ログインPewaris Takhta yang ditunggu-tunggu akhirnya lahir ditengah gejolak Kerajaan Jayantara. Jaya menjadi ancaman bagi siapapun yang memperebutkan takhta Raja. Perjalanan dalam merebut kembali takdir berdasarkan ramalan kuno tak semudah yang dibayangkan, bahkan Jaya meski menguasai berbagai ilmu inti elemen agar dapat menaklukan musuhnya.
もっと見るBeberapa hari telah berlalu sejak serangan kelompok perampok di desa. Kehidupan penduduk perlahan kembali berjalan seperti biasa, namun ada perbedaan yang tak terucapkan di udara. Senyum di wajah mereka tidak lagi seluas sebelumnya, dan setiap kali ada orang asing yang lewat di jalan setapak, mata mereka akan mengikuti dengan penuh kewaspadaan. Peristiwa itu tidak hanya berhenti menjadi cerita di dalam desa. Seperti air yang merembes keluar dari celah bendungan, kabar tentang apa yang terjadi mulai menyebar perlahan namun pasti. Para pedagang dan pengembara yang melintasi lembah itu mendengar desas-desus dari mulut ke mulut: tentang sekelompok perampok yang gagal menjarah, tentang seorang anak muda yang mampu mengusir mereka sendirian, dan tentang cahaya aneh yang sempat terlihat di tengah lapangan. Awalnya, banyak yang menganggapnya hanya cerita bohong atau dongeng untuk menakut-nakuti anak-anak. Namun, seiring berjalannya waktu, kabar itu sampai ke telinga orang-orang yang memili
Debu perlahan mengendap di atas tanah lapang desa. Suara teriakan dan gemeretak senjata telah lenyap, digantikan oleh hening yang terasa berat. Jaya masih berdiri di tempatnya, napasnya teratur namun hatinya berdebar kencang. Ia menatap kedua telapak tangannya yang terasa sedikit hangat, seolah masih menyimpan sisa kekuatan yang baru saja meledak. Ia tidak memahami apa yang terjadi—satu saat ia hanya merasa marah dan takut melihat anak kecil terancam, dan sesaat kemudian, semua penyerang terlempar jauh seolah dihantam angin raksasa. “Kakek… apa yang baru saja aku lakukan?” tanyanya pelan, suaranya bergetar bercampur kebingungan. “Aku tidak bermaksud melukai mereka. Aku hanya ingin melindungi…” Mpu Suro melangkah mendekat, meletakkan tangan tua dan keriputnya di bahu Jaya. Tatapannya lembut namun penuh keseriusan. “Aku tahu. Itu bukan keinginan hatimu, melainkan naluri perlindungan yang terbangun. Kekuatan yang ada di dalam dirimu seperti air sungai yang dibendung—selama ini tertaha
Udara di lembah itu masih terasa sejuk dan segar saat pagi mulai berganti siang. Matahari bersinar lembut, menembus celah dedaunan dan menciptakan pola cahaya yang bergerak di atas tanah yang ditumbuhi rumput hijau. Suasana desa masih sama seperti biasanya: para petani sibuk mengurus sawah, anak-anak bermain di tepi sungai, dan para ibu beraktivitas di depan gubuk masing-masing. Bagi penduduk desa yang sederhana ini, hidup berjalan tenang dan damai, jauh dari hiruk-pikuk perang dan intrik kekuasaan yang melanda sebagian besar wilayah bekas Kerajaan Jayantara. Namun, kedamaian itu tidak akan bertahan selamanya. Berita tentang cahaya aneh yang menyembur dari dalam gua di pegunungan telah menyebar lebih cepat dari yang diperkirakan Mpu Suro. Seorang pengembara yang kebetulan melihatnya dari kejauhan telah menceritakannya kepada pedagang yang lewat, dan dari mulut ke mulut, kabar itu akhirnya sampai ke telinga Adipati Ranawara—salah satu penguasa yang paling berkuasa dan haus kekuasaan
Debu halus beterbangan memenuhi udara di dalam ruangan gua, menutupi cahaya samar yang dipancarkan oleh batu-batu di dinding. Di hadapan mereka, lima sosok berpakaian serba hitam berdiri tegak, senjata di tangan mereka memancarkan kilatan dingin yang menusuk hati. Wajah mereka tertutup kain hitam, hanya menyisakan mata yang tajam dan penuh kebencian, seolah mereka telah lama menunggu momen ini. Mereka adalah utusan rahasia yang dikirim oleh Adipati Ranawara dan sekutunya dari pesisir utara—orang-orang yang bersumpah akan memusnahkan setiap sisa keturunan Jayantara agar tidak ada yang bisa menuntut kembali kekuasaan yang telah mereka rebut. Pemimpin mereka, seorang lelaki bertubuh kekar dengan tato naga hitam di lehernya, melangkah maju selangkah. Suaranya terdengar berat dan menggema di seluruh ruangan, penuh dengan keyakinan diri yang berlebihan. “Serahkan anak itu dan batu permata di tangannya,” tantangnya sambil mengangkat pedang pendeknya yang berkilau, “dan kami berjanji ak
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビュー