LOGINJanji akan cerai setelah bayi milik cinta pertamanya lahir, dan banyak lagi janji yang Angga berikan, demi untuk mendapatkan tanda tangan dari Santi agar bisa menikah dengan Ambar, disertai dukungan dari orang tua Angga yang sudah di sogok dengan barang barang mahal, Santi hanya bisa mengangguk dan menyetujui untuk cerai pura pura versi keluarga Angga. Namun janji itu tak terjadi, membuat Santi yang di dukung keluarga sang kakak memilih untuk menjadikan cerai itu menjadi nyata
View MoreDi kamar tengah, dengan penerangan lilin, Pak Santoso sedang menyuapi Bu Ratih bubur instan dingin. "Angga?" Pak Santoso menyipitkan mata. "Kamu pulang, Le?" Angga berlari, bersimpuh di kaki bapaknya. "Pak... Maafin Angga... Rumah ini mau disita..." Pak Santoso mengelus kepala anaknya dengan tangan gemetar. Tidak ada kemarahan di wajah tua itu. Hanya kepasrahan yang mendalam. "Bapak sudah tau, Le. Tadi orang bank datang. Kita dikasih waktu seminggu buat ngosongin rumah." "Bu Ratih..." Angga menatap ibunya yang kurus kering. Bu Ratih menatap Angga. Matanya kosong. "Santi mana?" tanya Bu Ratih pelan. "Angga... ajak Santi ke sini... Bilang sama Santi, Ibu mau minta maaf... Ibu mau numpang di rumah Santi..." Angga menangis tersedu-sedu. Menangis sampai suaranya habis. "Santi udah nggak ada, Bu... Santi udah bahagia... Kita nggak bisa ganggu dia lagi..." Malam itu, di rumah tua yang gelap dan akan segera hilang itu, Angga memeluk kedua orang tuanya. Mereka bertiga mena
"Saya mau bilang..." Danan menelan ludah. "Saya bersedia menunggu.""Menunggu?""Menunggu sampai masa iddah Ibu selesai. Menunggu sampai hati Ibu sembuh. Menunggu sampai Ibu siap membuka pintu lagi."Danan meletakkan sebuah kotak kecil di meja. Bukan cincin. Tapi sebuah gantungan kunci berbentuk boneka beruang tentara yang lucu."Saya nggak berani kasih cincin sekarang. Nanti jadi fitnah. Ini... buat gantungan kunci motor Ibu aja dulu. Sebagai tanda.""Tanda apa?""Tanda bahwa ada satu prajurit yang sedang berjaga di pos hati Ibu, memastikan nggak ada musuh yang masuk lagi."Santi menatap gantungan kunci itu, lalu menatap Danan. Matanya berkaca-kaca.Ini bukan lamaran romantis ala drama Korea dengan bunga dan lilin. Ini lamaran ala Danan. Kaku, jujur, dan apa adanya."Mas Danan tau kan saya janda? Saya pernah hamil dan keguguran. Saya punya masa lalu yang rumit.""Saya tahu. Dan itu nggak mengurangi hormat saya sedikitpun sama Ibu. Justru menambah kagum saya. Ibu wanita kuat. Dan tent
25 "Dengar baik-baik. Tiga bulan lalu, wanita ini pingsan di pinggir jalan karena stres mikirin Anda. Sebulan lalu, dia berjuang sendirian di meja operasi. Di mana Anda? Anda sibuk jadi 'suami siaga' buat wanita lain. Sekarang Anda datang mau merusak hidup dia lagi? Langkahi dulu mayat saya."Danan mendorong Angga pelan—tapi bertenaga—hingga Angga terhuyung mundur beberapa langkah."Pergi. Sebelum saya panggil Provost atau Polisi militer karena mengganggu ketertiban umum."Angga memegangi tangannya yang ngilu. Ia melihat sekeliling. Murid-murid SD menonton dari jendela kelas. Guru-guru berbisik. Hesti menatapnya dengan benci. Santi menatapnya dengan dingin. Dan Danan menatapnya seperti predator menatap mangsa.Angga kalah. Total.Ia mengambil tas ranselnya yang jatuh di aspal."Oke... Oke..." Angga mundur, napasnya memburu. Ia menatap Santi untuk terakhir kali hari itu. "Kamu bakal nyesel, San. Tentara ini nggak bakal setia. Laki-laki sama aja.""Setidaknya di
24 Angga masih bengong. Mulutnya terbuka sedikit. "Dek... Perut kamu...""Kenapa perutku?""Kok... kok kempes?" Angga tergagap, wajahnya pucat. "Ini baru bulan kelima kan? Harusnya... harusnya udah kelihatan buncit. Mana anak kita?"Santi tersenyum miring. "Anak kita?""Iya! Anak aku! Kamu... kamu ngelahirin prematur? Atau..." Wajah Angga berubah horor. "Kamu gugurin?!""Jaga mulutmu, Mas," desis Santi tajam. "Ini lingkungan sekolah. Banyak anak kecil.""Jawab aku, Santi!" Angga maju selangkah, mencoba meraih bahu Santi. "Mana anak itu?! Kenapa badanmu kurus gini?!"Santi mundur selangkah, menghindari sentuhan Angga dengan gerakan jijik."Kamu peduli apa? Bukannya kamu sibuk ngurusin *Prince* Rayyan, pewaris tahta kerajaan Ambar?""Jangan alihkan pembicaraan!" Angga berteriak. Beberapa wali murid yang sedang menunggu jemputan mulai menoleh. "Aku jauh-jauh ke sini, kabur dari rumah, jual jam tangan cuma buat ongkos bus demi liat kamu dan calon anak kita! Aku bawa susu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.