登入Sena hanyalah gadis beasiswa miskin di Akademi Perburuan yang megah, di mana perundungan kejam dari para bangsawan menjadi makanan sehari-harinya. Namun, saat tubuhnya didorong ke dalam portal mematikan, kematian justru menagih janji lama. Setetes darahnya di masa lalu mengikatnya dalam Soul Bound mutlak dengan Raven—pangeran iblis paling ditakuti dari Dunia Bawah. Kini, sang iblis menyamar menjadi murid baru, berlutut di kakinya bukan hanya untuk melindungi, tetapi juga membalas setiap tetes air mata Sena dengan darah. "Mereka yang menyentuh milikku, tidak akan pernah melihat matahari terbit lagi, Sena."
查看更多"Aku ingin mengukir hal baru pada bonekaku ...."
Suara klik dari pulpen yang dipegangnya bergema di ruang kosong atap akademi. Namun, bukannya tinta yang keluar, melainkan sebilah pisau cutter kecil yang berkilat dingin.
Sebutan "boneka" itu bukan untuk barang mainan, melainkan panggilannya untuk Sena—siswi miskin yang selalu menjadi sasaran penyiksaan mereka.
Tubuh Sena gemetar hebat di atas lantai semen yang dingin. Kedua tangannya dikunci rapat oleh dua orang pemuda, sementara mulutnya dibekap erat agar suaranya tak terdengar ke mana-mana. Mata Sena menatap mengiba, memohon rasa kasihan yang tak akan pernah ia dapatkan.
Sreeet!
Sena menjerit, tetapi suaranya hanya tertahan di tenggorokan. Ujung pisau yang tajam itu mulai mengoyak kulit pahanya, mengukir kata-kata hinaan secara langsung di sana. Rasa perih dan panas membakar seketika. Darah segar mengalir membasahi seragamnya, menjadi saksi bisu kekejaman tiga perundung di hadapannya: Marcus, Victor, dan Helena.
"Sena, kau harusnya bersyukur," bisik Marcus sinis seraya menekan bahu Sena semakin kuat ke lantai. "Orang miskin sepertimu itu memang sudah ditakdirkan berada di bawah. Masuk ke akademi ini tidak akan pernah mengubah takdirmu sebagai sampah."
Semakin Sena meronta dalam bungkam, semakin lebar seringai bahagia di bibir Helena, sang pelaku yang memegang pisau. Victor yang menahan kakinya ikut tertawa lepas, menikmati tontonan menyiksa itu seolah Sena hanyalah mainan tak berharga.
Akademi tempat mereka berada bukanlah academy biasa. Ini adalah tempat di mana manusia dilatih untuk menembus Portal Dunia Bawah—dunia para iblis—demi mengeruk kekayaan, sumber daya magis, dan kekuasaan.
Di akademi elit ini, tolok ukur kesuksesan seorang manusia sangat sederhana: seberapa banyak harta yang bisa kau curi dari Dunia Bawah, dan seberapa kuat iblis yang berhasil kau jadikan pengikut atau budakmu.
Manusia yang berhasil menaklukkan iblis akan dipuja bagai raja. Sementara yang miskin dan tak berdaya seperti Sena? Mereka dianggap tak lebih dari umpan.
Sena hanyalah gadis biasa yang masuk lewat jalur beasiswa. Dia tak punya latar belakang keluarga kaya yang bisa menyediakannya senjata sihir atau pelindung mahal. Alih-alih dihormati karena kecerdasannya, keberadaan Sena di akademi justru dianggap mencemari pemandangan bagi murid-murid bangsawan seperti Marcus dan gengnya. Bagi mereka, rakyat jelata tak berhak bermimpi memegang kendali atas harta Dunia Bawah.
"Wajah sok polos dan aroma kemiskinan dari tubuhmu ini benar-benar membuat kami muak," desis Helena rendah. Ia menepuk-nepuk pipi Sena secara kasar dengan sisa darah di jarinya. "Tapi setidaknya, sekarang kau terlihat sedikit lebih berguna sebagai boneka pajangan kami."
Sena menatap mereka dengan sudut mata yang basah oleh air mata. Mentalnya sudah hancur digerogoti trauma bertubi-tubi. Satu-satunya alasan Sena masih bertahan hidup adalah ibunya yang menantinya di rumah.
Sena rela menelan sejuta dusta—mengaku luka lebam di tubuhnya akibat terjatuh atau terserempet—hanya agar sang ibu tidak perlu tahu bahwa putrinya dihancurkan setiap hari di tempat ini.
Namun hari ini, mereka benar-benar berniat menghabisi Sena.
Marcus merenggut kerah baju Sena, menyeret tubuhnya yang bersimbah darah menuju pembatas terluar atap gedung akademi. Di luar pembatas itu, tak ada daratan. Yang ada hanyalah void kosong yang berputar-putar mengerikan.
"Kau tahu apa yang terjadi pada sampah yang sudah tidak terpakai?" ujar Marcus sembari mendorong tubuh Sena hingga separuh badannya tergantung di udara.
Tepat di bawah atap gedung akademi—beberapa puluh meter di bawah mereka—sebuah pusaran energi hitam pekat berputar lambat. Itu adalah salah satu Portal Dunia Bawah liar yang belum terstabilkan.
Energi kegelapan yang memancar darinya begitu pekat hingga mampu membuat bulu kuduk meremang. Siapa pun manusia yang jatuh ke dalam portal liar tanpa perlindungan sihir tingkat tinggi dipastikan akan hancur lebur atau dilahap habis oleh monster dan iblis di dalamnya.
"Mar-Marcus ... tolong ... jangan ..." gumam Sena lirih dengan sisa tenaganya.
"Dunia Bawah butuh tumbal baru hari ini, Sena. Dan kau adalah kandidat yang sempurna," tawa Marcus pecah, bergema dingin menyatu dengan angin atap yang kencang.
Helena dan Victor menonton dari belakang sambil bersedekap tangan, tersenyum puas menyaksikan ketakutan mutlak di wajah Sena.
"Selamat jalan, Gadis Beasiswa."
Tanpa penyesalan sedikit pun, Marcus melepaskan cengkeramannya.
Tubuh Sena meluncur deras ke bawah. Angin malam menghantam wajahnya yang pucat saat gravitasi menariknya tanpa ampun. Gelak tawa ketiga perundungnya perlahan mengabur, tergantikan oleh gemuruh angin yang menyengat ears-nya.
Saat tubuhnya semakin dekat dengan mulut portal hitam yang menganga lebar, Sena memejamkan mata. Rasa sakit di pahanya, dinginnya angin, dan kehampaan di dadanya menyatu. Sena bersumpah, jika ini adalah akhir hidupnya, dia akan mengingat rasa sakit ini selamanya.
Wussss!
Cahaya hitam keunguan melahap tubuh Sena seketika saat ia melewati ambang portal. Suara bising dunia atas mendadak senyap total.
Namun, alih-alih merasakan tubuhnya hancur berkeping-keping dihantam energi portal, rasa dingin yang membekukan justru menyelimuti punggungnya. Tekanan gravitasi yang menyeramkan itu mendadak berhenti.
Sensasi sepasang lengan yang begitu kokoh dan dingin menahan jatuh tubuhnya di tengah kegelapan hampa.
Sena membuka matanya secara perlahan. Di dalam pusaran energi kegelapan yang bergejolak itu, ia tidak berada di tanah. Ia melayang dalam dekapan seorang pria bertubuh tegap berjubah hitam pekat.
Aura yang dipancarkan pria itu begitu pekat, dingin, dan mengintimidasi—seolah sang raja kematian sendiri yang baru saja melangkah keluar dari kegelapan.
Pria misterius itu menunduk. Sepasang manik matanya berpendar merah keemasan di tengah kegelapan portal, menatap Sena dengan pandangan penuh kepemilikan mutlak.
"Akhirnya kau datang, Pemilikku," bisik suara berat pria itu, bergema langsung di dalam kepala Sena dengan senyuman tipis yang mengerikan.
"Mereka bertiga tidak akan pernah bisa berjalan dengan normal lagi."Bisik-bisik ketakutan itu menjalar cepat di sepanjang koridor akademi, menyebarkan teror yang meremangkan bulu kuduk setiap murid yang mendengarnya.Pagi itu, Akademi Perburuan gempar. Helena, Marcus, dan Victor—tiga bangsawan yang paling ditakuti dan gemar merundung—dilaporkan kritis di rumah sakit utama kota. Kabar yang beredar menyebutkan bahwa semalam, manor megah milik keluarga Thorne disusupi oleh sesosok makhluk misterius. Tak ada harta yang dicuri, tak ada pintu yang rusak. Makhluk itu hanya mendatangi kamar ketiganya satu per satu, meninggalkan luka-luka ganjil yang membuat otot-otot tubuh mereka lumpuh total.Sena berdiri kaku di tengah koridor, mendengarkan desas-desus itu dengan dada bergemuruh. Bingung, gembira, sekaligus takut menyatu di dalam benaknya. Kemarin sore rumahnya dihancurkan, dan malam harinya, tiga pelaku utama perundungan itu mendadak hancur tanpa sisa? Apakah ini kebetulan yang terlampa
Mobil mewah Raven berhenti tak jauh dari gang sempit menuju rumah Sena. Pria itu sempat menawarkan untuk mengantar hingga depan pintu, namun Sena menolak halus. Ia tak ingin para tetangga makin curiga, apalagi membuat ibunya khawatir melihatnya pulang diantar pria asing berpakaian mahal.Sena melangkah perlahan menyusuri lorong yang mulai temaram oleh sinar senja. Tubuhnya masih terasa amat lelah, tetapi sisa-sisa kehangatan dari kebaikan Raven sedikit menenangkan jiwanya yang koyak. Sena memaksakan diri tersenyum tipis, membayangkan ia bisa merebahkan diri di samping sang ibu dan melupakan mimpi buruk di akademi.Namun, langkah Sena mendadak terhenti di ujung gang.Pintu depan rumah sederhananya yang biasa tertutup rapi kini terpental lepas dari engselnya, tergeletak hancur di atas tanah. Dari dalam, suara barang-barang yang dihancurkan secara brutal bergema, menyatu dengan ratapan histeris yang sangat ia kenali."Ibu!" Sena berlari kencang, tak peduli rasa perih pada luka di kakiny
Mobil hitam mewah itu berhenti mulus di depan sebuah gerbang besi menjulang tinggi. Saat gerbang otomatis itu terbuka, mata Sena membelalak lebar. Rumah yang dimaksud Raven sama sekali tidak mirip rumah tinggal biasa, melainkan sebuah istana megah berarsitektur gothic modern yang berdiri angkuh di atas bukit.“Raven, kenapa tidak mengantarku pulang?” tanya Sena bingung. Raven tak menjawab sama sekali, sekaan fokusnya hanya pada kemudi.Begitu pintu mobil dibukakan, Sena hendak melangkahkan kakinya keluar. Namun, sebelum telapak kakinya menyentuh tanah, tubuhnya mendadak limbung."Raven ... jangan, aku bisa jalan sendiri," cicit Sena pelan."Benarkah?" balas Raven pendek, suaranya terdengar datar.Sena mencoba berdiri tegak, tetapi sepasang kakinya mendadak terasa lemas luar biasa, bagaikan tak bertulang. Rasa hangat yang aneh menjalar dari lutut hingga persendiannya, membuat tumpuannya hilang total."Awh ... kenapa kakiku tiba-tiba tidak bisa berjalan?" gumam Sena panik, memegangi bah
Jam kuliah berakhir dengan cepat. Sena buru-buru membereskan bukunya, berharap bisa menyelinap keluar sebelum Helena dan gengnya berulah. Namun, langkahnya di lorong belakang laboratorium langsung terhenti. Marcus, Victor, dan Helena sudah berdiri menghadang jalan, menutup akses keluar satu-satunya."Sudah berani jual mahal sekarang, ya?" desis Helena seraya melangkah maju. Matanya menyalang tajam, terbakar cemburu karena perlakuan Raven tadi di kelas. "Kau pikir dengan duduk di sebelah Raven, derajatmu naik? Hanya aku dan murid berdarah murni yang pantas mendekatinya! Sampah seperti tidak punya hak!"Sena mengepalkan tangannya rapat-rapat. Rasa sakit di pahanya belum sepenuhnya hilang, namun rasa lelah karena terus-menerus diinjak mulai menyulut sesuatu di dalam dadanya.Mereka ini sebenarnya hanyalah anak-anak manusia dari golongan bangsawan yang tidak memiliki kemampuan apa-apa selain merundung. Mereka tidak terima dengan kelebihan Sena yang memiliki kemampuan menembus portal berk






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.