تسجيل الدخولSenopati menggeleng seolah berusaha mengingkari semua kenyataan yang dilihatnya. Tapi ketika semua ciri korban yang tewas dengan kondisi yang tak jauh berbeda. Sebagaimana pengakuan si Mata Bara.
Senopati merasa tidak ada gunanya menutupi kenyataan.
"Lima tumenggung, penguasa lima wilayah dalam kekuasaan gusti semua tewas, bersama keluarganya gusti.” Terang laki-laki itu dengan suara lirih.
Dengan perlahan diucapkan namun bagi adipati keterangan senopatinya tak ubah
Senopati menggeleng seolah berusaha mengingkari semua kenyataan yang dilihatnya. Tapi ketika semua ciri korban yang tewas dengan kondisi yang tak jauh berbeda. Sebagaimana pengakuan si Mata Bara.Senopati merasa tidak ada gunanya menutupi kenyataan."Lima tumenggung, penguasa lima wilayah dalam kekuasaan gusti semua tewas, bersama keluarganya gusti.” Terang laki-laki itu dengan suara lirih.Dengan perlahan diucapkan namun bagi adipati keterangan senopatinya tak ubah seperti lima tusukan senjata berbisa yang menembus jantungnya.Dia terkesima.Mata mendelik.Menatap ke arah senopati seolah tak percaya dengan pendengaran sendiri."Semua terbantai. Gila! ini kenyataan yang sulit kuterima," dengus adipati dengan nafas mengengah. Pertanda laki-laki itu sedang dilanda kemarahan luar biasa."Kau sudah bertemu atau setidaknya sudah melihat pembunuh keparat itu? Atau mungkin kau melihat pembunuh itu keluar dari gedung keluarga?!"
Satu kejadian yang sulit dipercaya membuat senopati Gagak Panangkaran belalakkan matanya. Tanpa terduga dengan mudah serangan senopati itu dihindari lawan.Bahkan senopati tidak sempat melihat kapan Mata Bara berkelit menghindar. Yang jelas tahu-tahu si Mata Bara telah berada di belakangnya.Secepat kilat dia balikkan badan sekaligus kiblatkan senjata dalam genggaman. Namun secepat apapun serangan bertenaga dalam tinggi dia lakukan tetap saja gerakannya kalah cepat dengan pukulan yang dilakukan si Mata Bara.Blek!Satu pukulan yang mengarah di wajah yang disusul dengan tamparan keras ke bagian bahu senopati mendarat telak, membuat senopati terjungkal dengan wajah seperti remuk, hidung mengucurkan darah dan bahu sakit laksana ditindih batu sebesar kerbau.Penuh kemarahan sambil menggerung akibat menahan sakit luar biasa. Dengan tubuh termiring-miring laki-laki ini bangkit. Jelalatan dia memperhatikan sekelilingnya.Dia tidak melihat si Mata B
ANGIN MENDERU.Kilat dan petir sambung menyambung tiada henti. Hingga larut malam hujan lebat yang mengguyur kadipaten Blora belum juga menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Padahal luapan air sungai telah menggenang dimana-mana.Di tengah suasana alam yang tidak bersahabat. Dalam sebuah gedung megah tempat kediaman adipati dan pati kerabatnya justru terjadi peristiwa yang menggemparkan.Beberapa kerabat adipati Seta Kurana termasuk istri dan dua putrinya tewas menemui ajal dengan kondisi mengenaskan. Enam pengawal yang bertugas di tempat kediaman keluarga juga tak luput dari kematian.Adalah senopati Gagak Panangkaran orang yang paling pertama mengetahui terjadinya malapetaka ini. Saat itu senopati gagah berpakaian serba hitam berusia sekitar empat puluh tahun baru saja kembali dari beberapa wilayah katemenggungan yang masih berada di bawah pemerintahan adipati Blora.Pada saat senopati bersama rombongan kecil memasuki pintu gerbang utama. Dia yang
Sama seperti yang dialami sahabatnya. Begitu tangan Hyang Kelam terjulur memanjang. Dari setiap kuku jarinya yang berubah menjadi akar merambat hidup. Akar-akar aneh yang bercabang-cabang itu langsung menyerang leher dan berusaha melibatnya juga berusaha menggelung dua tangan dan kaki Pendekar Sinting.Pemuda ini terkesima. Tapi segera lambungkan diri ke udara. Tak disangka akar-akar itu terus mengejar kemana pun dirinya bergerak. Dengan kecepatan gerak yang sangat luar biasa, Pendekar Sinting berjumpalitan tiga kali lalu jejakkan kaki di atas gundukan batu tinggi di ujung gua.Ketika melihat akar-akar menyambar ke arahnya. Berturut-turut dia melepaskan pukulan Seribu Jejak Kematian dan Gelombang Badai Laut Merah. Untuk diketahui, pukulan sakti Seribu Jejak Kematian adalah pemberian Tabib Tangan Dewa Dari Pulau Hantu. Sedangkan Gelombang Badai Laut Merah adalah pemberian Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul.Menggunakan salah satu ilmu pukulan sakti itu saja akibatnya s
Sementara itu Pendekar Sinting hentikan tawanya. Sekali melirik pada sahabatnya dia segera tahu pasti Bocah Ontang Anting yang telah berlaku jahil dengan meletakkan pakaian dan benda-benda di dalam kotak. Walau demikian dia tetap berkata."Mahluk alam roh bertubuh seperti tengkorak dan batang pohon. Aku tidak merasa telah meletakkan benda atau sepotong tulisanpun dalam kotak yang kau bawa lari. Kalaupun itu dilakukan oleh sahabatku. Maka kukira semuanya wajar. Temanku mungkin tahu kau suka dengan pakaian dalam wanita. Jadi apa salahnya bila temanku Bocah Ontang Anting memberimu tanda kenang-kenangan?"Hyang Kelam keluarkan suara seperti kerbau disembelih. Matanya yang cekung menjorok ke dalam rongga mendelik besar. Tubuhnya yang hanya berupa kulit pembalut tulang bergetar hebat pertanda kemarahannya sudah sampai ke ubun-ubun. Selagi Hyang Kelam diamuk amarah.Bocah Ontang Anting dengan agak ragu-ragu membuka mulut."Hyang Kelam, Mahluk jelek sedunia. Aku
"Kumohon. Tolong aku. Aku bersedia melakukan apa saja bila kalian mau menolongku," Kata Kupu Kupu Putih meratap. Momok Laknat menatap ke arah Puteri Pemalu."Bagaimana menurutmu?" Tanya si nenek pada sahabat pendampingnya."Hmm, baiklah kita bawa saja. Kita tolong dia, lalu kita sembuhkan. Setelah sembuh aku punya pekerjaan untuknya sebagai balas budi yang kita berikan." Ujar Puteri Pemalu.Walau sempat ragu. Namun ketika melihat Kupu Kupu Putih tidak sadarkan diri lagi Momok Laknat segera menyambar tubuh si gadis."Cepat kita minggat dari sini. Aku tak mau dua kunyuk jantan yang sedang berkelahi itu melihat kita. Aku takut mereka menyerang kita dengan pedang tumpul! Hik hik hik!""Pedang tumpul apaan nek?" Tanya Puteri Pemalu."Dasar bodoh. Pedang tumpul termasuk Pedang Pusaka Istana Es juga! Hik hik hik!"Berkata begitu sambil memanggul Kupu Kupu Putih di bahu kirinya Momok Laknat berkelebat. Puteri Pemalu segera mengikuti. Di tenga
"Puah. Kau hendak bertanya apa setelah membunuh Elang Mata Juling?" Bentak si kakek tak kalah sengitnya.Melihat Bocah Ontang Anting mulai terpancing kemarahannya, Ratu Lintah pun tertawa tergelak-gelak. Dengan suara angker dia menyela."Aku terpaksa membunuh sahabatmu karena dia ta
"Temukan siapapun bangsatnya yang telah membunuh sahabatku Elang Mata Juling. Begitu kau dapatkan seret dia kemari, mengerti!" Kata si kakek.Seolah mempunyai nyawa, telinga, pikiran dan hati. Anak panah ini bergoyang-goyang ke atas dan ke bawah tiga kali berturut-turut. Panah pun kemudian
Bocah tua memperbaiki posisi duduknya yang miring. Akibat terlalu kekenyangan membuat mata orang tua ini tak bisa diajak bermufakat. Dia mengantuk berat. Perlahan mata yang belo itu terpejam. Tapi belum sempat tidur si kakek diusik mimpi. Tiba-tiba kepalanya yang sulah itu terasa dingin. Seperti
Penjelasan si kakek membuat Untari kerutkan keningnya. Gadis cantik ini pun cepat berujar. ”Guru, bukankah kau mengaku belum pernah melihat atau bertemu muka dengannya. Bagaimana guru bisa mengatakan yang sering muncul di Puncak Terang adalah Sang Maha Sesat?" Tanya Untari."Hmm, mem







