Share

4

Penulis: Kuldesak
last update Terakhir Diperbarui: 2024-11-04 13:19:22

"Aduh, Pak! Kalau mau nyiram itu lihat-lihat, dong!" teriakku, refleks.

Aku kesal dan bahkan sangat kesal. Bagaimana nggak kesal? Seorang bapak-bapak yang usianya kisaran 50 tahun itu sengaja menyiramiku dengan air bekas cucian piring yang mungkin, sudah disimpan selama berhari-hari.

Bau dari bekas air cucian itu langsung menyeruak ke hidungku, membuatku mual. Bau amis dan busuk bercampur, seakan-akan ada sesuatu yang membusuk di dalam air yang disiramkan itu.

Aku cepat-cepat mengibas-ngibaskan tanganku, berusaha menghindari percikan yang masih menetes dari rambutku.

Bapak dengan wajah datar dan tatapan kosong, hanya menatapku tanpa ada rasa bersalah. Dia kemudian meletakkan ember di sampingnya dan berbalik, seperti tidak ada yang terjadi.

Aku semakin kesal, tapi juga bingung. Mengapa pria tua yang masih berdiri di ambang pintu itu bersikap seperti ini?

"Pak, kalau mau nyiram kayak gitu, jangan sembarangan. Apa Bapak nggak lihat saya sedang jalan?!" Aku coba mengeraskan suaraku, berharap bapak-bapak itu sadar kalau yang bapak itu lakukan sungguh menyebalkan.

Apa yang terjadi? Bukannya minta maaf atau menjelaskan, bapak tersebut malah melangkah masuk ke dalam rumah.

Bam!

Bapak-bapak itu membanting pintu dengan keras, membuat tubuhku tersentak. Aku menatap pintu yang sudah tertutup itu dengan tak percaya.

"Hais, sedeng kali nih bapak-bapak! Ada masalah apa dengan bapak botak ini? Sewot banget!" aku menggerutu kesal sambil berusaha mengibaskan butir-butir nasi yang menempel di tubuhku.

Rumah kontrakan yang kami sewa memang posisinya agak aneh. Rumah kontrakan itu dikelilingi oleh dua rumah kosong di kiri—kanan. Di depan rumah, tepatnya di teras berponi rumah yang aku tinggal ada sebuah rumah gedongan.

Tapi anehnya, pintu rumah bagian belakang bapak-bapak tadi berada tepat di depan teras dan menghadap langsung dengan pintu utama kontrakanku.

Jadi rumah yang kami kontrak, bentuk bangunannya itu berdiri menyamping. Dan lagi, rumah kontrakan berdiri di pojokan terhimpit oleh dua bangunan rumah yang membuat jalan menuju rumah berbentuk seperti lorong—gang.

"Bau banget lagi! Kalo begini, gue mesti mandi!" dengan perasaan dongkol, aku melangkah ke arah kontrakan sambil mengomel.

Saat tiba di depan pintu, entah mengapa aku menjadi parno. Perasaan takut itu tiba-tiba saja menjalar. Padahal, aku nggak seperti ini sebelumnya.

"Plis, Nara, lo itu nggak percaya dengan hal yang begenian. Mereka itu nggak nyata! Lo hanya parno atas apa yang lo mimpiin," aku mencoba mensugestikan diriku sendiri, meski perasaan was-was itu masih saja bersemayam.

Dengan menarik napas lalu membuangnya secara perlahan, tanganku terulur meraih gagang pintu.

Krek!

bunyi pintu yang terbuka itu terasa nyaring, membuat telingaku langsung menangkap setiap gesekan kecil antara engsel yang sudah berkarat.

Wus!

"Astagfirullah...!" aku memejamkan mata sambil beristighfar saat merasakan terpaan angin yang tiba-tiba berhembus kencang menerpa wajahku.

Entah mengapa, angin yang datang itu terasa panas. Panas yang berbeda. Seharusnya, angin itu adem, sejuk. Sementara ini? Membawa firasat buruk.

Aku lagi-lagi menghembuskan napas perlahan. "Persetan!" aku membuka mata dan langsung melangkah masuk ke dalam rumah yang suram itu.

Aku menuju ke ransel yang tergeletak asal di lantai. Cepat-cepat aku mengambil handuk. Setelah itu, aku pun menuju ke arah kamar mandi.

Sebelum mencapai kamar mandi, kesekian kalinya aku meneguk ludahku sendiri saat netraku menatap sumur kerek tua di depan kamar mandi.

"Selama merantau, baru kali ini gue dibuat ketakutan setengah mati. Kalo emang setan, demit, atau apalah itu ada dan nyata, gue pengen lihat dengan mata kepala gue sendiri." tantangku.

Aku pun segera melangkah ke kamar mandi, menutup pintu kamar mandi yang terbuat dari seng yang di lapis kayu dari dalam. Di dalam kamar mandi, suasana tak kalah mencekam.

Bau lembab dan lumut disertai cahaya kuning dari lampu bohlam kini menambah kesan suram.

"Apes. Gue lupa beli alat mandi. Mana gue tinggalin di kostan lama lagi—"

Brak!

"Astagfirullah!" aku kaget setengah mati, ada yang melempari atap kamar mandi.

Dan bunyi lemparan tersebut nyaring sekali.

"Apaan sih?" kepalaku mendongak ke atas, sepasang netraku menyisir langit-langit kamar mandi.

Tidak ada yang aneh. Semua tampak biasa.

"Hmm... Kalo ada yang sengaja, pasti seng di atas ini kena dampak dari lemparan tadi," pikirku.

Tentu saja. Lihatlah seng karatan ini? Kena gempuran sedikit pasti bocor. Aneh bukan? Rumah gaya klasik yang bahkan saking klasiknya, dapur dan kamar mandi mirip seperti bangunan tua yang sudah jarang dijamah perbaikan.

Semua terkesan seadanya, seolah-olah pemilik rumah tidak pernah peduli pada kondisi fisik bangunan yang aku dan teman-temanku sewa.

"Aduh, Nara, jangan terlalu parno," gumamku lagi. Namun, perasaan tak nyaman masih saja bersarang.

Aku melanjutkan mandi, berusaha mengabaikan keanehan-keanehan yang baru saja terjadi. Air dari bak mandi memang terasa sejuk dan sedikit menenangkan, namun di tengah kesegaran itu, aku tak bisa menepis firasat buruk yang terus mmenghantuku.

"Nggih, Bu. Mangga, milih-milih nggih."

"Wah, cabai iki apik tenan, Pak. Seger. Pinten regane?"

"Sepuluh ewu, Bu. Seger, baru panen."

Tiba-tiba, telingaku menangkap suara samar-samar dari luar kamar mandi. Tepatnya, di tembok kamar mandi. Di balik tembok itu, ada tembok lagi.

Jelas ini terdengar seperti aktivitas pasar dengan bahasa jawa. Aku mengerutkan dahi, ku tempelkan telingaku pada dinding.

Deg!

Jantungku berdetak keras saat mendengar suara-suara yang datang dari balik tembok itu. Suara orang bercakap-cakap dalam bahasa Jawa terdengar jelas, seakan mereka berada di balik dinding, berdagang seperti di pasar.

"Nggak mungkin. Di balik tembok ini kan pekarangan tetangga yang rumahnya nggak ditempatin? Orang-orang dari mana ini? Nggak mungkin dari alam bawah sadar atau alam lain, kan?" gumamku, aku menerka-nerka.

Detak jantungku semakin cepat. Kuempelkan telinga lebih dekat ke dinding untuk memastikan, sementara tubuhku mulai merasakan bulu kuduk yang mulai meremang.

Suara-suara itu masih terdengar: tawa kecil, tawar-menawar harga, dan langkah-langkah kaki ramai.

“Ini pasti cuma halusinasi… nggak mungkin beneran ada orang di balik dinding,” bisikku, mencoba meyakinkan diri sendiri.

Tapi suaranya terasa begitu nyata—terlalu nyata untuk diabaikan.

Aku menelan ludah, mencoba memutuskan apakah harus mengabaikannya atau mencari tahu lebih jauh.

Tepat saat aku hendak menepis perasaan penasaran itu.

Tiba-tiba....

"Huhuhu...."

Aku mendengar suara tangisan seorang perempuan di kamar mandi sebelah. Ya, rumah ini memiliki dua bilik kamar mandi. Satu untuk kloset, satu biliknya untuk mandi.

Detak jantungku semakin menggila, tak kuasa menyembunyikan rasa takut yang mulai menguasai diriku. Suara tangisan itu terdengar begitu memilukan, membuat bulu kudukku berdiri seketika.

Tangisan tersebut terdengar lirih namun dalam, seakan menggambarkan kesedihan yang tak berujung, menyayat telinga dan memunculkan sejuta tanda tanya di benakku.

"S-siapa di sebelah..." ucapanku terhenti.

Napasku tertahan di tenggorokan, seolah tubuhku menolak untuk mengeluarkan kata-kata lebih jauh. Suara tangisan itu masih berlanjut, bahkan kini semakin jelas, seakan sosok di balik dinding kamar mandi sedang meratap kesedihan yang mendalam.

Aku mencoba menguatkan diriku, “H-helo?” panggilku dengan suara sedikit bergetar, tetapi tetap tak ada jawaban. Hanya suara tangis yang terus mengalun.

Saat itu juga, aku berusaha mencari jawaban logis. "Mungkin cuma suara tetangga yang masuk lewat dinding ini..." pikirku, memaksa diriku untuk bersikap tenang meskipun tak ada yang rasional dari apa yang kudengar.

Tetangga? Mana mungkin, toh kamar mandi ini dikelilingi tembok tebal dan pekarangan kosong.

Aku menghela napas panjang, mencoba memberanikan diri. Entah kenapa, langkah kakiku terasa berat. Seakan ada sesuatu yang menghalangi, menahan tubuhku untuk menjauh dari tempat ini. Dengan rasa takut yang mulai membesar, aku meraih bajuku dan mengenakannya lagi.

Krek!

Ku buka pintu kamar mandi dan menatap pintu bilik sebelah yang masih tertutup dengan perasaan takut yang luar biasa.

"Gue harus ngecek. Gue udah bilang, gue nggak takut!" aku melangkah, meraih hendle pintu bilik itu.

Krek!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Penghuni    15

    Krieeet…Suara pintu di seberang lorong yang terbuka perlahan itu seribu kali lebih menakutkan daripada teriakan mana pun. Itu adalah suara yang disengaja. Pelan, penuh kendali, sebuah ejekan yang tak terucap. Senter ponsel di tangan kami bertiga bergetar hebat, membuat tiga lingkaran cahaya yang menari liar di dinding lorong yang gelap. Kami membeku, tiga patung manusia yang terperangkap di antara ancaman di depan dan tulisan kematian di belakang.Tidak ada sosok yang keluar dari kegelapan di balik pintu itu. Yang keluar adalah sesuatu yang lain.Pertama adalah baunya. Aroma tanah basah yang anyir, bercampur dengan wangi manis bunga kantil yang membusuk. Bau yang sama persis dengan bungkusan kain yang kubakar.Bau santet. Bau kuburan. Aroma itu merayap keluar dari celah pintu, mengalir di udara, dan menyergap hidung kami, membuat perutku seketika mual.Lalu, suaranya."Kiikikik… Kiikikik…"Tawa itu lagi. Bukan tawa kuntilanak yang melengking seperti yang diputar Mira. Ini lebih rend

  • Penghuni    14

    Uhuk... uhuk... uhuk...!Kami berlima membeku di atas tikar. Suara riuh rendah obrolan kami yang gugup seketika mati, ditelan oleh tiga kali suara batuk yang terdengar begitu nyata. Itu bukan suara batuk biasa. Itu suara batuk orang sakit. Lemah, penuh dahak, dan sarat akan penderitaan. Dan yang paling mengerikan, suara itu datang dari kamar kosong di lantai atas.Andi, yang baru saja merebahkan badannya, langsung duduk tegak. Matanya melotot ke arah tangga yang gelap. "Anjir... Lo semua denger itu, kan?" bisik Andi, suara laki-laki itu lebih mirip desisan ketakutan. "Gue nggak ngigo, kan?"Ranti sudah memeluk Mira lebih erat, tubuhnya gemetar hebat. "Suara bapak-bapak," cicitnya pelan. "Kayak orang sesek napas gitu nggak sih?!"Seketika, secercah harapan dan rasa kendali yang baru saja kami rasakan lenyap tak berbekas. Digantikan oleh hawa dingin yang merayap dari lantai, naik ke tulang punggung kami. Makhluk itu seolah-olah mendengar rencana kami. Ia tahu kami akan menjenguk bapa

  • Penghuni    13

    "Hah ... Gue?!" Aku berseru tak percaya, merasa menjadi pusat perhatian yang sangat tidak nyaman. Tatapan teman-teman seperti menelanjangiku."Kowe wis ngrusak papan panggonanku!" Suara Mira bergema dingin.Aku menggaruk kepala berjilbabku, merasa panik. "A-apa maksud lo, Mir? Sumpah, ya! Gue benar-benar nggak ngerti apa yang lo omongin!"Mira diam, mata kosongnya terus menatapku. Tangannya yang gemetar jatuh ke pangkuan. Pak Ustaz mulai membaca Ayat Kursi.Aku bisa merasakan tatapan teman-teman. Mereka butuh penjelasan, sekarang."Bentar! Bentar!" potongku cepat, suara agak gemetar. "Pak Ustaz, teman-teman... Saya ... Saya memang membakar sesuatu kemarin sore!"Pengakuanku membuat beberapa orang tersentak kaget. Ada yang berbisik, ada yang melotot tak percaya."Tapi saya beneran nggak tau itu apaan! Sumpah!" lanjutku cepat, mencoba membela diri. "Aku nemu bungkusan aneh itu di atas ventilasi pintu keluar!" Tunjukku ke arah pintu di ruangan itu.Heru, yang duduk tak jauh dariku, seg

  • Penghuni    12

    “Nara, kita nggak usah lewat jalan ini, deh,” kata Mira tiba-tiba, memecah keheningan.Aku menoleh. “Kenapa?”Mira menatap lurus ke depan, wajahnya agak pucat. “Tuh... liat deh pohon beringin gede itu. Gue... ngerasa nggak enak. Tadi pas gue ke toko kue aja, kayak ada yang berdiri di situ.”Aku ikut menoleh. Pohon beringin tua berdiri menjulang di tikungan jalan, rimbun menelan cahaya matahari siang. Di bawahnya, ada bekas sesajen kering, daun-daun menguning, dan satu boneka reyot tergantung di salah satu dahan.Dadaku berdebar.“Lo ngelihat apaan barusan?” tanyaku pelan.Mira menelan ludah. “Bayangan. Nggak jelas. Tapi... matanya merah. Nggak tau juga itu apaan. Ya, daripada ada masalah kan, ya, mending kita muter!"Aku langsung menekan rem, memutar balik pelan. “Oke, kita cari jalan lain.”Kami tak berkata-kata selama beberapa menit. Hanya suara mesin motor dan detak jantungku sendiri yang terasa berdentum di telinga. Tepat saat kami belok ke gang kecil sebagai jalan alternatif, t

  • Penghuni    Bab 11

    Kupacu sepeda motor maticku dengan kecepatan sedang setelah berteleponan dengan Mira. Meski pikiranku carut-marut, aku berusaha tetap fokus. "Tadi Mira di Warnet apa ya?" aku bergumam. Nggak, pokoknya nggak mau aku kembali ke kontrakan itu sendirian. Sungguh mati, disambar petir bareng-bareng juga aku mau.Mengingat hal aneh yang terjadi, aku lebih memilih untuk menjemput Mira saja. Aku tepikan sepeda motorku di bahu jalan, aku kemudian mengambil ponselku dan mencari nomor Mira di aplikasi hijau. "Mir, lo di warnet mana? Bareng aja ya ke kontrakan." Kirim. Aku menunggu balasan, sesekali aku memperhatikan jalanan yang masih ramai oleh lalu lalang kendaraan. "Nduk...." "Astaghfirullah, ya Allah!" aku terkesiap, mendengar suara dari belakang. Aku pun menoleh. Seorang wanita paruh baya seperti pengemis itu sudah berada di belakang tubuhku. Wajah wanita tersebut tampak serius kala ia menatapku. "Ya Allah, Bu, saya kaget. Ada apa, Bu?" tanyaku dengan suara masih terguncang, beru

  • Penghuni    10

    Aku menelan ludah, mencoba menenangkan diriku. Dengan tangan gemetar, aku menggeser ikon hijau di layar ponselku dan menjawab panggilan itu."H—halo? Mira?" suaraku bergetar, nyaris tak keluar.Hening. Hanya ada suara statis di ujung telepon. Kemudian, sebuah suara terdengar—bukan suara Mira yang biasa. Lebih berat, lebih serak, dan terdengar seperti berasal dari kedalaman yang tak terjamah manusia."Kinara... tanggung jawab... saiki!" suara itu bergema, membuat bulu kudukku meremang. Napasku tercekat, dan aku hampir menjatuhkan ponsel dari tanganku."Mira? Ini lo?" tanyaku panik, berharap ini semua hanya kesalahpahaman atau semacam prank yang sering Mira lakukan.Namun, suara itu tidak menjawab. Hanya ada desisan aneh seperti seseorang yang sedang menarik napas dalam-dalam. Di tengah keheningan itu, suara lain muncul—tangisan lirih, seperti anak kecil yang menangis, perlahan berubah menjadi tawa cekikikan yang memekakkan telinga.Aku langsung menutup telepon, napasku memburu. "Sial!

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status