로그인Demi berbakti pada guru yang sangat dihormati. Kupu Kupu Putih berangkat menuju tiga bukit yang terdapat di pantai utara. Sejauh ini dia belum mengetahui bahwa Penyihir Racun Utara telah tewas terbunuh di tangan sahabatnya sendiri yang tak lain adalah Sang Maha Sesat.
"Aku telah penuhi permintaan kalian." Berkata dara cantik jelita itu sambil menatap tiga pengawal yang duduk bersimpuh di depannya.
Tiga pengawal tundukkan kepala tak berani menatap. Kupu Kupu Putih tersenyum. Seke
"Gusti ayu. Ketika saya menyeberang ke bukit induk dan menuju ke bagian puncaknya. Saya tidak menemukan apa-apa di sana. Tapi saya merasa tanda-tanda ada kehadiran orang lain di tempat itu sebelum saya datang. Selain itu saya menemukan sebuah lubang seukuran bocah kecil, Lobang itu rasanya berhubungan langsung pada suatu tempat di perut bukit."Menerangkan Maut Merah dengan hati-hati."Begitu?" Desah Kupu Kupu Putih.Sepasang alisnya terangkat naik. Dada yang menyembul ketat di balik gaun tipisnya bergerak turun naik. Dia mondar-mandir di depan para penjaganya. Kembali ke tempat semula dara jelita ini ajukan pertanyaan."Lobang.. menghubungkan sebuah tempat di perut bukit?" Gumamnya."Apa mungkin di dalam bukit induk ada sebuah gua tempat menyimpan senjata yang kita cari?""Kemungkinan itu bisa saja terjadi gusti Ayu." Sela Maut Hijau yang sedari tadi diam saja."Kalau benar. Mengapa kita tidak menemukan jalan masuk menuju gua?" Kata
Angin Pesut terdiam. Mata terpejam, sedangkan mulut berkemak-kemik. Selesai membaca sesuatu dia mengetuk keningnya tiga kali. Tak lama tangan diturunkan. Mata yang terpejam dibuka."Aku yakin dia sudah berada disini. Aku melihat Satu seorang pemuda dan satunya lagi seorang kakek botak tubuhnya pendek." Terang Angin Pesut yang baru saja melakukan penjajakan jarak jauh."Bagaimana kau yakin.""Maksudmu?" Tanya Angin Pesut tak mengerti"Ya. Maksudku bagaimana kau yakin orang yang kau lihat adalah orang yang kita maksud?""Aku cuma menduga saja. Raja pasti seorang laki-laki. Kalau perempuan sebutannya puteri atau ratu."Dewi Harum mengangguk sambil tersenyum.Tak lama keduanya pun terdiam sambil memperhatikan keadaan disekitarnya.-o0o-Menjelang tengah malam beberapa saat sebelum bulan purnama berada di titik tertingginya. Gumpalan mendung yang menyaput langit hilang lenyap tidak meninggalkan bekas. Langit terlihat biru dihiasi gemerlap bintang. Cahaya bulan kuning kemilau menerangi selu
"Aku tahu. Orang yang berhak mewarisi senjata itu adalah pewaris tahta Istana Pulau Es. Aku belum pernah bertemu orangnya. Kita hanya diberi tahu bahwa orang yang harus kita bantu bernama Angon Luwak dikenal dengan sebutan Pendekar Sinting atau Dewa dari Istana Es. Bagaimana rupa pemuda itu kita belum pernah melihatnya""Ya. Siapa saja nanti yang muncul disini asalkan bernama Angon Luwak tak perduli apakah dia Pendekar Sinting, Pendekar Gila, Pendekar Penyamun, Pendekar Pengintip atau Pendekarnya para maling asal namanya Saka Buana pasti kita dukung" Kata Angin Pesut sambil mengulum senyum.Dewi Harum ikutan tersenyum. Tapi senyum sang dara lenyap, pandangan matanya tertuju lurus ke arah beberapa gundukan karang tak jauh dari bukit induk."Lihat saudaraku," Kata Dewi Harum dengan suara lirih sementara tangan menggamit lengan kakek berusia tiga ratus tahun itu. Angin Pesut menoleh sekaligus menatap ke arah yang ditunjuk saudari angkatnya. Bertubuh tinggi besar, b
"Terimalah hormat kami wahai paduka penolong. Kami semua siap menjadi pelayanmu dan patuh terhadap semua perintah." Kata orang-orang itu sambil bungkukkan tubuh dalam-dalam.Sang Maha Sesat tertawa tergelak-gelak. Sambil mengumbar tawa dia berucap."Bagus! Sudah sepatutnya kalian semua membalas budi hutang nyawa kepadaku. Siapa saja yang membangkang pasti kubunuh. Jika bukan karena kemurahan hatiku kalian saat Ini pasti masih mendekam dalam tawanan gadis aneh Dewi Harum.""Kami bisa menerima, apa yang paduka penolong katakan memang benar adanya. Maka sebagai balas budi yang telah paduka berikan pada kami.Kami semua siap berbakti dan mengabdi sampai mati." Kata salah seorang di antara mereka mewakili teman-temannya.Sang Maha Sesat tertawa tergelak-gelak. Tapi dia tidak percaya begitu saja dengan segala janji kesetiaan bekas tawanan ‘Kejahatan Dunia Persilatan’ itu. Setelah tawanya terhenti Sang Maha Sesat mengambil sebuah kantong merah dari ba
"Tapi aku masih belum mengerti mengapa dia membawa pemuda itu?""Guru. Bukankah aku telah mengatakan padamu. Pemuda berambut kemerahan yang bersama kakek kerdil itu adalah pemuda yang telah membuat Golok Terbang Cambuk Api dan empat anak buahnya jadi pecundang? Dia mengaku bernama Angon Luwak. Ya. Dialah yang dijuluki Dewa dari Istana Es."Terang Untari membuat Hyang Kelam terkaget-kaget."Murid bodoh. Mengapa waktu itu kau tidak mengatakan apa julukannya? Kau cuma mengatakan dia bernama Angon Luwak." Geram Hyang Kelam."Sst. Jangan marah-marah. Nanti mereka mendengar suara kita. Lagi pula apa artinya sebuah julukan?" Tanya sang murid."Mengapa takut. Kita berada di alam gaib. Mereka tak bisa mendengar suara kita walau kita menjerit keras." Dengus Hyang Kelam.Setelah menghela nafas Hyang Kelam melanjutkan ucapan. "Kau masih belum mengerti juga? Jika dia mempunyai sebutan Dewa dari Istana Es. Artinya dia berasal dari Istana itu.""Apa
Begitu tangan terlepas dari genggaman Untari terlihat kembali. Gadis itu memperhatikan sekelilingnya. Tak jauh di depan dia melihat dua altar. Satu simbol bintang pada altar pertama juga patung.Patung seekor burung Rajawali Emas.Baik Untari maupun Hyang Kelam sampai saat itu tak pernah menyadari bahwa Rajawali Emas yang berdiri di altar kedua bukanlah patung tapi mahluk hidup yang bernafas dan memperhatikan gerak gerik mereka."Menurut saya ini adalah sebuah tempat yang aneh.Tidak terlihat tanda tanda pedang pusaka disembunyikan di tempat ini." Ucap Untari."Benda yang kita cari memang ada di tempat ini. Aku yakin sekali. Sekarang aku akan melakukan pemeriksaan!" Kata Hyang Kelam masih dalam ujud gaibnya.Angin menderu disertai suara berdesir, menyapu ke segenap penjuru ruangan lalu kembali ke tempat semula."Bagaimana guru?" Tanya Untari kepada Hyang Kelam yang telah berdiri di sebelahnya."Aku telah memeriksa setiap sudut tempat i







