Mag-log in"Siapa kau, Pak Tua?" uiang pemuda berikat pinggang merah, membentak tagi.
"Aku tak punya urusan dengan kalian! Kaiian tak perlutahu siapa aku!" sergap Raja Penyasar Sukma, balas membentak.
"Jangan begltu, Pak Tua...," tegur anak murid Perguruan Golok Sakti lainnya, yang menggunakan ikat pinggang kain hijau. "Kami tidak bermaksud buruk kepadamu. Hanya saja, perlu kau ketahul bahwa sejak tiga bulan yang lalu, ketua perguruan kami, Ki Tunggal Jaladra, telah terbaring di padepokan dalam keadaan sakit Kakak seperguruan kami, Kakang Barata, yang saat ini telah menggantikan tugas-tugas Ki Tunggai memerintahkan kami untuk mencari orang yang dianggap mengganggu ketenangan padepokan...."
"Hmmm.... Siapa mengganggu! Aku tidak penah berurusan dengan padepokan kalian!" dengus Raja Penyasar Sukma.
"Mungkin saja Pak Tua tidak merasa mengganggu," sahut pemuda berikat pinggang merah. "Tapi..., menilik dari nada suaramu, aku tahu engkaulah yang sejak tadi malam t
Ia berhenti tepat di depan Baraka dalam jarak lima langkah. Keduanya sama-sama berdiri tegak, kedua kaki sedikit merenggang. Tingginya sama, besar badannya juga sama. Yang beda cuma ketampanannya dan pakaiannya. Baraka lebih kumuh dari pemuda itu.Tangan Baraka masih menggenggam anak panah yang tadi ditangkapnya. Dengan alasan itu Baraka mengawali percakapannya."Kau pemilik anak panah ini?""Benar!" jawabnya tegas, sama tegasnya dengan nada suara Baraka."Kau sengaja membidikkan anak panah ini kepadaku?""Sengaja!""Apa alasanmu? Kita belum pernah saling kenal.""Namaku Pangeran Kertapaksi dan kau Pendekar Kera Sakti; Baraka! Sekarang kita sudah saling kenal!""Dari mana kau tahu namaku?""Ciri-cirimu sangat jelas dan kucatat dalam otakku!""Syukurlah kalau kau masih punya otak," ujar Baraka sambil tersenyum bernada melecehkan. Pangeran Kertapaksi tersenyum sinis. Hanya ujung bibir kanannya yang ditarik naik sedikit. Matanya tetap menatap tajam berkesan dingin."Mengapa kau ingin mem
Kemudian Pendekar Kera Sakti bertanya, "Siapa namamu, Nona?""Menurutmu siapa?""Konyol juga si cantik ini!" gumam Baraka dalam hatinya. Tawa Baraka yang mengguncangkan pundak itu membuat si gadis semakin berani sunggingkan senyum melebar."Namaku.... Telaga Sunyi.""Wow...! Nama julukan yang cantik sekali. Pas untuk gadis secantik kau!"Hati sang gadis berkata dalam hati, "Ah, dia selalu bikin jantungku berdebar-debar. Dia pandai memikat hati. Mungkin seribu gadis sudah pernah jatuh dalam pelukannya. Tapi... biarlah, semuanya biar berlalu, dan aku pun barangkali akan berlalu."Lalu terdengar suara Baraka berkata, "Seandainya aku punya nama seperti itu, akan kuukir pada setiap pohon sepanjang Tanah Jawa ini. Sayangnya namaku tak seindah namamu. O, ya... kau perlu tahu namaku?""Sudah tahu! Namamu Baraka, bukan? Kau punya gelar Pendekar Kera Sakti, bukan?""Rupanya kau lebih banyak tahu tentang diriku. Pasti kau ada di antara pe
"Pertimbangkan mana yang lebih penting menurutmu. Yang jelas, aku ingin pergi ke Bukit Kayangan untuk temui gurumu, sekadar silaturahmi. Sudah sangat lama aku tidak jumpa gurumu!""Guru dalam keadaan baik-baik saja, Ki. Kurasa beliau bisa kau temui di Bukit Kayangan!"Pendekar Kera Sakti berpisah dengan Ki Wuyung Rabi. Ia bergegas menuju ke arah timur, mencari Bukit Kelabang. Tetapi perjalanan itu rupanya ada yang mengikuti dari belakang. Seseorang mengikuti Baraka secara diam-diam dengan sesekali menyelinap di balik pohon. Setiap Baraka menengok ke belakang, orang itu lebih dulu lenyap di balik persembunyiannya.Gerakannya cepat sekali, sehingga Pendekar Kera Sakti tak bisa memergoki keberadaan orang tersebut."Ilmunya lumayan tinggi," gumam Baraka dalam hati. "Entah apa maksudnya, tapi sejauh ini kulihat ia hanya mengikutiku saja. Mungkin ia akan menjebakku di suatu tempat. Tapi mungkin saja ia sekadar ingin tahu perjumpaanku dengan Nyai Kucir Setan. Ya
Pendekar Kera Sakti tersentak mundur dua tindak ketika tangannya menangkis tendangan telapak kaki Karto Dupak yang menjejak. Rupanya jejakan kaki itu punya tenaga dalam besar, sehingga tangan Baraka yang menangkisnya terasa ngilu sekali. Seakan tulang-tulangnya dicekam hawa dingin melebihi dinginnya es balok. Para pengagumnya sempat cemas melihat Baraka tersentak mundur."Lumayan juga tenaga dalamnya! Kalau aku bertahan untuk tetap di tempat, bisa patah tulang tanganku ini!" pikir Baraka dengan menarik napas untuk menghilangkan rasa ngilu di tulang tangannya itu.Sementara itu, Karto Dupak bagaikan mendapat semangat untuk menyerang lebih gesit lagi, sehingga kapaknya pun segera dicabut dari pinggang.Wuuut...!"Sudah bukan saatnya untuk main-main, Bangsat!" geramnya penuh nafsu untuk membunuh."Heaaat...!"Satu lompatan menerjang Baraka. Kapak besar berujung pisau ditebaskan ke arah Pendekar Kera Sakti, membelah kepala sang pendekar.
Karto Dupak tampak tak sabar. Matanya memandang tajam dan bengis ketika Baraka tiba di depannya. Orang-orang berkerumun mengelilingi mereka membentuk satu arena. Ki Wuyung Rabi juga ada di antara orang-orang itu. Matanya memandang tajam kepada Karto Dupak, memancarkan kebencian yang terpendam. Sedangkan Baraka masih tetap tenang, bersikap tak tegang sedikit pun.Orang-orang berseru, "Ayo mulai!" lalu mereka tepuk tangan bersama. Baraka jadi semakin tak enak hati. Karto Dupak sudah mulai bicara dengan nada geram."Kalau kau bisa unggul melawanku, aku akan mundur dari pinanganku. Tapi kalau aku unggul melawanmu, aku akan tetap melamar Muria Wardani. Kau mati atau cacat, tak boleh menghalangi lamaranku lagi!""Muria Wardani itu siapa? Jelaskan dulu, Karto Dupak!""Banyak omong kau! Tentukan saja siapa yang mati. Beres!""Tidak. Aku tidak mau awali pertarungan ini jika kau tidak mau jelaskan siapa Muria Wardani itu, sebab aku memang tidak kenal dengann
"Apa maunya sebenarnya? Hanya menguji ilmu, atau memang punya unsur dendam pribadi padaku? Tapi aku tak pernah jumpa dengannya dan tak pernah kenal nama Muria Wardani! Jangan-jangan ini sebuah kesalahpahaman?"Karto Dupak memilih tempat di luar batas desa. Di sana ada sebuah bukit yang pantas dikatakan sebagai gundukan tanah tinggi. Karena ketinggiannya dapat dicapai dengan sekitar tiga puluh langkah. Kelihatannya Karto Dupak bersungguhsungguh menghendaki pertarungan tersebut.Repotnya bagi Baraka, ia benar-benar tak bisa menghindari tantangan itu. Sebab Panurata dan beberapa orang lainnya berteriak-teriak mengumumkan pertarungan tersebut. Para penduduk desa keluar dari rumah mereka karena tertarik ingin saksikan pertarungan antara Karto Dupak dengan pendekar terkenal; Baraka"Hoi, hoi... mau nonton pertarungan apa tidak! Pendekar Kera Sakti mau bertarung melawan Karto Dupak!" seru Panurata. Yang lain ikut-ikutan berlari sambil berseru, "Saksikanlah! Banjirilah!







