MasukCahaya putih menyilaukan ketika Nara membuka mata. Hutan gelap menghilang; ia kini berada di aula tua rumah Wiradipa, tepat di tempat ritual semalam dilakukan.
Namun ruangan itu berubah.
Dindingnya retak, lantainya dipenuhi serpihan kaca, dan asap melati memenuhi udara seperti kabut tipis. Tidak ada lagi keluarga Wiradipa kecuali Raka, yang terbaring lemah di sampingnya.
“Nara…” Raka memaksakan senyum kecil. “Kita kembali.”
Nara memeluknya erat. “Aku kira kita tidak bisa keluar…”
Raka menyentuh wajah Nara dengan lembut. “Kau memanggilku. Itu yang membuatku bertahan.”
Keheningan menyelimuti mereka sebelum sebuah suara lain muncul.
“Belum selesai.”
Sari berdiri di altar, kali ini tidak seram seperti sebelumnya. Wajahnya pucat, tapi tidak memancarkan kebencian—melainkan duka yang dalam, seperti seorang pengantin yang ditinggal di pelaminan.
Raka berdiri menghadapi Sari. “Apa yang kau inginkan dariku?”
Sari menatapnya lama. “Jawaban.”
Raka terdiam.
“Atau… mungkin kau ingin aku mengatakan sesuatu?” Sari mendekat, gaunnya menyeret lantai tanpa suara. “Bahwa aku dibunuh?”
Nara memegang tangan Raka erat-erat. “Siapa yang membunuhmu, Sari?”
Sari menatap Nara—tatapan yang membuat napasnya tercekat.
Ia menoleh ke arah pintu aula. Sesosok bayangan muncul perlahan: Surya, kakak Raka.
Wajahnya tegang, matanya merah penuh rasa bersalah.
“Sudah cukup, Sari,” katanya pelan.
Raka membeku. “Kak… apa maksudnya?”
Surya menunduk. “Aku… tidak bermaksud membunuhnya.”
Nara menahan napas.
Surya melanjutkan, suaranya pecah.
Raka menutup wajahnya. “Kau… membunuh tunanganku?”
“Bukan sengaja!” Surya berteriak. “Aku takut! Aku… aku tidak tahu harus bagaimana. Jadi aku membuatnya terlihat seperti ia ditemukan olehmu.”
Nara melihat Sari. Roh itu memandang Surya dengan campuran amarah dan kesedihan.
“Dan mereka menyalahkanku…” bisik Raka, tubuhnya gemetar. “Bahkan aku sendiri menyalahkan diriku selama ini…”
Sari menatap Raka. “Aku tidak pernah menyalahkanmu.”
Air mata Nara mengalir tanpa ia sadari.
Sari mendekat. “Yang menahanku bukan dendam pada kalian. Tapi ketidakadilan yang memaksaku tinggal.”
Surya menunduk, tangisnya pecah.
“Aku mohon… ampuni aku…”
Sari memandangnya, lalu menggeleng.
“Aku bukan hakim. Tapi aku bisa memilih untuk melepaskan.”
Ruangan tiba-tiba menjadi hangat. Cahaya putih mulai menyelimuti tubuh Sari. Nara menyadari—ini bukan bentuk roh yang marah, tetapi roh yang akhirnya akan pergi.
Namun sebelum menghilang, Sari menatap Nara penuh arti.
“Nara… Raka butuh seseorang yang bisa membuatnya hidup, bukan yang terus mengingatkannya pada kematian.”
Nara tercekat. “Aku… bukan penggantimu.”
“Bukan,” Sari tersenyum tipis. “Kau adalah dirinya sendiri. Dan itu sudah cukup.”
Cabang gaun putihnya mulai berubah menjadi debu cahaya.
Sari menatap Raka terakhir kali.
Raka terisak pelan. “Maafkan aku.”
“Tidak ada yang perlu dimaafkan,” bisik Sari. “Aku akhirnya pulang.”
Dan dalam cahaya putih yang lembut,
Ruangan kembali sunyi.
Raka memandangi altar kosong, matanya basah.
“Dia sudah pergi,” bisik Nara.
Raka mengangguk pelan.
Surya mendekat, berlutut di depan Raka.
Raka menatap kakaknya dengan luka yang dalam, tetapi tidak ada kebencian.
“Kebenaran sudah muncul. Kita tidak bisa kembali ke masa lalu… tapi kita bisa memperbaikinya.”
Surya menangis, menggenggam lengan Raka.
Nara memandang keduanya. Ada duka, ada luka, namun juga ada harapan.
Ketika Raka berdiri dan menatap Nara,
Hanya ketulusan.
“Nara,” katanya lembut, “kalau kau tetap ingin pergi… aku tidak akan menahanmu. Tapi jika kau bersedia tinggal…”
Nara menatapnya dengan senyum kecil. “Kutukan sudah hilang, kan?”
Raka mengangguk. “Sudah.”
Nara menarik napas panjang.
“Kalau begitu… mungkin aku bisa belajar mencintaimu. Bukan sebagai penggantinya, tapi sebagai diriku.”
Raka memeluk Nara, erat, dalam, dan hangat—pelukan seorang lelaki yang akhirnya bebas dari bayangan masa lalu.
Dan di luar rumah… angin malam berembus pelan.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun,
Bulan menggantung rendah di langit Belantara, cahayanya pucat dan tidak lengkap. Ada bagian yang seharusnya terang, namun tampak seperti terhapus—bukan tertutup awan, melainkan hilang. Warga desa menyadarinya hampir bersamaan, dan kegelisahan menyebar seperti riak air.Nara berdiri di halaman rumah, menatap ke atas. Di dadanya, perasaan yang sama muncul kembali—bukan panik, melainkan kewaspadaan yang terlatih.“Bulan tidak lagi mengikuti fasenya,” katanya pelan.Raka mengangguk, wajahnya tegang. “Seharusnya hampir purnama. Tapi… seperti ada potongan yang tertahan.”Laksmi datang membawa mangkuk tanah dan air, simbol lama yang jarang ia gunakan. “Karena yang ditahan bukan cahaya,” katanya. “Melainkan waktu yang mengisi cahaya itu.”Angin malam berhembus tipis. Bayangan rumah memanjang, lalu memendek tanpa alasan. Jam pasir tua di rumah Laksmi—yang sejak lama tak dipakai—jatuh sendiri dan pecah, pasirnya berhenti mengalir.“Jika bulan terbelah,” lanjut Laksmi, “ritme yang lebih besar ak
Pagi yang akhirnya tiba tidak membawa kelegaan penuh. Cahaya matahari menyentuh atap rumah dan jalanan desa Belantara dengan ragu, seolah masih menimbang apakah ia benar-benar diizinkan untuk tinggal. Jam-jam berjalan, namun terasa seperti bergerak di atas pasir—maju, lalu sedikit mundur.Nara duduk di beranda, memperhatikan bayangan pohon yang tidak lagi setia pada arah. Pada jam tertentu, bayangan itu condong ke timur, lalu tiba-tiba bergeser ke barat tanpa alasan. Di dadanya, ada kegelisahan yang tidak mau diam.“Ini bukan sisa kemarin,” katanya pelan.Raka yang sedang memperbaiki engsel pintu berhenti. “Apa yang kau rasakan?”“Bukan tarikan,” jawab Nara. “Pembagian.”Laksmi muncul dari jalan setapak, membawa gulungan kain tua berisi simbol-simbol yang pernah ia simpan jauh sebelum gerbang terbuka. “Kau benar,” katanya tanpa basa-basi. “Minggu mulai terbelah.”Raka berdiri. “Terbelah bagaimana?”“Bukan dicuri sekaligus,” jelas Laksmi. “Dipisah. Hari-hari di minggu ini tidak lagi te
Pagi datang tanpa matahari.Bukan karena awan menutup langit, melainkan karena fajar seolah lupa bagaimana caranya muncul. Udara tetap dingin seperti sisa malam, dan cahaya hanya seterang senja yang ragu untuk berubah. Desa Belantara terbangun dalam kebingungan yang sama—ayam berkokok terlambat, lonceng pagi tidak berdentang, dan bayangan rumah memanjang dengan arah yang keliru.Nara berdiri di ambang pintu rumah, memandang langit yang pucat. Di dadanya, ada rasa berat yang tidak ia kenali sebelumnya.“Ini bukan sekadar detik atau jam,” katanya pelan. “Ada sesuatu yang menahan… satu hari.”Raka muncul di sampingnya, menyampirkan jaket ke bahu Nara. “Aku juga merasakannya. Seperti kita melangkah, tapi tidak maju.”Laksmi berjalan cepat dari ujung jalan, tongkatnya memantulkan cahaya redup. “Karena hari ini sedang diperebutkan.”Raka menoleh tajam. “Diperebutkan oleh siapa?”“Oleh retakan,” jawab Laksmi. “Dan oleh sesuatu yang lebih cerdas dari bayangan pencuri detik.”Seolah menguatkan
Langkah mereka meninggalkan hutan terlarang terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Bukan karena ancaman telah lenyap, melainkan karena dunia di sekitar mereka seolah sedang belajar kembali bagaimana cara bergerak. Waktu berjalan—ya—tetapi tidak lagi mengalir lurus.Nara merasakan hal itu pertama kali ketika ia berkedip.Satu detik.Hanya satu.Namun saat matanya terbuka, posisi bulan di langit telah sedikit bergeser, seolah waktu melompat tanpa permisi.“Kalian… merasakannya?” tanya Nara pelan.Raka berhenti. “Merasakan apa?”“Detik yang hilang,” jawab Nara. “Seperti seseorang… mencurinya.”Laksmi menegang. Ia mengangkat tongkatnya, ujungnya berpendar samar. “Kita tidak sendirian.”Udara di sekitar mereka bergetar halus. Tidak ada angin, namun dedaunan berdesir seperti disentuh oleh sesuatu yang bergerak terlalu cepat untuk dilihat.“Kita harus cepat,” kata Laksmi. “Bayangan waktu telah bangun.”Raka mengerutkan kening. “Bayangan waktu?”“Makhluk sisa,” jelas Laksmi singkat. “Terbentuk d
Kesunyian setelah segel terbentuk bukanlah kesunyian damai. Ia terasa seperti napas yang ditahan terlalu lama—tenang di permukaan, namun bergetar di dalam. Hutan terlarang berhenti berdesir, akar-akar pohon tertua kembali mengeras, dan udara yang tadinya berat kini menjadi dingin dan datar.Nara masih berada dalam pelukan Raka. Tubuhnya terasa ringan, seolah sebagian dari dirinya tertinggal di tempat lain. Saat ia membuka mata, cahaya malam tampak lebih pucat dari yang ia ingat.“Raka…” bisiknya. “Kenapa semuanya terlihat… berbeda?”Raka menahan napas. Ia menatap wajah Nara—kulitnya tampak lebih kusam, garis di sudut mata lebih tegas. Bukan tua, tapi berubah. Seperti waktu melangkah satu langkah terlalu cepat.“Karena kau membayar dengan waktu,” kata Laksmi pelan. “Segel mengambilnya… sedikit demi sedikit.”Nara mengangguk, menerima. “Berarti… waktuku tidak hilang sekaligus.”“Tidak,” jawab Laksmi. “Segel hanya meminjam. Ia akan menariknya perlahan, selama retakan masih ada.”“Retakan
Hutan terlarang tidak lagi sekadar sunyi—ia berteriak tanpa suara. Akar-akar pohon tertua bergetar, tanah mengerang pelan, dan udara berlapis-lapis seperti kaca tipis yang siap pecah kapan saja. Di atas kanopi, awan berputar membentuk pusaran lambat, seolah langit sendiri sedang ditarik oleh tangan yang tak terlihat.Nara berdiri terpaku, kedua tangannya melindungi perutnya. Detak di dalam rahimnya terasa berbeda kini—lebih teratur, lebih tegas. Seperti ketukan jam yang menandai waktu yang semakin sempit.“Gerbang itu…” Raka menatap ke sekeliling dengan rahang mengeras. “Aku bisa merasakannya. Seperti napas besar di balik pepohonan.”Laksmi mengangguk, tongkatnya bergetar halus. “Karena penahannya telah dilepas. Gerbang tidak lagi menunggu satu jiwa. Ia menunggu dunia.”Kata itu jatuh berat di antara mereka.“Dunia…?” Nara berbisik. “Apa maksudmu?”“Perjanjian lama menyalurkan tekanan ke satu garis darah,” jelas Laksmi. “Sekarang ikatan itu putus. Tekanan mencari permukaan yang lebih







