LOGIN“Tidak bisa, Hantu Laut! Karena istana ini dalam ancaman kutukan maut Siluman Selaksa Nyawa!"
"Kutukan? Kutukan bagaimana!"
"Istana ini akan hancur pada saat aku atau anakku menikah dengan seseorang! Pernikahan itu juga akan membawa kematianku dan kematian Cempaka Ungu! Jadi usahamu sia-sia, Hantu Laut!"
"Bangsat! Kubunuh Siluman Selaksa Nyawa itu!"
"Percuma! Kutukan itu bisa bebas lepas jika di depan istana ini ditanami tubuh tumbal seorang pendekar sa
"Lalu, apa maksud Empu Tapak Rengat sebenarnya?" pikir Pendekar Kera Sakti dalam renungannya. "Ada di pihak mana sebenarnya Empu Tapak Rengat itu?"Tembang Selayang tak enak hati melihat Baraka termenung, ia yakin yang direnungkan adalah ayahnya, ia yakin Baraka bercuriga buruk kepada ayahnya. Sedangkan ia sendiri juga punya pertanyaan yang membingungkan tentang ayahnya itu. Akhirnya Tembang Selayang berkata kepada Baraka. "Sebaiknya kau urus dulu orang tua ini. Biarkan aku datang sendiri ke Perguruan Monyet Sakti untuk merebut Kapak Kubur itu.""Jangan gegabah dulu. Persoalannya agak meleset dari perkiraan kita. Ternyata ayahmu tidak diculik oleh sang Adipati."Tembang Selayang diam, seakan mengakui bahwa ayahnya memang tidak diculik oleh orang utusan sang Adipati. Tapi ia tidak mempunyai keputusan apa pun karena dicekam oleh kebimbangan bertindak.Pendekar Kera Sakti berkata lagi, sementara Tua Bangka hanya menjadi pendengar yang sesekali memandang jauh
Pendekar Kera Sakti berpikiran begitu karena ia khawatir akan keselamatan Tembang Selayang; si cantik berdada sekal itu. Dalam bayangan Baraka, jika memang kapak pusaka itu ada di tangan Dewa Beruk, maka Dewa Beruk akan menggunakannya untuk melawan siapa saja yang ingin merampas kapak pusaka tersebut. Dan keyakinan Baraka mengatakan, bahwa Tembang Selayang akan celaka jika berhadapan dengan lawan yang bersenjata kapak pusaka itu.Tanpa banyak berunding lagi mereka segera berkelebat menuju lereng gunung tersebut yang menghadap ke arah barat."Cari jalan terdekat agar sebelum petang tiba kita sudah sampai di perguruan itu!" kata Baraka kepada Tembang Selayang.Namun mendadak langkah mereka terhenti karena Baraka terpekik melihat ke arah lembah sebelah kanannya.“Tunggu...! Siapa itu yang terkapar di sana!"Tembang Selayang kerutkan dahi menatap ke arah lembah.-o0o-Orang yang terkapar itu kenakan pakaian abu-abu, rambutnya putih,
Pendekar Kera Sakti manggut-manggut dan tampak senang sekali mendengar keterangan tersebut. Tembang Selayang diam memandangi ayahnya dengan rasa kagum terhadap kapak pusaka itu."Karena ukurannya tak seberapa besar, dan tangkainya dari logam kosong, maka kapak pusaka itu sangat ringan dan mudah dibawa ke mana-mana. Tetapi jika ditebaskan dari atas ke bawah, maka dalam jarak sejauh dua puluh tombak pun masih bisa keluarkan sinar merah menyerang lawan. Orang yang terkena sinar merah itu akan terpotong menjadi tiga puluh tiga bagian.""Hebat sekali!" gumam Baraka semakin yakin lagi dengan keterangan Tembang Selayang saat di perjalanan kemarin."Jika kapak ditebaskan dari kiri ke kanan, akan keluarkan sinar biru yang dapat membuat lawan mati hangus menjadi arang dalam sekejap. Jika ditebaskan dari kanan ke kiri, akan keluarkan sinar hijau yang membuat lawan mati dalam keadaan tercabik-cabik mengerikan. Jika lawan hanya tergores oleh salah satu mata kapak, maka lukan
"Dia terluka berat bagian dalamnya!"Tembang Selayang terperanjat, ia segera mengangkat wajah sang Ayah. Ternyata wajah itu bukan saja pucat pasi melainkan biru bagaikan mayat yang hampir membusuk."Ayaaaah...!" seru Tembang Selayang sambil mendekap tubuh sang Ayah. Pendekar Kera Sakti bergegas memeriksanya sesaat, tanpa pedulikan tangis Tembang Selayang."Baringkan di tempat teduh!" kata Baraka. "Kurasakan denyut nadinya masih ada."Pukulan tenaga dalam yang mengandung racun telah kenai bagian dada Empu Tapak Rengat. Terlambat sedikit saja, nyawa sang Empu akan melayang. Untung Baraka bergerak cepat dengan dibantu Tembang Selayang.Baraka menempelkan Suling mustikanya di urat nadi pergelangan tangan kanan Empu Tapak Rengat. Hanya dalam dua tarikan napas, warna biru di wajah Empu Tapak Rengat berangsur-angsur lenyap. Di lain kejap, Suling Naga Krishna yang berwarna kuning keemasan menjadi biru legam. Suling Naga Krishna yang telah berwarna biru leg
"Sial. Hatiku deg-degan memandang ia berbaring begini!" gerutu Baraka dalam hati, tapi di mulutnya ia berkata lain. "Aku tak takut pada ancaman mereka. Tapi aku menemukan kejanggalan yang perlu kita pikirkan.""Kejanggalan apa?""Guci Kopong tadi bilang, akan datang memanggil ketuanya dan seakan ketuanya sanggup membuat kita mati hangus menjadi arang atau terpotong tiga puluh tiga bagian.""Itu sesumbarnya saja.""Mungkin memang benar. Tapi dari mana ia bisa sesumbar begitu kalau bukan karena ia pernah melihat bukti? Dan siapa orang yang bisa bertindak begitu jika bukan orang yang memiliki Kapak Kubur!"Tembang Selayang diam sebentar merenungkan, tiba-tiba ia tersentak bangkit dan menatap tegang kepada Baraka."Benar juga! Berarti pusaka Kapak Kubur ada di tangan Dewa Beruk!"Baraka hanya angkat bahu dengan senyum tipisnya.-o0o-PERGURUAN Monyet Sakti terletak di lereng Gunung Bunting sebelah barat. Jika i
“Tembang Selayang... rupanya kau sekarang punya pemuas dahaga semuda itu, hmm...! Pantas aku tak pernah melihatmu. Wajahmu pucat sekali. Apakah dikurung terus oleh anak muda itu?"Teebb...!Tembang Selayang mencekal tangan orang tersebut tanpa memandangnya. Wajahnya dingin dan ketus."Jangan macam-macam padaku, Guci Kopong!"Krraakk...! Terdengar seperti suara tulang patah. Guci Kopong meringis dengan mata terpejam. Mulutnya ternganga karena menahan rasa sakit."Ada yang ingin kau katakan lagi padaku!" pertanyaan itu bernada datar dan dingin, tanpa diikuti pandangan mata ke arah orang yang ditanya.Guci Kopong tak bisa menjawab karena genggaman tangan Tembang Selayang bagaikan kian meremukkan pergelangan tangannya. Pendekar Kera Sakti hanya memandanginya tanpa berbuat apa-apa. Senyumnya mekar di bibir, seakan menertawakan orang gemuk yang berlagak jagoan itu."Hei, lepaskan dia, Tembang!" seru orang berbadan agak kurus dari Guci
Pandangan mata Baraka segera tertuju ke arah tangan orang tersebut. Tampak Cincin Manik Bidari melingkar di jari tengah pada tangan sebelah kanan. Mata cincinnya yang berwarna putih intan itu tidak terlihat karena cara memakainya dibalik.Mata cincin itu ada dalam genggaman. Karena dilihat
Sumbaruni sendiri mulai tegang setelah ingat bahwa Baraka mempunyai jurus yang amat berbahaya, yaitu Ilmu ‘Mata Malaikat’. Sumbaruni mengendurkan ketegangannya, bahkan memasukkan pedangnya kembali. Sebab ia tahu bahwa saat itu Baraka benar-benar diliputi kemarahan karena Bongkok Sepuh
"Landak Boreh, geledah semak-semak disekitar itu, cepat!" perintah Raja Tumbal.Perintah seperti itu tak pernah terlontar dua kali, karena, Landak Boreh yang kakinya gudikan itu segera melesat berkeliling tempat itu menerabaa tiap semak, mengibaskan goloknya membabat ilalang dan semak. Hal
"Apa yang kau lihat?""Seruling Malaikat itu digunakan oleh Raja Tumbal.""Oh...?!" Baraka Sinfing mulal menegang."Kemarin lusa aku melihat pertarungan antara orang-orang Pasir Tawu dengan Raja Tumbal. Sepuluh orang murid Pasir Tawu hancur berkeping-keping begitu mendengar s







