LOGINKisah ini adalah sekuel dari novelku yang berjudul, Cintaku Bersemi di Masa Remaja. Perjalanan cinta salah satu personil Geng ARJOFA bernama, Arnold dan sahabat masa kecilnya, Marsha Livia. Arnold yang sudah lama menjomlo membuat kedua orang tuanya merasa cemas kepada putra tunggalnya tersebut karena tak kunjung menikah. Apalagi kedua sahabat Arnold yang tergabung dalam Geng ARJOFA, yaitu Joseph dan Farez telah menikah dengan pasangan mereka masing-masing. Oleh karena itu sang mami mulai mengatur siasat untuk menjodohkan Arnold dengan putri dari sahabatnya, yang ternyata adalah teman Arnold saat sekolah dulu. Mungkinkah perjodohan itu berhasil? Ataukah Arnold memiliki kriteria tersendiri tentang seorang perempuan yang akan menjadi calon istrinya? Bagaimana pula reaksi gadis yang akan dijodohkan dengan Arnold? Penasaran? Yuk ikuti kisahnya! Plagiarisme melanggar undang-undang hak cipta nomor 28 tahun 2014.
View MoreRumah Arnold dan Marsha, di suatu siang.Pintu depan rumah dua lantai di kawasan Menteng terbuka perlahan. Arnold berdiri di ruang tamu mengenakan kaus polos dan celana santai, sambil menggendong Adrian yang tidur lelap di pelukannya.“Tadi aku dapet kabar Zera dan Mary mau main ke sini,” ujar Marsha sambil meletakkan botol susu yang baru saja dia siapkan.Arnold tersenyum. “Ah, mereka pasti nggak sabar pengin lihat Adrian.”Belum selesai mereka bicara, bel pintu berbunyi. Arnold meletakkan Adrian di box bayi di sudut ruang tamu dan membuka pintu. Tampak Zera dan Mary berdiri bersama suami mereka, Farez dan Joseph, masing-masing membawa tas dan kotak kado warna-warni.“Spada!” sapa Zera ceria.“Guys, kalian datangnya pas banget!” jawab Arnold sambil mempersilakan mereka masuk.Marsha muncul dari dapur, wajahnya berseri-seri. “Hai semuanya! Terima kasih sudah datang.”Mary menyunggingkan senyum hangat sambil menggendong tas besar. “Kami bawa banyak hadiah untuk Adrian, lho.”Farez i
Di sebuah ballroom hotel bintang lima, Jakarta Selatan.Lampu kristal menggantung megah di langit-langit ballroom. Tirai putih dihiasi taburan bunga hydrangea biru dan balon-balon transparan bernuansa pastel. Sebuah backdrop besar bertuliskan, Welcome Baby Adrian, berdiri di panggung utama, dikelilingi buket bunga dan hadiah-hadiah besar berbungkus rapi.Meja-meja bundar telah tertata dengan taplak putih dan centerpieces bunga mawar dan eucalyptus. Musik lembut mengalun dari grand piano di pojok ruangan.Marsha yang tengah hamil delapan bulan tampak memesona dalam gaun maternity biru langit, rambutnya disanggul anggun. Arnold tampil elegan dengan setelan jas abu muda, berdiri di samping sang istri menyambut tamu.“Zera!” seru Marsha, matanya berbinar saat melihat sahabatnya datang menggandeng Farez, suaminya.“Marsha! Aduh kamu cantik banget, makin glowing!” balas Zera sambil memeluk pelan sahabatnya.Farez menyalami Arnold, “Wah Bro, kelas banget tempatnya. Selamat ya, calon papa!”
Menteng, Jakarta Pusat.Matahari pagi menyusup ke balik tirai jendela kamar utama. Di atas ranjang, Marsha terbangun lebih segar dari biasanya. Rasa mual di pagi hari yang selama ini menghantuinya perlahan menghilang.Dia bangkit, duduk di tepi ranjang, dan mengusap perutnya yang kini mulai sedikit membuncit.“Selamat pagi, Baby,” bisiknya sambil tersenyum.Dari arah kamar mandi, Arnold keluar dengan handuk tergantung di leher.“Pagi, Sayang. Kamu terlihat lebih fresh,” katanya sambil menghampiri.“Pagi juga, Papinya Baby,” jawab Marsha manja. “Akhirnya pagi ini aku nggak muntah. Seneng banget rasanya.”Arnold mengecup kening istrinya. “Syukurlah. Ternyata trimester kedua memang benar kata dokter, badan kamu mulai menyesuaikan.”Marsha bangkit dan berjalan ke meja rias. “Hari ini aku mau ke showroom di Kemang. Klien kita mau liat mock-up kamar anak. Kamu ikut?”Arnold tertawa sambil mengambil jas kerjanya. “Kalau aku ikut, kantor bisa kosong. Tapi nanti sore aku pulang cepat. Soalny
Menteng, Jakarta Pusat, tiga hari setelah kunjungan ke dokter.Sejak dokter mengkonfirmasi kehamilan Marsha, suasana rumah Arnold dan Marsha berubah total. Di sela kesibukan mereka, keduanya mulai mencicil persiapan kecil-kecilan. Namun kabar itu belum mereka sampaikan kepada siapapun, hingga hari ini.Di ruang keluarga, Marsha duduk di sofa sambil memandangi layar ponsel, gugup.“Aku sudah kirim pesan ke Mami dan Papi,” katanya sambil melirik suaminya.Arnold yang sedang menuangkan jus jeruk ke gelas tertawa pelan. “Mereka pasti langsung nelepon. Siap-siap telingamu panas.”Tak sampai lima menit, benar saja. Ponsel Marsha bergetar. Nama Mami Bertha muncul di layar.“Marsha!” Terdengar suara mami Marsha di ujung telepon, penuh haru. “Ini bener? Kamu hamil?”Marsha menahan tawa. “Iya, Mi. Baru lima minggu. Aku juga kaget.”Terdengar suara Papi Eben berseru di belakang, “Puji syukur kepada Tuhan! Akhirnya Papi akan punya cucu!”Marsha dan Arnold tertawa bersama.“Arnold harus jaga kam












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews