Share

139. Part 22

last update publish date: 2026-03-21 01:01:11

Puteri Pemalu diam tidak menyahuti. Tapi dia tersenyum. Kemudian dia hentakkan kedua kakinya. Seketika itu juga Puteri Pemalu lenyap hilang raib seperti ditelan bumi. Dikejauhan Momok Laknat jadi gelisah khawatir Puteri Pemalu tidak mengikutinya. Sambil berlari Momok Laknat menoleh ke belekang. Dia tidak melihat sang Puteri. Namun sekonyong-konyong dia merasakan ada angin dan bayangan merah melesat di atas kepalanya.

"Eeh... Apa yang baru saja menyambar di atas kepalaku?!" Pekik Momok

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   189. Part 3

    Senopati menggeleng seolah berusaha mengingkari semua kenyataan yang dilihatnya. Tapi ketika semua ciri korban yang tewas dengan kondisi yang tak jauh berbeda. Sebagaimana pengakuan si Mata Bara.Senopati merasa tidak ada gunanya menutupi kenyataan."Lima tumenggung, penguasa lima wilayah dalam kekuasaan gusti semua tewas, bersama keluarganya gusti.” Terang laki-laki itu dengan suara lirih.Dengan perlahan diucapkan namun bagi adipati keterangan senopatinya tak ubah seperti lima tusukan senjata berbisa yang menembus jantungnya.Dia terkesima.Mata mendelik.Menatap ke arah senopati seolah tak percaya dengan pendengaran sendiri."Semua terbantai. Gila! ini kenyataan yang sulit kuterima," dengus adipati dengan nafas mengengah. Pertanda laki-laki itu sedang dilanda kemarahan luar biasa."Kau sudah bertemu atau setidaknya sudah melihat pembunuh keparat itu? Atau mungkin kau melihat pembunuh itu keluar dari gedung keluarga?!"

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   188. Part 2

    Satu kejadian yang sulit dipercaya membuat senopati Gagak Panangkaran belalakkan matanya. Tanpa terduga dengan mudah serangan senopati itu dihindari lawan.Bahkan senopati tidak sempat melihat kapan Mata Bara berkelit menghindar. Yang jelas tahu-tahu si Mata Bara telah berada di belakangnya.Secepat kilat dia balikkan badan sekaligus kiblatkan senjata dalam genggaman. Namun secepat apapun serangan bertenaga dalam tinggi dia lakukan tetap saja gerakannya kalah cepat dengan pukulan yang dilakukan si Mata Bara.Blek!Satu pukulan yang mengarah di wajah yang disusul dengan tamparan keras ke bagian bahu senopati mendarat telak, membuat senopati terjungkal dengan wajah seperti remuk, hidung mengucurkan darah dan bahu sakit laksana ditindih batu sebesar kerbau.Penuh kemarahan sambil menggerung akibat menahan sakit luar biasa. Dengan tubuh termiring-miring laki-laki ini bangkit. Jelalatan dia memperhatikan sekelilingnya.Dia tidak melihat si Mata B

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   187. PEMBALASAN KAUM KUTUKAN

    ANGIN MENDERU.Kilat dan petir sambung menyambung tiada henti. Hingga larut malam hujan lebat yang mengguyur kadipaten Blora belum juga menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Padahal luapan air sungai telah menggenang dimana-mana.Di tengah suasana alam yang tidak bersahabat. Dalam sebuah gedung megah tempat kediaman adipati dan pati kerabatnya justru terjadi peristiwa yang menggemparkan.Beberapa kerabat adipati Seta Kurana termasuk istri dan dua putrinya tewas menemui ajal dengan kondisi mengenaskan. Enam pengawal yang bertugas di tempat kediaman keluarga juga tak luput dari kematian.Adalah senopati Gagak Panangkaran orang yang paling pertama mengetahui terjadinya malapetaka ini. Saat itu senopati gagah berpakaian serba hitam berusia sekitar empat puluh tahun baru saja kembali dari beberapa wilayah katemenggungan yang masih berada di bawah pemerintahan adipati Blora.Pada saat senopati bersama rombongan kecil memasuki pintu gerbang utama. Dia yang

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   186. Part 22

    Sama seperti yang dialami sahabatnya. Begitu tangan Hyang Kelam terjulur memanjang. Dari setiap kuku jarinya yang berubah menjadi akar merambat hidup. Akar-akar aneh yang bercabang-cabang itu langsung menyerang leher dan berusaha melibatnya juga berusaha menggelung dua tangan dan kaki Pendekar Sinting.Pemuda ini terkesima. Tapi segera lambungkan diri ke udara. Tak disangka akar-akar itu terus mengejar kemana pun dirinya bergerak. Dengan kecepatan gerak yang sangat luar biasa, Pendekar Sinting berjumpalitan tiga kali lalu jejakkan kaki di atas gundukan batu tinggi di ujung gua.Ketika melihat akar-akar menyambar ke arahnya. Berturut-turut dia melepaskan pukulan Seribu Jejak Kematian dan Gelombang Badai Laut Merah. Untuk diketahui, pukulan sakti Seribu Jejak Kematian adalah pemberian Tabib Tangan Dewa Dari Pulau Hantu. Sedangkan Gelombang Badai Laut Merah adalah pemberian Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul.Menggunakan salah satu ilmu pukulan sakti itu saja akibatnya s

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   185. Part 21

    Sementara itu Pendekar Sinting hentikan tawanya. Sekali melirik pada sahabatnya dia segera tahu pasti Bocah Ontang Anting yang telah berlaku jahil dengan meletakkan pakaian dan benda-benda di dalam kotak. Walau demikian dia tetap berkata."Mahluk alam roh bertubuh seperti tengkorak dan batang pohon. Aku tidak merasa telah meletakkan benda atau sepotong tulisanpun dalam kotak yang kau bawa lari. Kalaupun itu dilakukan oleh sahabatku. Maka kukira semuanya wajar. Temanku mungkin tahu kau suka dengan pakaian dalam wanita. Jadi apa salahnya bila temanku Bocah Ontang Anting memberimu tanda kenang-kenangan?"Hyang Kelam keluarkan suara seperti kerbau disembelih. Matanya yang cekung menjorok ke dalam rongga mendelik besar. Tubuhnya yang hanya berupa kulit pembalut tulang bergetar hebat pertanda kemarahannya sudah sampai ke ubun-ubun. Selagi Hyang Kelam diamuk amarah.Bocah Ontang Anting dengan agak ragu-ragu membuka mulut."Hyang Kelam, Mahluk jelek sedunia. Aku

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   184. Part 20

    "Kumohon. Tolong aku. Aku bersedia melakukan apa saja bila kalian mau menolongku," Kata Kupu Kupu Putih meratap. Momok Laknat menatap ke arah Puteri Pemalu."Bagaimana menurutmu?" Tanya si nenek pada sahabat pendampingnya."Hmm, baiklah kita bawa saja. Kita tolong dia, lalu kita sembuhkan. Setelah sembuh aku punya pekerjaan untuknya sebagai balas budi yang kita berikan." Ujar Puteri Pemalu.Walau sempat ragu. Namun ketika melihat Kupu Kupu Putih tidak sadarkan diri lagi Momok Laknat segera menyambar tubuh si gadis."Cepat kita minggat dari sini. Aku tak mau dua kunyuk jantan yang sedang berkelahi itu melihat kita. Aku takut mereka menyerang kita dengan pedang tumpul! Hik hik hik!""Pedang tumpul apaan nek?" Tanya Puteri Pemalu."Dasar bodoh. Pedang tumpul termasuk Pedang Pusaka Istana Es juga! Hik hik hik!"Berkata begitu sambil memanggul Kupu Kupu Putih di bahu kirinya Momok Laknat berkelebat. Puteri Pemalu segera mengikuti. Di tenga

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   98. Part 7

    Bocah Ontang Anting memandang Angon Luwak dengan kening berkerut, walau heran bin penasaran, tapi Bocah Ontang Anting tak ingin memaksa lebih jauh."Oh ya. Ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan.”"Jadi pertanyaanmu belum habis. Selagi aku bermurah hati dan mau bersikap seada

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   96. Part 5

    Dengan ragu kakek itu mengambil cangkir yang diberikan si pemuda. Bocah Ontang Anting dekatkan mulut cangkir ke hidungnya. Dia makin tambah berani. Seingatnya tadi dia memberikan kendi berisi air hangat biasa pada pemuda berambut kemerahan itu.Lalu bagaimana dengan tiba-tiba saja air bias

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   93. Part 2

    "Orang tua cebol. Kau ini agaknya lebih sinting dariku. Kau aneh dan keterlaluan. Telah kumandikan kau dengan sari tembakau dan air kencing kuda. Bukannya marah malah berterima kasih. Ha ha ha!"Walau sudah curiga tapi si kakek tidak menduga. Dia juga tak menyangka pemuda itu mengerjainya.

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   92. TOKOH-TOKOH SAKTI BERMUNCULAN (Part 1)

    KEMBALI pada si kakek cebol Bocah Ontang Anting juga Ratu Lintah. Saat itu sang ratu yang terkekeh mengumbar tawa tiba-tiba merasakan ada sebuah benda menghantam mulutnya. Serangan benda keras luar biasa itu datang b?rsamaan dengan munculnya bayangan putih yang menolong si kakek. Tawa Ratu Lintah s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status