Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu

Dibalik Panggung, Aku kehilanganmu

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-11
Oleh:  Ravelyn AshBaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Belum ada penilaian
11Bab
8Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Di atas panggung, Yuha selalu terlihat paling bersinar. Ia tersenyum lebar, bernyanyi di tengah lautan lightstick dan teriakan fans yang memanggil namanya. Semua orang melihatnya sebagai idol yang ceria dan berbakat. Tak ada yang tahu, di balik senyum itu, Yuha menanggung tekanan dari member lain, tuntutan agensi, dan komentar tajam para penggemar karena rumornya. Suatu hari, ia ingin bercerita pada satu-satunya orang yang ia percaya, Suho seorang produser musik sekaligus kekasih yang harus ia sembunyikan. Namun Suho mulai menjaga jarak karena agensi mencurigai kedekatan mereka. Ia menghindar demi melindungi karier Yuha. Sampai satu malam, sebuah pesan darinya tak pernah dibalas. Dan keesokan harinya, Yuha memilih mengakhiri hidupnya. Penyesalan Suho datang terlambat. Ia tak pernah benar-benar tahu seberapa dalam luka yang Yuha sembunyikan. Ia gagal melindunginya. Namun ketika takdir memberinya kesempatan kedua, Suho bersumpah kali ini ia tidak akan terlambat. Apa pun risikonya, ia akan tetap di sisi Yuha.

Lihat lebih banyak

Bab 1

1. Panggung Terakhir

Lampu panggung menyala‎

Stadion Seoul ramai karena banyaknya penonton.

Puluhan ribu lightstick membentuk lautan cahaya.‎

“Selamat datang di ECLIPSE: United Stage Festival!”‎

Nama AURORA ENTERTAINMENT terpampang besar di layar LED raksasa.‎

Dan di tengah sorakan itu—

Yuha tersenyum.‎

Senyum yang sempurna.

Senyum yang telah ia latih selama bertahun-tahun.‎

“Yuha! Lihat ke kamera tengah!”‎

Ia menoleh dengan wajah yang bersinar dan mata yang berbinar.

Tak ada yang tahu sebenarnya Ia menanggung banyak masalah.‎

‎—‎

Di sisi lain backstage, Suho berdiri dengan headset di lehernya.‎

Ia adalah bagian dari tim produksi musik di Agensi yang berbeda dengan Yuha.‎

Tangan kirinya memegang tablet berisi revisi aransemen.

Deadline minggu ini hampir membunuhnya.‎

Tapi matanya tetap mencari satu orang.‎

Yuha.‎

Dan ketika mata mereka bertemu dalam keramaian, dunia terasa mengecil.‎

Yuha menatap kekasihnya tersebut dengan senyum yang ramah,

berjalan mendekat, masih dengan mic di tangan.‎

‎“Kak.”‎

Suho menunduk sedikit agar tak terlalu mencolok.‎

‎“Kamu kelihatan cantik banget hari ini.”‎

“Terima kasih kak”

Yuha menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya.‎

‎“Kak… ada sesuatu yang mau Aku ceritakan. Bisakah kamu datang ke rumahku besok malam? Aku benar-benar berharap kamu bisa datang”‎

Suaranya pelan, nyaris hilang di Tengah keramaian staf.‎

Suho terdiam.‎

Beberapa hari terakhir, dia mulai merasa ada tatapan aneh ke arahnya.

Rumor juga mulai beredar di antara para staf.

Beberapa dari mereka bahkan berbisik pelan setiap kali ia lewat

“Yuha… sepertinya kita harus membatasi hubungan kita mulai sekarang. Nampaknya Agensiku mulai mencurigaiku.”‎

Wajah Yuha sempat membeku sesaat.‎

‎“Tapi kak, aku—”‎

“YUHA! Siap posisi! Lima menit lagi!”‎

Manager memanggil keras.‎

Yuha tersentak.‎

Tatapannya tertuju pada Suho, seolah ingin mengatakan sesuatu lagi.‎

Tapi pada akhirnya, Ia hanya tersenyum.‎

Senyum yang muncul terlalu cepat.‎

‎“Aku nggak papa. Nanti aja.”‎

Dan ia berlari kembali ke panggung.‎

Suho berdiri di tempatnya.‎

Tidak mengejarnya.‎

Tidak bertanya.‎

Tidak menyadari itu adalah kesempatan terakhirnya untuk mendengarkannya.‎

‎—‎

Konser selesai dengan gemuruh yang luar biasa.‎

Aurora mendapat sorakan meriah dari penonton

Nama Yuha bahkan trending di berbagai platform.‎

Namun di ruang ganti…‎

Ruang ganti LUMIÈRE dipenuhi bau hairspray dan keringat panggung.‎

Sorakan penonton masih terdengar samar dari luar stadion.‎

Yuha baru saja melepas in-ear monitor-nya ketika pintu dibelakangnya tertutup lebih keras dari biasanya.‎

Sunyi.‎

Lalu suara Mira terdengar lebih dulu.‎

‎“Kamu puas sekarang?”‎

Yuha menoleh dengan bingung. “Maksud kakak apa?”‎

Minji menyilangkan tangan. “Kamu ketemu cowok itu lagi kan? Di saat skandal lagi panas-panasnya?.”‎

Haein tertawa kecil, sinis. “Bagus, Yuha. Kamu benar-benar tau ya cara bikin masalah?”‎

Jantung Yuha berdegup lebih cepat.‎

‎“Aku cuma—”‎

‎“Cuma apa?” Dahyun memotong. Suaranya tenang, tapi tajam. “Kita semua lagi berusaha jaga nama ‎grup. Kamu malah sibuk pacaran.”‎

“Tunggu, itu bukan seperti yang kalian pikir—”‎

‎“Jangan bohong!” Mira membentak. “Staff aja udah mulai ngomong. Sponsor bisa cabut gara-gara ‎skandalmu!”‎

Yuha menggeleng pelan. “Aku nggak bermaksud bikin masalah…”‎

Minji mendekat satu langkah. “Tapi masalahnya tetap terjadi kan.”‎

Haein menambahkan, lebih pelan tapi lebih menusuk, “Dan itu selalu karena kamu.”‎

Ruangan terasa menyempit.‎

Lampu putih di atas kepala terasa terlalu terang.‎

Dahyun menatap Yuha lama. Tidak marah. Tidak berteriak. Hanya dingin.‎

‎“Kamu tahu nggak kenapa orang-orang benci kamu?”‎

Yuha terdiam.‎

“Karena kamu selalu terlihat sempurna. selalu dianggap berbakat. Seolah-olah semuanya memang milikmu.”‎

Haein melanjutkan

‎“ya, Aku tau bukan salahmu kamu selalu yang paling bersinar. Tapi bukan berarti kamu bisa egois.”‎

Egois.‎

Kata itu menggema di kepala Yuha.‎

‎“Aku nggak pernah—”‎

‎“Berhenti pura-pura polos!” Mira mendecih. “Dari dulu coach selalu bandingin kita sama kamu, sekarang publik juga ikut-ikutan dan kamu malah sempet-sempet nya ketemu cowokmu?!”‎

Yuha menunduk.‎

Tangannya gemetar.‎

Sebenarnya ini bukan salah Yuha, hanya saja para member terlalu iri, dan mereka mulai mengaitkan semuanya dengan rumor tentang hubungan Yuha.

Dahyun melangkah lebih dekat. Sangat dekat hingga hanya ada beberapa sentimeter di antara mereka.‎

‎“Kalau grup ini hancur,” bisiknya pelan, “itu gara-gara kamu.”‎

Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada teriakan.‎

Lebih berat daripada bentakan.‎

Napas Yuha seakan tercekat di dadanya.‎

‎“Aku… minta maaf.”‎

Hanya itu yang keluar.‎

Ia membungkuk.‎

Dalam.‎

Sangat dalam.‎

Bukan karena ia merasa bersalah sepenuhnya.‎

Tapi karena ia takut.‎

Takut benar-benar sendirian.‎

Takut mereka membencinya lebih jauh.‎

Mira menghela napas keras. “Selalu saja minta maaf.”‎

Minji menggeleng. “Kalau kamu memang peduli sama kita, kamu harusnya tahu kapan harus berhenti.”‎

Haein memalingkan wajah. “Kadang aku mikir… mungkin tanpa kamu grup ini lebih tenang.”‎

Itu yang paling menghancurkan.‎

Bukan teriakan.‎

Bukan hinaan.‎

Tapi kemungkinan bahwa keberadaannya adalah beban.‎

Yuha mengangguk kecil.‎

‎“Aku benar-benar minta maaf.”‎

Ia pun berbalik pergi

Tapi…

Tidak ada yang menahannya

Tidak ada yang merasa bersalah

‎—‎

Kamar mandi backstage kosong.‎

Pintu tertutup pelan.‎

Yuha berdiri di depan wastafel.‎

Cahaya putih neon memantul di cermin besar.‎

Ia menatap dirinya sendiri.‎

Makeup masih sempurna.‎

Eyeliner tajam. Glitter masih berkilau di kelopak matanya.‎

Namun matanya sudah berkaca-kaca

Bibirnya bergetar.‎

Tangannya mencengkeram pinggiran wastafel kuat-kuat sampai buku jarinya memutih.‎

Ia menarik napas.‎

Sekali.‎

Dua kali.‎

Jangan menangis.‎

Kalau mascara luntur, stylist akan tahu.‎

Kalau stylist tahu, manager tahu.‎

Kalau manager tahu, semua orang tahu.‎

Ia tersenyum pada cermin.‎

Senyum tipis.‎

Senyum yang dipaksakan

“Kamu harus professional Yuha,” bisiknya pada bayangannya sendiri.‎

Air mata jatuh sebelum sempat ia tahan.‎

Cepat-cepat ia menyekanya.‎

“Ini cuma capek.”‎

Ia menegakkan tubuhnya.‎

Menatap lagi pantulan dirinya.‎

‎“Semua orang juga capek.”‎

Suaranya hampir tak terdengar.‎

‎“Jangan jadi orang lemah.”‎

Satu air mata lagi jatuh.‎

Ia tersenyum lagi.‎

Lebih lebar.‎

Lebih palsu.‎

“Maaf.”‎

Tak ada siapapun di ruangan itu.‎

Tapi ia tetap meminta maaf.‎

Seolah keberadaannya sendiri adalah kesalahan.‎

Dan malam itu…‎

adalah terakhir kalinya ia berdiri di depan cermin untuk berusaha terlihat kuat.‎

‎—‎

Malam di studio Haneul Music Lab, suasananya selalu terasa sama.‎

Dingin.

Sepi.

Dan dipenuhi suara metronom yang tak pernah berhenti.‎

Suho duduk di depan layar monitor, headphone menempel di telinga.

File aransemen untuk penampilan Music Show terbuka dengan puluhan layer suara.‎

String section belum seimbang.

Bridge terasa kosong.

Deadline tinggal tiga hari.‎

Lalu..

Ponselnya bergetar pelan di meja.‎

Ia tidak langsung melihatnya.‎

Sampai getaran kedua datang.‎

Akhirnya ia menoleh.‎

Nama itu.‎

Yuha.‎

Dadanya menghangat seketika.‎

Ia membuka pesan itu.‎

“Kak, bisa datang sekarang?”

“Aku takut sendirian.”‎

Jantungnya berhenti satu detik.‎

Takut?‎

Yuha jarang sekali menggunakan kata itu.‎

Jarang sekali meminta.‎

Ia menatap layar lebih lama dari yang seharusnya.‎

Jari-jarinya mulai mengetik.‎

‎“Aku lagi sibuk. Besok ya.”‎

Ia berhenti.‎

Menghapus.‎

Mengetik lagi.‎

‎“Kenapa? Ada apa?”‎

Menghapus lagi.‎

Kalau ia bertanya begitu, Yuha pasti akan merasa diinterograsi.‎

Ia tahu Yuha.‎

Yuha tidak suka membuat orang khawatir.‎

Suho menghela napas.‎

Mungkin ini hanya efek skandal.

Mungkin Yuha hanya lelah setelah konser.

Mungkin ini hanya overthinking.‎

Ia mencoba bersikap rasional.‎

Besok ia bisa menemuinya.‎

Besok ia bisa mendengarkan.‎‎

Ia meletakkan ponselnya dengan posisi terbalik.‎

Memaksa fokus ke layar komputer

Metronom kembali berdetak.‎

Tapi pikirannya tidak lagi stabil.‎

Beberapa menit berlalu.‎

Tangannya berhenti di atas keyboard MIDI.‎

Ia mengambil ponselnya lagi.‎

Layar masih menunjukkan pesan itu.‎

Dilihat 22.47.‎

Tidak ada pesan lanjutan.‎

Ia menggigit bibirnya.‎

Haruskah ia pergi?‎

Tapi kalau ia keluar sekarang dan seseorang melihatnya…‎

Rumor akan semakin panas.‎

Dan jika rumor membesar, karier Yuha bisa lebih hancur.‎

Ia meyakinkan dirinya sendiri:‎

Menjaga jarak adalah cara melindunginya.‎

Ia menaruh ponsel sekali lagi.‎

Dan kali ini benar-benar memaksakan diri bekerja.‎

‎—‎

Di apartemen lantai tiga yang terasa sunyi, Yuha duduk di tepi tempat tidur.‎

Layar ponselnya menyala redup di tangannya.‎

Tidak ada balasan.‎

Ia menatap status “dibaca” cukup lama.‎

Tidak marah.‎

Tidak kesal.‎

Hanya… kosong.‎

Ia mengetik lagi.‎

‎“Kak, aku cuma mau cerita bentar.”‎

Ia menatap kalimat itu.‎

Menghapusnya.‎

Mengetik lagi.‎

‎“Aku baik-baik saja kok.”‎

Ia berhenti.‎

Menutup mata.‎

Menghapus lagi.‎

Akhirnya ia mematikan layar ponselnya.‎

Karena ia tahu.‎

Kalau ia meminta sekali lagi, dan tetap tidak dijawab…‎

Itu akan jauh lebih menyakitkan.‎

Ia berdiri perlahan.‎

Apartemen itu terasa terlalu luas untuk satu orang.‎

Suasana sangat sepi.‎

Ia membuka laci meja kecilnya.‎

Mengambil diary biru tua.‎

Hadiah dari Suho.‎

Tangannya sedikit gemetar saat membukanya.‎

Tinta mengalir pelan di atas kertas.‎

Kak, aku tadi mau cerita. ‎

Tapi mungkin kakak terlalu sibuk‎

Aku lelah. ‎

Aku benar-benar lelah.‎

Maaf karena tidak bisa lebih kuat. ‎

Maaf karena mungkin aku selalu merepotkan.‎

Tetes air jatuh memburamkan tinta.‎

Ia mengingat jelas perkataan member lain padanya

‎“…mungkin tanpa kamu, grup ini lebih tenang”‎

Apakah jika aku pergi, semuanya akan lebih tenang?

Semuanya akan lebih baik?

Ia menutup diary itu pelan.‎

Lalu menatap ke arah balkon.‎

Langit malam yang gelap.‎

Angin dingin masuk dari celah pintu kaca yang sedikit terbuka.‎

Yuha melangkah mendekat.‎

Langkahnya ringan.‎

Seolah tidak ada beban.‎

Padahal seluruh dunia terasa menekan pundaknya‎

‎“Maafkan aku semua…”‎

‎—‎

Di studio, Suho akhirnya menyelesaikan bagian bridge.‎

Ia pun bersandar lelah.‎

Refleks membuka ponsel lagi.‎

Tidak ada pesan baru.‎

Ia hampir mengetik sesuatu.‎

“Habis ini aku ke sana.”‎

Jarinya menggantung di atas layar.‎

Tapi jam menunjukkan 01.12.‎

Terlalu larut.‎

Ia berpikir:‎

Besok pagi aku masih bisa temui dia.‎

Ia mematikan ponselnya.‎

Dan malam itu…‎

Suho lebih memilih pekerjaan.‎

Tanpa tahu bahwa di saat yang sama,‎

Yuha memilih menyerah.‎

‎—‎

Suho terbangun dari tidurnya karena suara notifikasi yang tak berhenti.‎

Satu.

Dua.

Tiga.‎

Ponselnya bergetar di atas meja samping tempat tidur suho.‎

Ia mengerjap pelan. Kepalanya terasa masih berat karena tidur hanya dua jam.‎

Ia pun menyalakan layer ponselnya.‎

Puluhan notifikasi berita.‎

Grup chat industri musik meledak.‎

Satu headline terpampang besar di layar.‎

‎“Maknae LUMIÈRE, Yuha, Ditemukan Tak Sadarkan Diri — Diduga Bunuh Diri.”‎

Ponsel itu terjatuh dari tangannya.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya,

Suho berharap ia tidak pernah berpikir rasional.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
11 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status