登入Hembusan angin sore menerbangkan rambut panjang Nozela, helai demi helainya menari lembut mengikuti arah angin. Sambil memegangi lengan William, mereka berjalan santai menyusuri pinggiran tepi pantai yang indah di sore hari. Langkah kaki mereka meninggalkan jejak-jejak samar di atas pasir yang basah oleh sisa ombak.
Di atas sana, langit masih tampak cerah dengan semburat cahaya keemasan matahari yang mulai menyingsing ke ufuk barat, me
Langkah kaki Adrian dan Evan terdengar beriringan saat mereka berjalan menuju teras mansion yang megah. Sebagai asisten pribadi yang sudah bertahun-tahun mendampinginya, Evan berjalan setengah langkah di belakang Adrian, siap menerima instruksi kapan saja.Adrian menghentikan langkahnya sejenak di dekat pilar teras, menatap lurus ke depan dengan raut wajah serius."Evan, urus semua yang dibutuhkan untuk acara peresmian pernikahan saya. Mulai dari vendor dan juga WO. Pastikan semuanya beres tanpa ada celah."Evan mengangguk patuh, mengeluarkan tablet digitalnya untuk mencatat. "Baik, Tuan. Lalu bagaimana dengan urusan busana?""Untuk masalah baju, aku yang akan mengurusnya sendiri bersama Meysa," jawab Adrian. Ia menghela napas pendek, ada kilat kecemasan yang samar di matanya."Aku ingin acara in
Hembusan angin sore menerbangkan rambut panjang Nozela, helai demi helainya menari lembut mengikuti arah angin. Sambil memegangi lengan William, mereka berjalan santai menyusuri pinggiran tepi pantai yang indah di sore hari. Langkah kaki mereka meninggalkan jejak-jejak samar di atas pasir yang basah oleh sisa ombak.Di atas sana, langit masih tampak cerah dengan semburat cahaya keemasan matahari yang mulai menyingsing ke ufuk barat, menciptakan pantulan berkilau di atas permukaan air laut.Nozela mendongak, menatap samping wajah William yang diterpa cahaya senja."Liam, kenapa kamu ajak aku ke pantai? Bukannya kita mau pulang?" tanya Nozela.William menoleh, lalu tersenyum hangat. "Ya...hanya sekedar jalan-jalan saja Jel, sekalian melepas penat setelah serarian kerja. Kamu tidak suka?"Noze
Tok! Tok! Tok!Sebuah ketukan pintu terdengar nyaring, memecah keheningan di dalam ruangan kerja yang rapi itu.Nozela yang sedang sibuk berkutat dengan laptop di depannya sama sekali tidak mengalihkan pandangan. Jemarinya masih menari lincah di atas keyboard. Tanpa menoleh, ia setengah berteriak memberikan izin."Masuk!" serunya singkat.Tak lama kemudian, terdengar suara gagang pintu diputar dan daun pintu yang terbuka perlahan. Nozela masih bergeming. Ia sama sekali belum menoleh ke arah pintu karena merasa pekerjaannya saat ini jauh lebih penting dan harus segera diselesaikan. Ia menduga yang datang adalah asistennya yang ingin mengantarkan beberapa berkas.Sampai akhirnya, sebuah suara yang amat ia kenali memecah keheningan."Selamat sore, Sayang."Nozela langsung mendongak. Matanya membelalak terkejut. Dugaan bahwa sang asisten yang datang langsung sirna begitu melihat sosok tinggi yang kini berjalan mendekat."William?!" pekik Nozela tertahan.Melihat respons terkejut sang keka
Maya menatap ibunya yang nampak terkejut. Di tangan wanita paruh baya itu, terdapat ponsel miliknya. "Siapa yang telepon, Bu?" tanya Maya."Kenapa ekspresi Ibu seperti itu?" sambung Maya.Maya melangkah mendekat ke arah ibunya. Sambil mengerutkan dahi, ia bertanya apa yang sebenarnya terjadi sampai sang ibu terlihat begitu panik.Bu Ningsih dengan cepat menggelengkan kepalanya, mencoba menguasai diri."Tidak... tidak ada apa-apa," jawab Bu Ningsih agak gugup. "Itu... Meysa katanya nanti mau ke sini."Bu Ningsih sengaja mengalihkan pembicaraan agar Maya tidak bertanya lebih jauh. Usahanya berhasil, Maya hanya menganggukkan kepalanya, menerima alasan tersebut tanpa curiga."Oh,Kak Meysa mau ke sini? Yah, Maya padahal mau pamit ke kampus, Bu. Ada jadwal siang ini, jadi kayaknya nggak bisa ketemu Kak Meysa dulu," kata Maya sambil meraih tas kuliahnya.Bu Ningsih hanya mengangguk pelan, memaksakan sebuah senyuman. "Iya, tidak apa-apa. Berangkatlah, hati-hati di jalan."Setelah berpamitan,
"Sus Defi," panggil Oma Rosa."Kamu tahu Meysa ke mana? Sejak selesai sarapan tadi, dia sama sekali belum menemui Oma di kamar."Sus Defi, yang kebetulan baru saja kembali dari area belakang rumah, langsung tersenyum menenangkan. "Oh, itu, Oma... Nyonya Meysa sedang ada di dapur. Tadi saya lihat beliau lagi bikin kue dibantu sama para ART."Mendengar hal itu, sepasang mata Oma Rosa langsung berbinar cerah. Rasa bosannya seketika menguap. "Oh ya? Wah, kalau begitu ayo antar Oma ke dapur. Oma mau lihat Meysa bikin kue. Suntuk rasanya kalau terus-terusan diam di kamar seperti ini.""Baik, Oma," jawab Sus Defi patuh.Dengan telaten, Sus Defi membantu Oma Rosa berpindah dari tempat tidur ke kursi rodanya. Setelah memastikan posisi Oma Rosa nyaman, Sus Defi mulai mendorong kursi roda itu keluar dari kamar, menyusuri koridor rumah yang megah.Namun, saat mereka berdua sampai di lorong dekat ruang tamu, langkah Sus Defi melambat. Sayup-sayup terdengar suara orang yang sedang mengobrol dengan
Aroma mentega dan vanila yang harum memenuhi seluruh penjuru dapur. Di sana, Meysa berdiri dengan apron merah muda yang melekat pas di tubuhnya. Tangannya dengan lincah mencetak adonan kue kering di atas loyang besar, dibantu oleh Bi Surti, asisten rumah tangganya. Kue-kue ini sengaja ia buat sendiri dengan penuh cinta untuk dibawa ke rumah ibunya nanti sore.Setelah satu loyang penuh, Meysa memasukkannya ke dalam oven yang sudah dipanaskan. Ia menyeka sedikit keringat di dahinya dengan punggung tangan, meninggalkan jejak tipis tepung di pipinya."Nyonya Meysa, istirahat saja di depan. Biar Bibi yang selesaikan sisa adonan dan jagain ovennya," ucap ART merasa tak enak melihat majikannya kelelahan.Meysa tersenyum manis sambil menggeleng kuat-kuat. "Tidak usah, Bi. Saya mau selesaikan ini sendiri sampai selesai."Baru saja ART hendak membalas, tiba-tiba terdengar suara bel rumah berbunyi nyaring.Ting tong!"Nah, Bi, tolong buka pintunya ya. Biar Meysa lanjut nyetak kue yang ini," cetu
Ponsel milik Adrian menyala di atas nakas, sebuah panggilan masuk membuat fokus Adrian terpecah. Dia tak sempat melihat siapa yang menghubunginya, dengan menggunakan satu tangannya dia mematikan ponselnya.Fokus Adrian kembali kepada istrinya yang kini sudah berhasil melepaskan semua kancing kemeja
Di pelukan suaminya, Meysa memukul-mukul dada Adrian sebagai bentuk pelampiasan emosinya. Dia masih menangis tersedu-sedu meratapi nasib hidupnya yang seolah menjadi pion untuk keluarga Lysander demi mempertahankan harta mereka.Meysa tak bisa berpikir jernih lagi setelah mengetahui konspirasi yang
Adrian dan Meysa berjalan melewati Lorong mansion Lysander menuju kamar utama, tangan Adrian tak pernah melepaskan genggaman pada tangan kecil istrinya. Sampai di kamar mereka, Adrian lekas duduk di ranjang sambil menghela nafas panjang.Meysa pun membantu suaminya melepaskan jas yang dipakainya la
Adrian kembali duduk di kursi sambil menyangga kepalanya menggunakan kedua tangannya, satu masalah belum selesai kini sudah muncul masalah baru. Entah apa yang harus di lakukan Adrian agar kakaknya tidak terus menerus menganggu istrinya. Meysa menatap suaminya dengan sendu, dia menghembuskan nafas







