로그인Demi menghentikan permusuhan dua kekaisaran besar Shu dan Jin. Shu Mei terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur, untuk menikahi seorang jenderal kejam bernama Long Yuan. Di tengah hinaan dan cacian dirinya yang hanya seorang anak selir. Shu Mei harus membuktikan dirinya lebih pantas daripada sang kakak Shu Lian. Bisakah ia menjinakan hati Long Yuan yang terkenal kejam itu? Atau hanya menjadi pion dalam perebutan takhta dan kekuasaan? Lalu bagaimana jika suatu saat Shu Lian meminta kembali posisinya? Apakah Shu Mei akan melepaskan Long Yuan?!
더 보기Langit di atas Kekaisaran Shu tampak mendung, seolah-olah awan sendiri tahu bahwa kedamaian yang sedang dirayakan di aula utama adalah sebuah kebohongan besar. Di sudut paling terpencil dari istana yang megah itu, berdiri sebuah bangunan tua yang nyaris runtuh yang dikenal sebagai Paviliun Teratai Layu. Di sanalah seorang wanita bernama Shu Mei menghabiskan seluruh hidupnya. Jauh dari pesta pora, jauh dari kasih sayang, dan jauh dari pandangan dunia.
Shu Mei berdiri mematung di tengah ruangan yang remang-remang. Rambutnya yang hitam legam mengalir lurus hingga ke pinggang, berkilau seperti sutra terbaik meskipun ia hanya menggunakan minyak kelapa sederhana untuk merawatnya. Wajahnya yang berbentuk hati memiliki kecantikan yang murni, mata yang jernih seperti air telaga dan bibir ranum yang jarang tersenyum. Namun, kecantikan itu kini terkubur di bawah lapisan kain sutra merah yang berat dan sulaman emas yang rumit. Ia menatap pantulan dirinya di cermin perunggu yang mulai berkarat. Di sana, seorang pengantin tampak berdiri dengan gagah, namun Mei merasa seperti seekor domba yang sedang dihias sebelum disembelih di atas altar. "Indah sekali," sebuah suara berat dan dingin memecah keheningan. Mei tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Ia melihat pantulan ayahnya, Kaisar Shu, berdiri di ambang pintu. Pria itu tidak pernah menginjakkan kaki di paviliun ini selama sepuluh tahun, sejak pemakaman ibunda Mei, seorang selir rendah yang mati dalam kesepian. "Gaun itu seharusnya milik kakakmu, Lian," ucap Kaisar sembari melangkah masuk, suaranya tidak mengandung penyesalan sedikit pun. "Tapi sekarang, kau harus memastikan dunia percaya bahwa kau adalah dia." Mei mengepalkan tangannya di balik lengan baju yang lebar. "Mengapa harus aku, Yang Mulia? Mengapa bukan salah satu putri sah anda yang lain? Lian melarikan diri karena dia takut pada Jenderal Long Yuan. Dia takut mati. Lalu, apakah hidupku begitu tidak berharga hingga anda melemparkanku ke sarang harimau tanpa kedip?" Kaisar mendengus, matanya menatap Mei dengan tatapan menghina. "Hidupmu adalah milik Kekaisaran ini sejak kau dilahirkan. Kau adalah putriku hanya dalam nama. Selama ini kau hanya memakan nasi istana tanpa memberikan kontribusi apa pun. Inilah saatnya kau membalas budi." "Membalas budi?" Mei tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar seperti pecahan kaca. "Anda tidak pernah menganggapku sebagai putri. Anda membiarkanku kelaparan di paviliun ini, membiarkan para pelayan menindasku, dan sekarang saat Kekaisaran Jin menuntut janji, anda mengingat bahwa anda memiliki seorang cadangan. Ini bukan pengabdian, Yang Mulia. Ini adalah pengkhianatan terhadap darah anda sendiri." Wajah Kaisar Shu memerah karena marah. Ia melangkah maju dan mencengkeram rahang Mei dengan kasar, memaksanya menatap mata tua yang penuh ambisi itu. "Dengarkan aku baik-baik, Mei," desisnya. "Long Yuan bukan pria yang bisa kau ajak bicara. Dia adalah iblis yang berjalan di muka bumi. Jika dia tahu bahwa Shu telah menipunya, dia tidak hanya akan memenggal kepalamu, tapi dia akan meratakan seluruh istana ini. Dan jika kau berani membuka mulutmu atau mencoba melarikan diri seperti Lian..." Kaisar memberi isyarat ke arah pintu. Dua prajurit masuk sambil menyeret seorang wanita tua yang terisak. Pelayan Lin, satu-satunya orang yang merawat Mei sejak kecil. Sebuah pedang dingin ditempelkan ke leher wanita tua itu. "Lin..." Mei berbisik, matanya mulai berkaca-kaca. "Satu kata yang salah keluar dari mulutmu, atau satu gerakan yang mencurigakan di hadapan Long Yuan, maka kepala pelayan tua ini akan jatuh ke tanah sebelum kau sempat bernapas," ancam Kaisar. "Pilihlah. Menjadi Permaisuri Jin yang terhormat, atau menjadi alasan mengapa pengasuhmu mati bersimbah darah." Mei merasakan dadanya sesak, seolah-olah oksigen di ruangan itu telah habis. Ia menatap Pelayan Lin yang menggelengkan kepala, memohon agar Mei tidak memikirkannya. Namun, bagi Mei, Lin adalah satu-satunya alasan ia masih bertahan hidup di istana yang dingin ini. Dengan perlahan, Mei melepaskan diri dari cengkeraman ayahnya. Ia berdiri tegak, membiarkan martabat yang selama ini ia simpan di balik kemiskinan terpancar keluar. "Baiklah," kata Mei dengan nada datar, suaranya kini terdengar seperti es yang membeku. "Aku akan pergi. Aku akan menjadi persembahan bagi Jenderal haus darah itu. Tapi ingatlah ini, Yang Mulia... mulai saat ini, aku bukan lagi putri dari Kekaisaran Shu. Jika suatu saat aku kembali, itu bukan sebagai anakmu, melainkan sebagai badai yang akan menghancurkan segalanya." Kaisar hanya tertawa meremehkan, menganggap ucapan Mei hanyalah gertakan seorang gadis lemah. "Pakai cadarmu. Kereta sudah menunggu. Jangan biarkan ada setetes air mata pun yang merusak riasan wajahmu. Di mata dunia, kau adalah Shu Lian, mutiara dari Shu." Setelah Kaisar pergi, Mei kembali menatap cermin. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengambil cadar kain sutra merah transparan yang dihiasi butiran permata kecil. Ia memakainya, menutupi wajah cantiknya yang kini pucat pasi. Di balik cadar itu, ia bukan lagi Shu Mei yang tidak terlihat. Ia adalah seorang pengantin pengganti yang memikul beban kematian. Ia tahu, di perbatasan sana, Long Yuan menunggunya dengan pedang terhunus. Dan ia juga tahu, ia harus belajar untuk mencintai kegelapan jika ia ingin bertahan hidup di antara para serigala. Mei melangkah keluar paviliun untuk terakhir kalinya. Gaun merahnya menyapu lantai kayu yang berdebu, seolah-olah menyeret semua kenangan pahit masa kecilnya menuju masa depan yang penuh darah. Ia tersenyum pahit, "Tumbal..." gumamnya pelan. "Aku hanya wanita yang di tumbalkan bagi Kekaisaran Shu." **semoga kalian suka dgn cerita baruku ya.. jangan sungkan untuk meninggalkan komentar, karena author selalu menunggu komen-komen dari kalian huhu. jangan lupa tinggalkan riview nya juga ya** selamat membaca~~"Kau masih saja menanyakan hal yang jawabannya sudah tertulis di setiap hela napasku, Yuan," bisik Shu Mei sembari menyamankan posisinya dalam pelukan sang Kaisar. Long Yuan terkekeh, suara rendahnya menggetarkan dada tempat Mei bersandar. Mereka berdiri di balkon paviliun tertinggi istana, tempat di mana mereka bisa melihat seluruh kota Jin yang kini gemerlap oleh lampion perdamaian. Angin malam berhembus lembut, memainkan ujung rambut mereka yang kini sedikit bersentuh dengan warna perak kehidupan, namun gairah di mata mereka tidak pernah memudar dimakan usia. "Aku hanya ingin memastikannya setiap hari, Mei. Karena bagiku, mendengar pengakuanmu adalah satu-satunya hal yang membuat takhta ini tidak terasa dingin," jawab Yuan sembari mengeratkan dekapannya, seolah takut jika ia melonggarkan pelukan itu, sosok di depannya akan menghilang bak mimpi. Mei menatap langit malam yang bersih. Pikirannya melayang jauh ke belakang, menembus lorong waktu menuju masa-masa di mana ia hanyalah
"Apa Bunda bilang? Menikah dengan Putri Mahkota Utara?" Suara Long Tian Jun memecah keheningan di dalam paviliun medis, tempat ia biasanya bersembunyi dari hiruk-pikuk istana. Ia baru saja meletakkan pedang latihannya ketika Shu Mei masuk dengan gurat kecemasan yang tidak bisa disembunyikan. Wajah tampan Tian Jun mengeras, tanda hitam di dahinya seolah berdenyut mengikuti detak jantungnya yang mulai memacu karena amarah. "Ini adalah tuntutan resmi, Tian. Ayahmu sedang menimbangnya sekarang," ucap Mei sembari melangkah mendekat, mencoba mengusap bahu putranya yang kini sudah jauh lebih tinggi darinya. "Kekaisaran Utara bukanlah lawan yang mudah. Jika ini ditolak secara kasar, mereka mengancam akan melepaskan sesuatu yang bisa menghancurkan perdamaian kita." Tian Jun mendengus kasar, ia memalingkan wajahnya dengan tatapan berapi-api. "Aku tidak peduli! Aku tidak akan pergi ke Utara, apalagi menikahi wanita yang tidak aku kenal. Aku punya pilihanku sendiri, Bunda!" Mei menghela na
"Jangan berikan dia ruang untuk bernapas, Tian! Serang dari sisi kiri bawah, di sana pertahanan Ayahmu selalu goyah!" Teriakan itu melengking jernih di udara pagi yang sejuk, berasal dari balkon paviliun tinggi yang menghadap langsung ke lapangan latihan utama. Shu Mei berdiri di sana, mengenakan jubah permaisuri berwarna biru muda yang tenang, namun matanya berkilat penuh semangat, bukan semangat seorang tabib, melainkan semangat seorang ibu yang sedang mengompori putranya. Di tengah lapangan, debu beterbangan mengikuti setiap gerak lincah dua sosok pria yang memiliki postur tubuh yang hampir serupa. Long Yuan tampak menggeram, otot-otot lengannya menegang saat ia menahan hantaman pedang kayu yang sangat berat. Di hadapannya, Long Tian Jun yang kini telah menginjak usia tujuh belas tahun, berdiri dengan kegagahan yang sanggup mengintimidasi lawan mana pun. Wajah Tian Jun telah kehilangan kebulatan pipi masa kecilnya, berganti dengan rahang yang tegas dan tajam. Tanda hitam di dahi
"Tidak punya bakat seperti itu?! Kau pikir aku buta, Long Yuan?!" Suara Shu Mei memecah keheningan lapangan latihan, lebih tajam daripada denting pedang yang mereka banggakan tadi. Tanpa memedulikan wibawa suaminya sebagai kaisar yang ditakuti seluruh daratan, Mei melangkah maju. Tangannya yang biasanya lembut saat meracik obat, kini dengan cekatan mendarat di daun telinga Yuan. Set!*l "Aduuuh! Mei! Sakit, sayang! Pelankan sedikit, anak kita sedang melihat!" ringis Yuan sembari berjalan jinjit mengikuti tarikan tangan istrinya yang mulai menyeretnya menjauh dari lapangan. "Biar dia melihat! Biar dia tahu bahwa ayahnya ini adalah guru besar dari segala kenakalan tidak berguna ini!" omel Mei tanpa ampun. "Masuk ke paviliun sekarang! Kau harus menjelaskan padaku bagian mana dari strategi militer yang mengajarkan cara mencuri pita rambut gadis kecil!" "Itu... itu hanya taktik pendekatan, Mei! Aduh, aduh! Iya, aku masuk! Aku masuk!" Yuan pasrah, tubuh gagahnya kini tampak menekuk saat
Long Yuan berdiri mematung di tengah pelataran, menatap punggung dua wanita yang kini berjalan menjauh dengan langkah ringan. Pemandangan itu seharusnya menenangkannya, aliansi telah terbentuk, dan perang saudara di dalam istananya tampak mereda. Namun, bagi sang Jenderal Agung, ini adalah awal dar
Langit di atas Kekaisaran Zhang tampak seolah sedang menumpahkan duka, tertutup awan mendung kelabu yang menggantung rendah, seolah-olah alam tahu bahwa badai yang lebih besar sedang berkecamuk di dalam aula pertemuan agung istana. Di tengah ruangan yang diterangi oleh ratusan lilin hitam, sebuah m
Ruang obat yang sempit itu terasa semakin menyesakkan. Bau menyengat dari akar valerian dan alkohol yang tumpah dari meja yang tersenggol seolah menjadi saksi bisu dua manusia yang saling mengunci nyawa. Ujung anak panah beracun Mei masih menempel di jakun Lu Wei, sementara belati hitam pria itu han
Lampu-lampu minyak di peraduan utama Istana Zhang berkedip lemah, seolah kelelahan menyaksikan kegelapan yang terjadi di balik tirai sutra merah yang megah. Aroma dupa mawar yang seharusnya menenangkan kini bercampur dengan bau keringat yang anyir dan sisa-sisa pemaksaan. Shu Lian duduk di tepi ran






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰더 하기