LOGINDemi bertahan hidup dari eksekusi mati, Emily Dawson menyamar sebagai pemuda bernama Elian dan menjadi pelayan pribadi di kastil Duke Kael yang membenci wanita. Tugas intim melayani sang Duke, mulai dari memandikan hingga memakaikan pakaian memaksa Emily terjebak dalam sentuhan-sentuhan yang membahayakan penyamarannya. Di tengah kepungan prajurit kerajaan dan kecurigaan Kael yang kian tajam, Emily harus bertaruh nyawa agar jantungnya yang berdebu tidak membongkar rahasia besarnya.
View More"Paman, aku datang ke sini karena aku ingin .... "
"Aku akan membantumu, dengan satu syarat."
Kalimat Diego memutus kata-kata Freya. Mata Freya membulat sempurna. Bagaimana mungkin pria ini tahu maksud kedatangannya sebelum ia sempat mengucapkannya?
Freya Xania seorang spesialis kandungan, tidak pernah menyangka pasien yang datang ke kliniknya tadi pagi adalah selingkuhan Dani_calon suaminya.
Wanita bernama Nadia itu bahkan sudah hamil dua bulan. Lalu, dengan bangganya dia memamerkan cincin tunangan yang sama persis seperti cincin pernikahan yang Freya desain sendiri.
Lebih parahnya, Dani justru memberikan cincin berlian palsu dengan desain serupa padanya.
Mungkin Dani lupa, sebelum orang tua Freya bangkrut karena penipuan, mereka adalah pemain besar di bisnis perhiasan.
Freya tumbuh besar dengan melihat perbedaan antara berlian murni dan zircon murahan.
Tidak ingin diam saja saat harga dirinya diinjak-injak, Freya nekat menemui Diego_paman kekasihnya sendiri untuk meminta bantuan.
Diego Foster adalah pemilik imperium Gold Dragon dan penguasa industri batu bara yang dikenal sebagai orang paling berkuasa di negara ini.
Dibandingkan dengan Dani yang baru belajar memimpin dan posisinya hanya sebagai Direktur, Diego adalah Raja Bisnis yang sesungguhnya, sosok yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia korporasi.
Hanya Diego satu-satunya orang berkuasa, yang mampu menghancurkan Dani.
"Syarat?" Suara Freya nyaris berbisik.
Diego memajukan tubuh, meraih pulpen emas di atas meja sambil terus mengunci tatapan Freya.
Aura dominannya menyelimuti ruangan itu, membuat Freya merasa kecil.
"Kamu akan mendapatkan bantuan dariku, apa pun itu. Aku bisa menghancurkan apa pun yang ingin kamu hancurkan. Tapi sebagai gantinya, kamu harus menerima syarat dariku."
"Paman tahu apa yang aku inginkan?" tanya Freya masih tak percaya.
"Aku tahu segalanya, Freya." Diego menyandarkan punggung ke belakang, menatap Freya lekat-lekat.
Ditatap sedemikian dalam oleh pria di depannya membuat Freya diam membeku. Selama ini yang ia ketahui tentang Diego ... sang Naga Emas dikenal sebagai pria yang belum pernah menikah, tapi kerap bergonta-ganti pasangan kencan.
Banyak wanita cantik di negeri ini berlomba untuk menjadi istrinya, namun tidak ada satu pun dari mereka yang terpilih.
Freya merasa dirinya jauh dari kata sempurna dibandingkan wanita-wanita itu, akan tetapi kenapa tatapan Diego padanya selalu terasa begitu ... berbeda? Dan alasan itu yang membuat Freya berani meminta bantuan pada Paman kekasihnya sendiri.
"Maaf Paman, tapi apa Paman benar-benar akan membantuku? Paman bahkan belum tahu apa yang ingin kulakukan," tanya Freya pelan.
Diego tertawa kecil. "Aku tahu kamu ingin membalas sakit hatimu, bukan? Aku akan membantumu meratakan segalanya, asalkan kamu setuju dengan satu syarat."
Freya kembali terdiam. Jika Diego sudah bicara seperti itu, artinya pengkhianatan Dani memang sudah bukan rahasia lagi?
Apa mungkin Dani sengaja berkhianat hanya untuk menghancurkannya? Karena ia terlalu banyak berhutang budi pada kedua orang tua tunangannya itu?
Freya memejamkan mata sesaat, mengingat masa kelam ketika bisnis orang tuanya hancur. Saat itu, orang tua Dani datang bagai Dewa penyelamat.
Mereka menggelontorkan dana yang tidak sedikit untuk membiayai kuliah kedokteran Freya hingga tuntas, bahkan mendirikan klinik besar untuk mewujudkan mimpi Freya menjadi Dokter Kandungan.
Namun, kini dilema menghantamnya. Jika Dani benar-benar berkhianat, apakah Balas Budi sebanding dengan harga diri yang diinjak-injak?
Freya menghela napas dalam, lalu mengatakan, "Apa syaratnya, Paman?"
Diego tidak langsung menjawab. Ia berdiri, melangkah perlahan mengitari meja kerja besarnya, lalu berhenti tepat di belakang Freya.
Ia membungkuk, membisikkan kata-kata tepat di telinga Freya.
Bulu kuduk Freya meremang seketika saat merasakan hembusan napas hangat Diego yang seakan merasuk ke dalam jiwa.
Jantung Freya berdegup liar saat mendengar bisikan rendah itu.
"Aku ingin memilikimu seutuhnya."
Freya menelan ludah dengan susah payah. Syarat itu terasa begitu berat. Ia sadar, jika ia mengangguk, ia mungkin hanya akan berakhir menjadi Pemuas Nafsu sang konglomerat.
Tidak mungkin pria sekelas Diego sudi menikahinya. Namun, jika ia menolak, ia akan masuk dalam jebakan licik Dani yang menjijikkan.
"T-tapi ... apa Paman benar-benar akan membantuku menghancurkan Dani?" Suara Freya bergetar. "Dia keponakanmu."
Diego tersenyum tipis, sebuah senyum yang terasa mematikan saraf-saraf Freya.
"Siapa pun itu akan aku hancurkan jika berani menyakiti mainanku."
Freya terdiam, helaan napasnya terasa kian berat. Jawaban Diego mempertegas posisinya sebagai 'Mainan.'
Ya, hanya sebagai mainan sang Naga Emas, sama seperti wanita lain yang selama ini selalu dianggap rendah oleh orang-orang.
*
*
*
Di sisi lain gedung, di ruang kerja yang nyaman, Dani baru saja duduk di kursi kebanggaan.
Sebuah panggilan masuk dari kontak bernama 'Melati' nama rahasia yang ia berikan untuk Nadia_selingkuhannya.
Dani melirik ke arah pintu, memastikan tidak ada staf yang lewat sebelum ia mengangkat telepon itu dengan suara yang sengaja dibuat mesra.
"Sayang, jangan menghubungi di jam segini. Kalau rindu, tunggu aku pulang kerja nanti, hmmm."
"Iihh! Aku nelepon bukan karena kangen, tapi karena aku punya berita penting untuk kamu. Kamu mau tahu berapa usia kandunganku sekarang?"
Mata Dani membelalak. Ia pikir mual-mual yang dikeluhkan Nadia beberapa hari lalu hanyalah efek kelelahan karena kegiatan ranjang mereka setiap malam.
"Kamu ... kamu benar-benar hamil?"
"Iya! Usianya sudah masuk dua bulan. Kamu harus siap-siap jadi ayah, dan jangan lupakan janji kamu. Setelah kamu menikahi wanita itu demi menjaga nama baik keluarga, kamu harus segera menceraikannya dan menikahiku."
Dani tersenyum lebar, dadanya membusung bangga karena akan segera memiliki penerus.
Selama ini ia memang sudah muak dengan Freya yang selalu menjaga jarak dengan alasan menjaga kesucian. Kini cinta Dani sudah tumpah sepenuhnya pada Nadia, wanita cantik yang selalu memuaskan hasratnya.
"Tentu, Sayang. Aku janji. Aku hanya menikahi Freya demi nama baik ayahku yang sudah terlanjur menjodohkan kami. Setelah itu, aku akan menceraikannya dengan tuduhan perselingkuhan yang sudah aku siapkan. Kamu tenang saja."
"Oke ... aku pegang janjimu. Jangan sampai lupa ya."
"Tentu, Sayang," jawab Dani. "Hmm ... untuk merayakan kebahagiaan kita, bagaimana kalau malam ini kita berdua makan malam romantis di Hotel Raflesia. Kamu mau?"
"Aku mau banget Sayang! Sampai jumpa nanti malam. I love you."
"I love you too, Sayang."
Dani meletakkan ponsel dengan senyuman lebar, merasa rencananya begitu sempurna.
Namun, ia sama sekali tidak menyadari bahwa di balik pintu yang sedikit renggang, Freya berdiri di sana.
Freya mendengar setiap kata, setiap tawa, dan setiap rencana busuk yang keluar dari mulut pria yang masih berstatus tunangannya itu.
Mendengar pembelaan Emily yang begitu menggebu-gebu, Kael memaksakan sebuah senyuman miring yang penuh kepahitan di bibirnya yang pucat dan pecah-pecah. Sisa-sisa kesadarannya yang kian menipis akibat cengkeraman demam tinggi menolak untuk menyerah begitu saja pada air mata seorang Dawson."Kau... sangat pandai bersandiwara, Emily," bisik Kael lemah, suaranya terdengar seperti gesekan kertas kering, namun sarat akan sinisme yang mendalam."Dalam sejarah politik kerajaan... dengarkan aku... semua orang atau klan yang bersalah... tidak akan pernah merasa bahwa dirinya salah. Ayahmu... dia meninggalkan posisinya di perbatasan saat kami paling membutuhkan kavaleri Dawson. Itu fakta yang tertulis dengan darah pasukanku.""Cukup, Kael! Hentikan omong kosong politikmu!" potong Emily. Ia sama sekali tidak peduli lagi dengan ucapan sinis Kael yang terus memojokkan keluarganya. Fokus utamanya saat ini adalah menyelamatkan nyawa pria itu, bukan memenangkan perdebatan masa lalu. Emily menoleh ber
"Aku terpaksa bersembunyi di kastilmu demi menyelamatkan nyawaku, Kael! Setelah keluargaku dituduh berkhianat, seluruh perbatasan memburu kami seperti binatang! Aku tidak punya pilihan lain!"Emily menjelaskan dengan air mata menetes, dengan suara yang parau menembus keheningan tenda yang mencekam.Kael mencengkeram busurnya, matanya yang memerah menatap Emily dengan sisa kemarahan. "Jadi kau menjadikan kastilku sebagai tempat pelarian? Mengelabui seluruh pengawal dengan berpura-pura menjadi gadis bisu?!""Aku tidak punya niat buruk!" tangis Emily, dadanya naik turun dengan cepat."Namun aku sama sekali tidak menyangka... aku benar-benar tidak menyangka bahwa kau adalah utusan resmi raja yang dikirim ke utara khusus untuk mencari keberadaan diriku dan Johan! Aku baru mengetahuinya setelah membaca dokumen rahasia di medjamu!"Melihat ketulusan dan kepasrahan yang teramat sangat di wajah Emily, wajah yang tidak menyembunyikan kepalsuan apa pun di bawah ancaman maut, jemari Kael yang mem
Johan berlari cepat menembus semak-semak yang membeku, kakinya menerjang tumpukan salju dengan langkah-langkah lebar yang memicu nyeri hebat di pundaknya. Setiap embusan napasnya terasa seperti serpihan kaca yang menusuk paru-paru, namun matanya tetap fokus menembus kegelapan.Ia tahu waktu yang dimilikinya sangat tipis. Di bawah sana, di perkemahan yang senyap, Emily sedang berjalan menuju takdir yang bisa saja merenggut nyawanya dalam sekejap mata."Jangan bertindak bodoh, Emily!" gerutu Johan di sela-sela langkahnya, melompati akar pohon besar yang melintang. "Jika pria itu melepaskan busurnya sebelum kau sempat bicara, pengorbananku memancing dua puluh kavaleri besi tadi akan menjadi sia-sia!"Di depan tenda komando yang sunyi, hawa ketegangan begitu pekat hingga seolah mampu membekukan udara. Kael, yang mendengar suara langkah kaki mendekat dari arah luar perimeter, tidak lagi mengandalkan zirah mekanisnya yang kehilangan pasokan uap.Dengan sisa-sisa kekuatan biologisnya yang te
Di bagian hutan yang lebih tinggi, di mana lereng berbatu berbatasan langsung dengan tebing curam, Johan Dawson mendadak menghentikan pelariannya.Napasnya memburu, menyemburkan uap putih tebal ke udara malam yang membeku. Dada bidangnya naik turun dengan tidak beraturan; setiap tarikan napas terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk langsung ke paru-parunya.Ia menoleh ke belakang, memastikan bahwa posisi dirinya kini sudah berada cukup jauh dari Kael yang sedang sekarat di bawah pohon perkemahan utama.Jarak ini sudah lebih dari cukup untuk menjamin bahwa jeritan atau benturan pertempuran di sini tidak akan mengganggu "agenda" penting yang sedang berjalan di bawah sana.Lampu suar mekanis dari zirah uap para prajurit kavaleri yang mengejarnya kini berkedip-kedip agresif di antara kerapatan pohon pinus, membelah kabut malam yang mulai turun.Cahaya kemerahan dan kekuningan dari lampu-lampu suar itu memantul di atas permukaan salju, menciptakan siluet distopia yang mengerikan di ten
Kata-kata getir Johan masih menggantung di udara yang pengap, menyisakan keheningan yang menyesakkan di antara dua bersaudara itu.Sepasang mata Emily bergetar, bibirnya terbuka ingin menyangkal argumen kakaknya yang begitu menyudutkan batin. Namun, belum sempat Emily membalas perkataan kakaknya, a
Debat argumen terjadi di antara dua bersaudara Dawson di dalam gubuk yang mulai berasap tipis akibat pembakaran dokumen di tungku besi.Udara di dalam ruangan terasa kian menyesakkan, bukan hanya karena partikel abu yang beterbangan, melainkan juga karena ketegangan ideologi yang merayap di antara
Emily tersedak mendengar pertanyaan frontal kakaknya. Ia terbatuk kecil, buru-buru meneguk air dari cangkir kalengnya hingga dadanya terasa lega, namun rona merah di pipinya tidak bisa disembunyikan.Demi mengalihkan pembicaraan yang mulai menyudutkan perasaannya, Emily segera mengangguk cepat tanp
Di bawah pendar redup bara perapian yang hampir mati, Johan membaca-baca kembali dokumen konspirasi Aliansi Barat tersebut sambil bergumam pelan dengan suara yang ditekan serendah mungkin agar Emily tidak terbangun dari tidurnya. Kertas-kertas perkamen tua itu berderit halus di sela jemarinya yang






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews