Murid Buangan : Akulah Sang Pewaris Kekuatan Naga Hitam

Murid Buangan : Akulah Sang Pewaris Kekuatan Naga Hitam

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-01-09
Oleh:  Mona CimBaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Belum ada penilaian
25Bab
305Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Zien Cheng terlahir sebagai anak haram mantan ketua sekte terlemah. Sepeninggalan orang tuanya, Zien menjadi murid yang selalu diremehkan dan dihina. Hingga suatu hari dirinya dibuang ke jurang karena diduga penyebab kegagalan sekte tersebut berkembang. Tak disangka, Zien Cheng yang nyaris sekarat, mencium aroma darah yang sangat unik dari dalam sebuah gua. Ketika Zien Cheng menghampiri sumber aroma itu, Zien Cheng diserbu oleh segumpal cahaya pekat berwarna hitam. Ternyata, di gua itu terdapat darah naga hitam yang memiliki kekuatan yang luar biasa. Maka dengan kekuatan yang baru, Zien Cheng bangkit menjadi pemuda yang perkasa! Zien Cheng siap menakhlukan sekte mana saja terutama Sekte yang telah menganggap nyawanya tak berharga.

Lihat lebih banyak

Bab 1

1. MURID TERLEMAH

Di atas gunung yang tinggi dihuni oleh sekte terlemah di Benua Selatan yakni sekte Kongdang. Di mana pimpinan sekte tersebut telah menghilang secara misterius. Hanya putranya yang malang yang tetap berada di sana, yakni seorang pemuda bernama Zien Cheng.

Di saat semua murid sekte Kongdang mempelajari jurus penting masuk perguruan tinggi, seorang murid yang sedang melakukan hukuman menyapu halaman, memperhatikan setiap gerakan dengan detail. Dialah Zein Cheng. Zien Cheng dengan semangat menggunakan sapu sebagai pedang untuk turut berlatih.

"Heh, Zien Cheng! Menyapu yang benar!" tegur Paman Gong. Satu-satunya pengawas para murid yang paling kejam dan juga adik dari ayahnya Zien Cheng.

Buru-buru Zien menghentikan aksinya. Ia kembali menyapu dedaunan kering dengan serius. Sesekali melirik Paman Gong yang masih berdiri tak jauh darinya.

"Aku sudah memperingatimu untuk tahu diri, Zien Cheng. Jangan melewati batas. Aku pastikan kau tak ada waktu untuk mempelajari ilmu penting masuk perguruan tinggi itu. Sampai kapanpun, kau akan menjadi murid rendahan di tempat ini!"

Zien Cheng mengeratkan pegangannya pada sapu yang terbuat dari bambu. Untuk kesekian kalinya ia menahan kuat-kuat gejolak amarah yang ada di hatinya. Jika melawan pun percuma. Luka pada tubuhnya hanya akan bertambah lebih banyak lagi.

"Maafkan aku, Paman Gong. Aku akan menyapu dengan serius," ujarnya sebelum melangkah pergi untuk menyapu tempat yang maaih kotor.

Zien Cheng kembali menyapu, tetapi matanya tetap melirik ke arah para murid yang berlatih. Ingin rasanya ikut berlatih bersama mereka. Hingga tiba-tiba Guru Hwang menoleh padanya.

"Kau yang menyapu di sana! Ke marilah!"

Zien Cheng mendongak kepalanya dengan antusias. Ia melirik Paman Gong yang hanya bisa diam dengan tampang merengut. Pria itu tak dapat melarangnya jika Guru Hwang sendiri yang memanggilnya. Buru-buru Zien Cheng menghampiri tempat latihan itu.

"Ada apa Guru memanggilku?" tanya Zien Cheng dengan sopan.

Guru Hwang menunjuk tempat di sampingnya. "Berdirilah di sini dan tunjukkan jurus yang telah kau pelajari sembari menyapu tadi."

Zien Cheng terkejut mendengar permintaan sang guru. Ia melirik wajah murid-murid yang saat ini sedang duduk bersila dengan tatapan sinis padanya. Namun, ia tak bisa melewatkan kesempatan ini.

"Baik, Guru," sahutnya menurut. Zien Cheng memberanikan diri untuk berdiri di hadapan para murid yang jumlahnya sekitar dua puluh empat orang.

Zien Cheng menampilkan senyuman pada wajah kucel itu untuk sekadar menyapa mereka. Namun, tak ada yang berminat membalas senyumnya. Maka Zien Cheng langsung memasang posisi kuda-kuda.

"Tak banyak yang aku pelajari karena aku melihatnya sambil menyapu. Tetapi aku dapat mengingatnya dengan baik dan mencoba menggabungkan dengan teknikku sendiri," ujarnya.

Zien Cheng pun memulai gerakannya dengan dengan cukup lincah, lalu memberikan sedikit gerakan yang ia ciptakan sendiri. Hingga jurus yang ia pelajari dari kejauhan tadi terlihat sangat menarik. Walau gerakan itu terlalu lemah, tetapi sangat detail jika diberi dorongan tenaga lebih banyak.

'Dia bisa menghafal gerakan jurus hanya dengan melihat sesekali. Walau fisiknya terlihat lemah, tetapi dia bisa melakukannya dengan detail' batin Guru Hwang.

Walau terkenal sebagai murid yang paling lemah fisiknya, tetapi daya ingat Zien Cheng tak dapat diragukan lagi. Hal inilah yang menjadi kewaspadaan murid yang lainnya.

"A-ah!" Zien Cheng tak dapat menahan beban tubuhnya sendiri. Hingga terduduk di lantai dengan cukup keras. Mengundang tawa puas para murid yang menonton.

"HAHAHAH!"

"Aku pikir dia sehebat itu. Aku hampir melongo. Tapi lihatlah si bodoh itu. Dia terjatuh tanpa tersandung apapun. Benar-benar lemah!"

"Hei, Zien Cheng! Makanlah dengan benar, baru bergabung dengan kami!"

"Dengan fisik lemahmu, kau bermimpi ingin ikut pergurungan tinggi? Aku rela membantu menginjak mimpimu itu. Hahaha!"

Guru Hwang tak pernah menghentikan pembulian seperti itu. Justru beliau ingin melihat bagaimana Zien Cheng merespons hinaan itu.

Zien Cheng yang tadinya bersimpuh di lantai, kini berdiri dengan cukup tegak menghadap mereka semua

"Tak ada yang salah dengan mimpiku. Fisik yang lemah bisa dilatih. Ilmu yang kurang bisa ditambah. Tapi mulut yang seringkali menghina, pada akhirnya akan menjadi sampah!" cetus Zien Cheng dengan mata yang berkaca-kaca.

Sontak saja perkataan itu membuat murid lain bergemuruh dadanya. Mereka ingin sekali menyerang Zien Cheng sekarang juga. Namun di depan mereka masih ada Guru Gong yang memperhatikan mereka.

"Apa yang dikatakan oleh Zien Cheng benar. Sebelum mempelajari ilmu lebih dalam lagi, seorang ksatria harus mempelajari ilmu kemanusiaan. Seorang Ksatria, Pendekar, bahkan seorang pemimpin harus bisa bersikap dengan bijaksana dan menjadi panutan. Mulut yang gemar menghina bukanlah pemilik jiwa Ksatria," tutur Guru Hwang sebelum pergi meninggalkan tempat latihan. Itu artinya, latihan telah berakhir.

Zien Cheng buru-buru melarikan diri dari tempat itu. Sudah pasti murid yang lain menaruh dendam pada dirinya akan kata-kata beraninya tadi.

"Astaga Zien ... apa yang telah kau katakan tadi. Jika mereka membalas dendam, maka habislah kau malam ini," keluh Zien Cheng merutuki dirinya sendiri sambil berjalan cepat menuju kediamannya.

Namun tiba-tiba ...

BRUK!

Zien Cheng terjerembab. Sebuah kain tiba-tiba mengurung kepalanya hingga Zien Cheng tak dapat melihat sekitar. Hingga pukulan keras menghantam tengkuknya. Zien Cheng ambruk seketika.

Zien Cheng tak tahu berapa lama ia pingsan dan di mana ia sekarang berada. Yang pasti, posisinya sekarang berdiri dengan tubuh terikat di sebuah pohon.

"S-siapa kau?! Apa yang kau lakukan padaku!" teriak Zien Cheng dengan tatapan meliar di dalam kain hitam itu.

Tiba-tiba seseorang menarik kain yang menutupi wajahnya. Tampaklah tiga pemuda sekte Kongdang . Guan Feng, Chen Tian, dan Fang Xio.

"Apa yang kalian—engg!" Zien Cheng tercekat ketika Guan Feng mencekik lehernya dengan kuat. Wajah Zien Cheng memerah, matanya melotot, dan mulutnya sudah tak bisa mengeluarkan suara.

"Masih ingin bicara, HAH?!" bentar Guan Feng menyeringai. Ia kemudian melepas cengkraman itu.

Hhaaahhh! Hhaahhh!

Zien Cheng meraup udara dengan rakus sambil terbatuk-batuk. Ia nyaris menangis ketika melihat Chen Tian dan  Fang Xio bersiap memukulinya dengan sebuah kayu.

"A-aku m-mohon ampuni aku. Apapunnhh apapun salahku aku mohon maafkan aku," ucap Zien Cheng penuh harap.

Sempat tercipta kelegaan di hati Zien Cheng ketika pengikat tubuhnya di lepas dari pohon. Namun, bukan untuk lepaskan dalam artian sebenarnya. Melainkan, untuk mempermudah mereka menyiksa Zien Cheng.

"SERANG!" seru Guan Feng semangat.

"ARRGGHH!" Zien Feng berteriak kesakitan ketika tubuhnya mulai dipukuli oleh tiga murid itu.

BUGH! BRUK! BUGH!

"ARRRGHHH! H-henti-kkann! Arrgh ....!"

Di bawah sinar rembulan yang redup, penyiksaan terhadap Zien Cheng terus berlangsung dengan sadis. Hingga ketika kesadaran Zien Cheng telah habis, salah satu dari mereka menyeret lengan Zien Cheng ke tepi jurang.

"Kau serius ingin membuangnya di sini, Guan Feng?" tanya Chen Tian.

"Tak ada tempat yang terbaik selain di jurang ini. Jurang yang terkenal angker ini adalah tempatnya binatang buas bersarang. Setidaknya si bodoh ini bermanfaat untuk binatang di bawah sana," ujar Guan Feng seraya melempar tubuh Zien Cheng ke bawah.

Zien Cheng terjatuh dalam keadaan fisik yang penuh luka dan hati yang meronta akan ketidakadilan. Malam itu menjadi malam yang sangat bersejarah. Tanpa ada yang tahu, jika tetesan darah Zien yang jatuh membangkitkan sesuatu yang telah lama terkubur di bawah sana.

Apa yang terjadi pada Zien Cheng selanjutnya?

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
25 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status