Masuk>>>Ternyata pendekar miskin dan hina itu seorang ksatria tangguh tak terkalahkan. Dan dia adalah Putra Mahkota Yang Terbuang, Pangeran Aryandaru Janardana Parama!<<< Blurb: Aryandaru Janardana Parama seorang Putra Mahkota dari kerajaan Badaskara yang sengaja dibuang sejak lahir karena dianggap tidak sempurna dan tak pantas menduduki tahta kerajaan Badaskara di masa depan. Setelah dewasa Aryandaru Janardana tumbuh menjadi seorang ksatria tangguh, pendekar yang malang melintang menumpas kejahatan dan ketidakadilan di rimba persilatan. Saat terjadi kekacauan di istana Badaskara, karena tidak adanya Putra Mahkota yang akan menggantikan posisi raja selanjutnya hingga kedaulatan Badaskara terancam hancur, Aryandaru Janardana Parama memutuskan kembali pulang ke asalnya dan berniat menduduki kembali kursi mahkota yang memang seharusnya menjadi miliknya sejak dilahirkan! Bagaimanakah perjuangan Aryandaru mempertahankan kedaulatan Badasakara dan mempertahankan tahta putra mahkota miliknya? >>>> BACA SEKARANG BAB SELANJUTNYA<<<< Disclaimer : ini novel asli karya iin manaf dare alias srindang bulan!
Lihat lebih banyak"Akan ada konspirasi besar, Ngger!" jawab Mpu Mahisa Purwa setengah berbisik."Jadi mereka sebenarnya masih memburuku, Eyang Guru? Hanya saja mereka tidak ada kepastian apakah aku masih hidup atau sudah berkalang tanah?" tanya Aryandaru meminta kepastian pada Mpu Mahisa Purwa.Seno Wedus manggut-manggut mendengar percakapan Aryandaru dan Mpu Mahisa Purwa. Keningnya berkerut saat teringat kebencian Raden Anggastya Condra ketika membidikkan anak panah beracun pada Aryandaru. Dia tersentak dan berkata dengan wajah cemas. "Kakang, semoga saja Raden Songong itu tidak menaruh curiga kepadamu!""Aku pun berpikir demikian, Dimas. Kurasa saat ini, Anggastya sedang mencari kebenaran kematianku. Kita harus waspada, agar rencana ini tidak gagal!" sahut Aryandaru setengah berbisik."Sebaiknya, cepat tinggalkan tempat ini, Ngger," kata Mpu Mahisa Purwa seraya beranjak. Sekedipan mata lelaki renta itu sudah kembali ke pesanggrahan Teratai Emas."Ayo, Dimas! Kita lanjutkan sandiwara ini!" ujar Aryanda
"Pengawal bodoh! Borok, kenapa kau membentakku?!" maki Raden Anggastya merasa malu teriakannya dibalas kasar oleh Pendekar bertopeng merah bergambar harimau merah. Borok, si Pendekar Bertopeng merah bergambar harimau merah itu pun langsung menjatuhkan busurnya seraya berlutut di hadapan Raden Anggastya Condra. "Ampun Gusti Pangeran, hamba hanya ingin membantumu menghabisi jongos bodoh itu." "Kenapa dia berteriak, Kakang?" bisik Seno Wedus pada Aryandaru yang nampak tenang melihat sikap Raden Anggastya Condra yang baru saja mencegah si Pendekar Borok dengan teriakannya. "Sst, ikuti saja permainan pangeran kejam itu, Dimas. Agar kita bisa pergi ke istana Badaskara secepatnya," balas Aryandaru berbisik. " Tapi Kakang, dia mau membunuhmu dengan panah beracun itu!" bisik Seno Wedus sengaja menekan suaranya. "Sudahlah. Bukankah kau mendengarnya tadi, dia bisa menyembuhkan luka anak panah beracun itu hanya dengan jurus Peluruh Jiwa tingkat terendah. Ingat, kita berdua bahkan sudah m
Tangan Aryandaru bergerak cepat menangkap anak panah beracun yang mengarah ke punggungnya lalu melontarkan kembali ke arah pemiliknya tanpa menoleh. Lemparan anak panah Aryandaru berhasil mengenai bahu kiri Raden Anggastya Condra! Pekikan kesakitan Raden Anggstya terdengar sangat nyaring hingga membuat Seno Wedus bangkit dari sisi makam. "Kakang, lanjutkan saja. Biar Aku saja yang menghadapi mereka." Aryandaru tak menjawab. Hatinya saat ini sangat sakit. Kerinduan yang tak bisa berbalas sangat kuat dihatinya. Dia mengeluh lirih di sisi makam Dewi Anjani. "Biyung, bila rindu seorang anak akan hilang saat bertemu dengan ibunya. Tapi aku, hanya bisa menemukan makammu saja. Rasanya takkan bisa puas sampai kapanpun." Hati Seno Wedus trenyuh mendengar ucapan Aryandaru barusan. Dia gegas melesat ke arah para penyerang yang berada tak jauh dari tempat itu seraya berteriak marah. "Bangsat kalian! Cepat tunjukkan wajah kalian semua!" Namun baru saja Seno Wedus memasang beberapa langkah k
"Cepat serahkan penyusup yang kalian sembunyikan!" ujar salah satu penggawa seraya menghunus tombak pada Aryandaru.Semua orang terkejut melihat tiga penggawa kerajaan membentak kasar dengan senjata terhunus. Terlihat Aryandaru hendak menjawab. Namun Mpu Mahisa Purwa lebih dulu bangkit dari amben dan gegas menghampiri ke arah pintu."Lancang! Kalian sudah salah orang! Siapa yang kalian tuduhkan itu? Apa Mahaguru Mahisa Purwa kalian anggap penjahat di Badaskara!" ucap Mahaguru Mpu Mahisa Purwa lantang dengan kedua tangan menyilang di atas bokongnya."Apa? Tidak mungkin! Telik sandi Selir Puspita sudah melapor semalam ada rombongan penyusup dari dukuh Pilar!" balas si Penggawa bersikeras.Seno Wedus nampak geram. Dia membisiki Aryandaru dengan pesan telepatinya. "Kakang, para pengawal yang berdatangan pagi buta ini ternyata antek-anteknya Selir Puspita. Sebaiknya kita habisi saja!"Aryandaru menggeleng pelan dengan sorot mata penuh arti pada Seno Wedus. Raut wajahnya mendadak berubah sep






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan