KEBANGKITAN PUTERA JAYANTARA

KEBANGKITAN PUTERA JAYANTARA

last update最終更新日 : 2026-07-17
作家:  Djallonlyたった今更新されました
言語: Bahasa_indonesia
goodnovel12goodnovel
10
2 評価. 2 レビュー
10チャプター
9ビュー
読む
本棚に追加

共有:  

報告
あらすじ
カタログ
コードをスキャンしてアプリで読む

概要

Action

Penyihir

Fantasi Timur

Identitas Tersembunyi

Luar Biasa

Pewaris

Budaya Timur

Legenda

Membalikkan Keadaan

Pewaris Takhta yang ditunggu-tunggu akhirnya lahir ditengah gejolak Kerajaan Jayantara. Jaya menjadi ancaman bagi siapapun yang memperebutkan takhta Raja. Perjalanan dalam merebut kembali takdir berdasarkan ramalan kuno tak semudah yang dibayangkan, bahkan Jaya meski menguasai berbagai ilmu inti elemen agar dapat menaklukan musuhnya.

もっと見る

第1話

BAB 1 : HUJAN DARAH DITAHUN KERUNTUHAN

Abad 13 Masehi

Langit di atas Kerajaan Jayantara tidak lagi berwarna biru cerah seperti biasanya. Sejak tiga hari yang lalu, awan kelabu tebal menggantung rendah, menutupi sinar matahari sepenuhnya. Udara terasa pengap, berat, dan berbau anyir seperti logam yang terbakar. Di sepanjang jalan raya yang dulunya ramai dengan pedagang dari berbagai penjuru Negeri, kini hanya terlihat puing-puing, darah yang mengering, dan mayat-mayat yang tergeletak tak berdaya.

Kerajaan Jayantara—yang pernah dipersatukan oleh sumpah Palapa oleh Patih Naramada, yang kekuasaannya membentang dari Semenanjung Malaya hingga kepulauan Timor—kini sedang sekarat.

“Raja kita yang Agung, Raja Jayantara, telah mati !!” begitu bisik para penduduk di dalam rumah dan pada tetangga dekat saja. Perbincangan yang penuh ketakutan. “Ya, tanpa tinggalkan pewaris. Keluarga kerajaan-pun terpecah saling bertempur demi takhta.” Sahut yang lainnya masih sambil berbisik. “Dan entah bagaimana nasib kita menghadapi masa depan kerajaan yang kacau-balau begini.” Keadaan masyarakat semakin mencekam, karena tak tahu harus memihak pada siapa, dan siapa pemimpin selanjutnya.

Di pinggiran hutan belantara yang lebat, jauh dari hiruk-pikuk pertempuran namun tidak sepenuhnya aman, berdiri sebuah gubuk sederhana yang terbuat dari kayu dan daun rumbia. Tempat ini dulunya menjadi tempat beristirahat para pemburu, namun kini dihuni oleh tiga orang: seorang wanita muda yang wajahnya pucat namun memancarkan wibawa agung, seorang pendeta tua berjubah kain katun kusam, dan seorang pengawal berotot yang selalu memegang gagang keris erat-erat.

Wanita itu adalah Ratu Ratna Kencana, istri muda dari Raja Jayantara-Raja Bhre Sanjaya V. Ia melarikan diri dari istana dua minggu yang lalu, dibantu oleh pengawal setianya, ketika ia mendengar rencana pembunuhan yang ditujukan kepadanya dan anak yang dikandungnya. Sebagai satu-satunya permaisuri yang masih memiliki keturunan, nyawanya dianggap sebagai ancaman terbesar bagi mereka yang ingin merebut kekuasaan.

“Hujan mulai turun lagi, Yang Mulia,” bisik pendeta tua bernama Mpu Suro sambil menatap jendela kecil yang tertutup rapat. Suaranya serak namun mantap. “Namun… warnanya tidak seperti air hujan biasa.”

Kencana mengerang pelan. Rasa sakit di perutnya semakin hebat. Ia meremas kain kasur di bawahnya, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. “Aku merasakannya, Mpu. Anak ini ingin lahir… malam ini juga.”

Benar saja, tetesan air mulai jatuh memukul atap gubuk. Namun ketika cahaya obor menerangi tetesan itu, keduanya tertegun. Air itu berwarna merah tua, memantulkan cahaya seperti butiran darah. Hujan merah turun membasahi tanah, menciptakan pemandangan yang menyeramkan dan penuh pertanda buruk.

“Ini adalah pertanda besar,” gumam Mpu Suro dengan mata terbelalak. Tangannya gemetar saat ia mengucapkan doa-doa kuno. “Sejarah mencatat bahwa hujan seperti ini hanya turun dua kali sebelumnya: ketika Jayantara didirikan, dan ketika bencana besar akan menimpa tanah ini.”

Rasa sakit yang luar biasa menyergap tubuh Sang Ratu. Ia menggigit bibirnya agar tidak berteriak keras, takut menarik perhatian musuh yang mungkin sedang berpatroli di sekitar hutan. “Bantu aku, Mpu. Selamatkan anakku.”

Berjam-jam berlalu dalam ketegangan yang mencekam. Hujan merah terus turun tanpa henti, disertai guntur yang bergemuruh keras seolah langit sedang marah. Pengawal setia bernama Wirabumi berjaga di luar, matanya waspada mengamati setiap gerakan di kegelapan. Ia tahu bahwa setiap detik yang berlalu membawa bahaya yang semakin dekat.

Hingga akhirnya, terdengar tangisan bayi yang nyaring memecah kesunyian malam.

Tangisan itu terdengar begitu kuat, seolah mampu menembus dinding gubuk dan mencapai setiap sudut hutan. Kencana tersenyum lemah, napasnya terengah-engah namun dipenuhi kelegaan. Mpu Suro memegang bayi itu dengan hati-hati, lalu mengangkatnya sedikit lebih tinggi agar terkena cahaya obor.

Tiba-tiba, napas pendeta tua itu terhenti. Matanya membulat lebar, seolah melihat sesuatu yang tidak mungkin ada.

Di dada bayi lelaki itu, terukir secara alami sebuah lambang yang indah namun penuh kekuatan: seekor merak dengan bulu yang terentang lebar, berwarna putih bersih seolah memancarkan cahaya sendiri. Lambang itu tidak dilukis atau dibuat manusia—ia tumbuh bersama kulit bayi, berdenyut samar seolah memiliki nyawa sendiri.

“Tidak mungkin…” bisik Mpu Suro dengan suara bergetar. Ia mendekatkan wajahnya, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Ini… ini adalah Tanda Merak Putih.”

Kencana menoleh dengan wajah pucat. “Apa maksudmu, Mpu? Apakah ini pertanda baik atau buruk?”

Pendeta tua itu menatap bayi itu dengan pandangan yang penuh campuran antara kekaguman dan kekhawatiran. Ia bergumam lirih tak terdengar, seperti mengucap rapal mantra dimulutnya.

“Ada apa Mpu? Pertanda baikkah, atau…” Ratu Kencana bertanya keheranan. “Anakmu ini… dia mampu menjadi harapan bagi Jayantara?” jawab Mpu Suro dengan wajah serius. “Tetapi justru karena itulah nyawanya berada dalam bahaya paling besar. Mereka yang menginginkan kekuasaan tidak akan membiarkan ramalan ini menjadi kenyataan. Begitu mereka tahu telah lahir anak yang membawa tanda ini, mereka akan berusaha membinasakannya dengan segala cara.”

Belum sempat mereka berbicara lebih lanjut, tiba-tiba Wirabumi menerobos masuk dengan napas terengah-engah, wajahnya dipenuhi ketakutan. “Yang Mulia! Mpu! Mereka datang! Aku mendengar derap kuda—banyak sekali! Mereka pasti melacak jejak kita!”

Suara derap kaki kuda yang kencang semakin jelas terdengar dari kejauhan, disertai teriakan kasar dan dentingan senjata. Tanah di sekitar gubuk bergetar, seolah menandakan kedatangan bencana.

“Cepat! Mereka pasti dikirim oleh Adipati Ranawara atau utusan dari Kerajaan Napala—siapa pun mereka, mereka tidak akan segan-segan membunuh bayi ini,” seru Mpu Suro. Ia segera membungkus bayi itu dengan kain tebal berwarna coklat agar lambang di dadanya tidak terlihat, lalu menyerahkannya kepada Wirabumi.

“Bawa dia pergi, Wirabumi! Lari sejauh mungkin, temukan tempat yang aman di mana tidak ada yang mengenalnya. Besarkan dia sebagai anak biasa, biarkan dia tumbuh tanpa mengetahui asal-usulnya sampai waktunya tiba.”

Ratu Kencana meraih tangan bayinya, mencium keningnya dengan air mata mengalir di pipi. “Selamatlah, anakku. Semoga roh leluhur selalu melindungimu. Suatu hari nanti, semoga kau bisa melihat tanah ini damai kembali.”

Di luar, suara teriakan semakin dekat. “Cari di mana-mana! Bunuh siapa saja yang ada di dalam! Jangan biarkan ada yang lolos!”

DUM! DUM!

Pintu gubuk dihantam dengan keras, seolah akan hancur kapan saja. Kayu-kayu itu berderit hebat, dan ujung pedang mulai menusuk melalui celah-celah dinding, memancarkan kilatan dingin yang mematikan.

Mpu Suro mendorong Wirabumi menuju pintu belakang yang tersembunyi. “Pergilah! Selamatkan dia—nyawa Nusantara ada padanya! Jika dia gugur, maka ramalan itu akan mati bersamanya, dan kegelapan akan selamanya menguasai negeri ini!”

Wirabumi mengangguk mantap, memeluk bayi itu erat di dadanya. Dengan satu pandangan terakhir kepada Ratu Kencana yang berlinang air mata, ia melompat keluar menuju kegelapan hutan yang lebat, berharap bisa lolos dari kejaran maut.

Pintu gubuk itu akhirnya hancur terbuka. Sekelompok pria berpakaian seragam hitam dengan wajah dingin dan senjata terhunus melangkah masuk, siap membunuh siapa saja yang mereka temui.

Di balik semak-semak yang gelap, Wirabumi berhenti sejenak untuk memastikan tidak ada yang melihatnya. Namun tepat saat ia berbalik melanjutkan perjalanan, matanya menangkap kilatan cahaya samar dari arah gubuk—dan di kejauhan, di bawah hujan merah yang terus turun, ia melihat sesosok bayangan tinggi berdiri di atas bukit kecil, menatap tepat ke arahnya. Mata makhluk itu bersinar merah menyala, dan suara berat yang tidak berasal dari mulut manusia bergema di dalam benaknya:

“Merak Putih… akhirnya kau muncul. Tidak akan ada tempat untukmu bersembunyi. Aku akan menemukanmu, dan ramalan itu akan hancur di tanganku.”

Wirabumi merasakan kedinginan yang menusuk hingga ke tulang sumsum. Ia tahu, pelariannya baru saja dimulai—dan musuh yang ia hadapi bukan hanya manusia biasa.

もっと見る
次へ
ダウンロード

最新チャプター

続きを読む

読者の皆様へ

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

レビュー

Ida Renwarin
Ida Renwarin
so far sih okee ceritanya, ditunggu lanjutannya yaa..
2026-07-17 10:44:18
0
0
Djallonly
Djallonly
Nusantara Epic
2026-07-17 10:15:38
0
0
10 チャプター
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status