MasukJalan menuju rumah keluarga Wiradipa terasa lebih panjang daripada biasanya. Mobil hitam yang menjemput Nara bergerak pelan melewati pepohonan besar yang menaungi jalan desa. Udara pagi tampak berkabut, seolah matahari enggan menyinari perjalanan itu.
Nara duduk di kursi belakang, ditemani ibunya yang tampak terus menahan tangis. Surya Wiradipa mengemudi tanpa banyak bicara, hanya memandangi jalan lurus di depannya dengan ekspresi datar.
“Surya…” Nara memberanikan diri bertanya, “perempuan tadi malam… siapa?”
Surya tidak langsung menjawab. Suara mesinnya terdengar lebih keras dari sebelumnya.
“Tapi aku melihatnya. Dia memanggilku.”
“Tidak semua yang memanggilmu pantas dijawab,” ucap Surya singkat.
Ibunya menggenggam tangan Nara lebih erat. “Nak, dengarkan paman Surya. Jangan banyak bertanya.”
Mereka tidak tahu bahwa kalimat itu justru membuat Nara semakin takut.
Rumah keluarga Wiradipa tampak seperti bangunan megah peninggalan zaman kolonial. Pilar-pilar tinggi berdiri kokoh, namun warna dindingnya kusam oleh usia. Embun pagi membuat halaman terlihat berkilau, tetapi kesan angker tak dapat disembunyikan.
Saat gerbang besi terbuka, angin dingin bertiup dari arah rumah, membuat bulu kuduk Nara merinding.
“Selamat datang,” ucap seorang pelayan tua, wajahnya tanpa ekspresi.
Nara menatap ibunya, berharap sang ibu masuk bersamanya.
“Aku… tidak diizinkan masuk,” bisiknya.
Nara tersentak. “Kenapa?”
Surya menjawab sebelum ibunya sempat menjelaskan.
Nara mematung. Rasanya jantungnya jatuh ke dasar perut.
Surya memberi isyarat pada pelayan tua itu. “Tunjukkan kamarnya.”
Pelayan itu berjalan perlahan, langkahnya berat seolah menahan sesuatu.
Rumah itu sunyi. Terlalu sunyi.
Di sepanjang lorong, Nara melihat kain putih menutupi cermin-cermin besar.
Ia menunjuk salah satunya. “Kenapa ditutup?”
Pelayan itu berhenti, menatap kain merah itu lama.
Nara menelan ludah. “Roh siapa?”
Pelayan itu tidak menjawab. Hanya melanjutkan berjalan.
Mereka tiba di sebuah pintu kayu besar. Pelayan itu membuka pintunya perlahan.
“Inilah kamar Neng Nara. Kamar pengantin.”
Kamar itu luas, indah, dan terlalu rapi.
“Untuk apa ini?” tanya Nara.
“Pantangan kedua,” jawab pelayan. “Setiap pengantin harus diberi penjaga. Dupa itu untuk menenangkan mereka.”
“Mereka… siapa?”
Pelayan tua itu kembali terdiam. Ia seperti takut mengatakan sesuatu.
Ia menambahkan, “Pantangan ketiga… Neng tidak boleh membuka pintu belakang rumah, apa pun yang terjadi.”
“Kenapa?”
Pelayan itu menunduk. “Di sana… tempat pertama kali roh itu muncul.”
Nara bergidik ngeri.
Tiba-tiba suara langkah terdengar dari ujung lorong. Mereka menoleh.
Seorang pria berjalan perlahan ke arah mereka. Tinggi, berwajah tenang namun tampak lelah. Mata hitamnya memandang lurus pada Nara.
Surya muncul dari belakangnya.
“Nara,” katanya, “ini Raka.”
Nara menghela napas tanpa sadar.
Raka mendekat.
Nara menatapnya ragu. “Apakah semua ini… karena roh perempuan itu?”
Raka mengembuskan napas dalam-dalam, menunduk.
Dan ketika ia menatap Nara lagi, mata itu dipenuhi rasa bersalah.
“Ya,” jawabnya lirih.
Di luar kamar, angin berdesir keras.
Seolah seseorang… sedang memperhatikan mereka.
Bulan menggantung rendah di langit Belantara, cahayanya pucat dan tidak lengkap. Ada bagian yang seharusnya terang, namun tampak seperti terhapus—bukan tertutup awan, melainkan hilang. Warga desa menyadarinya hampir bersamaan, dan kegelisahan menyebar seperti riak air.Nara berdiri di halaman rumah, menatap ke atas. Di dadanya, perasaan yang sama muncul kembali—bukan panik, melainkan kewaspadaan yang terlatih.“Bulan tidak lagi mengikuti fasenya,” katanya pelan.Raka mengangguk, wajahnya tegang. “Seharusnya hampir purnama. Tapi… seperti ada potongan yang tertahan.”Laksmi datang membawa mangkuk tanah dan air, simbol lama yang jarang ia gunakan. “Karena yang ditahan bukan cahaya,” katanya. “Melainkan waktu yang mengisi cahaya itu.”Angin malam berhembus tipis. Bayangan rumah memanjang, lalu memendek tanpa alasan. Jam pasir tua di rumah Laksmi—yang sejak lama tak dipakai—jatuh sendiri dan pecah, pasirnya berhenti mengalir.“Jika bulan terbelah,” lanjut Laksmi, “ritme yang lebih besar ak
Pagi yang akhirnya tiba tidak membawa kelegaan penuh. Cahaya matahari menyentuh atap rumah dan jalanan desa Belantara dengan ragu, seolah masih menimbang apakah ia benar-benar diizinkan untuk tinggal. Jam-jam berjalan, namun terasa seperti bergerak di atas pasir—maju, lalu sedikit mundur.Nara duduk di beranda, memperhatikan bayangan pohon yang tidak lagi setia pada arah. Pada jam tertentu, bayangan itu condong ke timur, lalu tiba-tiba bergeser ke barat tanpa alasan. Di dadanya, ada kegelisahan yang tidak mau diam.“Ini bukan sisa kemarin,” katanya pelan.Raka yang sedang memperbaiki engsel pintu berhenti. “Apa yang kau rasakan?”“Bukan tarikan,” jawab Nara. “Pembagian.”Laksmi muncul dari jalan setapak, membawa gulungan kain tua berisi simbol-simbol yang pernah ia simpan jauh sebelum gerbang terbuka. “Kau benar,” katanya tanpa basa-basi. “Minggu mulai terbelah.”Raka berdiri. “Terbelah bagaimana?”“Bukan dicuri sekaligus,” jelas Laksmi. “Dipisah. Hari-hari di minggu ini tidak lagi te
Pagi datang tanpa matahari.Bukan karena awan menutup langit, melainkan karena fajar seolah lupa bagaimana caranya muncul. Udara tetap dingin seperti sisa malam, dan cahaya hanya seterang senja yang ragu untuk berubah. Desa Belantara terbangun dalam kebingungan yang sama—ayam berkokok terlambat, lonceng pagi tidak berdentang, dan bayangan rumah memanjang dengan arah yang keliru.Nara berdiri di ambang pintu rumah, memandang langit yang pucat. Di dadanya, ada rasa berat yang tidak ia kenali sebelumnya.“Ini bukan sekadar detik atau jam,” katanya pelan. “Ada sesuatu yang menahan… satu hari.”Raka muncul di sampingnya, menyampirkan jaket ke bahu Nara. “Aku juga merasakannya. Seperti kita melangkah, tapi tidak maju.”Laksmi berjalan cepat dari ujung jalan, tongkatnya memantulkan cahaya redup. “Karena hari ini sedang diperebutkan.”Raka menoleh tajam. “Diperebutkan oleh siapa?”“Oleh retakan,” jawab Laksmi. “Dan oleh sesuatu yang lebih cerdas dari bayangan pencuri detik.”Seolah menguatkan
Langkah mereka meninggalkan hutan terlarang terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Bukan karena ancaman telah lenyap, melainkan karena dunia di sekitar mereka seolah sedang belajar kembali bagaimana cara bergerak. Waktu berjalan—ya—tetapi tidak lagi mengalir lurus.Nara merasakan hal itu pertama kali ketika ia berkedip.Satu detik.Hanya satu.Namun saat matanya terbuka, posisi bulan di langit telah sedikit bergeser, seolah waktu melompat tanpa permisi.“Kalian… merasakannya?” tanya Nara pelan.Raka berhenti. “Merasakan apa?”“Detik yang hilang,” jawab Nara. “Seperti seseorang… mencurinya.”Laksmi menegang. Ia mengangkat tongkatnya, ujungnya berpendar samar. “Kita tidak sendirian.”Udara di sekitar mereka bergetar halus. Tidak ada angin, namun dedaunan berdesir seperti disentuh oleh sesuatu yang bergerak terlalu cepat untuk dilihat.“Kita harus cepat,” kata Laksmi. “Bayangan waktu telah bangun.”Raka mengerutkan kening. “Bayangan waktu?”“Makhluk sisa,” jelas Laksmi singkat. “Terbentuk d
Kesunyian setelah segel terbentuk bukanlah kesunyian damai. Ia terasa seperti napas yang ditahan terlalu lama—tenang di permukaan, namun bergetar di dalam. Hutan terlarang berhenti berdesir, akar-akar pohon tertua kembali mengeras, dan udara yang tadinya berat kini menjadi dingin dan datar.Nara masih berada dalam pelukan Raka. Tubuhnya terasa ringan, seolah sebagian dari dirinya tertinggal di tempat lain. Saat ia membuka mata, cahaya malam tampak lebih pucat dari yang ia ingat.“Raka…” bisiknya. “Kenapa semuanya terlihat… berbeda?”Raka menahan napas. Ia menatap wajah Nara—kulitnya tampak lebih kusam, garis di sudut mata lebih tegas. Bukan tua, tapi berubah. Seperti waktu melangkah satu langkah terlalu cepat.“Karena kau membayar dengan waktu,” kata Laksmi pelan. “Segel mengambilnya… sedikit demi sedikit.”Nara mengangguk, menerima. “Berarti… waktuku tidak hilang sekaligus.”“Tidak,” jawab Laksmi. “Segel hanya meminjam. Ia akan menariknya perlahan, selama retakan masih ada.”“Retakan
Hutan terlarang tidak lagi sekadar sunyi—ia berteriak tanpa suara. Akar-akar pohon tertua bergetar, tanah mengerang pelan, dan udara berlapis-lapis seperti kaca tipis yang siap pecah kapan saja. Di atas kanopi, awan berputar membentuk pusaran lambat, seolah langit sendiri sedang ditarik oleh tangan yang tak terlihat.Nara berdiri terpaku, kedua tangannya melindungi perutnya. Detak di dalam rahimnya terasa berbeda kini—lebih teratur, lebih tegas. Seperti ketukan jam yang menandai waktu yang semakin sempit.“Gerbang itu…” Raka menatap ke sekeliling dengan rahang mengeras. “Aku bisa merasakannya. Seperti napas besar di balik pepohonan.”Laksmi mengangguk, tongkatnya bergetar halus. “Karena penahannya telah dilepas. Gerbang tidak lagi menunggu satu jiwa. Ia menunggu dunia.”Kata itu jatuh berat di antara mereka.“Dunia…?” Nara berbisik. “Apa maksudmu?”“Perjanjian lama menyalurkan tekanan ke satu garis darah,” jelas Laksmi. “Sekarang ikatan itu putus. Tekanan mencari permukaan yang lebih







