LOGINNadine menyimpan sebuah rahasia memalukan. Sialnya, rahasia itu diketahui oleh Lingga; atasan sekaligus orang yang dulu pernah menolak cintanya. Bukannya menjauh, sang jaksa justru menawarkan sebuah kesepakatan gila untuk membantunya. Nadine tahu ia seharusnya menolak. Tetapi bagaimana jika tubuh dan hatinya berkata lain?
View More“Kalau tidak berniat kerja, lebih baik mengundurkan diri saja!”
Teriakan dari ruangan itu membuat Nadine tersentak kaget. Ia yang sedang mempersiapkan mentalnya di depan ruangan pun semakin memucat.
Bagaimana tidak, baru seminggu Nadine Cendana dipindahtugaskan ia sudah melakukan kesalahan fatal. Nadine telat masuk selama dua jam berkat alat pemompa ASI miliknya yang tertinggal di halte bus.
Jika saja bukan karena kondisi hormon langka yang membuatnya bisa memproduksi ASI, Nadine yakin kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi. Ia juga tidak perlu ketakutan untuk menghadapi atasannya yang galak.
“Saya akan menggantikan kalian jika kesalahan ini sampai terjadi lagi.”
Suara datar dari balik pintu kembali terdengar jelas. Suaranya tidak keras, tapi sukses membuat bulu kuduk Nadine meremang. Ia bisa membayangkan betapa menakutkan ekspresi sang atasan saat ini.
Dan benar saja ketika Nadine mengintip dari kaca di pintu, ia melihat dua rekan kerjanya menundukkan kepala. Lalu ada pria dengan setelan jas rapi sedang duduk sambil bersedekap, aura kelam seolah menguar di sekelilingnya.
Nadine menelan ludah. Setelah ini, bosnya itu pasti akan “menghabisinya”.
Setelah melepaskan asal ikat rambutnya hingga surai kelam itu menutup dada, Nadine membuka pintu ruangan bertuliskan 'D201'. Begitu pintu terbuka, tiga pasang mata di dalam sana menoleh serentak.
Tidak terkecuali sepasang netra sayu penuh intimidasi dari meja paling ujung. Pria itu kini bangkit berdiri sesaat menyadari kehadiran Nadine.
Lintang Gaharu. Jaksa senior yang kerap dipanggil Pak Lingga. Pria yang rasanya bisa melubangi kepala orang hanya dengan tatapannya.
"Pak, mohon maaf—" Belum sempat memberikan alasan, sang atasan sudah memotong singkat.
"Ikut saya."
Nadine meringis kecil, yakin dua rekan kerjanya pun pasti bisa melihat bagaimana wajahnya memucat. Namun, tidak ingin membuat pria jangkung itu bertambah marah, ia berlari kecil mengekori Lingga ke ruang kerja pribadinya.
Sejenak, Nadine meringis pelan begitu nyeri menyambangi dada. Netra cantik itu mendelik panik begitu menyadari bercak basah di permukaan kemejanya.
Asinya merembes lagi!
Nadine buru-buru membawa sebagian besar rambutnya yang tergerai ke bagian depan. Melihat Lingga yang sudah membuka pintu dan masuk ke ruangan, Nadine pun mempercepat langkahnya.
BRAK!
Pintu kayu itu tertutup keras tepat di depan mata si penyidik baru yang berjengit kecil karena terkejut. Entah karena tidak melihat Nadine yang berdiri di ambang pintu, tetapi ia jelas merasa sedih.
Dengan tangan sedikit gemetar dan tubuh membungkuk sopan, Nadine masuk ke ruangan penuh tumpukan berkas itu.
"Permisi ...."
"Kamu tahu kenapa saya panggil ke sini?" Pertanyaan itu langsung terlontar sesaat Nadine berdiri di hadapan Lingga.
"Iya, Pak." Nadine menjawab sambil menunduk dalam, hingga perempuan itu hanya bisa melihat ujung sepatu hitam mengkilap sang jaksa.
Sesekali perempuan itu juga melirik permukaan kemejanya yang terasa makin basah. Nyeri di dadanya bahkan bertambah parah hingga Nadine harus menggigit bibir menahan rintihannya.
Kenapa hal ini harus terjadi sekarang? Di hadapan orang yang kini paling ia takuti. Dan yang lebih parahnya lagi… di hadapan pria yang dulu sekali pernah ia sukai.
"Dua jam. Tidak ada pegawai baru yang punya nyali terlambat selama itu." Pria yang kini menyandarkan tubuh di meja kerjanya sambil bersedekap dada kembali bersuara.
"Atau kamu memang sengaja karena berpikir saya akan mengecualikanmu? Karena kita pernah saling mengenal sejak kecil?" tanya pria itu sambil menyelipkan kekehan kecil di akhir kalimatnya.
Namun Nadine terlalu sibuk menahan nyeri untuk tersinggung. Perempuan itu bahkan tidak bisa mendengar jelas ucapan Lingga. Keringat dingin mulai membasahi pelipis imbas linu yang kian menjadi.
“Maafkan saya, Pak Lingga,” cicit Nadine masih sambil menunduk dalam.
"Tatap mata saya saat kita sedang bicara, Nona Nadine!” Titah tegas itu membuat Nadine mendongak cepat.
Tanpa ia sadari, rambut panjangnya tergelincir ke sisi bahu. Dan detik itu juga makian Lingga terhenti seketika. Alisnya yang sedari tadi menukik tajam kini bertaut saat pandangannya bergerak turun ke arah dada Nadine.
"Nadine, kenapa dadamu basah seperti itu?”
"T-tunggu--PAK?!" Nadine memekik begitu tubuhnya terasa melayang. Lingga menyelipkan kedua tangannya di antara ketiak Nadine. Sesekon kemudian, bokong perempuan itu mendarat di atas meja kaca. Begitu jemari besar Lingga merambat menuju kancing teratasnya, Nadine refleks mendorong dada bidang sang jaksa sekuat tenaga. Hingga pria jangkung itu sedikit termundur. "Apa lagi?! Kamu mau terus kesakitan begini?!" Pertanyaan penuh penekanan itu sontak membuat Nadine menggeleng pelan. Perempuan itu menunduk sambil menyilangkan kedua lengan di depan dada. "Tapi ... t-tapi saya malu ...." Meski sejujurnya, usaha tersebut sia-sia. Lingga sudah melihat semua. Termasuk basah di permukaan kemeja satin putihnya. Fakta yang kini membuat wajah tembam itu perlahan merona. Lingga pun menghela berat begitu Nadine bahkan mulai menangis. Entah karena harga dirinya yang terancam atau mungkin terlalu kesakitan. "Nadine." Panggilan tegas itu dibarengi dengan jemari besar Lingga yang menggami
"Uhuk! Uhuk!" Penawaran kelewat serius itu membuat Nadine tersedak roti yang belum sempat ditelannya. Ia kini terbatuk hebat di depan wajah Lingga.Apa yang sedang pria ini coba katakan?! Meskipun Nadine pernah menyukainya, bukan berarti mereka bisa melakukan hal semacam itu! Lagipula, bukankah Lingga hanya menganggapnya sebagai adik? Bahkan selama seminggu bekerja dengan pria itu, Nadine sampai sempat berpikir bahwa kepala pria itu pernah dihantam sesuatu sampai melupakannya. Sehingga sikapnya begitu berbeda dengan Lintang Gaharu yang Nadine kenal belasan tahun lalu.Pria itu begitu dingin dan tidak tersentuh. Tidak ada pengecualian untuk Nadine yang setidaknya bisa ia anggap sekedar teman lama. Sang jaksa bahkan memarahinya di hari pertama bekerja hanya karena lupa membawa sarung tangan saat menuju TKP.Lalu dengan alasan apa pria itu tiba-tiba menawarkan bantuan yang rasanya melanggar batas profesional? Saat sosok Lingga Gaharu yang sekarang ia kenal bahkan bisa marah besar hanya
"Kau tinggal di perumahan Puri Hijau, kan?"Nadine menoleh gelagapan pada Lingga yang baru masuk mobil. Apalagi begitu sebuah kresek putih kini dilempar ke atas pangkuannya."Hah?"Tuk!Lingga menyentil ujung hidung mungil Nadine, membuat perempuan itu mengaduh dengan dramatis. Sedangkan Lingga hanya menyeringai kecil."Apa telingamu juga bermasalah?" Pria itu bahkan mencondongkan kepala sambil memicing guna mengecek kondisi telinga Nadine.Tindakan itu sontak membuat pipinya kembali memanas. Kenapa Lingga selalu tahu cara untuk membuat Nadine malu?"Telingaku baik-baik saja." Nadine menyahut sambil memalingkan wajah cepat menghadap jendela samping. Kunciran rambutnya tanpa sengaja menampar keras wajah Lingga.Menyadari ringisan sang atasan, Nadine kembali menoleh sambil mendelik panik."Maaf, Pak! Saya tidak sengaja!" pekik Nadine heboh.Lingga menghela napas pelan sambil memutar bola mata jengah. "Aku sudah membantumu, tapi kau malah menamparku."Nadine pun menunduk sebagai bentuk p
"Wali dari pasien Nadine Cendana?" "Saya, Dok."Dokter berkacamata yang baru saja membuka tirai langsung menoleh ke arah sosok pria yang berdiri tak jauh dari sana. Lingga dengan kemeja putihnya yang tergulung hingga siku langsung menatap Nadine begitu tirai terbuka sepenuhnya.Nadine yang baru saja bangkit duduk setelah diperiksa sontak memalingkan wajah. Berusaha menghindar begitu tatap mereka bertemu sesaat tirai terbuka.Menyadari situasi canggung di antara sang pasien dan walinya, dokter wanita itu sesaat melirik Nadine ragu, sebelum kemudian menatap Lingga serius."Mohon maaf sebelumnya. Apakah Anda pacar atau suami pasien?" tanya dokter itu sambil mempersilakan Lingga untuk duduk di kursi samping.Mendengar pertanyaan sang dokter, Nadine menunduk sambil memainkan kuku jemari. Jantungnya berdegup kencang, jelas penasaran Lingga akan menjawab apa.Apakah pria itu menganggap Nadine sebagai tetangga sekaligus teman masa kecilnya? Atau… bocah ingusan yang dulu pernah menyatakan cin






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.