Chapter: Ekstra Part || 00. Anak Paling Beruntung"BUNDAAA ...." Lily menoleh pada dua pria kesayangannya yang baru pulang setelah mengurus surat izin mengemudi. Dua makhluk dengan mata sipit itu tentu saja langsung berlari untuk berebutan memeluk Lily lebih dulu. "Lepaskan tanganmu dari istriku! Kau sudah besar, tidak boleh manja!" cerca Benji--suaminya yang kini sudah tampak cukup beruban untuk bertengkar dengan remaja SMA. "Dia ini bundaku! Aku bebas memeluknya sesuka hati. Kau juga sudah tua, kenapa masih manja pada bundaku? Carilah bundamu sendiri! Jangan mengambil Bunda orang lain!" Naka menimpali dengan nada menjengkelkan andalannya. Membuat Lily yang kini terkungkung oleh dua pria berbeda usia di atas sofa panjang ruang tengah, hanya bisa menghela napas jengah. Ini memang situasi sehari-hari yang harus ia hadapi di rumah. Meladeni sifat posesif dan manja suami dan anak semata wayangnya. "Bunda ... aku minta hadiah mobil Rolls Royce pada Ayah untuk ulangtahun ke-17 minggu depan. Tapi dia bilang tidak boleh." Kali in
Last Updated: 2026-04-14
Chapter: 360. Cinta yang Utuh [END]"Bundaku belum pulang ya, Ayah?" Benji melirik singkat putranya yang baru masuk dapur. Pemuda dengan wajah mirip Benjamin Kaisar itu bahkan langsung mencomot mie goreng yang sudah diseduh ayahnya di atas meja. "Kenapa kau memakannya?! Itu milik Ayah!" protes Benji tidak terima. Namun, bukannya takut oleh ucapan ayahnya, Naka--pemuda 16 tahun yang kini menginjak bangku kelas 2 SMA, malah memasukkan lebih banyak mie instan ke dalam mulutnya. Membuat Benji segera merebut piring di depan pemuda itu dengan kesal. "Aku lapar, Yahhh! Biarkan aku memakannya! Kau tidak lihat putra tampanmu ini kelelahan setelah latihan basket?" tanya pemuda dengan mata sipit seperti Benji itu dramatis. "Kalau kau mau, masak saja sendiri! Kenapa malah makan punya orang lain?" protes Benji lagi kemudian makan sisa mie instan yang tadi nyaris dihabiskan anaknya. "Andai saja Bunda di sini ... pasti dia tidak akan membiarkan anaknya kelaparan seperti bapak-bapak tidak berperasaan di depanku." Dan gumam
Last Updated: 2026-04-13
Chapter: 359. Tidurlah yang Nyenyak"Sudah nyaman, kan, posisinya ini?""Nanti jangan lupa beritahu aku kalau sudah waktunya ganti pembalut! Kata bidan, harus diganti empat jam sekali, kan?""Tapi langsung beritahu saja kalau sudah terasa penuh atau basah. Oke?""Iya, Mas ....""Mas mau ke kantor sebentar, yaa? Telepon saja kalau dalam empat jam Mas belum pulang atau kau memerlukan sesuatu.""Iyaa ....""Istirahatlah yang benar. Tidur yang nyenyak. Sebentar lagi Naka pasti bangun karena lapar. Kau harus manfaatkan waktu dengan baik, Sayang ....""Iya, Mas ....""Baiklah. Mas ke kantor dulu. Nanti Mas minta Bi Nala dan Bu Anin mengecekmu, yaa?"Sekali lagi, Lily hanya mengangguk supaya sang suami segera pergi. Setelah dirasa cukup memberikan pesan, Benji akhirnya berlalu pergi dengan setelan pakaian kerjanya.Tentu saja setelah memberikan banyak kecupan di wajah Lily sebagai bentuk perpisahan yang manis."Dia benar-benar lebih cerewet daripada Bi Anin ...." Lily diam-diam terkekeh geli setelah memastikan suaminya menutup
Last Updated: 2026-04-12
Chapter: 358. Bangunkan Istriku"Mas ... aku mengantuk sekali.""Tolong biarkan aku tidur ...."Dua kalimat terakhir sebelum istrinya kehilangan kesadaran terus berputar di kepala Benjamin Kaisar. Kalimat yang terdengar seperti perpisahan setelah dokter menyatakan Lily mengalami koma imbas pendarahan pascamelahirkan.Dan sekarang, Benji benar-benar tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Apalagi begitu dia kini berdiri di ambang pintu ruang berisi bayi-bayi yang baru lahir. Setelah beberapa saat lalu dia masuk ke ruang ICU tempat istrinya terbaring dengan alat bantu pernapasan dan beberapa penunjang hidup lain.Istrinya tidak lagi membuka mata beberapa menit setelah melahirkan anak mereka.Istrinya dinyatakan berada dalam kondisi kritis setelah kehilangan banyak darah."Ya ampun, cucunya Obaa-chan lapar ya ini? Atau mau bertemu Bunda? Sabar yaa, Sayang ...."Melihat bagaimana sang ibu berusaha menenangkan tangis nyaring putranya bahkan membuat netra memerah itu kembali berkaca-kaca. Sampai satu tepukan di bahu membuat
Last Updated: 2026-04-12
Chapter: 357. Tepat Pukul Lima"Masss ... sakithh ...." "Iyaa, Sayang. Sabar, yaaa. Mas pijat yaa ini ...." "Tapi masih sakit, Masss ...." "Coba tarik napas lagi, yaa, Sayang?" "Tarik napasnya yang dalam lewat hidung, yaa. Hembuskan pelan-pelan lewat mulut ...." "Mas temani. Mas pasti temani. Jangan menangis ...." "Tapi sakit, Masss ...." Benji mengusap wajahnya yang tampak kusut dan berantakan karena gusar. Pria itu ingin menangis. Demi Tuhan ... Benjamin Kaisar ingin sekali menangis. Namun, dia benar-benar takut melakukannya di hadapan sang istri yang kini menggeliat gelisah sambil mencengkeram erat sebelah tangannya. Seolah itu adalah satu-satunya hal yang Lily punya untuk bisa tetap bertahan. "Sayanggg ... di sebelah mana sakitnya? Biar Mas bantu pijat ...." Benji kembali bertanya lembut guna menenangkan meski pikirannya kacau bukan main. Tangannya yang terbebas dari cengkeraman sang istri kembali memijat di bagian bawah punggung. Tempat istrinya merasakan nyeri luar biasa akibat pembukaan
Last Updated: 2026-04-12
Chapter: 356. Dicintai dengan Baik"Mbakkk ... kenapa masih datang ke sini?"Zea--salah satu pegawai di kafé milik Lily bertanya panik sambil berlari menyambut bosnya. Sedangkan orang yang kini dituntun untuk duduk di meja terdekat hanya terkekeh geli dengan respon lucu pegawai cantiknya."Tadi kami hanya jalan-jalan, Zea. Lagipula ini kan tidak jauh dari rumah," sahut Benji mewakili istrinya yang kini sibuk meluruskan kaki setelah duduk di kursi dekat jendela kaca yang langsung menghadap jalan."Masss ... aku kira Mbak Lily sudah tidak bisa ke mana-mana karena mendekati hari kelahiran. Apalagi kau sudah melarangnya ke kafé sejak dua minggu lalu." Zea berkomentar sambil mencebik cemberut menatap perempuan hamil yang merupakan saudarinya di panti asuhan. Lily memang bertekad untuk menemukan semua saudarinya yang sudah tinggal berpencar karena diadopsi. Dan Zea adalah salah satunya. Namun, karena tinggal bersama orangtua angkat yang tidak begitu kaya, gadis itu pun sempat bekerja paruh waktu di kafé.Lily pun dengan sem
Last Updated: 2026-04-12
Chapter: 31. Jaga DirimuNadine baru terbangun saat alarm dari ponselnya berbunyi nyaring. Begitu melirik jam yang menunjukkan pukul tujuh pagi, perempuan itu buru-buru bangkit dan melompat turun dari kasur.Gawat! Nadine belum mandi apalagi bersiap-siap. Dia bisa terlambat ke kantor!Perempuan dengan rambut terurai berantakan itu kemudian berlari menuju pintu. Dan sesaat pintu terbuka, aroma gurih langsung menusuk hidung.Saat itu lah Nadine sadar, dia ada di apartemen Lingga. Kaus putih kedodoran yang melekat di tubuhnya sejak semalam juga milik sang jaksa. "Selamat pagi."Saat Nadine masih mengumpulkan nyawa, Lingga menyapa dari dapur tanpa sekat di sisi kiri ruang tengah. Nadine sontak berjalan mendekati pria yang kini berdiri membelakangi meja pantry."Pak Lingga sedang apa?" tanya perempuan itu sambil duduk di sebuah kursi kayu dekat meja.Lingga berbalik menghadap Nadine sambil mengangkat wajan berukuran sedang."Menurutmu?" Pria itu bertanya singkat kemudian meletakkan wajan panas itu di meja pantry
Last Updated: 2026-08-31
Chapter: 30. Menginaplah di Rumahku"Kamu sudah makan?"Nadine mengabaikan pertanyaan Lingga. Perempuan itu malah berdiri kaku di ambang pintu unit apartemen sang jaksa. Netra bulatnya memindai sekeliling ruangan yang tampak didominasi oleh warna hitam dan putih.Khas lelaki sekali."Kenapa diam di situ? Ayo masuk!" Lingga yang menyadari perempuan itu tidak bergerak juga, sontak menghampiri dan menggiring Nadine untuk duduk. Pria itu kemudian berlalu pergi entah ke mana. Sedangkan pandangan Nadine jatuh pada paperbag yang Lingga bawa dari mobil tadi. "Apa lehermu nyeri?" Fokus Nadine terpecah begitu sang jaksa muncul dengan sebuah baskom dan kain kecil.Nadine mengangguk jujur. Pria itu duduk di sampingnya kemudian meletakkan baskom berisi air es batu ke atas meja. Setelahnya, Lingga memasukkan kain kecil itu ke sana dan menempelkannya di luka perempuan itu.Rasa dingin sontak menyapa leher Nadine. Hingga tubuh perempuan itu meremang. "Sakit ...." Saat Lingga tanpa sengaja menekan kain itu di lehernya, Nadine mengad
Last Updated: 2026-08-29
Chapter: 29. Mau Kemana?"Nadine!"Saat Nadine nyaris kehilangan kesadaran, panggilan keras terdengar dari arah luar. Ia tidak bisa menyahut. Selain tubuhnya yang tertindih hingga tidak bisa bergerak, cekikan di leher Nadine juga menguat.Jangankan mengeluarkan suara. Nadine bahkan sudah tidak bisa bernapas. Kerongkongannya tertekan keras. Sedang matanya perlahan memburam oleh air mata. Nadine berharap siapapun yang ada di luar sana segera menolongnya.Demi apapun, Nadine sudah kehabisan napas. "SIAPA KAMU?!" Sergahan panik tiba-tiba tertangkap telinga perempuan itu. Disusul derap langkah terburu-buru serta tendangan di pintu kamarnya.BRUGH!Tubuh besar yang sedari tadi menindih Nadine kini terpelanting ke lemari. Membuat tekanan di tubuh perempuan itu akhirnya terlepas."Hah ... hah ...." Napas Nadine sontak memburu keras guna meraup oksigen. Meski saat ia menarik napas, hanya tersisa sakit dan berat. "SIAPA KAMU, SIALAN?!" BUGH!Saat Nadine masih terkapar lemas di lantai dingin kamarnya, tubuh pria i
Last Updated: 2026-08-28
Chapter: 28. Pria Menyebalkan“Nad, belum pulang?” Kepala Rion menyembul dari sela pintu yang sedikit terbuka. Disusul Genta yang mendorong rusuh hingga keduanya berakhir masuk ke ruang kerja sang jaksa. “Masuk aja lah. Pak Lingga-nya kan lagi pergi, Bang.” Genta menggiring rekannya hingga kini sampai di hadapan Nadine. “Saya masih belum beres kerjaan, Bang. Kayaknya kalian duluan aja deh,” jelas Nadine pada Rion yang kini duduk di hadapannya. Sedangkan Genta sudah duduk di kursi milik sang jaksa sambil berputar-putar iseng. “Enak juga ya jadi bos,” komentarnya sambil bersandar nyaman di sana. Kalau saja Lingga masih ada di kantor, mana mungkin pria itu berani masuk ke sini, apalagi sampai duduk di kursi kebesaran sang jaksa. Nadine dan Rion yang melihatnya hanya menghela jengah, sudah terbiasa dengan tingkah konyol pria jenaka itu. “Kesenengan tuh dia, soalnya Pak Lingga tumben pulang cepat.” Rion terkekeh kecil yang sontak membuat Nadine menoleh penasaran. “Beneran tumben ya, Bang?” Perempuan itu m
Last Updated: 2026-08-27
Chapter: 27. Perasaan Aneh“Kamu memang tidak sabaran, ya.” “Hey, kapan lagi kamu bisa bertemu denganku? Selain jaksa, reporter juga sibuk.” Nadine yang sedari tadi berusaha sibuk mengetik, tanpa sadar terpaku mendengarkan obrolan akrab dua orang di sampingnya. Hingga jemari letik perempuan itu hanya mengambang di atas keyboard. Pandangannya memang tetap fokus pada layar benda pipih itu. Tetapi telinga Nadine justru menajam setiap mereka membuka suara. Membuat si penyidik yang baru saja selesai dimarahi sejenak kehilangan fokus. Kenapa reporter cantik itu bisa bicara begitu santai pada Lingga? Bahkan mengajak sang jaksa bercanda? Apa dia orang yang pagi tadi bicara dengan Lingga lewat telepon? Karena … Nadine ingat jelas bagaimana vokal pria itu melembut setiap menyahut. Jauh berbeda dari caranya bicara dengan rekan kerja bahkan di luar kantor. Jauh berbeda dengan caranya bicara dengan Nadine selama ini. Jauh berbeda dengan caranya bicara pada Nadine bebera
Last Updated: 2026-08-26
Chapter: 26. Sudah Boleh Masuk?"Saya hari ini ada urusan, jadi pulang lebih awal."Lingga menginformasikan sambil melirik Nadine. Perempuan yang sedari tadi memang memperhatikan sang atasan sontak mengerjap panik. Tidak mengira pria yang baru saja menutup telepon itu langsung menoleh padanya."Eh—Iya, Pak!" Nadine menjawab gelagapan."Tapi jangan sampai kamu melupakan tugasmu. Apalagi sampai keluar untuk menemui pacarmu." Lingga memperingati dengan telunjuk teracung serta tangan yang masih menggenggam ponsel. "Kamu hanya boleh keluar dari sini saat waktunya istirahat dan pulang, atau hal mendesak lainnya." Pria itu menambahkan tegas yang hanya dibalas Nadine dengan anggukan.Ucapan terima kasih yang tadi sudah berada di ujung lidah, mendadak masuk kembali ke kerongkongan. Pria itu pasti membantunya karena tidak senang melihat Nadine terus mondar-mandir dan membuat keributan di ruangannya. Oleh karena itu Lingga membereskan meja kerja Nadine dengan cepat. "Oh iya, kamu sudah masukkan hasil pemeriksaan saksi terba
Last Updated: 2026-08-26