Beranda / Romansa / Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam / Bab 82 Sangkar Kecil di Tengah Laut

Share

Bab 82 Sangkar Kecil di Tengah Laut

Penulis: Dama Mei
last update Tanggal publikasi: 2026-03-11 20:17:06

Suara deru baling-baling helikopter membelah langit pagi Jakarta yang mulai diselimuti polusi tipis. Di dalam kabin yang kedap suara, Aira duduk terpaku di samping jendela. Ini adalah pertama kalinya ia menaiki helikopter pribadi milik klan Varmadeo. Matanya membelalak takjub saat melihat gedung-gedung pencakar langit yang biasanya menjulang angkuh, kini perlahan mengecil dan tampak seperti tumpukan balok mainan di bawah sana.

Garis pantai utara Jakarta mulai terlihat, dan tak lama kemudian, wa
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 95 Benih Keraguan

    Setelah malam yang penuh gairah sekaligus intimidasi di ruang kerja Adriel, Aira merasa seperti burung dalam sangkar emas yang setiap gerak-geriknya dipantau oleh mata-mata tak terlihat. Adriel sempat melarangnya ke kampus, namun setelah perdebatan panjang dan janji Aira untuk tidak menemui siapa pun, Adriel akhirnya luluh. Dengan satu syarat mutlak: pengawalan ketat.Kini, Aira berjalan menyusuri koridor kampus dengan perasaan tidak nyaman. Tiga pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam dan earpiece yang terpasang di telinga berjalan tepat dua langkah di belakangnya. Kehadiran mereka menarik perhatian setiap mahasiswa yang lewat. Bisik-bisik mulai terdengar, menciptakan dinding kecanggungan yang membuat Aira merasa terasing di tempat yang seharusnya menjadi dunianya.Saat sampai di depan pintu ruang kelas, Aira berhenti dan berbalik. Ia menatap ketiga pengawal itu dengan tatapan memohon."Tolong," bisik Aira. "Berhentilah membuntutiku sampai sedekat ini. Kalian membuat semua orang

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 94 Mimpi Buruk yang Nyata

    Di luar, hujan mulai turun membasahi kaca jendela besar, menciptakan rintik yang seolah mengisolasi mereka dari dunia luar.Aira masih terduduk lemas di atas sofa kulit besar berwarna cokelat gelap. Napasnya masih tersengal, dadanya naik turun seiring dengan gejolak emosi yang baru saja menghantamnya. Pengakuan Adriel tentang Guntur Ragendra terasa seperti mimpi buruk yang menjadi nyata.Adriel yang masih berlutut di depan Aira, tidak melepaskan tatapannya sedikit pun. "Kamu dengar aku, kan, Aira?" Suara Adriel merendah, parau dan berbahaya. "Jangan pernah berpikir untuk menemui pria tua itu. Jangan pernah berpikir untuk mencari tahu lebih jauh tentangnya."Aira menatap Adriel dengan mata berkaca-kaca. "Tapi dia kakekku. Aku... aku hanya ingin tahu kenapa ibuku harus menderita sendirian sampai akhir hayatnya."Mendengar kata-kata itu, cengkeraman Adriel pada tangan Aira mengerat. Pria itu berdiri, namun alih-alih menjauh, ia justru merangkak naik ke atas sofa, memerangkap tubuh mungi

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 93 Cadangan Suksesi

    Deru mesin SUV hitam itu terdengar kasar saat memasuki area halaman Mansion Varmadeo. Marcus menghentikan kendaraan tepat di depan pintu utama dengan gerakan yang sangat terburu-buru. Wajahnya yang biasanya tenang kini nampak tegang, matanya terus memindai setiap sudut halaman seolah-olah musuh bisa muncul dari balik semak-semak hias.Belum sempat Marcus membukakan pintu, pintu utama mansion sudah terbuka lebih dulu. Adriel melangkah keluar dengan langkah lebar yang menunjukkan kegelisahan yang luar biasa."Aira!" seru Adriel.Begitu Aira turun dari mobil, Adriel langsung menariknya ke dalam dekapan yang sangat erat. Pelukan itu begitu kuat, seolah-olah Adriel sedang berusaha menyatukan tubuh Aira ke dalam tubuhnya sendiri agar tidak ada celah bagi siapa pun untuk mengambilnya. Aira bisa merasakan detak jantung Adri

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 92 Garis Keturunan yang Tersisa

    Di kediaman pribadi Leonidas Varmadeo, sebuah gedung bergaya kolonial yang lebih menyerupai museum daripada rumah tinggal, suasana tampak lebih mencekam dari biasanya. Para pengawal berbaju hitam berdiri dengan posisi siaga di setiap sudut koridor, seolah-olah mereka sedang menunggu kedatangan badai.Leonidas Varmadeo duduk di kursi kerjanya yang besar. Ia baru saja menyesap kopi hitam tanpa gula ketika asisten pribadinya masuk dengan langkah tergesa."Tuan Besar, tamu yang Anda tunggu telah tiba," lapor sang asisten dengan suara yang sedikit bergetar.Leonidas meletakkan cangkirnya perlahan. Ia merapikan setelan jasnya yang mahal, lalu berdiri. "Bawa dia ke ruang perpustakaan pribadi. Jangan biarkan ada satu pun staf yang mendekat ke area itu."Di pintu masuk mansion, s

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 91 Tatapan Sang Elang Tua

    Guntur Ragendra menatap keluar jendela dengan tangan yang bertumpu pada tongkat kayu eboni berkepala perak. Di sampingnya, Prabu duduk dengan sikap tegak, sesekali melirik jam tangan pintarnya untuk memastikan jadwal yang telah mereka susun."Kita sudah sampai di area kampus, Tuan Besar," bisik Prabu. "Menurut laporan, Nona Aira baru saja menyelesaikan kelas pertamanya dan biasanya akan menghabiskan waktu di taman tengah sebelum kelas berikutnya dimulai."Mobil itu berhenti di bahu jalan yang teduh oleh deretan pohon angsana, tepat menghadap ke arah taman kampus yang luas. Kaca film mobil yang sangat gelap memastikan bahwa orang dari luar tidak akan bisa melihat siapa yang berada di dalam, sementara dari dalam, Guntur memiliki pandangan yang sangat jelas ke arah kerumunan mahasiswa."Yang mana?" tanya Guntur, suaranya parau.Prabu menunjuk ke arah sebuah bangku taman di bawah pohon besar. "Di sana, Tuan Besar. Gadis yang mengenakan kemeja putih dengan rok plisket berwarna biru langit.

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 90 Gema yang Pulang

    Mesin helikopter yang menderu pelan akhirnya mati sepenuhnya saat mendarat di atas helipad pribadi gedung Varmadeo Tower. Sesaat kemudian, sebuah sedan hitam sudah menunggu untuk membawa pasangan itu kembali ke Menteng. Sepanjang perjalanan dari atap gedung menuju mansion, Adriel tidak melepaskan genggaman tangannya dari jemari Aira. Kulit mereka yang sedikit lebih gelap karena terpapar matahari pulau tampak serasi saat bertautan.Begitu mobil memasuki gerbang besar Mansion Varmadeo, sosok Nora sudah berdiri di teras depan. Wajah wanita tua itu tampak jauh lebih cerah dari biasanya."Selamat datang kembali, Tuan, Nona Aira!" sapa Nora dengan bungkukan hormat yang diiringi senyum lebar.Aira turun dari mobil, menghirup aroma melati yang selalu tercium di halaman rumah ini. "Nora, aku merindukanmu," ucap Aira tulus, mendekat dan menyentuh lengan Nora.Nora menatap Aira dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia menyadari ada yang berbeda. Aira tampak lebih bersinar, lebih percaya diri, dan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status