LOGINSetelah mencium lembut, sebagai cium curian, gadis itu pun merebah kembali. Kemudian tertidur dengan nyenyak. Matanya tetap terbuka tak berkedip, menatap lurus dengan hampa. Pendekar Kera Sakti sengaja diam dulu, belum berani bergerak. Maksudnya membiarkan si gadis lelap dulu baru ingin usil lagi. Tapi rupanya terlalu lama diam membuat kelopak mata sulit dibuka kembali. Akhirnya Pemuda dari lembah kera itu pun benar-benar tertidur dengan nyenyak.
Esoknya, ketika Baraka terbangun, ia me
"Sudah kukatakan, ancaman apa pun yang akan kalian pakai, aku tetap tidak akan serahkan Rencong Iblis itu. Sebab memang aku tidak memilikinya!" kata Salju Kelana dengan suara bernada dingin. Tongkat kecilnya diketuk-ketukkan di tanah, menunjukkan sikap penuh waspada. Ia siap menyambut serangan lawan kapan saja datangnya.Si kurus berteriak, "Danuyuda, gunakan jurus 'Jala Geni', heeeaaat...!"Orang berbadan kurus itu menyentakkan tangannya ke depan, demikian pula temannya yang bernama Danuyuda itu. Lalu dari tengah telapak tangan mereka keluar lima larik sinar yang masing-masing tertuju ke arah Salju Kelana.Zraaab...!Salju Kelana diam sejenak, bagaikan tak menyadari datangnya lima larik sinar dari kanan dan kiri. Namun tiba-tiba tubuh gadis itu memutar cepat dalam satu sentakan putar. Mungkin lebih dari tujuh putaran dalam sekali sentak. Dan putaran itu memancarkan sinar hijau, menyebar ke sekelilingnya.Blegaarrr...!Sepuluh larik sinar me
Setelah mencium lembut, sebagai cium curian, gadis itu pun merebah kembali. Kemudian tertidur dengan nyenyak. Matanya tetap terbuka tak berkedip, menatap lurus dengan hampa. Pendekar Kera Sakti sengaja diam dulu, belum berani bergerak. Maksudnya membiarkan si gadis lelap dulu baru ingin usil lagi. Tapi rupanya terlalu lama diam membuat kelopak mata sulit dibuka kembali. Akhirnya Pemuda dari lembah kera itu pun benar-benar tertidur dengan nyenyak.Esoknya, ketika Baraka terbangun, ia menjadi sangat terkejut melihat Salju Kelana sudah tidak ada disampingnya. Bahkan di sekitar dalam gua itu pun tidak ada. Baraka cemaskan diri gadis cantik itu. Ia bergegas keluar dari gua."Kemana dia...! Sekadar buang air di tempat tersembunyi atau memang sengaja meninggalkan diriku!" pikir Baraka sambil-matanya memandang ke sana-sini.Wuuut, wuuuut...!Baraka melompat dari batu ke batu mencapai tempat yang lebih tinggi. Mata pun menyapu seluruh alam sekelilingnya."I
"Bagaimana kalau ternyata di perjalanan aku bertemu dengan utusan itu?""Jangan ganggu dia, nanti kau mati di tangannya!""Sebaiknya aku tak perlu mengganggu dia saja, ya? Biar aku tak mati di tangannya. Soalnya kalau mati di tangan orang seperti itu tidak terhormat.""Memang yang kukatakan tadi begitu! Kau jangan ganggu dia biar kau tak mati!" tegas Baraka agak menyentak-nyentak karena jengkel dengan ketulian Hantu Laut."Kita berpisah dulu, Hantu Laut.""Baraka, kusarankan kita berpisah saja sekarang.""Baru saja aku bilang begitu, Budeg!" bentak Baraka makin jengkel. Hantu Laut hanya mengguman dan manggut-manggut tanpa raut muka orang bersalah.Perjalanan menuju Lembah Sunyi memakan waktu hampir sehari semalam. Pendekar Kera Sakti sengaja tidak gunakan jurus 'Gerak Kilat Dewa Kayangan' yang mampu mempercepat perjalanan, karena takut kalau Salju Kelana tertinggal dan tak mengerti arah. Sebab itu mereka terpaksa bermalam di
"Hei, hei... orangnya sudah pergi dari tadi kok masih tuding-tuding terus!" tegur Baraka sambil mencolek pundak gadis buta itu."Aku tahu kalau dia sudah pergi. Aku memaki bekas tempatnya jatuh tadi!" Salju Kelana tak mau disalahkan agar tak terlihat kebutaannya."Siapa nenek itu tadi?""Nyai Bantat Maki, bibinya Calo Mayat.""Ia juga tokoh sesat, tukang teluh upahan!" kata Hantu Laut yang sudah mulai segar kembali itu. "Dulu aku dan Tapak Baja pernah menghajarnya sampai hampir mati. Sekarang dia mau balas dendam padaku. Padahal yang banyak menghajarnya adalah mendiang si Tapak Baja!""Sekarang dia sudah pergi, takut dengan sahabat cantikku ini, Hantu Laut," Baraka membanggakan kecantikan Salju Kelana dengan suara agak keras. Hantu Laut hanya menyeringai dengan mata menatap gadis itu tanpa mau berkedip lagi."Kudengar kau sahabat Pendekar Kera Sakti, Hantu Laut. Berarti kau sahabatku juga."Hantu Laut menjawab, "Tidak. Aku tidak seheb
Percakapan tersebut sebenarnya ingin dilanjutkan, namun Baraka melihat Hantu Laut terkena pukulan tenaga dalam sang nenek melalui tongkatnya. Tubuh besar itu tumbang terjungkal dan tak mampu bangkit lagi. Hantu Laut mengerang kesakitan sambil pegangi dadanya yang membiru legam itu. Sang nenek semakin buas, ia segera menghantamkan kepala tongkatnya untuk memecahkan kepala gundul si Hantu Laut."Sekaranglah saatnya kubalas dendamku padamu, murid orang sesat! Heeeaaaah...!"Pendekar Kera Sakti cepat sentakkan tangan, dan nyala sinar biru berkelok-kelok bagai lidah petir melesat dari telapak tangan itu, Pukulan 'Cahaya Kilat Biru' menghantam tongkat sang nenek dari kejauhan.Wuuus...!Duaaarrr...! Sang nenek berjubah merah terpental berjungkir balik di udara. Tongkatnya terlepas dari genggamannya. Ia jatuh setelah membentur pohon.Pendekar Kera Sakti segera melesat ke pertengahan jarak antara sang nenek dan Hantu Laut.Zlaaap...! Jleeg...!
ATAS saran dan bujukan Baraka, Salju Kelana tak jadi menghadiri undangan pertemuan di Kadipaten Balungan. Ia diminta ikut membantu menyelesaikan perkara kematian Tabib Getar Hati. Ternyata Salju Kelana bersedia membantu menyingkapkan tabir misteri pembunuhan sang tabib itu."Tapi benar bukan kau pelakunya!""Aku berani sumpah, biar cacat seumur hidup jika aku membunuh Tabib Getar Hati," ujar Salju Kelana."Aku datang untuk minta disembuhkan dari pengaruh Racun Hitam ini. Tapi setelah dilakukan penyembuhan, Tabib Getar Hati menyatakan tidak sanggup menangkal racun dalam tubuhku ini. Aku disarankan untuk mencari tabib lain. Salah satu nama yang disebutkan adalah namamu: Tabib Suling Dewa. Setelah itu aku pamit pergi mencari Tabib Suling Dewa.""Kapan hal itu terjadi?" potong Baraka."Lima hari yang lalu," jawab Salju Kelana tak ada kesan berbohong sedikit pun. Pendekar Kera Sakti manggut-manggut. Ia mengenang saat-saat lima hari yang lalu, di mana ka
Tangan si perempuan terulur dalam posisi telapak tangan tengadah, tanda meminta sesuatu. Baraka berkerut dahi, berlagak bingung melihat sikap si pelayan pendek itu."Apa maksudmu sih?""Cempuk itu memang kau pulangkan pada tempatnya, tapi yang kau selipkan di sabuk pinggangmu itu mana
DIDALAM ALMARI, Baraka penuh gerutu dan kejengkelan. Perlu dicatat pula, salah satu gerutuannya berbunyi demikian: "Dasar pelayan nggak tahu diri, seenaknya aja ngunci almari! Apa nggak tahu ada orang di sini? Kalau begini kan bisa bikin aku mati kehabisan udara inti! Sial! Kudoakan biar nggak la
Tuungngng...!"Aaahg...!" Tengkorak Tobat mengejang dalam keadaan jatuh berlutut. Ia memejamkan mata kuat-kuat karena menahan rasa sakit yang luar biasa hebatnya. Tapi anehnya Dewa Dungdung sendiri tidak merasakan sakit sedikit pun, demikian pula Baraka yang ada di persembunyiannya.R
Baraka sengaja dibawa oleh Duda Dadu ke tempat itu, sebab tempat itu sepi, cocok untuk belajar ilmu kanuragan. Duda Dadu tampak bersemangat memberikan pelajaran ilmunya kepada Baraka."Ini namanya jurus 'Paruh Bangau'," kata Duda Dadu sambil mengembangkan kedua tangan dengan ujung tangan sa







