MasukBadai drama tak pernah reda, rakyatlah yang menjadi korbannya. Apakah nyawa hanyalah pion dalam permainan kekuasaan? Apakah nyawa hanya dianggap sebagai jembatan kemenangan? Rakyat bertanya-tanya, apakah arti nyawa mereka bagi para penguasa? Apa perjuangan mereka harus berakhir dengan kematian? Sang Naga Bumi bagai angin segar di tengah gersangnya keadilan.
Lihat lebih banyakBab 59Sebelum kata pengakuan sempat meluncur dari bibir para pengawal istana yang ketakutan, udara di sekitar perkemahan mendadak mendingin secara drastis. Bukan karena angin salju, melainkan karena desingan angin tajam yang membelah keheningan malam. Sreett! Sreett! Sreett!Tiga buah pisau lempar berukuran kecil melesat bagai kilat dari kegelapan hutan pinus. Blesh! Blesh! Blesh!Suara daging yang tertusuk logam terdengar hampir bersamaan. Ketiga pengawal titipan Istana Timur itu mendadak tertegun. Mata mereka membelalak lebar, tangan mereka refleks mencengkeram leher masing-masing di mana gagang pisau hitam berukir lambang ular melingkar tertancap sempurna.Tidak ada suara teriakan. Racun yang melapisi bilah pisau itu bekerja seketika. Dalam hitungan detik, tubuh ketiganya terkulai lemas dan ambruk ke atas tumpukan salju, tewas seketika tanpa sempat membocorkan sepatah kata pun."Musuh menyerang!" teriak Kapten Bei dengan suara menggelegar.Suasana perkemahan yang tadinya tegang
Bab 58Rombongan kecil pimpinan Jenderal Muda Qin Guan telah meninggalkan gerbang ibukota sejak dua hari lalu. Saat ini, mereka memasuki kawasan Hutan Perbatasan Selatan, jalur strategis yang dipenuhi pepohonan pinus tinggi tertutup salju tebal. Udara begitu dingin hingga napas yang diembuskan berubah menjadi kabut putih pekat.Di tengah perjalanan, Qin Guan memutuskan untuk mendirikan perkemahan lebih awal karena badai salju kecil mulai turun.Api unggun besar dinyalakan di tengah area perkemahan. Para prajurit veteran pasukan Qin duduk melingkar, menghangatkan tangan sambil memeriksa senjata mereka.Di sudut lain, terpisah agak jauh dari kelompok utama, tiga pengawal tambahan yang disusipkan oleh Putra Mahkota tampak sibuk menyiapkan jatah makan malam untuk rombongan.Dari dalam tenda utamanya, Qin Guan duduk bersila di atas tikar tebal. Matanya terpejam, namun indranya tetap waspada. Luka di pinggangnya masih terasa sedikit berdenyut, tetapi metode lilin terapi dari Wang Lingling b
Bab 57Malam itu, kesunyian kediaman Keluarga Qin hanya dipecahkan oleh suara kayu bakar yang berderak di perapian. Di ruang tengah yang terbuka ke arah taman dalam, Qin Guan duduk berseberangan dengan Wang Tian Xin. Aroma lembut dari teh krisantimum mengepul dari cangkir mereka, memberikan sedikit ketenangan di tengah hawa dingin yang menusuk tulang.Tian Xin menatap uap tehnya dengan saksama, sebelum akhirnya mengangkat wajah. Matanya yang tajam menatap luka di pinggang kakaknya yang tersembunyi di balik jubah tidur yang longgar."Ge," suara Tian Xin berat, "Daftar pengawal yang dibawa Menteri Li memang berisi veteran, tapi mereka adalah tentara. Mereka terbiasa dengan medan perang terbuka, bukan serangan gelap dari orang-orang seperti Naga Hitam atau pengikut Ouyang Mu."Ia meletakkan cangkirnya dengan bunyi denting pelan. "Izinkan aku ikut. Aku tidak perlu ada di dalam daftar resmi. Aku bisa bergerak sebagai bayangan di antara pepohonan atau menyelinap di barisan belakang. Jika se
Bab 56Langkah kaki mereka menuruni ribuan anak tangga Bukit Bunga Matahari terasa lebih ringan meski beban di pundak Qin Guan semakin nyata. Sepanjang perjalanan pulang, Mei Ling lebih banyak terdiam, jemarinya sesekali menyentuh lengan mantel bulunya, masih berusaha memproses pertemuan ajaib dengan Lu Yuan.“Kita pulang sekarang,” ucap Qin Guan tenang. Dia tahu jika pertemuan antara Mei Ling dan Lu Yuan membuat gadis itu sedikit gelisah. Meneruskan perjalanan ini tidak akan membuat kondisi gadis itu membaik.Mereka berdua menunggangi sepasang kuda putih yang tertambat di kaki bukit dan kembali menuju ibukota.Setibanya di kediaman Keluarga Qin, hari sudah beranjak sore. Wang Lingling sudah berdiri di pelataran dengan wajah yang tidak bisa dikatakan ramah."Bagus sekali," sindir Lingling saat melihat kakaknya turun dari kuda. "Jenderal Pemberani kita baru saja mendaki bukit dan berkuda keliling kota dengan luka yang jahitan luarnya baru saja diperbaiki semalam. Apa kau ingin aku seka
Bab 7Sebuah belati kecil melesat menuju tempat Mei Ling berdiri. Qin Guan yang baru saja mendaratkan tubuhnya, kembali menjejakkan kaki dan melompat ke arah Mei Ling.“Terlalu jauh ….”Dia berniat untuk menangkis serangan tersebut, tetapi sapuannya tidak cukup cepat. Pisau tersebut bergerak lebih
Bab 6Suara derap langkah kuda yang mendekat membuat Qin Guan seketika waspada. Dia segera menyambar pedang yang dia letakkan di samping api unggunnya dan bersiaga. Dia menajamkan pandangannya dan memperhatikan sekeliling.Ekspresi Qin Guan berubah serius ketika menyadari arah tamu tak diundang itu
Qin Guan mengepalkan tangannya dengan erat. Kelompok ini menghancurkan sebuah Sekte hanya untuk kitab pusaka, mereka benar-benar serakah. "Apa kitab itu benar di wilayah Sekte?" Salah satu orang mengangguk. "Menurut informasi yang aku dapat, Lin Tian membawa kitab itu bersamanya. Dia sudah masuk
Kotak kayu itu terbuka, terlihat sebuah pedang berwarna putih yang mengeluarkan hawa dingin. Sarung dan badan pedang itu terpisah, di bagian badan pedang terukir tiga karakter yang berarti pedang musim dingin. Wang Jiang melihat sebuah tulisan di dalam kotak kayu. "Jangan pergi sebelum mengambil
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan