Inicio / Pendekar / Pendekar Kujang Emas / 210. Dua Pendekar Hitam dan Serangan Siluman Kembar

Compartir

210. Dua Pendekar Hitam dan Serangan Siluman Kembar

last update Última actualización: 2022-07-08 21:55:58

Di luar gua, Lingga terus mengkhawatirkan keadaan Limbur Kancana yang masih belum memberikan tanda-tanda akan kembali. Pemuda itu berjalan ke kiri dan kanan, dengan sesekali mengarah pada perkampungan. Suasana sangat hening hingga ia bisa mendengar suara tarikan dan embusan napasnya sendiri.

“Aku benar-benar mengkhawatirkan keadaan paman.” Lingga mengembus napas panjang, lantas melompat ke atas puncak pohon. Pemandangan yang ia lihat hanyalah hamparan pepohonan dan titik api kecil dari arah perkampungan.

Lingga melompat turun dari puncak pohon, menoleh pada tiruan Limbur Kancana yang hanya diam dengan sesekali memperhatikannya. Ia sempat berpikir untuk menyusul Limbur Kancana. Hanya saja, pilihan itu jelas sangat berbahaya.

“Aku harus melakukan sesuatu untuk membantu paman.” Lingga menarik napas dalam, mengendalikan dirinya agar lebih tenang. Pemuda itu menyentuh bahu tiruan Limbur Kancana, memejamkan mata, kemudian mengirim tenaga dalamnya.

Lingga berusaha memusatkan pikiran dan memb
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Pendekar Kujang Emas   683. Petaka di Gunung Sereh Awi

    Lingga mendarat di depan Maung Beureum, Maung Hideung, dan Maung Koneng, memasang kuda-kuda. “Rencanaku berhasil.”Lingga bertukar tempat dengan tiruannya yang bersembunyi di suatu tempat sesaat sebelum ketiga pendekar siluman itu memojokkannya ke pohon besar. Selama Maung Beureum, Maung Hideung, dan Maung Koneng menyerang tiruannya, ia mempersiapkan jurus angkat bumi.Maung Beureum, Maung Hideung, dan Maung Koneng menyimak saksama ucapan seseorang di kepala mereka.“Mereka tiba-tiba terdiam. Mereka seperti sedang mendengarkan seseorang bicara,” gumam Lingga.Maung Beureum, Maung Hideung, dan Maung Koneng saling berpandangan sesaat, mengangguk. Mereka menatap tajam Lingga, berjalan mendekat.Maung Beureum berkata, “Kami baru saja mendapatkan pesan dari pemimpin kami. Jika kau memang ingin mengalahkan bangsa siluman harimau putih dan mendapatkan mustika itu, kau harus datang ke puncak Pasir Maung dan bertarung dengan pemimpin kami tengah malam nanti.”Maung Hideung berjalan lebih dekat

  • Pendekar Kujang Emas   682. Petaka di Gunung Sereh Awi

    Maung Beureum, Maung Hideung, dan Maung Koneng menyerang Lingga dalam waktu bersamaan. Gerakan mereka sangat cepat sehingga hanya terlihat bayangan merah, bayangan hitam, dan bayangan kuning yang berkelebat.Lingga bersiap dengan jurus kaki petir dan jurus harimau tangan harimau putih. Ketika serangan muncul, ia bergerak mengikuti pergerakan ketiga pendekar siluman itu.Pertarungan beralih tempat dari tanah, dahan pohon, puncak pohon hingga udara. Lingga berhasil menahan gempuran serangan musuh untuk sementara waktu. Akan tetapi, saat ketiga pendekar siluman itu menyatukan serangan, ia terdorong mundur hingga menabrak beberapa pohon sekaligus.Lingga menangkis serangan musuh dengan jurus cakar harimau putih, tetapi tubuhnya mendarat di pohon berukuran paling besar di hutan. Batang dan sulur pohon itu segera mengunci pergerakannya, terutama kaki dan tangannya.Lingga berusaha meloloskan diri, tetapi pohon itu semakin mengurungnya lebih kuat. Dalam waktu singkat, hampir setengah tubuhny

  • Pendekar Kujang Emas   681. Petaka di Gunung Sereh Awi

    Harimau putih milik Lingga menerjang dengan sangat cepat, menerkam satu per satu harimau musuh, mengisap mereka hingga menghilang.Angin berembus sangat kencang untuk ke sekian kalinya. Suara-suara aneh terdengar bersahutan dari berbagai arah.Lingga mengawasi keadaan sekeliling, mengeratkan pegangan pada kujangnya bersamaan dengan harimau miliknya yang kembali ke sisinya.“Berani sekali kau melenyapkan harimau-harimau milik kami, Manusia!” teriak sebuah suara yang bergema ke seluruh hutan.“Kami akan melenyapkanmu!” Tiga suara berkata dalam waktu bersamaan.Suara-suara itu berubah menjadi serangan-serangan berbentuk cakar harimau yang mengarah pada Lingga dari berbagai arah.Lingga dan harimaunya menghindari semua serangan dengan gesit. Dengan satu serangan kibasan kujang putih dan auman miliknya, serangan-serangan terpental ke sekeliling dan mengenai pohon-pohon yang akan menyerang.Tiga titik cahaya tiba-tiba muncul, menjelma menjadi tiga pendekar muda dengan tangan dan kaki berbul

  • Pendekar Kujang Emas   680. Petaka di Gunung Sereh Awi

    Lingga mundur selangkah, mengawasi keadaan sekeliling. Suara-suara itu sangat jelas, tetapi ia tidak bisa merasakan kehadiran seorang pun di dekatnya.“Suara-suara itu berasal dari bangsa siluman harimau putih,” gumam Lingga sembari bersiaga. “Aku harus tetap tenang.”“Manusia!” teriak suara yang paling terakhir berbicara. “Kenapa kau tidak menjawab pertanyaan kami? Apa tujuanmu datang ke wilayah kekuasaan siluman harimau putih?”“Kami tidak menerima manusia pun di wilayah ini!” Suara yang muncul pertama kali kembali terdengar bersamaan dengan embusan angin kencang.“Pergilah sekarang juga! Jika tidak, kami akan menghancurkanmu hingga tulang-tulangmu remuk dan hancur!”“Pergi!” Ketiga suara itu berkata di waktu yang bersamaan hingga menciptakan angin kencang ke arah Lingga.Lingga bergegas melompat, menepis serangan dari akar dan sulur tanaman. Angin yang sempat melewatinya kembali mengarah padanya, berubah menjadi sabit-sabit kecil.Lingga menghindari semua serangan, mendarat di tana

  • Pendekar Kujang Emas   679. Petaka di Gunung Sereh Awi

    Lingga bergegas bersiap setelah membersihkan diri di sungai. Pemuda itu mengambil sebuah tas berisi berbagai ramuan dan senjata. Setelah memastikan semuanya siap, ia keluar dari gubuk, melompat ke arah tanah lapang di mana Tarusbawa dan Limbur Kancana.“Kau terlihat sangat siap, Lingga,” ujar Limbur Kancana.“Siap tidak siap, aku harus siap, Paman.” Lingga memeriksa keadaannya sebentar, mengencangkan ikat kepala. “Ya, meski aku cukup gugup dan takut.”“Itu perasaan yang wajar, Lingga. Kau belum pernah pergi ke Sela Awi, dan bertemu dengan bangsa siluman harimau putih,” ujar Tarusbawa.Limbur Kancana menyahut, “Mereka adalah bangsa siluman yang sangat kuat. Jika kau tidak berhati-hati, kau mungkin akan gagal dalam ujian ini. Kau harus ingat jika aku dan Raka Tarusbawa tidak bisa membantumu.”Lingga mengepalkan tangan erat-erat. “Aku tidak akan gagal, Paman. Aku tidak akan menyerah hingga akhir.”“Baiklah, aku akan mengantarmu ke batas terdekat Sela Awi.”“Apakah Guru Ganawirya tidak da

  • Pendekar Kujang Emas   678. Petaka di Gunung Sereh Awi

    Kemunculan Lingga dengan pusaka Kujang Emasnya sudah mengubah kehidupan di Tanah Pasundan yang semulai sunyi, senyap, penuh kegelapan.Golongan putih yang sempat tercerai berai akhirnya memilih bersatu. Di bawah arahan Tarusbawa, Limbur Kancana, Ganawirya, dan para pemimpin tertinggi golongan putih, golongan putih dan warga mulai bersatu padu untuk mendukung Lingga.Para pendekar muda terpilih dilatih sangat keras di Gunung Padaherang di bawah bimbingan Wirayuda dan anggota lain. Tak hanya itu, padepokan-padepokan baru didirikan untuk melatih para pendekar muda dan tabib-tabib baru.Perkampungan-perkampungan baru juga dibangun di bawah perlindungan pasukan golongan putih. Anak-anak dididik untuk menjadi pendekar dan tabib, dan orang tua yang tidak bisa lagi menjadi pendekar dan tabib, berupaya membantu dengan menyiapkan beragam perlengkapan senjata seperti anak panah, tombak, busur, dan lain-lainnya.Di waktu yang sama pula, golongan hitam berkumpul di bawah kendali Nyi Genit. Siluman

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status