Mag-log inKisah perjalanan pendekar pedang menjadi yang terkuat di alam semesta. Lingga Kalageni merupakan pemuda biasa dari desa terpencil. Kemalangan membuatnya bertemu dengan Batara Kara, Sang Legenda Pedang kerajaan sangkala. Batara Kara merubah hidupnya menjadi seorang seniman beladiri. Dia melatihnya hingga namanya mulai terkenal dalam dunia persilatan. Perjalanan hidup juga membuat Lingga terus tumbuh menjadi semakin kuat. Bukan hanya kerajaan sangkala, namanya terdengar harum sampai ke seluruh penjuru benua. Kemunculan iblis membuat manusia dilanda ketakutan. Namun Lingga berhasil membawa ketentraman dan menjadikannya legenda pedang terkuat di dunia. Disaat dunia baru saja berada dalam kedamaian, dewa langit membuat kekacauan dengan ikut campur permasalahan dunia. Lingga tidak tinggal diam, terus mengasah kemampuannya, dan membuat dewa langit bertekuk lutut di bawah kakinya.
view more"Owen," Rosie called him for what seemed like the hundredth time, and just as before, she got no reply.
She felt a surge of anger as she watched him completely engrossed in his phone, seemingly oblivious to her presence. Glancing at the clock, she noted that it was already 8:43 pm, and she couldn't shake off the feeling that her flatmate, Tessa, would soon start bombarding her with messages and calls, concerned about her safety. Shifting uncomfortably on the stool she was sitting on, she turned her attention back to Owen, wondering how to get his attention away from his phone. "Owen, I'm talking to you." She called again and tapped him aggressively on the shoulder. "You've been giving me the silent treatment, what's going on?" "I've been giving you the silent treatment. Really, how?" He asked, finally putting his phone away, bemused. "Can't you see I'm on a business blog? I'm trying to find wealth-related inspiration in this space. But of course, you had to choose now of all times to disturb me." He went on with a tone that explained exactly how upset he was. "Owen!" Rosie exclaimed. "Calm down. What's with the tone? Did I do something wrong?" she asked again with concern written all over her face. "There is nothing wrong Rosie. You asked where our relationship was headed last week, and I figured you wanted a proposal. Isn't that what you want?" "In fact, why am I even asking," he continued, stopping her from saying a word. "It's glaring and very obvious that marriage is the answer you wanted for such an absurd question. Unless you have another explanation. Do you?" He asked again, looking at her. Rosie disappointed him with her silence, so he continued his long annoying chatter. "Right now, I'm checking out a wealth-related blog, trying to figure out ways to accumulate more wealth because we can't get married the way things are presently. But you obviously can't relate, because you do not know what it means for someone to be financially ready. How do you even intend to get married to someone when you are almost broke?" "Owen!" Rosie called angrily. "Stop," she said in a low, shaky voice, unable to keep it steady. "I work," she added. "There she goes again!" Owen exclaimed. "You need to be realistic honey, because your response to reality is funny at times. You are just an intern in a company I work in as a top Manager, and I know the meager salary you get every month. Do you think that peanut is big enough to sustain you in a marriage?" "I have a side hustle." She reminded him with a firm yet low voice. If there was anything she didn't want presently, it was raising her voice. She was scared he would hear the fear and sadness she was trying so hard to conceal. "I'm very hardworking, you know that already." She added. Owen let out a chuckle. He swung his head to the side and back, looked at her, and smiled even more. "By side hustle, do you by chance mean the bead making that barely gives you a dime? Oh, please, be realistic for once. You make some cheap, worn-out beads for a set of low-income earners who can barely afford two square meals a day, and suddenly, you call that a source of income, a side hustle! You must be kidding me." He said standing up. "When you asked where our relationship was headed," he continued, and began pacing the short distance from his seat to the window. "At first, I was mad at you because I know so well that you are broke, and I'm not even where I want to be, financially. But I'd like to assume you have some money stashed up somewhere because I won't marry a liability; nobody in their right senses will want to marry one. Rose, I want a partner that will be productive, active, smart, and financially stable enough to march up to me. Not some broke woman who will wreck my life. Kindly note that I'm not referring to you Baby, I'm not... I'm just trying to throw some light on the issue at hand." He said. Getting a hold of Rosie's hand, he squeezed it gently. In reply, she stared blankly at him. "But honestly," He continued. "I doubt marriage should be at the top of our priority list right now. And I'm saying this with a heart full of love, total love." Rosie, who'd had her eyes on their hands before now, gently slipped her hand from his grip and looked up at him. "What are you even saying?" She started angrily. "I wasn't entirely talking about marriage. I only asked because I needed us to define the relationship we share. The question was more about where we are headed and what the plan is. Owen, I love you, and I wanted to be certain you feel the same way for me; that was all I wanted to know. Again, I'm not a liability. I take care of myself well enough, and I plan on working even harder for the kind of life I want. Do you hear me?" She screamed, finally giving up on her plan to conceal her hurt and fear. She hurriedly turned and made to make her way out of the room but he pulled her back.Setelah menyantap hidangan, Lingga memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan berpamitan kepada kepala dan tetua desa. Dia harus segera menuju ke kota awan perak agar tidak tertinggal mengikuti turnamen. Jarak antara desa banyu biru dengan kota awan perak sudah sangat dekat, mungkin butuh waktu sehari untuk sampai kesana. Setelah melesat selama sehari, Lingga akhirnya sampai di kota awan perak. Dia mengagumi keindahan kota dimana banyak bangunan-bangunan megah yang berdiri tegak. "Tuan, apa ada kamar yang kosong?" tanya Lingga setelah memasuki sebuah penginapan. "Penginapan kami telah penuh," jawab pemilik penginapan. Kota awan perak sangat ramai, baik dari kalangan peserta turnamen ataupun pengunjung. Hal itu membuat penginapan-penginapan penuh sesak. Linggapun akhirnya keluar untuk mencari penginapan yang lain. "Huh, penginapan disini semuanya penuh, apa tidak ada lagi yang kosong?" desah Lingga setelah memasuki beberapa penginapan tapi tidak kunjung juga memperolehnya.
Lingga terus mencoba mempraktikkan tarian pedang poenik. "Terlihat indah, namun sulit dipelajari," desahnya. Setelah seratus kali mencoba, Lingga akhirnya dapat menguasai jurus pertama amukan pedang poenik tersebut. Itu adalah sebuah prestasi yang sangat memukau, bahkan kultivator hebat belum tentu dapat menguasainya dengan cepat. Setelah mahir memperagakan jurus pertama, sebuah lukisan kembali muncul. 'Poenik Melawan Langit.' Itulah jurus kedua yang harus Lingga kuasai yang tertera di dalam lukisan. Sebuah bayangan tiba-tiba kembali keluar dari dalam lukisan. Bayangan itu lalu mempraktikkan jurus kedua yaitu Poenik Melawan Langit. "Jurus apa itu?" Lingga melongo melihat Poenik Melawan Langit. Bayangan di hadapannya melompat tinggi ke udara, kemudian kembali ke daratan sangat cepat hingga terjadi suara menggelegar saat pedang itu mengenai lantai. Bommm Suara dentuman itu membuat telinga Lingga seolah terkoyak, namun Lingga berhasil mengatasinya. Itulah jurus Poenik Melaw
Lingga yang penasaran mendekat dan menghadap pemuda bertopeng serigala. "Saudara, apa yang akan kamu lakukan dengan perawan desa?" Pemuda bertopeng serigala seketika menjadi sangat marah. Dia tidak ingin ada yang membantah maupun menanyakan tentang perintahnya. Sementara warga desa sendiri sudah mengetahui jika perawan desa akan dijadikan budak di sekte serigala hitam. Wusss Pemuda bertopeng serigala itu langsung melompat ke arah Lingga. Dia berniat membunuhnya untuk dijadikan contoh agar warga desa tidak menentangnya. "Berani sekali kamu bertanya?" katanya sambil melesatkan tinju. Kepala desa dan warga desa hanya dibuat semakin takut melihat kemarahan pemuda bertopeng serigala. Mereka bisa saja dibunuh karena tingkah Lingga. "Darimana datangnya pemuda itu? Berani sekali dia ikut campur dengan urusan desa," gumam kepala desa. Kepala desa dan warga desa menganggap Lingga akan mati karena pemuda bertopeng serigala mengerahkan segenap kemampuannya meninju Lingga. Namun, L
Dengan kecepatannya, beruang hitam mengejar tubuh Lingga yang baru saja terlempar. Saat sudah dekat, dia berusaha mencabiknya dengan kedua cakarnya. Lingga tentu tidak tinggal diam, dia berguling untuk menghindar sehingga cakar beruang hitam mengenai pohon. Lingga tersenyum kecut melihat pohon kokoh dan besar tercabik dan hancur berkeping-keping terkena cakar beruang hitam. "Terlambat sedikit saja menghindar, mungkin akulah yang akan hancur seperti pohon itu." Cakar beruang hitam itu tidak ubahnya seperti sebuah pedang yang sangat tajam. Ketajamannya bahkan mampu menghancurkan bebatuan yang sangat keras. Lepas dari cengkraman sang beruang, Lingga mengalirkan tenaga dalam kedalam kepalan tinjunya. "Tinju Auman Singa." Dia meninju bagian belakang beruang itu. Beruang hitam tampak tidak terpengaruh sedikitpun, masih berdiri tegak di tempatnya berada. Hal itu membuat Lingga kaget mengetahui kekebalan beruang hitam itu. Beruang hitam itu menengok ke belakang kemudian membabi bu
Wirajaya segera memimpin pasukannya menuju kediaman keluarga bagaswara. Dia juga memerintah beberapa orang untuk menyebar ke beberapa titik perbatasan untuk memastikan tidak ada satupun anggota keluarga bagaswara yang melarikan diri. Pergerakan pasukan keluarga wirajaya membuat kota mawar putih m
Saat malam menjelang, Lingga bergerak senyap di desanya. Dia menyelinap masuk ke rumah-rumah warga dan membunuh mereka semua. Wanita dan anak-anak bahkan tidak luput dari amukannya. Mereka semua sama saja telah menindas dan menyiksanya. Lingga telah menjalani kehidupan tragis dimana setiap hari d
Lingga yang berasal dari desa terpencil tentu tidak mengetahui siapa Batara Kara dan apa itu sekte pedang naga. Batara Kara adalah seorang legenda pedang kerajaan sangkala. Ribuan pemuda mengantri untuk dapat memasuki sektenya dan menjadi muridnya. Batara Kara sedang menyendiri dan bersemedi di d
"Lepaskan aku! Tolong lepaskan aku!" Seorang pemuda berusia 14 tahun berusaha memberontak dari kepala desa dan beberapa orang desa yang sedang mengaraknya. Pemuda itu sedang diarak menuju ke jurang yang sangat dalam hingga tak ada satupun yang dapat melihat dasarnya karena tertutup kabut hitam. Pe
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu