LOGINKisah ini adalah sekuel dari novelku yang berjudul, Cintaku Bersemi di Masa Remaja. Perjalanan cinta salah satu personil Geng ARJOFA bernama, Arnold dan sahabat masa kecilnya, Marsha Livia. Arnold yang sudah lama menjomlo membuat kedua orang tuanya merasa cemas kepada putra tunggalnya tersebut karena tak kunjung menikah. Apalagi kedua sahabat Arnold yang tergabung dalam Geng ARJOFA, yaitu Joseph dan Farez telah menikah dengan pasangan mereka masing-masing. Oleh karena itu sang mami mulai mengatur siasat untuk menjodohkan Arnold dengan putri dari sahabatnya, yang ternyata adalah teman Arnold saat sekolah dulu. Mungkinkah perjodohan itu berhasil? Ataukah Arnold memiliki kriteria tersendiri tentang seorang perempuan yang akan menjadi calon istrinya? Bagaimana pula reaksi gadis yang akan dijodohkan dengan Arnold? Penasaran? Yuk ikuti kisahnya! Plagiarisme melanggar undang-undang hak cipta nomor 28 tahun 2014.
View MorePagi yang cerah,
Sinar matahari menyusup hangat melalui celah-celah tirai ruang makan rumah Keluarga Zafazel. Di meja makan panjang berbahan kayu jati mengkilap, tiga orang tampak sedang menikmati sarapan mereka. Aroma nasi goreng spesial buatan Mami Dina memenuhi ruangan, ditambah dengan irisan telur dadar, acar, dan kerupuk yang renyah. Arnold Zafazel, pria muda, CEO sebuah perusahaan milik keluarganya yang berusia matang dengan tubuh tegap dan wajah rupawan, duduk di tengah kedua orang tuanya yaitu Papi Ardi yang tampak berwibawa dan Mami Dina yang selalu tampil anggun dan rapi. “Arnold, coba deh itu tambahin sambalnya dikit. Biar ada rasa,” ujar Mami Dina sambil tersenyum lembut. Arnold mengangguk kecil, menyendokkan sedikit sambal ke piringnya. “Iya, Mi. Nasi gorengnya enak banget, seperti biasa.” “Papi juga setuju,” timpal Papi Ardi, menyisip kopi hitam dari cangkir keramiknya. “Masakan Mami, memang nggak pernah gagal. “He-he-he.” Mereka bertiga pun tertawa pelan, menciptakan suasana hangat di pagi hari itu. Namun, tawa itu tak berlangsung lama. Papi Ardi menaruh sendoknya, menyandarkan punggung di kursi dan menatap putranya dengan pandangan penuh arti. “Arnold,” ucapnya pelan tapi jelas. “Papi mau tanya sesuatu yang penting.” Arnold menghentikan kunyahannya, menatap ayahnya dengan dahi sedikit berkerut. “Apa, Pi?” “Kamu mau nikah kapan?” tanya Papi Ardi tanpa basa-basi. Arnold sempat terdiam. Dia pun melirik ibunya, lalu kembali menatap piringnya. Suasana mendadak menjadi agak canggung. “Joseph sama Farez udah nikah, kamu sahabat mereka, masa masih belum juga?” lanjut Papi Ardi. “Mereka bahkan udah bahas soal punya anak.” Arnold menarik napas pelan, lalu mengangkat bahu. “Aku belum ada rencana, Pi.” Mami Dina yang sedari tadi tersenyum, ikut bersuara, “Arnold, Mami juga pengin dong gendong cucu. Lihat Joseph dan Farez udah punya pasangan tuh, kayaknya seru. Rumah mereka pasti ramai.” Arnold menunduk, lalu menjawab jujur, “Aku jomlo sekarang, Mi.” Mami Dina membulatkan mata, lalu menggeleng pelan, “Ya ampun, jomlo? Ganteng gini, kerjaan mapan, kok bisa jomlo?” Papi Ardi ikut berkomentar sambil mengernyit, “Bener juga apa kata Mami. Kamu banyak temen perempuan, apa nggak ada satupun yang bisa diajak serius?” Arnold menatap kedua orang tuanya dengan tenang. “Aku belum ketemu yang cocok aja, Mi, Pi. Aku juga nggak mau sembarangan, kan ini soal pasangan seumur hidup.” Mami Dina tampak berpikir sejenak, lalu bibirnya melengkung licik, “Kalau begitu, Mami punya ide.” Arnold menatap ibunya curiga. “Ide apa?” “Mami akan memperkenalkanmu dengan anak sahabat Mami,” jawab Mami Dina cepat. “Namanya Marsha. Dia cantik, sopan, kerja di bidang desain interior. Mami kenal banget sama mamanya sejak kuliah. Tapi sepertinya kamu kenal deh, kalian sempat satu sekolah saat taman kanak-kanak dulu, sebelum keluarga sahabat Mami itu, pindah ke luar negeri.” Arnold mengangkat alis. “Ya ampun Mami. Aku masih sangat kecil kala itu. Manalah aku ingat tentang dia. Jadi gadis itu, mau dijodohin, sama aku, gitu?” “Bukan dijodohin langsung nikah, kok,” timpal Papi Ardi. “Cuma kenalan dulu. Siapa tahu kalian cocok.” Arnold terlihat ragu, lalu menaruh sendoknya. “Hmm … aku bukannya nolak. Tapi jangan buru-buru, ya. Kenalan boleh. Tapi biar kami jalanin dulu aja. Nggak langsung nikah.” Mami Dina tampak girang. “Wah, Arnold. Kamu beneran mau dikenalin dengan Marsha?” Arnold tersenyum tipis. “Ya, Mami. Daripada tiap sarapan aku ditanyain terus soal nikah.” Papi Ardi tertawa senang. “Ha-ha-ha. Nah, itu baru anak Papi.” “Marsha anak baik, kamu pasti suka. Nanti Mami atur waktunya, ya,” ujar Mami Dina dengan antusias. “Biar ketemu di tempat yang santai, mungkin kafe atau brunch.” Arnold mengangguk pelan. “Tapi jangan bilang ke dia kalau ini setting-an orang tua ya. Biar lebih natural.” Mami Dina mengangguk. “Okay, Mami ngerti. Biar kayak pertemuan biasa aja. Tapi Mami doain kalian cocok.” Papi Ardi menambahkan sambil mengambil koran pagi, “Asal kamu serius dan tunjukin niat baik, semua bisa dijalani. Jodoh kadang datang dari arah yang tak terduga.” Arnold hanya tersenyum sambil menyesap teh manisnya. Dalam hati, dia sebenarnya belum terlalu siap dengan ide mengenal perempuan baru, apalagi dengan embel-embel calon istri. Tapi melihat antusiasme kedua orang tuanya, Arnold sadar kadang dirinya harus mengalah demi mereka. Mami Dina bangkit dari kursi dan mulai merapikan piring. “Nanti Mami hubungi Tante Bertha, ibunya Marsha, ya. Kita atur waktu yang pas.” Arnold mengangguk. “Okay, Mami. Tapi jangan terlalu cepat, ya. Biar aku juga bisa atur waktuku.” “Tenang, Mami bukan mak comblang. Tapi Mami percaya kamu bakal suka sama Marsha.” Papi Ardi berdiri dan menepuk bahu putranya. “Papi bangga kamu mau coba berkenalan dengan Marsha. Hidup ini juga soal berani ambil langkah yang tepat dan dilakukan satu per satu.” Arnold tersenyum tipis. “Iya, Pi. Kita lihat aja nanti bagaimana kelanjutannya.” Sarapan pun kembali dilanjutkan dengan suasana yang sedikit lebih ringan. Meski awalnya mendadak, topik soal pernikahan rupanya telah membuat pagi itu terasa lebih berwarna. Arnold tahu jika kehidupan akan selalu membawa kejutan dan mungkin, salah satunya adalah pertemuan dengan seseorang yang bisa mengubah segalanya. Setelah menyelesaikan sarapan pagi yang hangat bersama Papi Ardi dan Mami Dina, Arnold Zafazel menatap arlojinya yang elegan. Jarum panjang menunjukkan pukul tujuh pagi. Dia pun menyesap sisa teh manisnya, lalu berdiri sambil merapikan kemeja putihnya yang licin dan menyelipkan ponsel ke dalam saku jas abu-abu muda yang dikenakannya. “Papi, Mami, aku berangkat ke kantor dulu ya,” ucap Arnold sopan sambil mencium tangan kedua orang tuanya secara bergantian. “Jangan lupa makan siang yang sehat di kantor,” pesan Mami Dina seperti biasa. “Dan jangan ngebut di jalan,” tambah Papi Ardi. Arnold tersenyum tipis. “Tenang, Pi, Mi. Aku dijemput Wira, kan, dia yang nyetir.” Begitu melangkah keluar dari pintu utama rumah besar Keluarga Zafazel, mobil Mercedes-Benz S-Class hitam dengan kaca gelap sudah terparkir rapi di depan carport. Seorang pria muda, berpakaian rapi dengan jas dan dasi, berdiri di samping pintu belakang sambil membukanya untuk Arnold. “Selamat pagi, Bos Arnold,” ucapnya sopan. “Mobil sudah siap.” “Pagi, Wira. Terima kasih,” jawab Arnold sambil masuk ke dalam mobil. Sang asisten segera duduk di kursi pengemudi, menyalakan mesin dengan tenang, lalu mulai menjalankan mobil ke arah kantor pusat AZ Corp, sebuah perusahaan multinasional yang bergerak di bidang properti dan teknologi, tempat Arnold menjabat sebagai CEO termuda sepanjang sejarah perusahaan. Di dalam mobil, suasana cukup tenang. Arnold memandang keluar jendela sambil berpikir. Pikiran tentang obrolan sarapan pagi tadi bersama orang tuanya kembali terngiang di benaknya. Dia pun memandangi bayangan dirinya di kaca jendela mobil, lalu memutuskan untuk berbicara. “Wira,” panggilnya pelan namun tegas. Sang asisten melirik dari kaca spion tengah. “Ya, Bos Arnold?” “Kamu tadi dengar waktu sarapan? Soal Papi dan Mami yang ingin aku segera menikah?” Wira mengangguk kecil. “Iya, Bos. Saya memang tidak sengaja dengar waktu bantu Nyonya Dina di dapur. Sepertinya mereka benar-benar ingin segera punya menantu.” Arnold tersenyum tipis, lalu menyandarkan kepalanya di kursi. “Dan sekarang … mereka ingin kenalkan aku sama anak sahabat Mami.” Wira terlihat berpikir sejenak. Lalu, sambil tetap fokus menyetir, dia berkata, “Menurut saya, itu bukan hal yang buruk, Bos.” Arnold menoleh sedikit ke arah kursi pengemudi. “Maksud kamu?” “Ya, maksud saya, kalau Anda memang belum punya seseorang yang istimewa saat ini, kenapa tidak dicoba? Sekadar kenalan, toh tidak langsung menikah,” ujar Wira dengan nada bijak. Arnold mendengus pelan, “Itu juga yang aku bilang ke mereka. Aku mau dikenalin, tapi nggak mau buru-buru. Pengin lihat dulu orangnya seperti apa.” “Benar, Bos. Siapa tahu, dia memang jodoh Anda.” Arnold menatap langit-langit mobil, lalu mengangguk pelan. “Kadang aku mikirin kerjaan terus, fokus bangun perusahaan, sampai lupa mikirin hidup pribadi.”Di sebuah ballroom hotel bintang lima, Jakarta Selatan.Lampu kristal menggantung megah di langit-langit ballroom. Tirai putih dihiasi taburan bunga hydrangea biru dan balon-balon transparan bernuansa pastel. Sebuah backdrop besar bertuliskan, Welcome Baby Adrian, berdiri di panggung utama, dikelilingi buket bunga dan hadiah-hadiah besar berbungkus rapi.Meja-meja bundar telah tertata dengan taplak putih dan centerpieces bunga mawar dan eucalyptus. Musik lembut mengalun dari grand piano di pojok ruangan.Marsha yang tengah hamil delapan bulan tampak memesona dalam gaun maternity biru langit, rambutnya disanggul anggun. Arnold tampil elegan dengan setelan jas abu muda, berdiri di samping sang istri menyambut tamu.“Zera!” seru Marsha, matanya berbinar saat melihat sahabatnya datang menggandeng Farez, suaminya.“Marsha! Aduh kamu cantik banget, makin glowing!” balas Zera sambil memeluk pelan sahabatnya.Farez menyalami Arnold, “Wah Bro, kelas banget tempatnya. Selamat ya, calon papa!”
Menteng, Jakarta Pusat.Matahari pagi menyusup ke balik tirai jendela kamar utama. Di atas ranjang, Marsha terbangun lebih segar dari biasanya. Rasa mual di pagi hari yang selama ini menghantuinya perlahan menghilang.Dia bangkit, duduk di tepi ranjang, dan mengusap perutnya yang kini mulai sedikit membuncit.“Selamat pagi, Baby,” bisiknya sambil tersenyum.Dari arah kamar mandi, Arnold keluar dengan handuk tergantung di leher.“Pagi, Sayang. Kamu terlihat lebih fresh,” katanya sambil menghampiri.“Pagi juga, Papinya Baby,” jawab Marsha manja. “Akhirnya pagi ini aku nggak muntah. Seneng banget rasanya.”Arnold mengecup kening istrinya. “Syukurlah. Ternyata trimester kedua memang benar kata dokter, badan kamu mulai menyesuaikan.”Marsha bangkit dan berjalan ke meja rias. “Hari ini aku mau ke showroom di Kemang. Klien kita mau liat mock-up kamar anak. Kamu ikut?”Arnold tertawa sambil mengambil jas kerjanya. “Kalau aku ikut, kantor bisa kosong. Tapi nanti sore aku pulang cepat. Soalny
Menteng, Jakarta Pusat, tiga hari setelah kunjungan ke dokter.Sejak dokter mengkonfirmasi kehamilan Marsha, suasana rumah Arnold dan Marsha berubah total. Di sela kesibukan mereka, keduanya mulai mencicil persiapan kecil-kecilan. Namun kabar itu belum mereka sampaikan kepada siapapun, hingga hari ini.Di ruang keluarga, Marsha duduk di sofa sambil memandangi layar ponsel, gugup.“Aku sudah kirim pesan ke Mami dan Papi,” katanya sambil melirik suaminya.Arnold yang sedang menuangkan jus jeruk ke gelas tertawa pelan. “Mereka pasti langsung nelepon. Siap-siap telingamu panas.”Tak sampai lima menit, benar saja. Ponsel Marsha bergetar. Nama Mami Bertha muncul di layar.“Marsha!” Terdengar suara mami Marsha di ujung telepon, penuh haru. “Ini bener? Kamu hamil?”Marsha menahan tawa. “Iya, Mi. Baru lima minggu. Aku juga kaget.”Terdengar suara Papi Eben berseru di belakang, “Puji syukur kepada Tuhan! Akhirnya Papi akan punya cucu!”Marsha dan Arnold tertawa bersama.“Arnold harus jaga kam
Udara pagi di kawasan Menteng menyapa lembut lewat jendela besar rumah modern minimalis dua lantai yang kini menjadi milik pasangan baru, Arnold dan Marsha. Matahari baru saja naik, memantulkan cahaya ke lantai marmer putih dan menyorot lukisan-lukisan kontemporer yang menghiasi ruang tamu mereka.Marsha duduk di meja makan sambil menyeruput teh melati hangat, rambutnya masih digulung handuk karena baru selesai mandi. Di meja, laptop dan sketsa interior berserakan.Arnold, mengenakan setelan jas abu-abu gelap dengan dasi biru, berjalan turun dari lantai atas sambil memegang iPad-nya."Sayang, kamu lihat file presentasiku nggak? Yang semalam aku taruh di meja kerja?" tanya Arnold, membuka-buka tas kerja kulitnya.Marsha tersenyum dan menunjuk ke meja dekat televisi. "Tadi aku pindahin ke situ. Takut ketumpahan teh aku."Arnold mengangguk, lalu berjalan ke arah yang ditunjuk. "Thanks, ya. Hari ini aku ada meeting besar sama investor dari Singapura. Nggak boleh ada yang miss.""Semanga






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews