Masuk"Wahhh ... kelihatannya enak sekali!" "Ayo makan, Pak!" "Ayo kalian makan saja duluan!"Nadine memandangi kuah udon yang tampak merah menyala. Karena perempuan itu terlalu banyak menambahkan 'togarashi' dan potongan cabai.Sejujurnya Nadine bahkan tidak sadar saat memasukkannya tadi. Pikirannya seolah tertinggal di tempat lain. Bahkan obrolan seru ketiga pria yang mengapitnya di meja yang memang pas untuk tiga orang ini tidak begitu masuk ke telinga."Kenapa kuah udonmu merah sekali?!" Genta yang akhirnya menyadari seberapa menyeramkan isi mangkuk Nadine sontak mendelik terkejut."Kamu bisa makan itu, Nadine?" tanya Rion bahkan terdengar khawatir.Nadine hanya mengangguk singkat. Kemudian mencoba kuah berbau pedas menyengat itu guna membuktikan. Namun, satu sendokan kecil sudah cukup untuk membuat perempuan itu terbatuk-batuk."Uhuk! Uhuk!"Hingga Lingga buru-buru menyodorkan segelas ocha dingin. Nadine tanpa pikir panjang meneguknya guna menetralisir rasa terbakar di tenggorokan."
"Wangi banget, Nad? ABG mau pergi kencan juga kalah!" Genta langsung mengomentari sesaat Nadine mendaratkan bokongnya di kursi. Perempuan yang hari ini menguncir satu rambutnya dengan poni di kanan-kiri hanya menyengir lebar."Aku harus cantik hari ini. Karena kita tidak akan turun lapangan." Nadine merapikan poninya dengan layar komputer sebagai cermin.Hingga Rion yang melihat tingkahnya dari meja sebelah hanya terkekeh pelan."Tenang saja, Nad. Meski kita turun lapangan sekali pun, kamu pasti akan selalu jadi paling cantik di tim ini." Rion berkomentar yang sontak dibalas Nadine dengan dengkusan sebal.Tentu saja! Hanya dia perempuan di tim ini. Akan aneh jika dia mengadu kecantikan dengan Rion dan Genta."Tapi dari mana kamu tahu kita tidak akan turun lapangan hari ini?" Genta bertanya heran.Membuat Nadine yang masih sibuk merapikan poni sontak membeku. Benar juga. Nadine tahu karena diberitahu Lingga sejak di jalan tadi.Mana mungkin kedua rekan kerjanya tahu tentang hal terseb
"Kamu selapar itu?" Lingga bertanya terkejut melihat Nadine yang kini makan begitu lahap. Sedangkan Lingga bahkan belum membuka bungkus nasi padangnya."Tadi tidak selapar itu. Tapi ternyata lumayan lapar juga, hehe ...." Nadine menyengir polos kemudian menyuap kembali nasi yang sudah berubah warna menjadi kuning bahkan gelap karena bumbu rendang.Dan Lingga, seolah tengah menonton channel mukbang, kini ikut duduk bersila di sela meja kaca rendah depan sofa. Kemudian ikut memakan nasi dengan bumbu 'medhok' yang kaya rasa itu berhadapan dengan Nadine.Namun, begitu menyadari ada yang kurang, sang jaksa kembali berdiri dan berlalu menuju kulkas. Kemudian kembali dengan sebotol besar air dingin dan gelas kosong."Ini boleh kuminum?" tanya Nadine menunjuk air mineral yang baru keluar dari kulkas, hingga embun di luar botol plastiknya menggenang di meja."Boleh. Hanya malam ini. Air di dispenser sudah lama, kamu pasti belum menggantinya selama aku di rumah sakit." Lingga menjawab sambil m
"A-aku harus masak ...."Nadine berusaha mendorong dada Lingga agar pagutan mereka terlepas. Namun kepala sang jaksa justru terus bergerak maju mencari bibir Nadine yang sudah basah membengkak."Aku sudah tidak lapar, Nana ....""Emmh---"Bilah ranum itu kembali dipagut. Hingga Nadine hanya bisa pasrah terpejam dan melingkarkan kedua kakinya di pinggang sang jaksa. Menikmati setiap cumbuan basah yang terasa panas dan enak.Nadine tidak mengerti bagaimana ciuman bisa didefinisikan sebagai istilah nikmat itu di kepalanya. Karena, hanya ada rasa mint dari pasta gigi mereka yang ber-merk sama berpadu lengket dari saliva mereka yang bercampur.Tidak ada rasa lain yang bisa lidahnya cecap. Mungkin hanya ditambah wangi strawberry yang manis dari lipbalm Nadine. Selebihnya ... tidak ada.Hanya bibir basah mereka yang seolah tidak pernah puas untuk saling menghisap. Hanya lidah sang jaksa yang berusaha menjangkau lidah merah mudanya. Hanya lidah lihai pria itu yang mengabsen geligi Nadine yang
"Selamat datang, Pak. Silakan masuk! Anggap saja di rumah sendiri ...."Nadine membuka pintu seolah unit apartemen tersebut adalah miliknya. Hingga si tuan rumah sebenarnya hanya bisa terkekeh kecil. Pria itu pasti tidak menyangka karena Nadine sudah berani bercanda.Hubungan mereka memang berubah dalam waktu cepat. Mungkin karena mereka memang sudah familiar dengan kehadiran masing-masing. Meski sudah lama tidak bertemu, cukup beberapa hari bersama sudah membuat keduanya seolah kembali terkoneksi."Terima kasih, ya, Bu. Senang sekali bisa berkunjung ke sini ...." Dan seperti Lintang Gaharu yang belasan tahun lalu Nadine kenali, pria itu menanggapi candaannya."Jangan panggil aku 'Bu'! Aku tidak setua itu!" sanggah Nadine tidak terima mendengar sebutan yang digunakan sang jaksa."Loh ... kamu saja memanggilku 'Pak' setiap hari. Apa aku pernah protes?" Lingga membela diri sambil menggiring Nadine hingga mereka kini duduk di sofa ruang tengah."Kalau Pak Lingga kan wajar. Pak Lingga su
"Kakek ... aku dan dia mau pamit pulang!" Lingga menghampiri Kakek di bed sebelah bersama Nadine. Taksi sudah menunggu mereka di luar. Nadine bahkan sudah mengangkut barang-barangnya ke sana."Kamu mau tulang?! Untuk apa? Biar Kakek belikan daging ...." Pria tua itu kini sibuk menepuk punggung istrinya yang terlelap sambil duduk.Hingga tangan sang jaksa yang sudah tersodor hendak bersalaman diabaikan begitu saja. Nadine yang melihat itu sontak terkikik geli."KA-MI MA-U PU-LANG, KEK!" Nadine berjinjit untuk mengeja di depan telinga sang Kakek.Lingga yang awalnya kesal karena ditertawai, kini ikut tertawa melihat tingkah perempuan pendek itu. Untungnya, kali ini sang Kakek mengangguk-angguk seolah mengerti."Ooh ... kalian mau pulang?! Yasudah, sampai jumpa lagi, ya? Hati-hati!" Pria tua yang selalu bicara dengan nada tinggi itu akhirnya menanggapi dengan benar.Nadine mengangguk sambil menyalami punggung tangan sang Kakek. Diikuti Lingga yang juga melakukan hal sama."Jaga istrimu







