LOGINAji ‘Kelana Indra’ dilatih sejak lama. Kian hari kian mencapai tingkatan tinggi. Lihat saja, sekarang Pendekar Kera Sakti bisa mengambang di udara dalam jarak satu hasta dari tempat duduknya. Padahal ia tetap duduk bersila dengan urat-urat dilemaskan. Seolah-olah ia bisa duduk di udara lepas. Mengagumkan sekali ilmu itu. Tentunya tak mudah dimiliki sembarang orang. Latihannya dilakukan sejak Pendekar Kera Sakti saat masih berada Lembah Kera. Sekarang usianya sudah dua puluh dua ta
"Aneh orang itu. Menuduhku ikut campur urusannya. Urusan yang mana? Oh, barangkali ia melihatku berjalan bersama Pinang Sari ke makam Nini Pucanggeni, sehingga ia menyangka aku berkomplot dengan Pinang Sari! Ah, masa bodoh! Tak perlu kupikirkan si nenek peot itu. Oh, kasihan Cumbu Bayangan. Aku harus segera mengobatinya "Baraka segera menempelkan hulu berkepala naga Suling Naga Krishnanya di urat nadi pergelangan tangan kanan Cumbu Bayangan. Hanya dalam dua tarikan napas, tubuh Cumbu Bayangan yang membiru dan membusuk serta mengeluarkan cairan busuk itu berangsur-angsur lenyap. Itu berarti pengaruh 'Racun Hawa Bangkai' di tubuh Cumbu Bayangan mulai lenyap pula. Keadaan Kismi berangsur-angsur membaik.Di lain kejap, Suling Naga Krishna yang berwarna kuning keemasan menjadi hitam kelam. Suling Naga Krishna yang telah berwarna hitam kelam dijulurkan lurus ke depan. Saat Baraka mengalirkan tenaga dalam, lubang-lubang yang ada di Suling Naga Krishna menyemburkan asap berwa
Wajah Kunta Aji ditendang keras oleh gurunya sendiri hingga tubuh itu terjungkal ke belakang dan berguling-guling. Wajah yang sudah hangus itu menjadi semakin hangus karena tendangan tadi tak sadar telah mengeluarkan cahaya merah sebagai cahaya tenaga dalam berhawa panas.Kunta Aji mengerang karena kulit wajahnya melepuh. Bahkan pipinya melonyoh karena hawa panas yang tinggi itu. Buyut Gerang segera menolongnya dengan perasaan sesal, ia bahkan berkata, "Lain kali hinaan seperti itu jangan kau sampaikan langsung padaku. Pakai bahasa isyarat saja, jadi aku tidak merasa sedang dihina oleh mulutmu!""Maa... maaf, Guru.""Yang salah aku kok yang minta maaf kamu! Diamlah, kuobati dulu lukamu ini!""Fuih...!" wajah Kunta Aji ditiup satu kali. Hawa dingin terasa meresap ke dalam kulit. Setelah itu, Buyut Gerang berkata kepada para muridnya."Tak perlu ada yang ikut aku. Aku akan memenuhi tantangan si Poci Dewa itu! Kami akan bertarung sampai ada yang mati.
Slapp...!Lebar sinar itu hampir mencapai satu jengkal dan gerakannya cepat, mengejutkan lawan. Sinar merah patah-patah berhenti, karena Cumbu Bayangan harus menghadapi sinar kuning tersebut. Maka dengan menggunakan gagang pedang yang digenggam tangan kiri, Cumbu Bayangan mengadu kekuatan tenaga dalamnya. Dari lubang gagang pedang itu keluar sinar merah bagaikan semburan api yang amat terang. Sinar merah itulah yang menghantam sinar kuningnya Kunta Aji di pertengahan jarak mereka.Wuusss...! Blegarrr...!Tanah bergetar, beberapa pohon pun tampak terguncang akibat ledakan keras yang menggelegar itu. Kunta Aji terlempar ke belakang dan jatuh telentang dalam keadaan wajahnya menjadi hitam bagai disambar petir. Sedangkan Cumbu Bayangan melambung ke udara bagaikan diterbangkan oleh gelombang ledakan tadi. Namun ia masih sempat menjaga keseimbangan tubuh, sehingga sempat bersalto satu kali dan mendaratkan kakinya dengan tepat di tanah.Jlegg...!"Kismi..
"Poci Dewa tinggal di Bukit Serapah. Jika kau ingin menemuinya, pergilah ke arah utara sampai tiba di sebuah sungai, pergilah ke seberang sungai, karena Bukit Serapah ada di seberang sungai itu!""Apakah kau tak ingin mengantarku ke sana?""Aku harus mencari Ayunda. Belum tenang hidupku kalau belum membalas kematian Guru!" kata Pinang Sari dengan tegas.Baraka angkat bahu pertanda tak bisa memaksa kehendak Pinang Sari. Lalu, mereka pun berpisah dengan tatapan mata Pinang Sari yang mengandung arti rasa berat untuk lakukan perpisahan itu.Dalam pertengahan jarak, sebelum mencapai sebuah sungai, tiba-tiba Baraka membelokkan arah perjalanannya ke timur, ia lakukan hal itu karena mendengar suara seseorang berbicara secara samar-samar. Suara itu dikenal Baraka sebagai suara Kunta Aji.Rasa ingin tahu membuat Baraka mengendap-endap mendekati semak-semak ilalang, karena semak itu tampak gaduh dan berguncang gemerisik. Dengan menggunakan ilmu peringan tubuh
Baraka segera mendekati Pinang Sari dan segera mengerahkan hawa ‘Kristal Bening’-nya. Ujung jari itu keluarkan sinar putih bening bagaikan kaca.Sllaaap...! Juurrssss...!Sinar sebening kaca itu menghantam ulu hati, menembus beberapa kejap, lalu padam seketika.Beberapa saat kemudian, Pinang Sari mulai sadar dengan keadaan dirinya yang terkapar di rerumputan, ia segera bangkit pelan-pelan, sedangkan Baraka duduk di atas sebuah batu tak jauh dari si gadis berkulit sawo matang."Mengapa kau menyerangku sehingga akhirnya kau sendiri yang terluka," kata Baraka setelah gadis itu mencoba bangkit berdiri dan ternyata mampu berdiri tegak. Kekuatannya berangsur-angsur pulih seperti sediakala.Mata bundar bening itu memandang Baraka dengan cemberut. Mungkin ia masih menyangka bahwa Baraka ada di pihak Ayunda."Kalau kau tak menyerangku, kau tak akan menderita luka seperti itu," ujar Baraka lagi memancing perkataan Pinang Sari."Kau
Pikir punya pikir, pendapat itu betul juga. Baraka pun segera membatalkan niatnya untuk membawa Cumbu Bayangan ke Buyut Gerang. Pikirnya, di situ sudah ada Kunta Aji yang akan membawa Cumbu Bayangan ke perguruannya. Maka, Baraka pun segera berkelebat pergi ke arah pertarungannya Ayunda dengan seseorang yang belum jelas siapa orangnya.Kepergian Baraka melegakan hati Kunta Aji. Ia segera mengangkat Kismi, memanggulnya di pundak, lalu membawanya pergi. Sedangkan Baraka segera tiba di pertarungan itu. Rupanya Ayunda bertarung melawan seorang gadis berusia sekitar dua puluh lima tahun. Gadis itu memakai baju hitam dan celana abu-abu. Rambutnya lurus sebatas tengkuk lewat sedikit, bagian depan diponi. Kecantikan gadis itu membuat hidung mancungnya tampak jelas dan bibirnya tampak menggemaskan. Baraka terpesona sesaat memandang kecantikan yang alami dan berkesan lugu itu."Kau tak akan unggul melawanku, Pinang Sari!" gertak Ayunda sambil kembali lepaskan pukulan jarak jauhny
Cempaka Ungu kerutkan dahi. "Mengapa bisa begitu, Ibu?""Tengkorak Terbang yang melakukannya dan membuat dia menjadi seperti itu.""Apa maksud, Ibu?""Kau tahu sendiri kehebatan jurus dan ilmunya Dadung Amuk sewaktu dia mengamuk di sini dan mencari Kitab Pusaka Wedar Kesuma! Beg
Rupanya Tengkorak Terbang sama sekali tidak mau mempercayai penjelasan Singo Bodong. Bahkan ia berkata, "Kau boleh berganti nama jika kau sudah terbujur kaku tanpa nyawa, Dadung Amuk!""Jangan begitu," Singo Bodong tampak gemetar."Aku benar-benar bukan Dadung Amuk. Mungkin wajahku me
"Kau tak berhak memiliki! Kau bukan murid Perguruan Merpati Wingit. Akulah murid Merpati Wingit yang berhak mempelajari ilmu-ilmu di dalam kitab inil"Pendekar Kera Sakti tersenyum, bahkan tertawa pelan berkesan meremehkan kata-kata Selendang Maut. Lalu, ia berkata pada perempuan itu, "Kala
Perawan Sesat maju dua tindak, tangannya siap untuk melancarkan pukulan jarak jauhnya. Tapi kain selendang putih telah lebih dulu berkelebat menghantam tubuh Dirgo Mukti.Wuuugh...!Selendang Maut melepaskan pukulan tenaga dalamnya menggunakan kibasan selendang putihnya. Pukulan itu membuat Dirgo Mukt







