gedung yang mulai dibersihkan. Arman berdiri di dekat pintu mobilnya, wajahnya tampak lelah namun senyum bahagia tak lepas dari bibirnya. Revan dan Alya mengantarnya sampai ke parkiran. “Alya, Revan, Papa pulang dulu, ya,” pamit Arman sambil menepuk bahu menantunya. Alya menatap ayahnya cemas. “Papa nggak mau istirahat dulu di sini? Di kamar tamu ada kok, Pa. Udah malem banget ini.” Arman menggeleng pelan sambil terkekeh. “Nggak usah, Sayang. Papa istirahat di rumah aja. Takut ganggu pengantin baru. Nanti Papa malah jadi nyamuk.” Wajah Alya seketika merona merah mendengar godaan ayahnya. Ia menunduk malu, mencubit pelan lengan Revan. Namun Revan justru tertawa kecil, merangkul pinggang Alya. “Papa pengertian banget, sih. Tahu aja kalau kita butuh privasi.” Arman tertawa renyah. “Hahaha, Papa juga pernah muda, pernah nikah kali, Van. Tahu rasanya gimana malam pertam
Sosok itu semakin mendekat, menaiki undakan pelaminan dengan langkah pelan dan ragu. Cahaya lampu kristal kini menerangi wajahnya dengan jelas.Itu Maya.Namun, Maya yang kini berdiri di hadapan mereka sangat berbeda dengan Maya yang diusir Arman kemarin. Tak ada gaun mewah, tak ada riasan tebal, dan tak ada dagu yang terangkat angkuh.Ia mengenakan terusan batik sederhana berwarna cokelat kusam. Wajahnya tampak lelah, matanya bengkak, dan rambutnya hanya digelung seadanya.Revan yang menyadari siapa tamu tak diundang itu seketika menegang. Rahangnya mengeras, kilatan amarah kembali menyala di matanya.Tangannya bergerak cepat, hendak memanggil petugas keamanan yang berjaga di sudut ruangan.“Mau ngapain lagi dia ke sini?” desis Revan tajam. “Belum puas ngerusak semuanya?”Namun sebelum Revan sempat mengangkat tangan memberi kode, Alya menahannya. Jemari Alya mencengkeram lengan jas suaminya dengan erat.“Jangan, Van,” bisik Alya memohon. Matanya menatap Revan lekat. “Tolong,
Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Bahkan sebelum matahari benar-benar terbit, mobil yang membawa Alya dan Revan sudah memasuki pelataran gedung. Kabut pagi masih menggantung tipis, udara dingin merayap ke kulit, tapi semua itu tak berarti apa-apa dibandingkan debaran jantung Alya yang berlari tanpa kendali. Setiap tarikan napas terasa berat, seolah ia sedang berdiri di ambang kehidupan yang sama sekali baru. Di ruang rias, Alya duduk diam, nyaris tak bergerak. Jemari perias bekerja lincah di wajahnya, memoles, merapikan, menyempurnakan. Namun pikiran Alya melayang jauh. Di cermin, ia menatap pantulan dirinya sendiri, seorang perempuan dalam kebaya putih yang sederhana, pengganti gaun impian yang pernah ia bayangkan dengan penuh harap. Kebaya itu bukan yang ia rencanakan sejak awal. Ia hadir sebagai pengganti dari sesuatu yang direnggut paksa. Namun entah mengapa, justru kain putih itu kini terasa jauh lebih jujur. Lebih sakral. Seolah menandai bahwa hari ini bukan tent
Suara berat itu menghantam Maya lebih keras daripada tamparan fisik.Tubuhnya tersentak hebat. Gunting besi di tangannya terlepas, jatuh beradu dengan lantai keramik, menghasilkan bunyi klang yang nyaring dan menyakitkan telinga.Maya menoleh patah-patah, wajahnya memucat seketika, darah seolah t
Sinar matahari siang yang terik menyambut mereka begitu keluar dari pintu kaca butik yang megah itu. Setelah hampir tiga jam bergulat dengan pengukuran baju, pemilihan bahan, hingga diskusi panjang lebar dengan pihak Wedding Organizer yang didatangkan khusus ke sana, urusan mereka akhirnya selesa
Hari-hari setelah malam itu berjalan pelan, tapi terasa berat bagi Alya. Revan benar-benar menepati ucapannya, ia mengikuti keinginan Alya.Beberapa hari kemudian, Alya melihat sendiri perubahan itu.Revan kini lebih sering bersama Alisha. Di rumah, di meja makan, bahkan di ruang tamu, mereka tampa
Alya duduk di ruang tunggu dokter kandungan dengan jantung berdebar kencang.Ini pertama kalinya ia memberanikan diri datang setelah tahu dirinya hamil. Selama berminggu-minggu, ia hanya menunda-nunda, menekan ketakutan dengan alasan kesibukan kuliah.Tapi belakangan, pikirannya terlalu kacau, seri












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore