LOGINSarah, seorang akuntan biasa di perusahaan multinasional harus masuk ke dunia novel "Lilia". Sarah menjadi Aveline, tokoh antagonis di novel ini. Sarah sudah mati empat kali akibat tuduhan pembunuhan Saintess Lilia. Tentu saja Sarah tidak pernah melakukan itu. Cita-cita Sarah adalah ingin bertahan hidup dan menjadi wanita pengangguran kaya raya. Namun, di kehidupan kelima, Sarah diberitahu bahwa cara untuk bertahan hidup adalah membunuh Saintess Lilia dengan tangannya sendiri. Sarah bukan pembunuh, mampukah dia melakukannya?
View More“Wahai rakyatku sekalian! Lihatlah!” suara Pangeran Edward menggema, memantul di dinding batu alun-alun.
“Inilah wanita hina yang telah membunuh Saintess Lilia! Wanita terkutuk ini telah menghilangkan saintess yang kita sayangi—saintess yang membawa kemakmuran bagi kita semua…!”Pidato itu menjadi aba-aba dimulainya selebrasi hukuman mati.
Alun-alun ibu kota Kerajaan Elseve telah sesak oleh lautan manusia. Bau keringat, debu, dan kemarahan bercampur di udara.
Wajah-wajah penuh kebencian menatap satu titik di tengah panggung eksekusi. Penyihir yang membunuh saintess Lilia ini juga harus mati!
Nyawa harus dibayar dengan nyawa!
“Kenapa kau tega sekali membunuh Saintess Lilia?! Bukankah beliau selalu baik padamu?” teriak seseorang dari kerumunan.
“Saintess yang malang! Mengapa dia harus mengasihi orang sepertimu juga?!”
“Kembalikan Saintess Lilia!”
“Wanita jalang yang penuh iri hati! Tidak pantas hidup sebagai bangsawan!”
“Mengapa kau tidak mati dari dulu saja?!”
“Mengapa kau harus terlahir dan menyusahkan kami semua?!”
Teriakan-teriakan itu datang silih berganti, berharap nyawa Aveline akan hilang hanya dengan cacian saja.
Pangeran Edward tidak berusaha menghentikannya. Ia justru tersenyum tipis—sinis dan dingin.
Bola matanya yang cokelat menatap Aveline dengan jijik.
Aveline berdiri diam di tengah guillotine. Tangannya terikat, tubuhnya lemah, namun pandangannya tetap tegak—tertuju pada satu orang.
Ashford.
Pria yang ia cintai duduk di antara para bangsawan, wajahnya datar, tatapannya dingin—berharap eksekusi mati ini tidak tertunda lebih lama lagi. Ashford tidak ingin melihat Aveline yang masih bernafas.
Tatapan itu menusuk lebih dalam daripada hinaan orang-orang saat ini. Hati Aveline terasa perih, serasa ditusuk perlahan.
Bagi para bangsawan tua, Aveline tak lebih dari hiburan menyedihkan. Alat sempurna untuk menghancurkan Duke Clement—bangsawan kaya yang selama ini membuat mereka iri.
Dengan kematian Aveline, semua yang telah Duke Clement bangun akan runtuh dan dapat direbut dengan mudah.
Dan Duke Clement sendiri—ayah kandungnya—bahkan tidak hadir.
Ia terlalu malu memiliki anak seperti Aveline.Membunuh Saintess Lilia adalah kejahatan besar.
Saintess dengan anugerah penyembuhan dan penjernihan limbah adalah pilar utama Kerajaan Elseve. Tanpanya, Kerajaan terbelakang ini tidak akan bertahan.
Dan ketika seorang saintess wafat, penggantinya tidak serta-merta muncul. Dalam dua generasi sebelumnya, dibutuhkan puluhan tahun sebelum saintess baru terlahir.
“Apa tidak ada kata terakhir yang ingin kau sampaikan?” tanya Pangeran Edward, suaranya terdengar seolah penuh belas kasih.
“Pengakuan dosa, mungkin? Siapa tahu, dengan itu, Dewa akan sedikit berbelas kasih dan meringankan hukumanmu.”Aveline mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke arah Edward.
Pangeran itu bergidik sesaat.
Wanita yang dulu selalu tampil anggun kini tampak sangat lusuh. Rambut halusnya kusut, dengan bagian-bagian botak akibat siksaan penjara. Wajah cantiknya penuh luka, dan beberapa giginya telah hilang.
Pemandangan itu justru membuat Edward tersenyum mengejek.
“Aku tidak bersalah,” ujar Aveline tegas.
Faktanya, ia memang tidak membunuh Saintess Lilia.
Selama bertahun-tahun, Aveline telah mengasingkan diri dari urusan Duke Clement maupun politik Kerajaan Elseve. Ia memilih hidup tenang, jauh dari istana dan segala tanggung jawab bangsawan.
Saat Saintess Lilia diracun, Aveline sedang merangkai bunga di rumah kecilnya di pinggir desa.
Namun, jawaban Aveline hanya menjadi percikan api.
Rakyat semakin murka. Batu-batu beterbangan, menghantam tubuh Aveline. Rasa sakit itu akhirnya meruntuhkan pertahanannya.
Aveline jatuh tersungkur, air mata mengalir deras dari matanya.
Ia kembali menatap Ashford—memohon, berharap, mencari secercah belas kasih.
Tak ada.
“Mulai!!!” teriak Edward lantang.
Dalam sekejap, bilah guillotine jatuh memenggal kepala Aveline.
Aveline Feliz Clement langsung tewas di tempat.
***
“Haah… haah… haaah…!”
Aveline terbangun dengan nafas tersengal. Tangannya refleks meraba leher, seolah masih merasakan dinginnya bilah besi. Ia bangkit tergesa dan berlari menuju cermin, memeriksa leher, rambut, juga giginya.
Semuanya utuh.
Tidak ada luka sedikit pun.
Kakinya melemas. Aveline terkulai di lantai, lalu menangis dan menjerit sejadi-jadinya, tubuhnya gemetar hebat.
“Nona… nona… ada apa, nona?” tanya Vivia panik.
Vivia, yang terkejut mendengar tangisan tuannya, menerobos masuk ke kamar tanpa berpikir panjang.
“Vi… Vivi juga masih hidup…” Aveline terisak, lalu menangis semakin keras.
“Huuuu… huwwwaaaaa…!”“Nona… nona kenapa?” Vivia segera jongkok, membantu Aveline untuk duduk.
Aveline tidak menjawab. Ia hanya memeluk Vivia erat, ia takut semuanya akan menghilang jika ia melepasnya. Aveline takut ini semua ini hanya mimpi.
Vivia akhirnya berhenti bertanya.
Ia hanya mengelus pundak Aveline, menenangkannya perlahan—meski ia tahu, setelah ini Aveline mungkin akan memukulnya karena telah lancang menyentuh tubuh seorang bangsawan.
“Nona sudah lebih tenang?” tanya Vivia pelan saat tangisan Aveline mulai mereda.
Aveline tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangannya perlahan.
Vivia pun memejamkan mata, bersiap menerima tamparan.
“Tentu saja kami sedang mengingat Clement yang terpaksa berlutut di bawah kaki rakyat jelata,” jawab Lucy Moeir dengan senyum lembutnya.Serigala berbulu domba itu lagi…Perut Aveline langsung terasa mual.Ada hari-hari tertentu ketika ia benar-benar ingin mencakar wajah Lucy. Gadis itu terlalu berbakat dalam akting. Jika ada penghargaan aktris terbaik, Lucy pasti sudah membawa pulang pialanya berkali-kali.Wajahnya akan terpasang di berbagai baliho mewakili brand-brand besar.Muak!Sayangnya, Aveline tidak bisa mencakarnya sekarang.Akan sia-sia jika mereka sadar bahwa ia mengetahui semuanya.“Oohh…”Louie terlihat datar.Tidak heran.Tidak terkejut.Yahh… Datar saja. Seolah sudah mendengar cerita itu berkali-kali.Apakah dia sudah tahu dari lama? Bisa-bisanya aku kecolongan hal seperti ini – batin Aveline.Tatapan Aveline berubah dingin.Wajahnya perlahan mendidih, amarahnya meluap-luap. Ia tidak pernah mengganggu Louie bahkan.Tidak, bukan hanya Louie. Aveline bahkan tidak menjahat
Mendengar itu, Aveline berniat bangkit untuk menutup pintu ruang klub. Namun, sebelum ia sempat melangkah, Miller yang peka terhadap situasi sudah lebih dulu berdiri.Tanpa sepatah kata yang terucap, pria itu berjalan keluar lalu menutup pintu dengan tenang.Klik.Pintu tertutup rapat.Peka sekali dia - batin Aveline sambil melirik sekilas ke arah Miller yang kini berdiri di luar.“Apa maksud Anda, Yang Mulia?” tanya Aveline saat pintu tertutup sempurna.Ashford mengembuskan napas pelan.“Aku tidak bisa mempercayai putra Duke Ameron…”Kau memang tidak seharusnya percaya padanya. Dia pemegang tahta tertinggi dalam menghabiskan uang negara. Uang yang susah payah dikumpulkan oleh keluarga Clement.Aveline menahan diri agar tidak mengejek Ashford.“Mengapa Anda tidak mempercayai Louie Ameron?” tanyanya lagi, mencoba lebih tenang.Ashford duduk di sofa dan menyandarkan tubuhnya.“Aku curiga karena buku keuangannya terlalu rapi.”Aveline terdiam.Ia tidak menyela.“Awalnya aku tidak mencuri
"Aku... aku sembuh!""Aku sembuh!"Suara penuh kegembiraan memenuhi ruangan yang sebelumnya hanya terisi ratapan dan rasa putus asa.Warga desa saling memanggil, mencari, saling menangis, dan saling memastikan bahwa keajaiban yang baru saja terjadi itu benar-benar nyata.Di tengah keramaian itu, Eren merasakan secercah harapan yang selama ini padam.Meski jauh di lubuk hati ia tahu bahwa “sembuh” adalah terminologi yang mustahil terjadi padanya, ia tetap menunduk dan menatap kakinya.Tangannya yang gemetar perlahan menyentuh bagian tubuh yang sebelumnya membusuk. Berulang kali ia mengusap mata dengan cukup keras.Mata Eren membelalak sepenuhnya saat melihat bagian yang hitam dan rusak itu perlahan beregenerasi.Kulit baru tumbuh.Daging yang rusak kembali pulih."Apa ini..." ucap Eren terisak.Air matanya langsung mengalir tanpa bisa ditahan.Jika ini mimpi, ia sungguh tidak ingin bangun.
"Apakah benar-benar tidak ada cara lain?" gumam Aveline pelan, suaranya nyaris tenggelam di tengah suasana kacau ini.Dokter senior itu hanya menatapnya sekilas dan langsung membalikkan punggung. Ia sendiri juga tidak bisa berbuat apa-apa. Meski saintess bisa melakukan sesuatu, ia tak mungkin memaksa saintess, bisa-bisa saintess ambruk.Sang dokter kembali fokus pada pekerjaannya—mengobati yang bisa ia tangani sekarang, tangannya bergerak cepat menyiapkan alat-alat operasi tanpa jeda.Aveline menunduk.Dadanya kian perih.Sesak.Semakin lama terasa semakin sakit.Seberat inikah konsekuensi yang harus ia tanggung?Tapi... ini semua salah Ashford. Pria itu yang lebih dulu menghinanya.Lalu... kenapa?Kenapa tidak ada hukuman bagi pemeran utama yang jahat? Apakah karena dia pemeran utama maka dia bisa terampuni?Kenapa selalu villain yang harus menanggung semuanya?Bibir Aveline menegang.Rasa muak perlahan memenuhi dirinya.Ia bahkan mulai bertanya dalam hati—Kapan semua ini akan berak
Hidup sebagai Aveline membuat Sarah terbiasa dengan perang.Darah dan mayat bukanlah sesuatu yang membuatnya ngeri lagi.Hanya saja, kali ini—Korban berjatuhan… karena keputusan yang ia ambil.Dada Aveline terasa sesak.[ Apa rencanamu? Apa k
Aveline berbalik untuk pergi, langkahnya cepat dan tegas.Di dalam kepalanya ia benar-benar reka adegan berkali-kali dimana ia menjulurkan jari tengah tepat di depan wajah Ashford dan Lucy.Namun, kepergiannya tentu saja tidak mulus seperti yang diharapkan. Kerumunan murid menghalangi jalan Aveline
"Dari awal pun aku sudah mengerti. Kau tidak perlu menjelaskan padaku sedemikian rupa," ucap Ashford kesal.“Aku tahu kau pasti mengerti. Hanya saja penjelasanku tertuju pada Duvon bodoh itu!” gerutu Aveline dalam hati, menahan keinginan untuk menyemburkan kalimatnya.
Ashford terdiam sejenak. Tak lama kemudian, senyumnya berubah sumringah."Itu merupakan ide brilian..." ucap Ash penuh kekaguman.Ewh... Itu standar! Pengetahuan umum! Bukan brilian!Aveline hanya tertawa kecil, canggung. Ia mengalihkan pandangannya, tidak ingin menanggapi lebih jauh pujian yang me






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews