共有

Ramuan Penawar

作者: Nona Lee
last update 公開日: 2026-03-21 22:03:50

Cahaya lilin di ruang belajar pribadi Paviliun Utama tampak gemetar, seolah-olah ikut merasakan ketegangan yang menyesakkan dada tiga orang di dalamnya. Di atas meja jati yang kokoh, kotak logam kecil yang ditemukan Permaisuri berdiri dengan angkuh. Sisanya yang berlumpur telah dibersihkan, menyingkap ukiran bunga krisan hitam lambang rahasia yang hanya dikenal oleh segelintir pejabat tinggi di masa kejayaan Perdana Menteri Hong.

"Buka, Mei," perintah Permaisuri, suaranya tenang namun mengandu
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   KEBAHAGIAAN YANG SEMPURNA

    "Kau masih saja menanyakan hal yang jawabannya sudah tertulis di setiap hela napasku, Yuan," bisik Shu Mei sembari menyamankan posisinya dalam pelukan sang Kaisar. Long Yuan terkekeh, suara rendahnya menggetarkan dada tempat Mei bersandar. Mereka berdiri di balkon paviliun tertinggi istana, tempat di mana mereka bisa melihat seluruh kota Jin yang kini gemerlap oleh lampion perdamaian. Angin malam berhembus lembut, memainkan ujung rambut mereka yang kini sedikit bersentuh dengan warna perak kehidupan, namun gairah di mata mereka tidak pernah memudar dimakan usia. "Aku hanya ingin memastikannya setiap hari, Mei. Karena bagiku, mendengar pengakuanmu adalah satu-satunya hal yang membuat takhta ini tidak terasa dingin," jawab Yuan sembari mengeratkan dekapannya, seolah takut jika ia melonggarkan pelukan itu, sosok di depannya akan menghilang bak mimpi. Mei menatap langit malam yang bersih. Pikirannya melayang jauh ke belakang, menembus lorong waktu menuju masa-masa di mana ia hanyalah

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Keputusan Yuan

    "Apa Bunda bilang? Menikah dengan Putri Mahkota Utara?" Suara Long Tian Jun memecah keheningan di dalam paviliun medis, tempat ia biasanya bersembunyi dari hiruk-pikuk istana. Ia baru saja meletakkan pedang latihannya ketika Shu Mei masuk dengan gurat kecemasan yang tidak bisa disembunyikan. Wajah tampan Tian Jun mengeras, tanda hitam di dahinya seolah berdenyut mengikuti detak jantungnya yang mulai memacu karena amarah. "Ini adalah tuntutan resmi, Tian. Ayahmu sedang menimbangnya sekarang," ucap Mei sembari melangkah mendekat, mencoba mengusap bahu putranya yang kini sudah jauh lebih tinggi darinya. "Kekaisaran Utara bukanlah lawan yang mudah. Jika ini ditolak secara kasar, mereka mengancam akan melepaskan sesuatu yang bisa menghancurkan perdamaian kita." Tian Jun mendengus kasar, ia memalingkan wajahnya dengan tatapan berapi-api. "Aku tidak peduli! Aku tidak akan pergi ke Utara, apalagi menikahi wanita yang tidak aku kenal. Aku punya pilihanku sendiri, Bunda!" Mei menghela na

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Kekalahan Long Yuan

    "Jangan berikan dia ruang untuk bernapas, Tian! Serang dari sisi kiri bawah, di sana pertahanan Ayahmu selalu goyah!" Teriakan itu melengking jernih di udara pagi yang sejuk, berasal dari balkon paviliun tinggi yang menghadap langsung ke lapangan latihan utama. Shu Mei berdiri di sana, mengenakan jubah permaisuri berwarna biru muda yang tenang, namun matanya berkilat penuh semangat, bukan semangat seorang tabib, melainkan semangat seorang ibu yang sedang mengompori putranya. Di tengah lapangan, debu beterbangan mengikuti setiap gerak lincah dua sosok pria yang memiliki postur tubuh yang hampir serupa. Long Yuan tampak menggeram, otot-otot lengannya menegang saat ia menahan hantaman pedang kayu yang sangat berat. Di hadapannya, Long Tian Jun yang kini telah menginjak usia tujuh belas tahun, berdiri dengan kegagahan yang sanggup mengintimidasi lawan mana pun. Wajah Tian Jun telah kehilangan kebulatan pipi masa kecilnya, berganti dengan rahang yang tegas dan tajam. Tanda hitam di dahi

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Mau Jadi Temanku?

    "Tidak punya bakat seperti itu?! Kau pikir aku buta, Long Yuan?!" Suara Shu Mei memecah keheningan lapangan latihan, lebih tajam daripada denting pedang yang mereka banggakan tadi. Tanpa memedulikan wibawa suaminya sebagai kaisar yang ditakuti seluruh daratan, Mei melangkah maju. Tangannya yang biasanya lembut saat meracik obat, kini dengan cekatan mendarat di daun telinga Yuan. Set!*l "Aduuuh! Mei! Sakit, sayang! Pelankan sedikit, anak kita sedang melihat!" ringis Yuan sembari berjalan jinjit mengikuti tarikan tangan istrinya yang mulai menyeretnya menjauh dari lapangan. "Biar dia melihat! Biar dia tahu bahwa ayahnya ini adalah guru besar dari segala kenakalan tidak berguna ini!" omel Mei tanpa ampun. "Masuk ke paviliun sekarang! Kau harus menjelaskan padaku bagian mana dari strategi militer yang mengajarkan cara mencuri pita rambut gadis kecil!" "Itu... itu hanya taktik pendekatan, Mei! Aduh, aduh! Iya, aku masuk! Aku masuk!" Yuan pasrah, tubuh gagahnya kini tampak menekuk saat

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Dia Mirip Denganku!

    "Kau harus melihatnya sendiri, Mei. Anak itu... dia bukan lagi sekadar bocah yang mengejar kupu-kupu di taman. Gerakan pedangnya sudah mulai memiliki berat, persis seperti tebasanku saat aku pertama kali dikirim ke barak!" Long Yuan berjalan di sepanjang lorong paviliun dengan langkah yang ringan, seolah-olah beban kekaisaran yang dipikulnya menguap begitu saja setiap kali ia membicarakan putra tunggalnya. Ia menoleh ke arah Shu Mei yang berjalan di sampingnya, mencoba menyamai langkah suaminya yang lebar. "Aku tahu dia berbakat, Yuan. Tapi kau tidak perlu sampai menyeretku dari ruang peracikan obat hanya untuk melihat kalian saling mengadu besi," sahut Mei sembari mengusap sisa debu ramuan di tangannya. Meski mengeluh, ada binar kebanggaan yang tak bisa ia sembunyikan di matanya yang teduh. "Ini berbeda! Hari ini dia berhasil menangkis serangan sudut ketigaku. Di usia sepuluh tahun!" Yuan membusungkan dada, senyumnya lebar hingga mencapai telinga. "Dia benar-benar salinan diriku.

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Anak Nakal

    "Long Tian Jun! Apa kau tuki?!" Suara Shu Mei tidaklah menggelegar seperti guntur, namun nada dingin dan tajam itu sanggup membuat dedaunan di taman istana seolah berhenti bergoyang. Long Tian Jun, yang tadinya berdiri dengan pongah di atas atap paviliun, seketika membeku. Kilat ungu di matanya padam dalam sekejap, digantikan oleh binar ketakutan yang murni. Dengan gerakan canggung, bocah lima tahun itu turun menggunakan tangga kayu yang ditinggalkan para pekerja, lalu melangkah mendekat dengan kepala tertunduk dalam. Set! "Aduuh! Bunda, sakit!" Tian Jun memekik saat jemari Mei mendarat tepat di telinga kanannya, menjewernya dengan tarikan yang cukup untuk membuat tubuh mungil itu berjinjit. "Sakit? Kau pikir hati para pelayan itu tidak sakit saat kau beri bubuk gatal? Kau pikir prajurit itu tidak malu saat kau buat pingsan hanya karena kau ingin mencoba ramuan curianmu?" omel Mei, wajahnya yang cantik kini memerah karena menahan geram. "Sekarang, minta maaf pada mereka semua. Sat

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Pengakuan Mei

    Udara malam yang menusuk tulang seolah berhenti berdesir saat mata Long Yuan mengunci tatapan Shu Mei. Kecurigaan yang selama ini ia tekan kini meluap, menciptakan aura intimidasi yang membuat para pengawal di kejauhan menunduk dalam. Mei bisa merasakan debaran jantung Yuan yang tidak beraturan, ta

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Rahasia Yang Tersimpan

    Malam itu langkah Shu Mei terasa seringan kapas saat ia menyelinap kembali ke dalam Paviliun Tamu. Keheningan malam itu terasa mencekam, seolah dinding-dinding kayu di sekitarnya memiliki telinga yang siap membocorkan keberadaannya. Ia tahu Lin sedang berada di dapur belakang, dan ini adalah satu-s

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Harga Sebuah Kesetiaan

    Di bawah tatapan intens Long Yuan, jantung Shu Mei serasa ingin melompat keluar dari dadanya. Tekanan di dagunya dan hembusan napas suaminya yang sarat akan kecurigaan membuatnya merasa terpojok di antara jurang. Namun, sebagai seorang wanita yang terbiasa hidup di tengah intrik istana Shu yang kej

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Duri Dalam Kedamaian Palsu

    Malam itu, Paviliun Naga terasa lebih sunyi dari biasanya, namun bagi Shu Mei, kesunyian itu justru memekakkan telinga. Setelah Lin keluar dari kamar dengan senyum penuh kemenangan yang tersembunyi, Mei jatuh terduduk di tepi ranjang. Tangannya masih gemetar hebat, dan kantong berisi daun Labah Mer

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status