Mag-log inRaseta dan Kobar bergegas bangkit dengan perasaan takut kepada orang berselempang pita lebar itu. Mereka tundukkan wajah, seakan siap menerima hukuman dari orang yang lebih punya kharisma ketimbang keduanya itu.
Baraka berkerut dahi memandangi lelaki berjenggot tipis warna hitam, dan berambut sedikit panjang namun diikat dengan kain satin, sama dengan warna selempangnya. Dalam hati Baraka bertanya-tanya, "Siapa orang ini? Agaknya ia adalah atasan dari Raseta dan Kobar."
Orang te
Gagang kapak terpental terbang dalam ketinggian melebihi pucuk pohon. Dewa Beruk terperangah bengong. Sementara itu, Tua Bangka cepat sentakkan kakinya ke tanah, dan tubuhnya pun melesat ke atas cukup tinggi, ia bersalto satu kali di udara dan tangannya segera menyambar gagang kapak tersebut.Wuuuttt...!Teeb...!Baraka terpaksa gunakan Gelang Brahmananda-nya.Wings... Wings... Wings... Wings... Wings...!Dar, dar, dar...!Tiap mata kapak yang menghantam Gelang Brahmananda selalu timbulkan ledakan dan nyala api merah yang memercik. Ketiga mata kapak itu tetap terbang memutar dan kembali ke tempat semula. Pada saat itu Tua Bangka acungkan gagang kapak ke atas, lalu tiga mata kapak itu hinggap ke ujung gagangnya dan menjadi rekat seperti sedia kala.Tembang Selayang, Baraka, dan Dewa Beruk sama-sama terperanjat melihat Kapak Kubur kini ada di tangan Tua Bangka. Sesuatu yang membuat Tembang Selayang sulit kedipkan mata adalah gerakan salto Tua Bangka yang melesat tinggi itu adalah geraka
"Aaahgg...!" Pawang Kera memekik keras sekali dengan tubuh melengkung ke depan, kemudian rubuh tak bernyawa. Dewa Beruk semakin buas, murkanya dilepaskan tiada batas. Pada waktu itu, rombongan Pendekar Kera Sakti tiba di tempat tersebut. Namun mereka tidak segera bertindak karena perlu mempelajari keadaan setempat.Tiba-tiba Tua Bangka berseru dengan mata melebar dan wajah menegang,"Cucuku...! Cawan...! Cawan Pamujan! Oooh... itu dia cucuku! Cawan Pamujaaan...!"Seorang gadis yang kedua tangannya diikat ke belakang berseru memanggil Tua Bangka."Kakeeek...!"Gadis berpakaian hijau muda dengan rambut di konde dua itu segera berlari menerobos hiruk-pikuknya pertarungan. Gadis cantik berwajah imut-imut itu membuat pandangan mata Pendekar Kera Sakti terpana beberapa saat. Tua Bangka segera berlari tertatih-tatih menyambut kedatangan cucunya. Baraka dan Tembang Selayang menjadi cemas.“Tua Bangka, jangan mendekati pertarungan! Tua Bangka,
Jawaban Ki Punjul membuat mata Tembang Selayang menatapnya tak berkedip. Tua Bangka ikut-ikutan memandang Ki Punjul dengan hasrat mendengarkan cerita seru. Ki Punjul menjelaskan kembali apa yang dilihat dengan mata kepalanya sendiri."Ada dua prajurit yang lari kemari, masuk ke dalam kedai ini. Tapi mereka segera dilempar keluar oleh Guci Kopong, lalu di sana mereka disambut oleh Dewa Beruk yang bersenjata kapak dari emas. Kedua prajurit itu akhirnya hangus dan menjadi arang tak berbentuk lagi. Mengerikan sekali untuk dikenang. Senjatanya sangat ganas, kurasa orang kadipaten akan dibantai habis oleh Dewa Beruk yang murka itu."Semakin jelas sekarang, bahwa pusaka Kapak Kubur memang ada di tangan Dewa Beruk. Cerita tersebut membuat Baraka dan Tembang Selayang tertegun beberapa saat. Tua Bangka ikut-ikutan termenung, bagaikan sedang membayangkan kengerian dari pertarungan tersebut."Sekarang ke mana perginya Dewa Beruk, Ki?" tanya Tembang Selayang."Mereka
"Ooh... Baraka, lihat itu!" seru Tua Bangka sambil merapatkan diri pada Baraka. Apa yang dituding Tua Bangka menjadi pusat perhatian mereka. Tiga sosok mayat terkapar dalam keadaan mengerikan, yang satu tercabik-cabik, satunya lagi terbakar hangus menjadi arang, dan yang satunya lagi terpotong-potong menjadi beberapa bagian. Diperkirakan potongan itu berjumlah tiga puluh tiga bagian."Semakin jelas, seseorang telah menggunakan pusaka Kapak Kubur dalam waktu belum terlalu lama dari kedatangan kita ini, Tembang Selayang.""Ya, aku pun berpendapat demikian. Tapi siapa mereka ini?"Tua Bangka tiba-tiba berkata, "Tombak mereka ada di bawah batu itu.""Oh benar. Mereka bersenjata tombak dan... dilihat dari jenis hiasan benang bawah mata tombak itu, sepertinya mereka para prajurit sebuah negeri," gumam Tembang Selayang."Benar. Aku ingat tombak ini merupakan ciri tombak prajurit Kadipaten Balungan!" ujar Tembang Selayang dengan wajah tegang. "Aku masih ha
"Lalu, apa maksud Empu Tapak Rengat sebenarnya?" pikir Pendekar Kera Sakti dalam renungannya. "Ada di pihak mana sebenarnya Empu Tapak Rengat itu?"Tembang Selayang tak enak hati melihat Baraka termenung, ia yakin yang direnungkan adalah ayahnya, ia yakin Baraka bercuriga buruk kepada ayahnya. Sedangkan ia sendiri juga punya pertanyaan yang membingungkan tentang ayahnya itu. Akhirnya Tembang Selayang berkata kepada Baraka. "Sebaiknya kau urus dulu orang tua ini. Biarkan aku datang sendiri ke Perguruan Monyet Sakti untuk merebut Kapak Kubur itu.""Jangan gegabah dulu. Persoalannya agak meleset dari perkiraan kita. Ternyata ayahmu tidak diculik oleh sang Adipati."Tembang Selayang diam, seakan mengakui bahwa ayahnya memang tidak diculik oleh orang utusan sang Adipati. Tapi ia tidak mempunyai keputusan apa pun karena dicekam oleh kebimbangan bertindak.Pendekar Kera Sakti berkata lagi, sementara Tua Bangka hanya menjadi pendengar yang sesekali memandang jauh
Pendekar Kera Sakti berpikiran begitu karena ia khawatir akan keselamatan Tembang Selayang; si cantik berdada sekal itu. Dalam bayangan Baraka, jika memang kapak pusaka itu ada di tangan Dewa Beruk, maka Dewa Beruk akan menggunakannya untuk melawan siapa saja yang ingin merampas kapak pusaka tersebut. Dan keyakinan Baraka mengatakan, bahwa Tembang Selayang akan celaka jika berhadapan dengan lawan yang bersenjata kapak pusaka itu.Tanpa banyak berunding lagi mereka segera berkelebat menuju lereng gunung tersebut yang menghadap ke arah barat."Cari jalan terdekat agar sebelum petang tiba kita sudah sampai di perguruan itu!" kata Baraka kepada Tembang Selayang.Namun mendadak langkah mereka terhenti karena Baraka terpekik melihat ke arah lembah sebelah kanannya.“Tunggu...! Siapa itu yang terkapar di sana!"Tembang Selayang kerutkan dahi menatap ke arah lembah.-o0o-Orang yang terkapar itu kenakan pakaian abu-abu, rambutnya putih,
"Ucapanmu begitu ketus, Nek! Tidak bisakah kau bersikap sopan sedikit? Dua kali kau menamparku. Coba kalau aku tidak tertotok, mana berani kau menamparku?""Hmmm.... Punya otak juga kau, Bocah Gemblung! Kau memancingku untuk membebaskan pengaruh totokan di tubuhmu. Setelah bebas, seperti ya
Cengar-cengir lagi Baraka. Karena rasa iba dan kasihan, dia tak merasa jijik atau ngeri ketika memindahkan tubuh kakek berjubah merah dari atas lempengan batu. Dibaringkannya tubuh kaku beku itu di sudut ruangan yang tak becek. Dan, mulailah Baraka mengempos tenaga untuk dapat menuruti wasiat si
Suling Krishna digunakan untuk menangkis dengan disertai sebagian besar aliran tenaga dalamnya. Dan ketika pedang Bidadari Satu Hati terpental lepas dari cekalan, Pendekar Kera Sakti berjumpalitan di udara. Saat tubuhnya meluncur turun, dua totokan siap menghentikan perlawanan Bidadari S
"Aku melihat dia tiba-tiba berkelebat pergi. Tampaknya, dia tak suka terhadapku.""Ah! Mana boleh begitu? Aku akan mengajar adat kepadanya!""Ah! Sudahlah. Perutku lapar sekali. Kau punya makanan, Nek?" ucap Baraka, sama sekali tak sakit hati walau dirinya baru ditampar Kembang Andini






