LOGINDi malam Jumat Kliwon, keluarga Nara tiba-tiba menerima lamaran dari sebuah keluarga kaya raya. Tanpa alasan yang jelas, mereka mendesak Nara untuk menerima pernikahan itu—seakan-akan nyawanya sendiri bergantung pada hal tersebut. Namun rumah calon suaminya, Raka, bukan rumah biasa. Ada pantangan yang harus ditaati. Ada cermin yang tak boleh dibuka setelah tengah malam. Ada pintu yang tak boleh disentuh saat angin malam berdesir. Dan yang paling mengerikan— ada roh seorang pengantin perempuan yang masih bergentayangan, menuntut pernikahan yang tidak pernah ia dapatkan. Nara mulai dihantui. Ditarik dalam mimpi. Dipanggil dengan namanya. Dicemburui oleh roh yang pernah mencintai Raka… dan mati secara tidak wajar. Namun semakin Nara mencoba menjauh, semakin ia menemukan bahwa Raka pun tidak sepenuhnya manusia bebas. Ia adalah pria yang dikutuk. Dan hanya satu hal yang bisa menghentikan kutukan itu: pengantin yang bersedia menggantikan roh tersebut di dunia gaib. Dua pilihan: Menjadi istri Raka. Atau menjadi pengantin sang roh. Dan ketika cinta mulai tumbuh… pilihan itu menjadi semakin mematikan.
View MoreBulan menggantung rendah di langit Belantara, cahayanya pucat dan tidak lengkap. Ada bagian yang seharusnya terang, namun tampak seperti terhapus—bukan tertutup awan, melainkan hilang. Warga desa menyadarinya hampir bersamaan, dan kegelisahan menyebar seperti riak air.Nara berdiri di halaman rumah, menatap ke atas. Di dadanya, perasaan yang sama muncul kembali—bukan panik, melainkan kewaspadaan yang terlatih.“Bulan tidak lagi mengikuti fasenya,” katanya pelan.Raka mengangguk, wajahnya tegang. “Seharusnya hampir purnama. Tapi… seperti ada potongan yang tertahan.”Laksmi datang membawa mangkuk tanah dan air, simbol lama yang jarang ia gunakan. “Karena yang ditahan bukan cahaya,” katanya. “Melainkan waktu yang mengisi cahaya itu.”Angin malam berhembus tipis. Bayangan rumah memanjang, lalu memendek tanpa alasan. Jam pasir tua di rumah Laksmi—yang sejak lama tak dipakai—jatuh sendiri dan pecah, pasirnya berhenti mengalir.“Jika bulan terbelah,” lanjut Laksmi, “ritme yang lebih besar ak
Pagi yang akhirnya tiba tidak membawa kelegaan penuh. Cahaya matahari menyentuh atap rumah dan jalanan desa Belantara dengan ragu, seolah masih menimbang apakah ia benar-benar diizinkan untuk tinggal. Jam-jam berjalan, namun terasa seperti bergerak di atas pasir—maju, lalu sedikit mundur.Nara duduk di beranda, memperhatikan bayangan pohon yang tidak lagi setia pada arah. Pada jam tertentu, bayangan itu condong ke timur, lalu tiba-tiba bergeser ke barat tanpa alasan. Di dadanya, ada kegelisahan yang tidak mau diam.“Ini bukan sisa kemarin,” katanya pelan.Raka yang sedang memperbaiki engsel pintu berhenti. “Apa yang kau rasakan?”“Bukan tarikan,” jawab Nara. “Pembagian.”Laksmi muncul dari jalan setapak, membawa gulungan kain tua berisi simbol-simbol yang pernah ia simpan jauh sebelum gerbang terbuka. “Kau benar,” katanya tanpa basa-basi. “Minggu mulai terbelah.”Raka berdiri. “Terbelah bagaimana?”“Bukan dicuri sekaligus,” jelas Laksmi. “Dipisah. Hari-hari di minggu ini tidak lagi te
Pagi datang tanpa matahari.Bukan karena awan menutup langit, melainkan karena fajar seolah lupa bagaimana caranya muncul. Udara tetap dingin seperti sisa malam, dan cahaya hanya seterang senja yang ragu untuk berubah. Desa Belantara terbangun dalam kebingungan yang sama—ayam berkokok terlambat, lonceng pagi tidak berdentang, dan bayangan rumah memanjang dengan arah yang keliru.Nara berdiri di ambang pintu rumah, memandang langit yang pucat. Di dadanya, ada rasa berat yang tidak ia kenali sebelumnya.“Ini bukan sekadar detik atau jam,” katanya pelan. “Ada sesuatu yang menahan… satu hari.”Raka muncul di sampingnya, menyampirkan jaket ke bahu Nara. “Aku juga merasakannya. Seperti kita melangkah, tapi tidak maju.”Laksmi berjalan cepat dari ujung jalan, tongkatnya memantulkan cahaya redup. “Karena hari ini sedang diperebutkan.”Raka menoleh tajam. “Diperebutkan oleh siapa?”“Oleh retakan,” jawab Laksmi. “Dan oleh sesuatu yang lebih cerdas dari bayangan pencuri detik.”Seolah menguatkan
Langkah mereka meninggalkan hutan terlarang terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Bukan karena ancaman telah lenyap, melainkan karena dunia di sekitar mereka seolah sedang belajar kembali bagaimana cara bergerak. Waktu berjalan—ya—tetapi tidak lagi mengalir lurus.Nara merasakan hal itu pertama kali ketika ia berkedip.Satu detik.Hanya satu.Namun saat matanya terbuka, posisi bulan di langit telah sedikit bergeser, seolah waktu melompat tanpa permisi.“Kalian… merasakannya?” tanya Nara pelan.Raka berhenti. “Merasakan apa?”“Detik yang hilang,” jawab Nara. “Seperti seseorang… mencurinya.”Laksmi menegang. Ia mengangkat tongkatnya, ujungnya berpendar samar. “Kita tidak sendirian.”Udara di sekitar mereka bergetar halus. Tidak ada angin, namun dedaunan berdesir seperti disentuh oleh sesuatu yang bergerak terlalu cepat untuk dilihat.“Kita harus cepat,” kata Laksmi. “Bayangan waktu telah bangun.”Raka mengerutkan kening. “Bayangan waktu?”“Makhluk sisa,” jelas Laksmi singkat. “Terbentuk d
Cahaya putih menyilaukan ketika Nara membuka mata. Hutan gelap menghilang; ia kini berada di aula tua rumah Wiradipa, tepat di tempat ritual semalam dilakukan.Namun ruangan itu berubah.Dindingnya retak, lantainya dipenuhi serpihan kaca, dan asap melati memenuhi udara seperti kabut tipis. Tidak ad
Gelap.Tidak ada cahaya.Tidak ada suara manusia.Hanya hembusan angin dingin yang menelusup dari segala arah saat Nara membuka matanya. Ia tidak lagi berada di ruang ritual. Lantai semen sudah hilang. Bau dupa dan melati lenyap.Yang tersisa hanyalah hutan kelam dengan pepohonan tinggi menjulang,
Sejak kejadian di kamar, seluruh rumah Wiradipa seperti berubah.Pelayan berjalan lebih cepat, mata mereka gelisah. Setiap pintu ditutup rapat, setiap cermin ditutup lebih tebal, dan aroma dupa memenuhi hampir seluruh ruangan.Menjelang malam, Surya mengetuk pintu kamar Nara.“Malam ini kita melaku
Malam datang dengan cepat di rumah Wiradipa.Terlalu cepat—seolah langit ingin menyembunyikan sesuatu di balik gelapnya.Nara duduk di tepi ranjang sambil memandangi dupa yang hampir habis. Aroma melati bercampur asap tipis membuat suasana kamar terasa aneh, seperti berada di antara dunia manusia d
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews