LOGINKarto Dupak tampak tak sabar. Matanya memandang tajam dan bengis ketika Baraka tiba di depannya. Orang-orang berkerumun mengelilingi mereka membentuk satu arena. Ki Wuyung Rabi juga ada di antara orang-orang itu. Matanya memandang tajam kepada Karto Dupak, memancarkan kebencian yang terpendam. Sedangkan Baraka masih tetap tenang, bersikap tak tegang sedikit pun.
Orang-orang berseru, "Ayo mulai!" lalu mereka tepuk tangan bersama. Baraka jadi semakin tak enak hati. Karto Dupak sudah mula
"Karena dia menotokku, lalu dalam keadaan lemas tak berdaya dia ingin memperkosaku, Guru! Dia kejam dan jahat...!" Kismi akhirnya menangis karena tak tahan menderita sakit hati membayangkan peristiwa itu.Lalu, Ranggu Pura berseru kepada gurunya sendiri; Poci Dewa. "Guru, izinkan saya bertarung melawan Kunta Aji sekarang juga! Saya ingin beradu kejantanan dengannya demi kehormatan Cumbu Bayangan!"Kedua tokoh tua itu saling pandang dalam kebimbangan. Pendekar Kera Sakti segera memberi saran, "Rasa-rasanya tak perlu terjadi. Cukup para Guru yang saling menyadari bahwa permusuhan diantara dua perguruan yang berasal dari satu sumber ini tidak perlu terjadi lagi. Sebab jika kita saling bermusuhan, maka ada pihak lain yang akan memanfaatkan keadaan kita ini, untuk membuat kedua perguruan semakin hancur lebur. Dan kalau sudah begitu, yang berjaya adalah pihak perguruan lain, yang menderita dan menjadi korban adalah pihak kita sendiri.""Benar...!" ada orang berseru da
Blaarr... blegaar... blaang.... Duaar...!Dalam satu kesempatan, ketika mereka masih mengambang di udara tanpa pedulikan bumi dan alam yang bergetar, Buyut Gerang berhasil hantamkan pukulan telapak tangannya ke dada Poci Dewa. Sedangkan pihak Poci Dewa pun mendapat kesempatan menghantamkan tangannya yang menguncup ke ulu hati Buyut Gerang. Pukulan itu sama-sama timbulkan bunyi menggelegar secara bersamaan.Blegaarr...!Kedua tokoh tua tanpa pengikut itu sama-sama terpental dan jatuh bergulingguling. Napas mereka terengah-engah. Wajah mereka dicekam rasa sakit yang tetap dipertahankan kekuatannya. Buyut Gerang memuntahkan darah merah kental, rambutnya rontok sebagian karena pukulan Poci Dewa. Sedangkan lawannya pun mengalami hal yang serupa, rambut Poci Dewa rontok sebagian, bahkan yang semula berwarna putih sempat menjadi semburat hitam karena hangus terbakar oleh pukulan telapak tangan Buyut Gerang. Keduanya tak ada yang merasa kalah dan tak ada yang merasa lem
"Ranggu...!" Seruan itu berasal dari gadis cantik berjubah kuning yang tak lain adalah Cumbu Bayangan.Gadis itu diizinkan oleh Baraka untuk keluar dari persembunyian dan menemui kekasihnya."Kismi...!" seru Ranggu Pura dengan girang, ia pun segera berlari menyambut kekasihnya. Gadis itu berlari kecil dan akhirnya mereka berpelukan penuh curahan rindu.Pendekar Kera Sakti sengaja dibuat terbatuk-batuk untuk memberi tanda agar mereka jangan terlalu lama berpelukan. Pikir Baraka saat itu, "Terlalu lama melihat mereka berpelukan kepalaku jadi puyeng! Ingat kekasihku; Hyun Jelita."Ranggu Pura tampak ceria memandang kemunculan kekasihnya, tapi sedikit curiga ketika tahu kekasihnya datang bersama Pendekar Kera Sakti yang lebih ganteng dari dirinya sendiri. Kismi segera menjelaskan tentang perbuatan Kunta Aji dan penyelamatan yang dilakukan Pendekar Kera Sakti."Terima kasih kau telah selamatkan kekasihku, Baraka," ujar Ranggu Pura dengan ceria."
Wajah Ranggu Pura menegang lagi dengan gusar. "Sebaiknya lupakan tentang Cumbu Bayangan. Toh ada perempuan lain yang bersedia kau cumbu lebih lama lagi. Sayang kau menyepelekan diriku, sehingga kau tidak melihat ada perempuan lebih hebat dari Kismi yang mampu memberikan kebahagiaan padamu sepanjang masa.""Persetan dengan kata-katamu, Ayunda! Kau perempuan bermulut busuk! Mengapa kau racuni pikiran guruku dengan bualanmu! Kaulah biang keladi dari masalah yang menyangkut tentang hubunganku dengan Cumbu Bayangan!""Kalau kau keras kepala tak mau melayani gairahku, aku pun keras kepala untuk tetap ingin mencabut nyawamu, Ranggu Pura!""Biadab dia!" geram Cumbu Bayangan dalam persembunyiannya. Wajahnya menjadi merah jambu karena dibakar kemarahan. Tapi Pendekar Kera Sakti menahannya agar tidak terburu-buru keluar dari persembunyian."Banyak yang perlu kita ketahui dari mereka! Kita lihat dulu, jangan terburu nafsu, Kismi!" bisik Baraka."Tapi perempuan
"Hmmm... ya, aku kenal dia. Dia yang bernama Ayunda. Dia sering berkunjung ke perguruanku dan menjalin hubungan baik dengan guruku!""Benarkah begitu! Tapi ketika kau menderita racun 'Hawa Bangkai' tadi, gurunya Ayunda menyerangku dan mengancamku agar tidak mencampuri urusannya.""Urusan apa?""Mana kutahu? Dia tidak jelaskan urusan itu."Cumbu Bayangan masih berkerut dahi dan mencoba memikirkan hal itu. Tapi Baraka lebih dulu berkata dalam bisikan lagi. "Aku curiga dengan gerakan Ayunda yang mengendap-endap menuruni tanggul sungai itu. Kita lihat apa yang dilakukannya!"Pendekar Kera Sakti melenting di udara, tubuhnya melesat naik dan hinggap di atas pohon. Cumbu Bayangan mengikuti gerakan itu dan ternyata cukup mampu, walau ia hampir saja jatuh saat mendaratkan kakinya di sebuah dahan. Untung segera disambar oleh tangan Pendekar Kera Sakti, sehingga ia terhindar dari kecelakaan kecil itu.Dari pohon ke pohon, akhirnya mereka tiba di
"Akan kucoba membantu kalian. Hanya saja, ada satu pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu."Gadis itu semula memandang ke arah jauh. Tapi sekarang menatap Baraka dengan gerakan berpaling cukup cepat. Ini menandakan bahwa ia tertarik sekali dengan pertanyaan yang ingin diajukan Baraka."Benarkah kekasihmu yang bernama Ranggu Pura itu anak dari Gandapura, penguasa Pantai Ajal itu!"Mata sang gadis terkesiap. Sedikit menyipit dalam tatapannya. Ada rasa kaget yang disembunyikan dalam hati, yang akhirnya berubah menjadi sebentuk renungan pendek. "Sebab, kudengar Gandapura sedang mengamuk di Pulau Jelaga karena mencari anaknya yang bernama Ranggu Pura. Anak itu yang akan mendapat warisan seluruh ilmu si Gandapura, yang berarti akan menjadi manusia pemakan daging manusia."Setelah berdiam beberapa saat, Cumbu Bayangan berkata dengan suara tidak seketus tadi, "Aku tidak tahu dengan pasti. Tapi Ranggu Pura pernah bilang, bahwa ia ditemukan oleh gurunya dalam usia
"Memenggal dengan hanya melihat...!" gumam Nyai Cungkil Nyawa sambil merenung dalam kebimbangan."Jubah itu... pasti jubah itu yang membuatnya dapat begitu!"Pendekar Kera Sakti segera ikut bicara, "Apa kelemahan jubah itu, Nyai?""Kelemahannya...!" Nyai Cungkil Nyawa berpiki
"Apa maksud kata-kata Ki Empu Sakya itu?" bisik Mega Dewi kepada Baraka."Lupakan saja kata-kata tersebut. Biarkan beliau beranggapan apa saja," Baraka menyembunyikan penghormatan itu,.Angon Luwak menceritakan pengejaran kedua orang bertampang bengis itu kepada Ki Empu Sakya. Lelak
"Logo adalah anak jin. Jin yang kawin dengan manusia. Ibunya bernama Sumbaruni, ayahnya jin yang bernama Kazmat," tutur Pelangi Sutera dengan mata memandang mesra kepada Baraka. Kalau tak ganteng, tak mungkin dipandang selembut itu."Teruskan," kata Baraka sambil mengorek kayu api agar api
Repotnya lagi, tubuh Ki Lumaksono bagaikan dijepit oleh tanah yang menelannya, sehingga tak bisa bergerak dan berusaha keluar dari sana. Ia sempat tegang sesaat. Tapi Baraka segera menghentakkan tumit kakinya ke tanah dengan pelan.Duug...! Bruuus...!Tubuh Ki Lumaksono terbang ke a







