共有

139. Part 22

last update 公開日: 2026-03-21 01:01:11

Puteri Pemalu diam tidak menyahuti. Tapi dia tersenyum. Kemudian dia hentakkan kedua kakinya. Seketika itu juga Puteri Pemalu lenyap hilang raib seperti ditelan bumi. Dikejauhan Momok Laknat jadi gelisah khawatir Puteri Pemalu tidak mengikutinya. Sambil berlari Momok Laknat menoleh ke belekang. Dia tidak melihat sang Puteri. Namun sekonyong-konyong dia merasakan ada angin dan bayangan merah melesat di atas kepalanya.

"Eeh... Apa yang baru saja menyambar di atas kepalaku?!" Pekik Momok

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   151. Part 11

    KEGELISAHAN menunggu saatnya bulan mencapai titik tertinggi ternyata tidak hanya dirasakan oleh Kupu Kupu Putih, Sang Maha Sesat, Dewl Harum atau Momok Laknat dan Puteri Pemalu yang datang belakangan bersama si nenek.Di dalam gua Empat Ruangan Satu Pintu yang berada dalam perut bukit Induk. Hyang Kelam yang bersembunyi di balik pelindung gaib bersama muridnya Untari nampaknya juga sudah mulai tidak dapat menahan sabar.Kepada sang murid Hyang Kelam yang ujud aslinya berupa seorang kakek renta bertubuh kurus kering macam jerangkong dan mengenakan pakaian aneh berupa selempang pipih mirip kulit pohon berkata."Muridku Untari. Bila menuruti kata hati sesungguhnya aku sudah tidak sabar menunggu bulan sampai berdiri tegak di atas kepala. Selain itu pikiranku juga tidak tenang karena aku melihat di luar sana para tamu yang tidak diundang telah berdatangan. Saat Ini aku ingin menyambut mereka dan membinasakan mereka semua yang ada di sana hingga tidak bersisa."

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   150, Part 10

    "Gusti ayu. Ketika saya menyeberang ke bukit induk dan menuju ke bagian puncaknya. Saya tidak menemukan apa-apa di sana. Tapi saya merasa tanda-tanda ada kehadiran orang lain di tempat itu sebelum saya datang. Selain itu saya menemukan sebuah lubang seukuran bocah kecil, Lobang itu rasanya berhubungan langsung pada suatu tempat di perut bukit."Menerangkan Maut Merah dengan hati-hati."Begitu?" Desah Kupu Kupu Putih.Sepasang alisnya terangkat naik. Dada yang menyembul ketat di balik gaun tipisnya bergerak turun naik. Dia mondar-mandir di depan para penjaganya. Kembali ke tempat semula dara jelita ini ajukan pertanyaan."Lobang.. menghubungkan sebuah tempat di perut bukit?" Gumamnya."Apa mungkin di dalam bukit induk ada sebuah gua tempat menyimpan senjata yang kita cari?""Kemungkinan itu bisa saja terjadi gusti Ayu." Sela Maut Hijau yang sedari tadi diam saja."Kalau benar. Mengapa kita tidak menemukan jalan masuk menuju gua?" Kata

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   149. Part 9

    Angin Pesut terdiam. Mata terpejam, sedangkan mulut berkemak-kemik. Selesai membaca sesuatu dia mengetuk keningnya tiga kali. Tak lama tangan diturunkan. Mata yang terpejam dibuka."Aku yakin dia sudah berada disini. Aku melihat Satu seorang pemuda dan satunya lagi seorang kakek botak tubuhnya pendek." Terang Angin Pesut yang baru saja melakukan penjajakan jarak jauh."Bagaimana kau yakin.""Maksudmu?" Tanya Angin Pesut tak mengerti"Ya. Maksudku bagaimana kau yakin orang yang kau lihat adalah orang yang kita maksud?""Aku cuma menduga saja. Raja pasti seorang laki-laki. Kalau perempuan sebutannya puteri atau ratu."Dewi Harum mengangguk sambil tersenyum.Tak lama keduanya pun terdiam sambil memperhatikan keadaan disekitarnya.-o0o-Menjelang tengah malam beberapa saat sebelum bulan purnama berada di titik tertingginya. Gumpalan mendung yang menyaput langit hilang lenyap tidak meninggalkan bekas. Langit terlihat biru dihiasi gemerlap bintang. Cahaya bulan kuning kemilau menerangi selu

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   148. Part 8

    "Aku tahu. Orang yang berhak mewarisi senjata itu adalah pewaris tahta Istana Pulau Es. Aku belum pernah bertemu orangnya. Kita hanya diberi tahu bahwa orang yang harus kita bantu bernama Angon Luwak dikenal dengan sebutan Pendekar Sinting atau Dewa dari Istana Es. Bagaimana rupa pemuda itu kita belum pernah melihatnya""Ya. Siapa saja nanti yang muncul disini asalkan bernama Angon Luwak tak perduli apakah dia Pendekar Sinting, Pendekar Gila, Pendekar Penyamun, Pendekar Pengintip atau Pendekarnya para maling asal namanya Saka Buana pasti kita dukung" Kata Angin Pesut sambil mengulum senyum.Dewi Harum ikutan tersenyum. Tapi senyum sang dara lenyap, pandangan matanya tertuju lurus ke arah beberapa gundukan karang tak jauh dari bukit induk."Lihat saudaraku," Kata Dewi Harum dengan suara lirih sementara tangan menggamit lengan kakek berusia tiga ratus tahun itu. Angin Pesut menoleh sekaligus menatap ke arah yang ditunjuk saudari angkatnya. Bertubuh tinggi besar, b

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   147. Part 7

    "Terimalah hormat kami wahai paduka penolong. Kami semua siap menjadi pelayanmu dan patuh terhadap semua perintah." Kata orang-orang itu sambil bungkukkan tubuh dalam-dalam.Sang Maha Sesat tertawa tergelak-gelak. Sambil mengumbar tawa dia berucap."Bagus! Sudah sepatutnya kalian semua membalas budi hutang nyawa kepadaku. Siapa saja yang membangkang pasti kubunuh. Jika bukan karena kemurahan hatiku kalian saat Ini pasti masih mendekam dalam tawanan gadis aneh Dewi Harum.""Kami bisa menerima, apa yang paduka penolong katakan memang benar adanya. Maka sebagai balas budi yang telah paduka berikan pada kami.Kami semua siap berbakti dan mengabdi sampai mati." Kata salah seorang di antara mereka mewakili teman-temannya.Sang Maha Sesat tertawa tergelak-gelak. Tapi dia tidak percaya begitu saja dengan segala janji kesetiaan bekas tawanan ‘Kejahatan Dunia Persilatan’ itu. Setelah tawanya terhenti Sang Maha Sesat mengambil sebuah kantong merah dari ba

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   146. Part 6

    "Tapi aku masih belum mengerti mengapa dia membawa pemuda itu?""Guru. Bukankah aku telah mengatakan padamu. Pemuda berambut kemerahan yang bersama kakek kerdil itu adalah pemuda yang telah membuat Golok Terbang Cambuk Api dan empat anak buahnya jadi pecundang? Dia mengaku bernama Angon Luwak. Ya. Dialah yang dijuluki Dewa dari Istana Es."Terang Untari membuat Hyang Kelam terkaget-kaget."Murid bodoh. Mengapa waktu itu kau tidak mengatakan apa julukannya? Kau cuma mengatakan dia bernama Angon Luwak." Geram Hyang Kelam."Sst. Jangan marah-marah. Nanti mereka mendengar suara kita. Lagi pula apa artinya sebuah julukan?" Tanya sang murid."Mengapa takut. Kita berada di alam gaib. Mereka tak bisa mendengar suara kita walau kita menjerit keras." Dengus Hyang Kelam.Setelah menghela nafas Hyang Kelam melanjutkan ucapan. "Kau masih belum mengerti juga? Jika dia mempunyai sebutan Dewa dari Istana Es. Artinya dia berasal dari Istana itu.""Apa

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status