Kehidupan Kelima Sang Antagonis

Kehidupan Kelima Sang Antagonis

last updateLast Updated : 2026-01-20
By:  FortunataOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
8Chapters
12views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Sarah, seorang akuntan biasa di perusahaan multinasional harus masuk ke dunia novel "Lilia". Sarah menjadi Aveline, tokoh antagonis di novel ini. Sarah sudah mati empat kali akibat tuduhan pembunuhan Saintess Lilia. Tentu saja Sarah tidak pernah melakukan itu. Cita-cita Sarah adalah ingin bertahan hidup dan menjadi wanita pengangguran kaya raya. Namun, di kehidupan kelima, Sarah diberitahu bahwa cara untuk bertahan hidup adalah membunuh Saintess Lilia dengan tangannya sendiri. Sarah bukan pembunuh, mampukah dia melakukannya?

View More

Chapter 1

Bab 1

Wahai rakyatku sekalian! Lihatlah!” suara Pangeran Edward menggema, memantul di dinding batu alun-alun.

Inilah wanita hina yang telah membunuh Saintess Lilia! Wanita terkutuk ini telah menghilangkan saintess yang kita sayangi—saintess yang membawa kemakmuran bagi kita semua…!

Pidato itu menjadi aba-aba dimulainya selebrasi hukuman mati.

Alun-alun ibu kota Kerajaan Elseve telah sesak oleh lautan manusia. Bau keringat, debu, dan kemarahan bercampur di udara.

Wajah-wajah penuh kebencian menatap satu titik di tengah panggung eksekusi. Penyihir yang membunuh saintess Lilia ini juga harus mati!

Nyawa harus dibayar dengan nyawa!

“Kenapa kau tega sekali membunuh Saintess Lilia?! Bukankah beliau selalu baik padamu?” teriak seseorang dari kerumunan.

“Saintess yang malang! Mengapa dia harus mengasihi orang sepertimu juga?!”

“Kembalikan Saintess Lilia!”

“Wanita jalang yang penuh iri hati! Tidak pantas hidup sebagai bangsawan!”

“Mengapa kau tidak mati dari dulu saja?!”

“Mengapa kau harus terlahir dan menyusahkan kami semua?!”

Teriakan-teriakan itu datang silih berganti, berharap nyawa Aveline akan hilang hanya dengan cacian saja.

Pangeran Edward tidak berusaha menghentikannya. Ia justru tersenyum tipis—sinis dan dingin.

Bola matanya yang cokelat menatap Aveline dengan jijik.

Aveline berdiri diam di tengah guillotine. Tangannya terikat, tubuhnya lemah, namun pandangannya tetap tegak—tertuju pada satu orang.

Ashford.

Pria yang ia cintai duduk di antara para bangsawan, wajahnya datar, tatapannya dingin—berharap eksekusi mati ini tidak tertunda lebih lama lagi. Ashford tidak ingin melihat Aveline yang masih bernafas.

Tatapan itu menusuk lebih dalam daripada hinaan orang-orang saat ini. Hati Aveline terasa perih, serasa ditusuk perlahan.

Bagi para bangsawan tua, Aveline tak lebih dari hiburan menyedihkan. Alat sempurna untuk menghancurkan Duke Clement—bangsawan kaya yang selama ini membuat mereka iri.

Dengan kematian Aveline, semua yang telah Duke Clement bangun akan runtuh dan dapat direbut dengan mudah.

Dan Duke Clement sendiri—ayah kandungnya—bahkan tidak hadir.

Ia terlalu malu memiliki anak seperti Aveline.

Membunuh Saintess Lilia adalah kejahatan besar.

Saintess dengan anugerah penyembuhan dan penjernihan limbah adalah pilar utama Kerajaan Elseve. Tanpanya, Kerajaan terbelakang ini tidak akan bertahan.

Dan ketika seorang saintess wafat, penggantinya tidak serta-merta muncul. Dalam dua generasi sebelumnya, dibutuhkan puluhan tahun sebelum saintess baru terlahir.

“Apa tidak ada kata terakhir yang ingin kau sampaikan?” tanya Pangeran Edward, suaranya terdengar seolah penuh belas kasih.

“Pengakuan dosa, mungkin? Siapa tahu, dengan itu, Dewa akan sedikit berbelas kasih dan meringankan hukumanmu.”

Aveline mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke arah Edward.

Pangeran itu bergidik sesaat.

Wanita yang dulu selalu tampil anggun kini tampak sangat lusuh. Rambut halusnya kusut, dengan bagian-bagian botak akibat siksaan penjara. Wajah cantiknya penuh luka, dan beberapa giginya telah hilang.

Pemandangan itu justru membuat Edward tersenyum mengejek.

“Aku tidak bersalah,” ujar Aveline tegas.

Faktanya, ia memang tidak membunuh Saintess Lilia.

Selama bertahun-tahun, Aveline telah mengasingkan diri dari urusan Duke Clement maupun politik Kerajaan Elseve. Ia memilih hidup tenang, jauh dari istana dan segala tanggung jawab bangsawan.

Saat Saintess Lilia diracun, Aveline sedang merangkai bunga di rumah kecilnya di pinggir desa.

Namun, jawaban Aveline hanya menjadi percikan api.

Rakyat semakin murka. Batu-batu beterbangan, menghantam tubuh Aveline. Rasa sakit itu akhirnya meruntuhkan pertahanannya.

Aveline jatuh tersungkur, air mata mengalir deras dari matanya.

Ia kembali menatap Ashford—memohon, berharap, mencari secercah belas kasih.

Tak ada.

Mulai!!!” teriak Edward lantang.

Dalam sekejap, bilah guillotine jatuh memenggal kepala Aveline.

Aveline Feliz Clement langsung tewas di tempat.

***

“Haah… haah… haaah…!”

Aveline terbangun dengan nafas tersengal. Tangannya refleks meraba leher, seolah masih merasakan dinginnya bilah besi. Ia bangkit tergesa dan berlari menuju cermin, memeriksa leher, rambut, juga giginya.

Semuanya utuh.

Tidak ada luka sedikit pun.

Kakinya melemas. Aveline terkulai di lantai, lalu menangis dan menjerit sejadi-jadinya, tubuhnya gemetar hebat.

“Nona… nona… ada apa, nona?” tanya Vivia panik.

Vivia, yang terkejut mendengar tangisan tuannya, menerobos masuk ke kamar tanpa berpikir panjang.

“Vi… Vivi juga masih hidup…” Aveline terisak, lalu menangis semakin keras.

“Huuuu… huwwwaaaaa…!”

“Nona… nona kenapa?” Vivia segera jongkok, membantu Aveline untuk duduk.

Aveline tidak menjawab. Ia hanya memeluk Vivia erat, ia takut semuanya akan menghilang jika ia melepasnya. Aveline takut ini semua ini hanya mimpi.

Vivia akhirnya berhenti bertanya.

Ia hanya mengelus pundak Aveline, menenangkannya perlahan—meski ia tahu, setelah ini Aveline mungkin akan memukulnya karena telah lancang menyentuh tubuh seorang bangsawan.

“Nona sudah lebih tenang?” tanya Vivia pelan saat tangisan Aveline mulai mereda.

Aveline tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangannya perlahan.

Vivia pun memejamkan mata, bersiap menerima tamparan.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status