INICIAR SESIÓNJanji akan cerai setelah bayi milik cinta pertamanya lahir, dan banyak lagi janji yang Angga berikan, demi untuk mendapatkan tanda tangan dari Santi agar bisa menikah dengan Ambar, disertai dukungan dari orang tua Angga yang sudah di sogok dengan barang barang mahal, Santi hanya bisa mengangguk dan menyetujui untuk cerai pura pura versi keluarga Angga. Namun janji itu tak terjadi, membuat Santi yang di dukung keluarga sang kakak memilih untuk menjadikan cerai itu menjadi nyata
Ver más"Mas? Ibu?" Santi menyalimi tangan suaminya, lalu tangan ibu mertuanya.
Angga yang baru saja pulang dari kantor, ternyata tidak pulang sendiri. Di belakangnya, Ibu Mertua Santi yang bernama Bu Ratih, mengekor dengan wajah yang terlihat kaku, sambil menenteng sebuah tas bermerek Gucci yang terlihat sangat kontras dengan penampilannya yang sederhana. "Kok tumben Ibu ikut? Kenapa nggak ngabarin dulu, jadinya Santi nggak masak yang special buat nyambut, tadi cuma sempat masak sayur sop sama tempe goreng." Santi menyapa ibu mertuanya sembari memberikan senyuman yang terlihat kaku. Angga tidak menatap mata Santi. Ia melepas sepatunya dengan gerakan lambat, seolah sedang menunda eksekusi mati. "Iya, Dek. Tadi Ibu minta di jemput. A-da ... ada yang mau di omongin denganmu, penting katanya." "Di omongin?" Santi merasa firasatnya tidak enak. "Soal apa, Bu? Tentang masalah kesehatan Bapak?" Bu Ratih bukannya menjawab, dia malah mendengus pelan, lalu melengos masuk ke ruang tamu sempit kontrakan anak dan menantunya, kemudian meletakkan tas mewahnya di atas meja kayu jati dengan hati-hati. "Bukan soal Bapakmu, Bapakmu sehat, karena ada di tangan yang tepat. Tapi ini soal masa depan kamu, Angga, dan ... seseorang yang butuh pertolongan." Santi mengerutkan kening, mengalihkan perhatiannya dengan menatap Angga, seperti sedang meminta penjelasan. Tapi Angga malah sibuk melonggarkan dasinya, menghindari tatapan istrinya. "Mas?" panggil Santi, mendesak pelan. "Kita duduk dulu, ya," suara Angga terdengar parau. "Kamu ... kamu jangan kaget dulu." Bertigam , mereka duduk di ruang tamu. Entah kenapa suasana hening dan terasa mencekam. Santi yang memilih duduk di samping Angga, hanya bisa menarik napas panjang saat Angga justru memilih menjauh, menggeser duduknya sedikit seolah memberikan jarak. "Jadi gini, San," ujar Bu Ratih memulai, nadanya terdengar seperti guru yang sedang menegur murid, tapi dibuat-buat agar terdengart halus. "Kamu tahu kan, Ambar?" Jantung Santi seperti berhenti berdetak sedetik, saat mendengar nama itu. Nama dari masa lalu Angga, mantan pacar suaminya saat kuliah, cinta pertama yang gagal menikah karena orang tua Ambar dulu tidak setuju dengan alasan karena Angga masih pengangguran. "Mbak Ambar?" Santi mencoba tetap tenang. "Tahu, Bu. Kenapa? Dia ... sakit?" "Lebih parah dari sakit," potong Angga cepat, entah kenapa akhirnya ia berani menatap Santi, meski matanya penuh kegelisahan. "Suaminya meninggal kecelakaan dua hari yang lalu, Dek. Di Tol Cipali," sambung Angga dengan raut wajah yang tak bisa di jelaskan. "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un ... Kasihan sekali." Santi menutup mulutnya karena kaget, tulus. Sebagai sesama wanita, ia bisa membayangkan betapa hancurnya kehilangan suami. "Dan dia sedang hamil tua, San. Delapan bulan," sambung Bu Ratih, matanya memicing menatap reaksi Santi. "Dia sebatang kara sekarang. Orang tuanya sudah meninggal tahun lalu, suaminya anak tunggal, keluarga suaminya jauh di Sumatera. Dia nggak punya siapa-siapa di kota ini selain ... kita." Bu Ratih sepertinya sedang berpikir walau akhirnya terucap juga kata terakhir dari ucapannya. "Kita?" Santi mengulang kata itu dengan bingung. "Maksud Ibu siapa? Kita itu siapa, Angga?" "Iyaaalah, siapa lagi. Keluarga kita kan sudah kenal baik sama Ambar dari dulu," Bu Ratih mengelus tas Gucci di pangkuannya, tas yang Santi yakin harganya lebih mahal dari gaji honorernya selama setahun. "Ambar itu anak baik. Meski dulu nggak jadi mantu Ibu, dia nggak pernah putus silaturahmi. Tiap lebaran kirim parsel, kalau Ibu sakit dia yang carikan dokter spesialis. Tas ini... ini dia yang belikan bulan lalu waktu dia pulang dari Singapura." Santi menelan ludah. Ia mulai paham arah pembicaraan ini, tapi logikanya menolak percaya. "Lalu … apa hubungannya sama kita sekarang, Bu? Mas Angga mau bantu urus pemakaman suaminya ? Atau bantu cari pembantu buat nemenin Mbak Ambar?" Angga menarik napas panjang, lalu membuangnya dengan kedua tangan saling menggosok kasar. Ia memindahkan posisi punggungnya, sekarang condongkan ke tubuh ke arah Santi, kemudian meraih tangan istrinya yang sedang gemetar. "Dek," suara Angga melembut, jenis kelembutan yang biasanya ia pakai kalau mau minta izin beli sparepart motor mahal. "Ambar depresi berat. Dia histeris. Dia takut anaknya lahir tanpa bapak. Dia takut sendirian. Tadi siang aku ke sana, dia ... dia hampir mau bunuh diri kalau aku nggak nahan." "Astaghfirullah ...." "Dia butuh pendamping, San. Setidaknya sampai dia melahirkan. Sampai mentalnya stabil." "Ya, makanya carikan perawat, Mas. Atau psikiater. Kita bisa bantu cari—" "Bukan itu yang dia butuh!" potong Bu Ratih tajam, dengan mata yang berkilat, kesal. "Dia butuh figur suami! Dia butuh status bapak buat anaknya nanti di akta kelahiran! Kamu tahu kan ribetnya ngurus akta kelahiran kalau bapaknya mati sebelum anak lahir dan surat nikahnya bermasalah? Suami Ambar itu nikah siri sama dia karena masalah warisan keluarga di sana!" "Tunggu... tunggu. Maksud Ibu sama Mas Angga ini apa?" tanya Santi dengan mata menatap silih berganti antara suami dan mertuanya, seakan sudah membaca apa yang di inginkan oleh dua makhluk yang duduk di hadapannya saat ini. Angga meremas tangan Santi lebih kuat, hingga terasa sakit. "Aku mau nikahin Ambar, Dek." Dunia Santi runtuh dalam diam dan tatapan tak percaya. Hening …. Suara detak jam dinding terdengar seperti palu godam di hatinya saat ini. "kamu serius?" bisik Santi, suaranya hilang. "Ini cuma sementara kok, Dek!" Angga buru-buru menambahkan, wajahnya panik melihat wajah Santi yang memucat drastis. "Sumpah, Dek, demi Tuhan, cuma sementara. Cuma sampai dia melahirkan, sampai dia tenang menjalani hidupnya, sampai akta anaknya beres. Paling lama tiga bulan. Setelah itu aku ceraikan dia. Aku balik lagi seutuhnya sama kamu." Santi menarik tangannya dari genggaman Angga seolah tangan suaminya itu bara api. Ia berdiri, kakinya goyah. Tak menyangka kalimat demi kalimat yang ia dengar itu benar benar dari mulut suaminya. "Kamu sadar kan saat ngomong apa barusan? Kamu mau beristri dua? Di saat kita ...." Santi tak sanggup melanjutkan ucapannya. Kalimat ini “Di saat aku hamil anak kamu, Mas!” entah kenapa tersangkut di tenggorokan. "Bukan poligami, San," sela Bu Ratih santai, sembari menyandarkan punggungnya dan mengelus tas yang dia bawa, seolah sedang membicarakan menu makan malam. "Angga nggak mungkin poligami. Gaji dia sebagai staf admin mana cukup buat dua dapur? Lagian, aturan kantor Angga ribet kalau mau istri dua." "Kalau bukan poligami, terus apa? Kenapa Ibu bicaranya muter muter sih, langsung ngomong ibu maunya apa?!" Santi menatap mertuanya dengan tatapan tak mengerti. "Aku... aku harus ceraikan kamu dulu secara agama dan negara. Terus nikah sama Ambar. Nanti setelah urusan Ambar beres, aku ceraikan Ambar, terus kita nikah lagi." Angga menjawab dengan kepala menunduk, menatap lantai ubin yang retak "Gila ..." Santi mundur selangkah, menabrak tembok. Air matanya yang tadi ditahan kini tumpah tanpa permisi. "Kalian gila. Kalian semua gila!""Astagfirullah! Mulut kamu!" Angga melotot. "Ini nafkah! Nafkah iddah! Hak kamu!""Nafkah iddah itu diberikan kalau suami menceraikan istri. Kamu menceraikan aku karena mau nikah sama wanita kaya. Ini bukan nafkah, ini uang tutup mulut.""Terserah kamu mau nyebutnya apa!" Angga membentak, kesabarannya habis. Ia menyambar kunci mobilnya. "Aku ke sini baik-baik, bawa makanan, bawa duit, tapi disambut muka cemberut dan omongan pedas. Capek aku, San. Aku juga kerja keras, aku juga pusing ngadepin drama Ambar, tolonglah kamu jadi tempat aku istirahat, bukan nambah beban pikiran!""Kalau aku beban, kenapa nggak sekalian aja kamu buang aku selamanya? Kenapa harus janji balik lagi?"Angga terdiam sejenak, matanya menatap Santi tajam, lalu melembut sedikit, tapi kelembutan yang manipulatif."Karena aku cinta sama kamu, bodoh. Kalau nggak cinta, udah aku tinggalin kamu dari kemarin-kemarin. Udah lah, aku balik dulu. Ambar udah misscall lima kali nih."Angga berbalik, berjalan cepat keluar rumah
"Wa’alaikumsalam. San, kamu lagi apa? Kok suaranya lemes gitu?" Suara Hesti, kakaknya yang protektif itu, langsung terdengar curiga. Insting seorang kakak memang mengerikan."Lagi... lagi nggak enak badan dikit, Mbak. Biasa, masuk angin," bohong Santi. Ia belum siap cerita. Hesti pasti akan mengamuk, menyuruh Satrio menyeret Angga pulang, dan itu hanya akan mempermalukan Santi lebih jauh."Masuk angin apa masuk angin? Kamu tuh jangan telat makan mentang-mentang Angga sibuk kerja. Eh, ngomong-ngomong, si Angga mana? Tumben status WA-nya nggak ada foto kamu? Biasanya tiap pagi update 'Semangat kerjanya Istriku'."Santi menggigit bibir bawahnya. Hesti sejelia itu."Angga... Angga lagi dinas luar kota, Mbak. Mendadak. Proyek kantor," jawab Santi cepat. "HP-nya mungkin error atau dia lagi sibuk banget jadi nggak sempet update status.""Dinas ke mana? Kok nggak pamit di grup keluarga?""Ke... Surabaya. Iya, Surabaya. Mendadak banget, Mbak. Kemarin sore berangkatnya.""Oh... Ya udah. Kamu ha
Santi merasa mualnya naik lagi ke kerongkongan. Bukan karena hormon, tapi karena jijik. Suaminya sedang menegosiasikan harga dirinya seharga 5 juta per bulan."Jadi harga istri dan anakmu cuma 5 juta?" tanya Santi lirih."Bukan gitu maksudnya! Itu bentuk terima kasih Ambar!" Angga berdiri lagi, mulai emosi karena Santi tidak kunjung mengerti. "Kenapa sih kamu persulit banget? Tinggal tanda tangan, beres! Nanti kita nikah lagi! Apa susahnya sih percaya sama suami sendiri?""Susah, Mas. Karena suami yang aku percaya barusan minta cerai saat aku hamil.""Ini bukan cerai beneran! Ini strategi! Taktik!" Angga berkacak pinggang. "Oke, gini aja. Kalau kamu nggak mau tanda tangan baik-baik, aku yang akan ajukan talak ke pengadilan besok. Prosesnya bakal lama, bakal ribet, dan kamu bakal malu sama tetangga kalau ribut-ribut. Mending kita sepakat sekarang, urus cepet, beres."Santi menatap sosok di depannya. Sosok yang dulu berjanji di depan penghulu akan menjaganya, sekarang mengancamnya denga
"Santi! Jaga bicaramu sama suami dan orang tua! Udah nggak ada sopan santunnya kamu ya?!! " bentak Bu Ratih. Ia berdiri, dengan tangan kanan menunjuk tepat di depan wajah Santi."Kamu itu mikir nggak sih? Ambar itu lagi pertaruhan nyawa! Dia lagi hamil besar! Kalau dia nekat bunuh diri gimana? Apa kamu mau nanggung dosanya? Ini tuh misi kemanusiaan, San! Anggap aja kamu sedekah suami sebentar buat nyelamatin nyawa ibu dan bayi!""Sedekah suami Ibu bilang?!" suara Santi meninggi, getaran emosi membuat perutnya makin mual mendengar ibu mertuanya menyuruh meneyedekahkan suaminya yang tak lain adalah anak kandungnya sendiri. "Ibu, ini pernikahan! Sakral! Bukan mainan pinjam-meminjam barang!” jawab Santi dengan wajah yang sudah meradang karena kesal. “Mas, kamu kok malah diam aja? Kamu setuju ide gila ini? Atau kamu yang memang ingin melakukan ini?!!"Angga berdiri, mencoba memegang bahu Santi yang terlihat kaku, tapi segera di tepis kasar oleh si empunya."Dek, tolong ngertiin posisiku






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.