Beranda / Pendekar / Pendekar Tombak Naga Hitam / Bab 6 Berlatih di Gunung Suci

Share

Bab 6 Berlatih di Gunung Suci

Penulis: Haryadi
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-01 15:40:24

Arga Sena terbangun di tempat yang tidak dia kenali. Perlahan anak kecil itu turun dari ranjang bambu yang sederhana beralaskan jerami kering dan lembut agar nyaman digunakan untuk tidur. Terdengar samar suara orang yang sedang bercakap cakap di halaman rumah kayu itu. Kemudian anak kecil mendekati suara itu yang tidak lain adalah Bahureksa, Candraka dan guru mereka berdua Wicaksana. Setelah itu Arga Sena yang masih berumur 4 tahun itu duduk dipangkuan Bahureksa dan tertidur kembali. Bahureksa dengan kasih sayang penuh mengusap kepala Arga Sena.

"Suratan takdir akan mengubah jalan hidupmu cucuku."Batin Bahureksa.

Begitulah. Hari demi hari, minggu berganti bulan hingga berganti tahun. 12 tahun sudah Arga berlatih dibawah bimbingan tiga orang sakti. Genap usianya yang 16 tahun Arga Sena setelah cukup mempunyai tenaga dalam yang cukup tinggi dia mulai mempelajari Kitab Tombak Naga Hitam. 

Dari umur 10 tahun Arga sudah mempelajari jurus jurus yang mengkhususkan untuk tombak. Kadang karena kepintarannya dia sering mengkombinasikan beberapa jurus yang dipelajarai dari ketiga gurunya itu.

Saat itu sore hari menjelang senja diteras rumah kayu itu. Arga duduk dengan khidmat dihadapan Bahureksa, Candraka dan Wicaksana.

"Arga." Ucap Wicaksana membuka pembicaraan itu.

"Semua ilmuku sudah kuturunkan kepadamu bahkan ilmu Angin Es sudah sepenuhnya kau kuasai. Tapi ingat ilmu yang aku turunkan tidak ada apa apanya dibandingkan dengan luasnya ilmu dari Maha Pencipta. Jangan sampain kau lupa diri cucuku." Ucap Wicaksana dengan aura kebijaksanaan.

"Begitupun dengan kami berdua Arga."Ucap Bahureksa sambil melirik ke arah adiknya Candraka.

"Sebelumnya saya ucapkan ke kakek Bahureksa, Kakek Candraka dan Eyang guru Wicaksana sudah sudi memberiku ilmu yang cukup tinggi." Ucap Arga dnega lembut dan penuh khidmat kepada ketiga gurunya.

"Hahaha, kau ini umurmu masih cukup muda tapi bawaanmu seperti orang dewasa. Cocok..cocok memang kau keturunan keluarga Sena." Ucap Wicaksana.

"Tapi walaupun kau sudah menguasai ilmu kami bertiga, kau tetap harus menjalani takdirmu sendiri Arga. Kau harus mempelajari dan berlatih Kitab dan Tombak Naga Hitam. Tempat ini tidak akan cukup kuat menahan kekuatan dari jurus jurus Tombak Naga Hitam. Kau harus pergi ke Gunung Suci dan berlatih disana. Aku dan kedua kakekmu ini tidak bisa membimbingmu, kau harus melakukannya seorang diri." Ucap Wicaksana.

"Dimengrti eyang guru." Balas Arga.

"Dan ingat Arga setelah kau menyelesaikan semua latihanmu.Kau harus mencari keberadaan kedua orang tuamu. Dari kabar yang aku terima beberapa pekan lalu. Kekuatan kegelapan masih mencari kedua orang tuamu setelah pembataian keluarga Sena beberapa tahun yang lalu." Ucap Bahureksa.

"Kami tahu tugasmu tidaklah ringan Arga. Bahkan lebih berat dari yang kami bayangkan."Timpal Candraka.

"Kapan aku harus ke Gunung Suci eyang Guru?" Tanya Arga kepada Wicaksana.

"Lebih cepat lebih baik Arga. Pagi ini kalau bisa. Nanti aku antarkan kau kesana."Ucap Wicaksana.

Maka setelah mereka berdua bersiap. Dengan ilmu Angin Es yang mereka miliki Arga dan Eyang Gurunya Wicaksana pergi menuju Gunung Suci.

Sebuah lubang cahaya beraura dingin sedikit demi sedikit membesar hingga dua orang keluar dari lubang cahaya itu. Ya mereka adalah Wicaksana Sena  dan Arga Sena.

Ketika Arga Sena keluar dari lubah cahaya itu. Dia dibuat takjub bagaimana tidak Sekarang dia berada disebuah puncak gunung dengan pemandangan sekelilingnya dengan hamparan hijau seperti permadani yang tiada berujung.

"Eyang Guru, inikah Gunung Suci?"Tanya Arga matanya  menatap kedepan dengan penuh kekaguman atas keindahan karya Sang Maha Pencipta.

"Betul Arga. Indah bukan?. Gunung ini tidak dapat dimasukin oleh sembarang orang bahkan dari keluarga kita, Keluarga Sena hanya 3 orang yang pernah kesini. Aku, kau dan Guruku Indrasakti. Sekarang ikuti aku." Ucap Wicaksana melesat ke arah lereng Gunung Suci sebelah barat. 

Arga dengan ilmu meringankan tubuh yang sudah tinggi melesat megikuti Wicaksana. Mereka berdua tiba di sebuah mulut goa yang besar sekali seperti mulut goa yang dapat dimasuki makhluk makhluk yang luar biasa besarnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pendekar Tombak Naga Hitam   Bab 12 Menyelidiki Keluarga Sena 4

    "Kau..kau..orang yang menahan serangan kami sebelumnya." Ucap Daksa mencoba berdiri."Kalau kau kemari untuk meminta penawar racun untuk kedua temanmu kamu sia sia. Racun itu hanya guru kami yang tahu penawarnya." Lanjut Daksa menahan sakit yang berdenyut di dadanya namun disertai senyum sinis yang penuh arti."Bahkan mungkin kedua temanmu sudah mati membusuk." Timpal Sujana."Hehehe..dan kau pun sudah terkena racun kami saat kau bentrok dengan jurus kami. Sebentar lagi tubuhmu akan membusuk."Ucap Nyi Sunting."Kalian pikir racun kalian adalah racun yang terkuat? atau guru kalian tidak memberitahu kalian?" Satu sura muncul dibalik asap dan debu yang terbentuk dari bentrokan tenaga dalam tadi.Mata Tiga Racun Selatan membesar ketika melihat Arga masih tegak berdiri di depan mereka yang berjarak beberapa tombak."Bagaimana bisa? Racun itu sangat kuat bahkan hampir tidak ada orang yang selamat dari serangan kami." Gumam Daksa."Hahaha..kau hebat juga anak muda bisa bertahan dari serang

  • Pendekar Tombak Naga Hitam   Bab 11 Menyelidiki Keluarga Sena 3

    Arga tiba di depan rumahnya yang gelap gulita tanpa penerangan. Kemudian dia masuk kedalam rumah. Matanya yang terlatih dengan kegelapan dapat melihat dengan jelas setiap sudut rumahnya.Ingatan masa kecilnya mulai muncul dalam kepalanya. Bagaimana ayahnya Braja Sena yang berwibawa dan ibunya Nilam yang berhati lembut bermain dan memanjakannya.Namun lamunannya buyar ketika dia merasakan tiga pancaran energi dari kejauhan menuju tempatnya. Kemudian Arga Sena bergerak kesudut rumahnya yang gelap dan menekan pancaran tenaga dalamnya hingga tidak ada orang yang merasakannya.Tiga bayangan tiba di halaman rumah Arga Sena yang tidak lain adalah Tiga Racun Selatan."Huh..kenapa Ketua menyuruh kita kembali kerumah ini dan mencari benda yang belum kita ketahui bentuknya?" Ucap salah satu Tiga Racun Selatan yang paling muda yang bernama Sujana."Tenanglah Sujana Ketua pasti mengetahui yang kita tidak ketahui." Ucap perempuan dari Tiga Racun Selatan yang bernama Nyi Sunting."Kakang Daksa bagai

  • Pendekar Tombak Naga Hitam   Bab 10 Menyelidiki Keluarga Sena 2

    Dihalaman rumah Arga Sena.Tiga Racun Selatan dengan menggunakan sarung tangan yang mengandung racun jahat berkelebat menyerang kedua kakak beradik itu dengan gencar.wutt!Wutt! Wutt!Tiga sinar kemerahan yang berasal dari sarung tangan Tiga Racun Selatan saling berkelebat mengincar titik titik rawan dari Serigala Putih dan Walet Merah. Ruang gerak meraka semakin sempit. Serigala Putih dan Walet merah melompat sedikit menjauh kebelakang.Namun lawannya tidak memberikan kesempatan. Tiga larik sinar merak menyerang ke arah kedua nya.Bumm!Dua benturan tenaga dalam yang dibungkus dalam jurus andalan masing masing. Serigala Putih dan Walet Merah terjajar kebelakang beberapa langkah. Tampak darah meleleh dari sudut bibir meraka berdua menandakan luka dalam akibat benturan itu."Hahaha..hanya segitu kemampuan kalian. Tenaga dalam kalian berdua masih jauh dari kami bertiga. Sebutkan permintaan terakhir kalian karena sebentar lagi racun dari Jurus Sinar Racun Kematian akan memecahkan jantun

  • Pendekar Tombak Naga Hitam   Bab 9 Menyelidiki Keluarga Sena 1

    Setelah Arga menyelesaikan latihannya selama enam bulan di Gunung Suci dia kembali kediaman Wicaksana dan kedua kakeknya dengan ilmu Angin Es. Dengan tenaga dalam dan kekuatan yang dia miliki sekarang tentunya sangat berbeda dengan ilmu Angin Es sebelumnya.Ilmu Angin Es sekarang terasa lebih sempurna bahkan aura dingin yang keluar setiap menggunakan ilmu ini bisa ditekan sedemikian rupa sehingga orang lain tidak dapat merasakan kehadiran Arga.Hal itu tentu saja membuat Wicaksana,Bahureksa dan Candraka merasa lebih yakin pada kemampuan cucunya itu.Namun walaupun mereka yakin dengan kemampuan Arga tetap saja ketiga orang tua sakti itu tetap berat hati melepas Arga Sena untuk mengembara dan menyelediki pembantaian keluarga Sena. Pagi itu setelah Arga meninggalkan kediaman Wicakasana. Dengan saran dari Bahureksa agar Arga kembali kekediaman keluarga Sena untuk melihat keadaan rumahnya sekarang.Walaupun sudah belasan tahun terjadi namun samar samar Arga masih mengingat kejadian waktu i

  • Pendekar Tombak Naga Hitam   Bab 8 Menyatukan Kekuatan

    Arga berjalan perlahan kearah orang itu. Orang itu pun berdiri dan melihat ke arah Arga dengan tangan kanan membawa senjata berupa tombak sepanjang lengan orang dewasa."Selamat datang di alam awan merah Arga."Ucap orang itu penuh hormat."Suatu kehormatan aku dapat berada disini Tuan." Balas Arga."Tentunya Huraga sudah menceritakan mengenai keadaan alam ini bukan?"Ucap Orang itu."Ya tentu saja. Menceritakan keadaan alam ini dalam penerbangan yang cukup menyenangkan." Ucap Arga dengan tersenyum."Dan siapakah tuan ini?" Tanya Arga."Aku? Aku adalah esensi kekuatan Haruga. Naga Hitam yang tadi bersamamu adalah bentuk fisik sedangkan aku adalah esensi atau inti sari dari kekutan naga hitam. Kami saling ketergantungan dan hanya bisa disatukan oleh pewaris senjata ini." Ucap orang itu sambil menjunjukan tombak di tangan kanannya."Alam awan merah ini mengurung kami berdua agar tidak sembarang orang menggunakan kekuatan kami. Perlu kamu ketahui gumpalan awan ini bukanlah kumpulan awan bi

  • Pendekar Tombak Naga Hitam    Bab 7 Naga Hitam

    Wicaksana dan Arga memasuki goa itu dengan langkah perlahan. Aura kekuatan yang cukup besar sangat terasa mengintimasi seolah olah sedang mengenali orang asing yang memasuki goa itu.Dinding goa yang awalnya gelap mulai terlihat serabut sinar kekuningan mengikuti kedua orang itu.Setelah berjalan cukup lama tibalah mereka di tengah goa yang cukup luas. Sinar kekuningan seolah merayap pada setiap celah dinding goa. Dihadapan mereka ada dua pintu yang berbetuk setengah lingkaran namun cukup untuk dimasuki dua orang sekaligus.Satu pintu di kiri mengeluarkan cahaya biru kehitaman sedangkan pintu di kanan mengeluarkan cahaya merah kehitaman."Aku hanya sampai disini Arga, selanjutnya jalan takdirmu yang akan membimbingmu. Aku akan kembali ketempat kakekmu Bahureksa dan Candraka." Ucap Wicaksana kemudian masuk kedalam lingkaran cahaya yang dingin karena reaksi Ilmu Angin Es.Arga Sena berdiri diantara dua lubang pintu itu. Berpikir pintu mana yang akan dia masuki terlebih dahulu. Dia menari

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status