เข้าสู่ระบบSinar matahari sore membias jingga di atas bukit Desa Lembah Asri. Angin sejuk berembus pelan, menggoyangkan dedaunan dan membawa aroma tanah basah yang menenangkan. Di tepi tebing yang menghadap langsung ke arah bentangan luas Benua Utama, Martis, Mia, dan Lancelot berdiri bersama. Atmosfer di antara mereka bertiga terasa begitu tenang namun diselimuti oleh kecanggungan yang amat dalam. Lancelot menarik napas panjang, merapikan cengkeraman pedang di pinggangnya, lalu berbalik menghadap kedua orang tuanya. "Ayah... Ibu..." buka Lancelot dengan suara yang mantap dan tegas. "Ada sesuatu yang harus kusampaikan." Mia dan Martis menatap putra mereka. Martis tetap berdiri tegak dengan mata keemasannya yang tenang, seolah telah menduga apa yang akan diucapkan oleh Lancelot. Sementara itu, jemari Mia meremas kain gaunnya, firasat seorang ibu berbisik tajam di dalam dadanya. Lancelot berlutut di hadapan mereka berdua, menyilangkan satu tangannya di dada sebagai bentuk penghormatan te
Pagi di Desa Lembah Asri menyambut dengan hangat. Cahaya matahari menerobos celah-celah dedaunan rindang, membiaskan warna keemasan di sepanjang jalan setapak desa. Suara gelak tawa warga yang mulai beraktivitas dan dentuman batu benteng yang diangkat oleh Estias terdengar riuh dari kejauhan. Di teras sebuah rumah kayu yang tenang, Martis dan Mia duduk berdampingan. Kedua pasang mata mereka tertuju lurus ke arah lapangan kecil di tepi bukit. Di sana, Lancelot berdiri sendirian, mengayunkan pedangnya secara perlahan. Setiap tebasan Lancelot tampak presisi dan anggun, namun gerakan itu kehilangan pendaran semangat yang seharusnya ada. Tatapan matanya yang keemasan sering kali tertuju kosong ke arah batas horizon langit, tertegun cukup lama sebelum akhirnya menghela napas panjang yang sarat akan beban duka. Mia meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan, matanya memancarkan rasa kepedihan seorang ibu. Ia bersandar pelan pada bahu Martis. "Martis..." bisik Mia dengan suara yang
Pusaran angin hangat membawa rombongan Martis meninggalkan daratan es Pegunungan Es Abadi. Setelah badai emosi dan pencarian panjang yang melelahkan, keputusan terbaik yang diambil Martis adalah membawa Mia, Lancelot, Estias, dan Rafaela kembali ke tempat di mana benih kedamaian pertama kali mereka tanam di Benua Utama, di Desa Lembah Asri. Kedatangan mereka disambut oleh gemuruh sukacita yang memenuhi seluruh alun-alun desa. Sang tetua desa, yang kini tampak jauh lebih sehat dan bugar, memimpin ribuan warga menyongsong pahlawan mereka. Anak-anak kecil berlarian mengejar langkah raksasa Estias, sementara para wanita yang dulu dibebaskan Martis dari penjara bawah tanah meneteskan air mata haru seraya membawa nampan-nampan berisi buah-buahan segar dan roti hangat. "Tuan Martis! Tuan Estias!" seru sang tetua desa seraya membungkuk dalam penuh hormat. "Sejak kepergian kalian, desa kami tidak pernah lagi disentuh oleh penindas. Kehidupan telah kembali, dan semua ini berkat jasa besar
Komet cahaya keemasan yang membawa Martis, Mia, Estias, dan Rafaela membelah angkasa Benua Utama dengan kecepatan yang melampaui batas nalar. Lanskap hijau dan gurun batu di bawah mereka perlahan berganti menjadi daratan tandus yang tertutup hamparan salju tebal dan puncak-puncak gunung es yang menjulang tinggi menembus awan. Suhu udara di Pegunungan Es Abadi merosot drastis hingga puluhan derajat di bawah nol. Angin badai es bertiup kencang, membawa kristal-kristal es tajam yang sanggup merobek kulit manusia biasa. Namun, di dalam lingkaran perisai Api Suci Abadi Tingkat Dewa milik Martis, udara terasa amat hangat dan tenang. Martis mendarat anggun di sebuah jurang es yang terjal, disusul oleh hentakan kaki raksasa Estias yang membuat lapisan es tebal di sekeliling mereka meretak halus. "Brrr! Tempat ini dingin sekali!" seru Estias seraya menepuk-nepuk dadanya yang dilapisi zirah kulit batu keemasan. Energi Evolusi Dominion di dalam raganya meletup halus, menciptakan pendaran
Asap keemasan yang membumbung di atas Lembah Tengkorak Berdarah perlahan-lahan menyusut, terbawa oleh angin kering yang melintasi bukit-bukit batu hitam. Martis melangkah perlahan keluar dari dasar kawah yang telah rata dengan tanah. Pakaian tempurnya melambai tenang, dan pendaran amarah di mata keemasannya telah meredup sepenuhnya, berganti menjadi kedamaian dingin yang amat dalam. Mia melangkah maju menghampiri suaminya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun tentang keganasan yang baru saja terjadi, Mia merengkuh jemari Martis yang masih terasa hangat oleh sisa-sisa Api Suci. Martis menatap istrinya, lalu beralih menatap Estias dan Rafaela yang melangkah mendekat. Estias mengusap tengkuk raksasanya seraya menyunggingkan senyuman canggung, sementara Rafaela mengangguk pelan dengan pendaran mata penuh empati. "Maafkan aku..." bisik Martis dengan suara yang sangat rendah. "Aku membuat kalian khawatir lagi." Mia menggelengkan kepalanya seraya tersenyum lembut, meremas jemari Mart
Pendaran Api Suci Abadi Tingkat Dewa kemudian meledak dari raga Martis bagaikan gunung berapi yang meletupkan seluruh lava intinya. Suhu panas ratusan ribu derajat seketika membakar tanah Lembah Tengkorak Berdarah, bahkan sampai melelehkan batuan hitam beracun menjadi lautan magma dalam hitungan mikrodetik. Mengerikan! "LARI! ORANG INI IBLIS SEJATI!" jerit Panglima Manusia Iblis saat melihat aura emas murni yang menutupi seluruh kawah. Ia menyebut Martis Iblis, padahal dia sendiri manusia iblis. Namun ternyata, tidak ada jalan lari bagi mereka. BOOOOOOOOOOMMMM! Martis melesat menembus barisan ribuan Manusia Iblis dengan kecepatan yang melampaui batas nalar manusia biasa. Ia tidak lagi sekadar bertarung untuk membasmi kejahatan. Pada setiap tebasan, pukulan, dan pancaran apinya adalah wujud dari kepedihan, penyesalan, dan amarah yang meremas dadanya selama tiga bulan terakhir. "LANCELOT! AKU HARAP KAU BAIK-BAIK SAJA!" Raungan keras Martis membelah angkasa saat tangan kana
Jeritan minta tolong itu menggema di tengah derasnya hujan dan gemuruh petir. Martis berlari sekencang mungkin ke arah sumber suara dengan jantungnya yang berdebar-debar. Saat Martis tiba, ia melihat tenda Aidit sudah porak-poranda, kainnya terkoyak dan tercabik-cabik oleh tubuh raksasa anaconda it
Sosok misterius itu menatap tajam petir yang Martis maksud. Ia pun berkata dalam hatinya, 'Apa...?! Bukankah Petir ini adalah petir putih? Petir putih adalah petir yang paling tinggi! Celaka, aku belum pernah sebelumnya melawan petir tingkatan ini. Tapi apa boleh buat, aku tidak akan mau dipermaluk
Kemudian Martis berpikir sejenak. "Aku...? Aku bisa menggunakan gelar Raja Kegelapan karena telah mengalahkan Raja Kegelapan yang sebelumnya? Jadi..., itu artinya..., em...?" Martis termenung, ia sedang berpikir apa yang akan ia lakukan dengan gelar itu. Ia pun bergumam, 'Apakah berati aku setar
Kali ini Martis terlihat agak kesulitan mengindari serangan dari Anton.Nampaknya kekuatan elemen api Anton berbeda dari kekuatan elemen api yang biasanya. Bagaimana tidak? Martis sudah mencoba elemen tanah dan elemen besi untuk menghalau kekuatan api Anton. Akan tetapi, hasilnya tetap sama saja. Api







