MasukTembang Selayang dan Resi Pakar Pantun sama-sama pandangi Baraka."Ini tugasku; tugas menghancurkan tindak angkara murka dan kekejaman. Kalian tak perlu repot-repot melabrak ke Gua Tumbal Perawan, biar aku saja yang datang ke gua itu."Tembang Selayang mencibir sinis. "Kau tak akan mampu hancurkan Gundik Sakti....""Ilmunya cukup tinggi," sahut Resi Pakar Pantun."Kau lihat sendiri bagaimana ia menghukum pengawalnya yang gagal melumpuhkan diriku tadi? Ia mampu membunuh tanpa terlihat wujudnya, ia menguasai jurus ‘Teropong Pati' dan beberapa jurus lainnya. Bukankah begitu maksudmu, Tembang Selayang?""Yang jelas, Baraka tak akan mampu membunuh perempuan itu, sebab perempuan itu cantik dan tubuhnya sangat mengundang gairah bagi lawan jenisnya. Ia mampu membuat lawan jenisnya bertekuk lutut dengan ilmu pemikat yang dimilikinya, ilmu pemikatnya itu bukan saja untuk lelaki, tapi seorang gadis pun mampu terpengaruh oleh ilmu pemikat-nya, menjadi menurut dibawa ke mana saja, sehingga bagi se
Pencarian mereka dilakukan hingga beberapa saat lamanya. Namun agaknya tak satu pun temukan orang yang dicurigai telah lakukan pembunuhan terhadap beberapa pengawal tandu itu. Tepat di sebuah karang bertebing batu, secara tak sengaja mereka berkumpul kembali dari berbagai arah."Tak ada yang bisa ku lacak," kata Tembang Selayang."Aku pun tak menemukan apa-apa," kata Pendekar Kera Sakti.Sang Resi diam sebentar, kemudian setelah pandangi keadaan sekeliling, ia berkata dengan suara pelan mirip orang menggumam. "Gundik Sakti yang lakukan pembunuhan itu! Pasti dia orangnya.""Mengapa dia lakukan terhadap para pengawalnya sendiri? Mengapa tidak ia lakukan terhadap diri kita?" tanya Tembang Selayang bernada menyanggah pendapat Resi Pakar Pantun."Gundik Sakti merasa kecewa terhadap para pengawalnya yang tak mampu tumbangkan diriku," ujar sang Resi. "Ia merasa sia-sia punya pengawal seperti mereka, lalu merasa lebih baik membuang mereka ke neraka!"
"Benar-benar kosong? Kau tidak bohong?""Bohong," jawabnya pendek dan menjengkelkan.Ploook...! Wajah orang itu dihantam keras-keras oleh pangkal telapak tangan Tembang Selayang, hingga terpental beberapa langkah jauhnya. Tapi orang itu tetap bengong seperti tak pernah mengalami apa-apa.Pengawal yang satu juga direnggut Tembang Selayang, mata gadis itu pancarkan kemarahan lebih tajam lagi. Ia menggertak dengan suara keras, tanpa mengejutkan dan tanpa memancing perhatian para pengawal lainnya yang keadaannya seperti orang linglung itu."Di mana perempuan bejat itu! Jawab...!""Bejat!" jawab orang tersebut dengan agak keras."Kuhabisi masa hidupmu kalau kau main-main denganku. Jawab dengan benar atau kuhabisi masa hidupmu, hah!""Hiduuup...! Hiduuuupp...!" orang itu justru bersorak.Tembang Selayang jengkel sekali dan dihantamnya dada orang itu.Buuuhg...! Wuuuus...! Brruk...!Orang itu jatuh terpuruk tanpa tenaga.
Kemudian gadis berkulit kuning langsat itu maju selangkah dan berseru tertuju pada tandu hitam yang masih tertutup kain hitam tak bergerak sedikit pun sejak tadi. Tandu itu diletakkan di tanah pada tempat yang terbuka tanpa pelindung pohon ataupun semak. Keberadaannya seakan persis di tengah arena pertarungan. "Gundik Sakti, keluar kau dari tandumu! Kita masih punya perkara yang belum selesai!" sentak Tembang Selayang.Setelah ditunggu dua helaan napas tak ada jawaban dan tak ada gerakan apa pun dari tandu hitam itu, Tembang Selayang serukan kata kembali dengan nada marah."Sejak kapan kau jadi pengecut, Gundik Sakti! Keluarlah sekarang juga, kita selesaikan urusan lama kita di sini juga! Kita tentukan siapa yang berhak pergi ke neraka lebih dulu! Cepat keluar!"Tandu hitam tetap tak bergeming. Namun Tembang Selayang makin menjaga kewaspadaannya, karena ia tak ingin terjebak oleh serangan yang bisa muncul sewaktu-waktu dari dalam tandu. Sementara itu, Pendekar K
Gadis itu menatap mata Kadal Ginting dengan tak berkedip. Darah Kadal Ginting bagaikan mengalir cepat, jantung berdetak lamban, nyawanya terasa sedang disedot melalui tatapan mata itu. Rasa takut dan pasrah membuat bagian bawah Kadal Ginting menjadi basah; seluruh keringat mengalir ke paha dan betis bagai diperas dari pori-pori tubuhnya."Jangan main curang kau!" hardik gadis berjubah ungu yang usianya sekitar dua puluh empat tahun itu."Oh, hmmm... eeh... tid... tidak. Aku... aakk... aku tidak bermain curang. Aaaku... aku hanya bermain mata. Eh, bukan... maksudku... aku hanya mengintai pertarungan tuanku itu dari sini. Aku tidak bermaksud curang. Sungguh. Berani sumpah disambar kacang rebus, aku tidak bermaksud jahat, Nona... eh, Dewi..., eh, Bibi... eh, Nyai... eh, eh, eh, eh...." Kadal Ginting terengah-engah diburu rasa takut.Gadis berjubah ungu memandang ke pertarungan. Ternyata pertarungan telah berhenti, entah hanya sementara atau selamanya. Yang jelas, o
LANGIT yang semula cerah mulai dilapisi gumpalan awan hitam. Sinar mentari tak bisa menembus pancarkan suryanya ke bumi. Akibatnya alam bagaikan dirundung duka dan bumi seakan tak lagi punya daya. Dalam gugusan awan hitam itu sesekali tampak percikan cahaya biru yang berkerilap menghantam awan tanpa mega. Kilatan cahaya biru sering kelihatan berusaha menjilat pucuk-pucuk cemara bagai mencari kesempatan untuk menghantam ujung sebuah gunung. Gelegar suara petir pun menggema serasa ingin menelan seluruh suara yang ada di permukaan bumi. Namun pekik pertarungan di kaki gunung itu masih saja tak mau kalah dengan suara petir yang mengguntur di sana-sini.Pekik pertarungan itu terlontar dari mulut orang-orang pengusung tandu ber warna hitam. Empat pengawal utamanya maju serentak menyerang tokoh tua berusia sekitar delapan puluh tahun lebih, mengenakan pakaian model biksu ber warna abu-abu, rambutnya beruban tipis berkesan botak bagian tengahnya. Tokoh tua yang berjenggot dan berkumi
"Baraka ... hidupku ... tidak ... lama lagi ... ""Ningrum, aku yakin kau pasti sembuh!" potong Baraka dengan cepat.Ningrum menggeleng dengan lemah. "Percuma aku hidup... kalau keadaanku seperti ini Baraka"Baraka hanya diam tak menjawab ucapan Ningrum. Sementara Ningrum mulai
“Buktinya kau sudah pandai mencium bibirku""mencium bibir itu kan pekerjaan yang mudah. Yang sulit mencium anak panah!" Baraka menanggapi dengan kelakar, Muria Wardani geli. Keiakar itulah yang sering membuat Muria Wardani merasa betah bicara dengan Pendekar Kera Sakti.&ldqu
Orang yang tidur dengan berjalan, yang bisa bertarung sambil mendengkur, tak ada lain kecuali si Bwana Sekarat utusan dari Pulau Serindu yang mempunyai ratu Hyun Jelita alias Gusti Mahkota Sejati Ratu Ayu Sejagat. maka ketika Baraka tampil di depan para prajurit kadipaten, maka ia beri isyarat ke
Gusraak...!Ia buru-buru bangkit karena mendengar seruan Dewi Gapit Mesra yang bergegas menyerangnya kembali."Hiaaat...!" Lompatannya kali ini menyerupai seekor singa betina yang buas dan sangat bernafsu terhadap mangsanya. Senjata cakra bergerigi itu dikibaskan ke arah dada Telaga







