LOGINDia dihancurkan, diracun, dan dikhianati oleh orang terdekatnya. Tapi takdir berkata lain—dua roh kuno dari surga dan neraka memilihnya sebagai pewaris tunggal. Xiao Fan, jenius nomor satu Kekaisaran Tianyu telah kehilangan segalanya dalam semalam. Dantiannya hancur akibat racun dari sepupunya sendiri. Tunangannya, Lin Yue, membatalkan pertunangan mereka. Dan ayahnya, sang patriark, dipaksa berlutut dalam kehinaan. Dalam keputus asaan, Xiao Fan berlari tanpa tujuan dan berakhir menemukan rahasia yang akan mengubah segalanya: Ternyata dunia ini adalah kandang buatan Dewa Bermata Tiga, dan ia adalah eksperimen gagal dari perang kuno antara Dewa dan Iblis. Dua roh tertinggi—Malaikat Bersayap Enam dan Asura Bertanduk Enam—menyatu ke dalam tubuhnya. Mereka memberinya Dantian Ganda: Emas untuk Dewa, Ungu untuk Iblis. Dan Mata Yin-Yang yang mampu melihat kebenaran dan kelemahan jiwa. Dengan kedua warisan dari dua makhluk legendaris itu, Xiao Fan membantai musuh-musuhnya satu per satu, dan membuktikan bahwa seorang "sampah" bisa menjadi Kaisar Dewa Iblis sejati. Namun saat ia hampir mencapai puncak, gadis yang ia cintai, Xuan'er, dijemput paksa ke Alam Surgawi untuk dikorbankan demi ambisi Dewa Bermata Tiga. Xiao Fan hanya berbisik pada langit: "Jika kau berani menyentuh sehelai rambutnya saja... akan kuhancurkan alam semesta ini."
View MoreAngin senja berembus pelan di puncak Menara Naga, menerbangkan rambut hitam legam Xiao Fan yang tidak diikat. Pemuda berusia tujuh belas tahun itu berdiri tegak di tepi balkon tertinggi, kedua tangannya bertumpu pada pagar batu giok yang sudah berusia ratusan tahun. Di punggungnya, tersarung Pedang Bintang Jatuh—senjata pusaka Klan Xiao yang konon hanya bisa diangkat oleh mereka yang memiliki darah murni pewaris sah.
"Ayah selalu bilang, dari tempat ini kau bisa melihat seluruh Tianyu," gumam Xiao Fan pada dirinya sendiri. Matanya yang tajam menyapu cakrawala kota yang mulai dihiasi lampu-lampu malam. "Tapi yang kulihat hanya awal dari segalanya." Suara langkah kaki ringan terdengar dari tangga di belakangnya. Xiao Fan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang—hanya satu orang yang selalu mencarinya saat senja tiba. "Kakak Fan, Ibu menyuruhku mengantarkan ini." Xuan'er muncul dengan nampan bambu berisi dua cangkir teh melati dan sepiring kue kering. Gadis berambut hitam legam dengan mata sewarna safir itu meletakkan nampannya di meja batu, lalu duduk di bangku panjang tanpa diundang. "Kau sudah di sini sejak siang. Apa kau tidak lapar?" Xiao Fan akhirnya berbalik, sudut bibirnya tertarik membentuk senyum tipis. "Xuan'er, kau selalu tahu kapan aku butuh ditemani." "Aku tidak datang untuk menemani mu," sahut Xuan'er sambil menuangkan teh. Matanya fokus pada cairan keemasan yang mengalir dari teko, menghindari tatapan Xiao Fan. "Aku hanya mengantarkan teh. Kebetulan aku juga haus, jadi aku minum di sini." Xiao Fan tertawa kecil, mengambil cangkir yang ditawarkan. "Tentu saja. Kebetulan." Mereka terdiam sejenak, hanya suara angin dan desiran daun bambu dari taman di bawah yang menemani. Xuan'er menyesap tehnya pelan, sementara matanya mencuri pandang ke arah pedang di punggung Xiao Fan. "Pedang Bintang Jatuh," bisiknya. "Kata orang-orang, pedang itu memilih pemiliknya sendiri." "Begitulah legendanya." Xiao Fan menghunus pedang itu perlahan. Bilahnya berkilau keperakan di bawah sinar senja, memperlihatkan ukiran rasi bintang yang seolah berpendar samar. "Kakek buyutku menggunakannya untuk mempertahankan klan dari invasi monster dua ratus tahun lalu. Sejak itu, hanya mereka yang memiliki darah murni garis utama yang bisa mengangkatnya." "Dan kau mengangkatnya saat berusia dua belas tahun." "Lima tahun lalu." Xiao Fan mengembalikan pedang ke sarungnya. "Waktu itu aku bahkan belum tahu apa artinya menjadi pewaris." Xuan'er meletakkan cangkirnya, akhirnya berani menatap Xiao Fan langsung. "Kakak Fan, lusa adalah demonstrasi di depan lima klan besar. Kaisar sendiri akan hadir. Apa kau tidak gugup?" Pertanyaan itu menggantung di udara. Xiao Fan menatap cakrawala lagi, kali ini dengan ekspresi yang lebih serius. "Gugup?" ulangnya pelan. "Mungkin sedikit. Tapi lebih dari itu, aku merasa... ini adalah momen yang kutunggu-tunggu." "Momen untuk apa?" "Untuk membuktikan bahwa Klan Xiao masih layak diperhitungkan." Suara Xiao Fan mengeras sedikit. "Ayah sudah terlalu lama diremehkan oleh klan-klan lain. Mereka pikir karena Klan Xiao sudah lama tidak melahirkan kultivator hebat, kami mulai melemah. Lusa, aku akan menunjukkan pada mereka semua bahwa mereka salah." Xuan'er tersenyum lembut. "Kau pasti bisa. Kau selalu bisa." "Kau ini, selalu saja berkata begitu." "Karena aku percaya." Xuan'er bangkit dari duduknya, merapikan rok sutranya yang sedikit kusut. "Aku harus kembali. Ibu akan marah kalau aku keluar terlalu lama." Saat ia berjalan melewati Xiao Fan, pemuda itu tiba-tiba meraih pergelangan tangannya—ringan, hampir tidak terasa. "Xuan'er." Gadis itu berhenti, jantungnya berdebar lebih kencang dan pipinya sedikit merona. "Terima kasih," kata Xiao Fan pelan. "Untuk tehnya dan semuanya." Xuan'er tidak berbalik. Ia takut Xiao Fan akan melihat rona merah di pipinya. "Sudah kubilang, aku hanya kebetulan haus." Ia menarik tangannya perlahan—bukan karena ingin lepas, tapi karena takut terlalu lama di sana akan membuatnya mengatakan hal-hal yang selama ini ia pendam. Langkahnya cepat menuruni tangga, meninggalkan Xiao Fan yang kembali sendiri di puncak menara. Pemuda itu menatap cangkir teh yang masih setengah penuh, lalu ke arah tangga tempat Xuan'er menghilang. "Kebetulan haus," gumamnya sambil tersenyum. "Selama lima tahun, kau selalu 'kebetulan haus' tepat saat aku di sini." --- Malam semakin larut. Xiao Fan masih berdiri di balkon saat suara berat yang ia kenali sebagai ayahnya terdengar dari balik pintu. "Fan'er." Xiao Tianhe melangkah masuk ke balkon. Patriark Klan Xiao itu adalah pria berusia lima puluhan dengan rambut yang mulai memutih di pelipis, tapi posturnya masih setegap kultivator muda. Jubah biru tuanya berkibar tertiup angin malam. "Ayah." Xiao Fan membungkuk hormat. "Ayah belum tidur?" "Tidur?" Xiao Tianhe terkekeh. "Mana bisa aku tidur. Lusa putraku akan menunjukkan pada seluruh kekaisaran apa artinya menjadi Xiao Fan. Aku terlalu bangga untuk tidur." Xiao Fan tersenyum, tapi ada sesuatu dalam senyum itu yang tidak sampai ke matanya. "Ayah, apa kau pernah merasa... bahwa ekspektasi orang-orang terlalu tinggi?" Pertanyaan itu membuat Xiao Tianhe terdiam. Ia berjalan mendekati putranya, berdiri di sampingnya, ikut menatap cakrawala Tianyu yang kini telah gelap gulita. "Setiap hari," jawabnya jujur. "Sejak kau lahir, para tetua sudah membisikkan bahwa kau adalah Jenius Seribu Tahun. Bahwa kau akan membawa Klan Xiao kembali ke puncak kejayaan. Kau adalah harapan satu-satunya." "Tapi itu berat, Ayah." "Ayah tahu." Xiao Tianhe meletakkan tangan di bahu putranya. "Dan ayah minta maaf karena telah membebanimu dengan semua itu. Tapi Fan'er, kau perlu tahu satu hal." "Apa itu?" "Julukan 'Jenius Seribu Tahun' bukan aku yang memberikannya. Bukan para tetua. Bukan juga klan-klan lain." Xiao Tianhe menatap putranya dalam-dalam. "Julukan itu muncul dengan sendirinya, karena orang-orang melihat apa yang kau lakukan. Pedang Bintang Jatuh yang hanya kau yang bisa mengangkatnya. Jurus Pedang Sembilan Langit yang kau kuasai dalam tiga bulan, padahal leluhur kita butuh tiga tahun. Kultivasimu yang mencapai Tahap Pembukaan Meridian di usia dua belas tahun." "Aku hanya—" "Kau hanya menjadi dirimu sendiri," potong Xiao Tianhe. "Dan menjadi dirimu sendiri sudah cukup untuk membuat dunia terpana. Itu bukan beban, Fan'er. Itu adalah anugerah." Xiao Fan menunduk, merenungkan kata-kata ayahnya. Angin malam berembus lebih kencang, membuat jubah mereka berkibar-kibar. "Ayah," katanya akhirnya. "Lusa, aku akan membuat Ayah bangga." Xiao Tianhe tersenyum—senyum seorang ayah yang melihat putranya tumbuh menjadi pria yang tangguh. "Kau sudah membuatku bangga sejak hari pertama kau lahir, Fan'er. Lusa, kau hanya perlu mengingatkan dunia tentang apa yang sudah aku tahu sejak lama." Mereka berdiri dalam diam beberapa saat, ayah dan anak, di bawah langit malam yang bertabur bintang. Dari kejauhan, suara lonceng malam dari kuil kota berdentang dua belas kali—pertanda tengah malam telah tiba. "Sudah larut," kata Xiao Tianhe akhirnya. "Kau harus istirahat. Besok adalah hari yang panjang." "Ayah juga." Xiao Tianhe berbalik, tapi sebelum melangkah keluar, ia berhenti sejenak. "Fan'er, satu hal lagi." "Ya, Ayah?" "Gadis itu. Xuan'er." Xiao Tianhe menoleh sedikit, memperlihatkan senyum tipis. "Ayah tidak buta. Dan ayah juga tidak keberatan." Sebelum Xiao Fan sempat merespons, ayahnya sudah menghilang di balik pintu, meninggalkan pemuda itu dengan wajah yang sedikit memerah. "Ayah..." gumamnya. "Kenapa tiba-tiba membahas itu? Lagian Aku sudah bertunangan dengan Yue'er." Ia menatap cangkir teh Xuan'er yang masih tertinggal di meja batu—kosong, hanya menyisakan aroma melati yang samar. Tanpa sadar, senyum mengembang di wajahnya. "Memiliki dua istri tak berlebihan untuk seorang jenius seribu tahun bukan?," Jawab ayahnya lalu pergi meninggalkan Xiao Fan sendirian. Xiao Fan menghela nafas, "Aku rasa, setelah semua ini selesai, aku harus bicara padanya." bisiknya pada angin malam.(Note: pada bab ini, author memutuskan untuk mengubah sedikit jurus naga Yin-Yang Xiao Fan yang ia ciptakan pada bab 59)Xiao Fan melesat ke depan dengan kecepatan yang meningkat drastis setelah terobosan keduanya. Pedangnya mengayun ke arah bahu Xiao Ren, tapi Xiao Ren menangkisnya. Namun kali ini, gantian Xiao Fan yang tidak memberi waktu untuk bernapas. Ia melepaskan tendangan yang menghantam perut Xiao Ren, lalu membalas dengan pukulan energi ungu yang membuat Xiao Ren terdorong beberapa langkah ke belakang."Kau mulai bisa mengimbangiku," desis Xiao Ren sambil menyeka sudut bibirnya. "Tapi jangan sombong dulu!"Ia menyerang balik dengan tebasan horizontal. Xiao Fan merunduk, lalu menusukkan pedangnya ke arah kaki Xiao Ren, tapi Xiao Ren melompat, dan saat di udara, ia melepaskan tiga naga perak secara bersamaan."TEBASAN KETIGA: LANGIT PETIR MENYAMBAR!"Xiao Fan memutar pedangnya dan menciptakan dinding energi Yin-Yang yang menangkis ketiga naga itu. Begitu naga tera
Xiao Ren menyeringai. "Sekarang, saatnya mengakhiri semua ini," katanya sambil mengangkat pedangnya ketika Qi-nya melonjak, dan auranya yang berwarna perak mulai berputar di sekelilingnya seperti badai kecil. "Kau sudah membuatku cukup terhibur, Fan. Tapi permainan ini sudah berakhir."Ia melesat ke depan dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Tebasannya mengarah ke bahu Xiao Fan, tapi Xiao Fan menangkisnya dengan pedangnya. Namun Xiao Ren tidak berhenti di situ. Ia memutar tubuhnya dan melepaskan tendangan yang menghantam perut Xiao Fan.Bugh!Xiao Fan terpental ke belakang. Sebelum ia bisa memulihkan keseimbangannya, Xiao Ren sudah berada di depannya lagi. Kali ini, pedangnya mengarah ke bawah, menghantam lantai tepat di depan kaki Xiao Fan dan menciptakan gelombang kejut yang membuatnya terjatuh."Kau lihat perbedaannya sekarang?" Xiao Ren berjalan mengelilingi Xiao Fan yang sedang berusaha bangkit. "Kau hanya berada pada Lapis 2. Sementara aku Lapis 5. Ka
Matahari menyingsing di ufuk timur ketika menyinarkan warna jingga yang membara. Hari ini, Arena Naga Emas bahkan dipenuhi lebih banyak penonton dari hari-hari sebelumnya, bahkan lorong-lorong di antara tribun dipadati oleh orang-orang yang tidak kebagian tempat duduk. Mereka berdiri, berdesakan, dan rela berpanas-panasan hanya untuk menyaksikan pertarungan yang sudah dinanti-nanti sejak turnamen ini dimulai.Di balkon kehormatan, Kaisar Tianyu duduk di singgasananya. Kali ini, ia tidak bersandar, melainkan mencondongkan tubuhnya ke depan ketika sikunya bertumpu pada sandaran singgasannya dan jari-jemarinya saling bertaut di depan dagunya. Matanya yang tajam menatap arena dengan antisipasi yang sudah tidak bisa ia sembunyikan. Di sampingnya, Jenderal Wei Zheng berdiri dengan postur tegak, tapi bahkan ia yang merupakan seorang prajurit tua yang sudah melihat ratusan pertempuran tidak bisa menyembunyikan ketertarikannya."Alkemis Fan melawan Xiao Ren," gumam Kaisar. "Seorang alkem
Malam telah turun sepenuhnya di atas Kota Tianyu ketika Xiao Fan duduk bersila di atas tikar anyaman. Di hadapannya, sebuah kotak kayu kecil terbuka yang isinya: gulungan kuno yang sudah tidak asing lagi baginya 'Jurus Yin-Yang Abadi' Ia sudah membacanya puluhan kali sebelumnya, tapi malam ini, ia membacanya dengan tujuan yang berbeda.Tangannya membuka gulungan itu perlahan ketika diagram-diagram rumit yang digambar dengan tinta yang masih bersinar setelah ribuan tahun terlihat. Tahap Pertama: Harmoni Dualitas. Ia sudah menguasainya—kedua Dantian-nya kini berputar dalam keseimbangan yang sempurna, emas dan ungu, Yin dan Yang, saling melengkapi tanpa saling menghancurkan.Tapi itu tidak cukup, apalagi besok adalah Final dari turnamen Klan.Ia menggeser gulungan itu ke bagian berikutnya. Ke Tahap Kedua: Inti Ganda. Diagram-diagram di bagian ini lebih rumit ketika menunjukkan dua jalur energi yang berbeda, emas dan ungu yang harus dibentuk secara bersamaan di dua Dantian yang ter
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews